
Pagi itu, seperti biasa Azzalia berangkat ke kampus berboncengan dengan Seem. Dan sesampainya di kampus, seperti biasa juga Azzalia mencium tangan Seem, namun bedanya, hari ini teman-teman Azzalia memergoki mereka berboncengan dan bersalaman bak suami istri.
"What? Girls, lihat tuh, Azzalia nyium tangan Seem, wah bener-bener nih, kita harus interogasi Azza!" kata Renata geram.
"Sabar dong Re." kata Azkya mengerem emosi Renata.
Tampak Azzalia dan Seem berjalan beriringan dengan senyuman menuju gedung fakultas, Renata, Azkya, dan Syaqila memanggil mereka.
"Azza!" panggil Renata.
"Rere?" jawab Azzalia menoleh ke sumber suara, begitupun dengan Seem.
"Jelasin sama kita, ada hubungan apa elo sama Seem?" kata Renata mulai menginterogasi.
"Ehm..."
"Jujur!" kata Renata tegas.
"Iya iya, ih bu dosen nih, galak bener. Cepet tua lho!" canda Azzalia.
"Azza!" panggil Renata lagi dengan nada meninggi.
"Kalian pacaran ya?" tebak Renata dengan mata memicing.
Azzalia dan Seem saling pandang memberikan komunikasi melalui isyarat mata, lalu mereka mengangguk kecil, dan tersenyum.
"Iya, kita pacaran." jawab Azzalia dengan percaya diri.
"What? Tapi kan elo bilang..." kata Renata Syok.
"Kami pacaran setelah menikah." jawab Seem dengan santainya.
"Maksudnya?" tanya Renata masih belum percaya.
"Sayang, kamu aja yang jelasin ya, aku ada kelas pagi." kata Seem mengusap pucuk kepala Azzalia.
"Ya mas." jawab Azzalia dengan santai tanpa beban, dan dengan nada lemah lembut.
__ADS_1
Seketika Azkya, Syaqila dan Renata ternganga melihat keromantisan sikap keduanya.
"Ikut kita!" kata Renata sambil menarik lengan Azzalia menuju ke kopma, tempa mereka makan.
"Iya-iya." jawab Azzalia menurut saja.
Sesampainya di kopma, mereka langsung memesan menu makanan dan minuman, dan setelah itu, mereka duduk berempat di kursi pojokan dekat dapur.
"Ehm. Btw, Nadia ke mana?" tanya Azzalia kepada tiga sahabatnya.
"Oh. Nadia biasanya langsung masuk kelas." jawab Azkya.
"Udah, ga usah mengalihkan pembicaraan, sekarang jelasin sama kita, kenapa kamu bisa menikah sama Seem, tanpa memberitahu kita?" kata Renata mulai menginterogasi karena hanya Renata yang merasa tidak terima dengan berita terkini sahabatnya, yang mereka justru tidak tau apa-apa.
"Iya, iya. Santai aja kali." jawab Azzalia santai.
Azzalia mendapatkan tatapan tajam dari ketiga sahabatnya, seperti sedang sidang di meja kejaksaan.
"Okey, jadi sebelumnya, gue bener-bener minta maaf. Karena gue ga ngundang kalian ke acara pernikahan gue sama Seem. Yang jelas, karena kami tidak mengadakan resepsi, dan memang tidak mengundang siapapun kecuali keluarga terdekat kami." jawab Azzalia dengan mode santai nya.
"Yup, sekalipun kamu ga ngadain resepsi, kita ga disuguhin makanan juga ga masalah kok, setidaknya kami bisa datang untuk turut serta memberikan doa restu buat kamu Za." kata Syaqila.
"Yah...setidaknya, kamu tuh ngasih kabar kami Za, kalau kamu udah ga single lagi." kata Azkya menyederhanakan masalah.
"Ehm, gitu ya? Maaf deh...Soalnya gue ga kepikiran, abisnya kemarin itu kan sebenarnya juga Nadia hadir, dan gue pikir, dia udah ngasih tau kalian, ternyata belum ya." kata Azzalia mengalah.
"What? Nadia hadir? Kok dia ga cerita ya?" protes Azkya.
"Iya, dia hadir. Mewakili dari keluarga Seem." jawab Azzalia.
"Wah, ada yang ga beres nih. Kenapa coba Nadia diem aja? Pantesan, beberapa hari ini dia tu tampak diem aja sama kita." kata Renata mulai menganalisis.
"Ehm, aku rasa itu karena..." kata Azkya menduga.
"Karena apa Az?" tanya Renata penasaran.
"Seperti aku kemarin. Mungkin Nadia merasakan bagaiaman rasanya patah hati?" kata Azkya melirik Azzalia. Azzalia mendongak menatap Azkya. Azzalua paham maksud Azkya, seperti kejadian beberapa waktu lalu saat mereka berkunjung ke sebuah kafe.
__ADS_1
"Maksud elo, Nadia suka gitu sama Seem?" tanya Renata dengan mata berubah melebar karena setengah tak percaya.
"Ya bisa jadi. Karena dari waktu awal masuk kuliah, Nadia tuh sering banget curi pandang ke Seem, suka salah tingkah kalau di deket Seem. Ya, meski Nadia ga cerita sih, karena memang Nadia bukan tipe orang yang suka curhat ke sembarang orang, termasuk kita-kita ini yang mengaku sahabatnya." kata Azkya yang sudah mengenal Nadia sejak tinggal di pesantren.
"Oh, ya Allah, kenapa aku ga peka ya?" sesal Renata.
"Ya udah lah ya, ga usah nyalahin Nadia, dia ga salah. Dia juga belum berani mungkin untuk mempublikasikan nya, karena memang tidak ada ijin dari gue dan Seem." kata Azzalia menjelaskan.
"Iya iya." jawab Renata.
"Terus, kalau boleh tau nih Za, kenapa elo nikah dadakan, jangan bilang elo..." kata Renata dengan memicingkan matanya ke Azzalia.
"Apa? Elo mau bilang gue tekdung duluan? Astaghfirullah Re, Na'udzubullahimindzalik. Separah-parahnya pergaulan gue, gue masih punya akal sehat Rere. Gue bukan cewek yang mudah di sentuh ya.Apalagi sampe kaya gitu. Ih, amit-amit." kata Azzalia bergidik dengan bayangan buruknya.
"Trus, kalau bukan itu, kenapa dong elo nikah mendadak? Terus pernikahannya tertutup pula." protes Renata.
"Yang jelas, aku ga menutup berita pernikahanku, tetapi aku juga engga mempublikasikan nya, karena aku dan Seem sadar diri, kita ini bukan artis, bukan publik figur, jadi ya... kita jalani seperti air mengalir aja. Nikah belum nikah, ga jadi masalah bagi orang lain, jadi ya.. gitu, kita fleksibel aja sih." kata Azzalia.
"Okey. paham. Sekarang, jelasin sama kita, apa alasan kamu nikah mendadak?" tanya Syaqila yang sudah tidak sabar.
"Karena Seem harus jagain aku." jawab Azzalia berubah murung.
Ketiga sahabatnya saling pandang, mereka tidak mengerti apa maksudnya.
"Seperti yang kalian tau. Mas Diego kemarin meninggal karena kecelakaan, dan polisi menduga, kecelakaannya itu bukan kecelakaan biasa, tetapi ada motif kesengajaan. Dan, mengingat kejadian beberapa tahun lalu, dimana papa dan mamaku juga mengalami kecelakaan dengan motif kesengajaan, membuat om ku menduga bahwa pelakunya adalah orang yang sama. Karena sejak mas Diego masih kecil, dia sudah diincar, begitupun dengan mama papa dan aku tentunya." kata Azzalia.
"Itulah sebabnya, om ku buru-buru menikahkan aku dengan laki-laki yang bisa diepercayanya, dan orang itu adalah Seem. Meski om ku baru kenal dia, tapi Seem sudah tampak tulus memberiku perlindungan. Hal itu diketahui om ku dari Keterangan Aziz yang ternyata selama ini Aziz selalu mengawasi ku sejak aku masuk kuliah." kata Azzalia.
"Aziz?" tanya Renata yang memang sejak awal dia ada rasa dengan sababat kecil Azzalia.
"Ya, dia anak dari sahabat omku. Sejak kami bertemu di kampus ini, ternyata Aziz selalu mengawasiku, dan melaporkan semua gerka gerikku kepada orang tuanya." jawab Azzalia.
"Kenapa, engga Aziz aja yang dijodohin sama elo Za?" tanya Renata.
"Ya yang jelas, biar kamu ga patah Hati Re." mmmmmJawab asal Syaqila yang sudah mengetahui bahwa Renata menyukai Aziz.
Merekapun tertawa bersama, sedangkan Renata menahan pipinya yang merona karena malu. Setelah itu, merekapun makan dengan santai dan melanjutkan obrolan ringan mereka hingga jam perkuliahan sudah dimulai. Merekapun berpencar ke kelas mereka masing-masing.
__ADS_1