Bayangan Cinta Pantulan Asa

Bayangan Cinta Pantulan Asa
Perjalanan Pulang


__ADS_3

Azzalia menghentikan makannya, lalu menatap opa korea ga punya kamus bahasa itu.


"Kenapa?" tanya Azzalia sekali lagi karena Seem tidak menjawabnya.


"Ehm...eng-engga. Gapapa." jawab Seem tampak ragu.


"Karena orang itu, kamu?" tanya Azzalia menebak sambil matanya fokus menatap bakso jumbo dihadapannya. Namun tidak dengan Seem yang seketika menoleh menatap wajah Azzalia yang tampak santai sambil memotong-motong bakso jumbo dihadapannya.


"Lo... lo inget? Kenapa elo ga bilang sama gue?" protes Seem yang terkejut, bahwa ternyata gadis itu masih mengingat wajahnya, dan bahkan tidak pangling.


"Emang kenapa? Gue harus ngingetin elo, terus mengungkit kejadian dulu? Terus nagih uang yang buat periksa di klinik gitu? Ga penting sih menurut gue." jawab Azzalia sambil melanjutkan lagi makannya.


"Aku ga nyangka, dia bersikap begitu, karena dia ga mau dikira dia nagih uang yang buat perawatanku di klinik." batin Seem ga habis pikir.


Seem tampak masih berfikir, sedangkan Azzalia telah selesai menghabiskan baksonya, lalu menyeruput es jeruknya.


"Gue udah kenyang, mau balik kapan?" tanya Azzalia. Namun Seem masih tak bergeming.


"Kak, kak Seem." panggil Azzalia sambil melambaikan telapak tangannya di depan wajah Seem.


"Eh, ya? Gimana?" tanya Seem yang baru sadar dari lamunannya.


"Gue udah selesai, mau pulang kapan? Itu diluar kayaknya turun kabut ya?" kata Azzalia sambil beranjak dari duduk nya dan berjalan keluar.


"Eh, iya. Kabut. Gimana dong? Kita nekad?" tanya Seem, sambil melihat jam tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.


"Ya ampun, udah sore." kata Seem.


"Gue belum sholat ashar kak, tunggu gue ya." kata Azzalia yang baru sadar kalau dirinya belum sholat.


"Eh, iya. Gue juga mau sholat dulu." kata Seem.


"Emang elo muslim kak? Bukannya nama elo Samuel? Dulu elo bukan seorang muslim kan?" tanya Azzalia heran.


"Gue memeluk islam baru satu tahun ini, dah ah, ayo sholat, keburu waktunya habis, dan kabut semakin gelap." jawab Seem.


"Oh... ya kak." kata Azzalia mengekor Seem menuju mushola di warung itu.


Azzalia dan Seem sholat ashar berjamaah. Setelah sholat, mereka duduk di teras mushola sambil memakai sepatu. Azzalia menatap wajah Seem dengan seksama, opa korea yang tidak punya kamus bahasa itu tampak lebih tampan dari biasanya. Azzalia merasakan ada sesuatu yang hadir di hatinya.


"Ehem" deheman Seem membuyarkan bayangan Azzalia.


"Eh, hehehe. Sorry." kata Azzalia lalu melanjutkan aktivitasnya memakai sepatu.


"Ayo." ajak Seem.


Azzaliapun mengekor lagi menuju motor Seem dan mereka pergi meninggalkan warung bakso itu. Sepanjang perjalanan. Azzalia dan Seem hanya saling diam, kabut semakin tebal, membuat Azzalia semakin merapatkan tubuhnya ke tas Ransel Seem.


"Kita pelan-pelan aja ya, kabut nya cukup tebal." kata Seem.


"Iya kak, gapapa." jawab Azzalia.

__ADS_1


Hingga sudah sampai di bawah, kabut sudah menipis, tetapi mulai turun hujan. Seem menepikan motornya di sebuah warung pinggir jalan yang sudah tutup. Lalu Seem mengambil jas hujan dari jok motornya.


"Lo pake ini!" perintah Seem sambil menyodorkan jas hujan kepada Azzalia.


"Ga usah kak. Jas hujannya lo pake aja. Lo kan di depan, dan lo bawa kamera juga lho, harus dilindungi tu kameranya." kata Azzalua menolak.


Seem tampak berfikir, lalu dia melepas jaket kulitnya.


"Lo pake ini." kata Seem.


"Harus?" tanya Azzalia.


"Entar lo sakit. Pake aja." kata Seem. Azzaliapun menerima jaket kulit itu dari tangan Seem lalu memakainya. Seem membungkus ranselnya dengan mantok tas, lalu dia memakai jas hujannya.


"Lanjut?" tanya Seem.


"Okey." jawab Azzalia dengan tersenyum.


Seem melajukan motornya dengan kecepatan sedang, hingga saat sudah tiba di kota, adzan maghrib berkumandang, di daerah itu sudah tidak hujan.


"Mampir maghrib dulu ya." kata Seem.


"Ya kak." jawab Azzalia.


Sesampainya di masjid, Azzalia melepas jaket kulit milik Seem dan Seem melepas jas hujannya.


"Ehm, gue boleh minta tolong elo ga?" tanya Seem sambil mengibaskan jas hujannya.


"Ehm...elo panggil gue Seem aja ya. Ga usah pake Kak." kata Seem.


"Lho, kenapa? Elo kan senior gue." protes Azzalia.


"Gue ga suka." jawab Seem sambil berjalan menuju tempat wudlu putra.


"Eh, main tinggal aja. Okey, gue ga panggil kak." kata Azzalia sambil berjalan ke tempat wudlu wanita.


Seem dan Azzalia mengikuti sholat maghrib berjamaah dengan para jamaah lainnya. lalu setelah sholat, mereka melanjutkan jalan mereka lagi.


"Kenapa gue jadi pingin berlama-lama sama dia?" batin Seem heran.


Hari semakin malam, Azzalia dan Seem akhirnya tiba juga di kampus, saat Seem memarkirkan motornya di depan ruang BEM, Opik menyambut mereka.


"Akhirnya kalian sampai juga." kata Opik.


"Eh, lo belum pulang?" tanya Seem.


"Nungguin elo bro." jawab Opik.


"Azzalia, gapapa kan? Maaf ya, tadi kita ga ngabsen dulu, jadi akhirnya kamu ketinggalan." kata Opik merasa bersalah.


"Iya kak. Gapapa. Lagipula, masih ada Seem yang bisa nganterin aku sampe kampus." kata Azzalia.

__ADS_1


"Ya udah, kalian masuk dulu apa mau langsung pulang?" tanya Opik.


"Gue mau langsung pulang." jawab Seem.


"Saya juga kak." jawab Azzalia.


"Kamu bawa mobil kan Azzalia? Barang-barangmu ini saya simpen, mobilnya bisa dibawa kesini aja dulu." kata Opik.


"Iya kak. Ya udah, Azza ambil mobil dulu ya kak." pamit Azzalia.


"Biar gue ambilin. Di baseman gelap, siniin kuncinya." kata Seem.


"Eh, okey. Terimakasih sebelumnya." Kata Azzalia sambil memberikan kunci mobilnya kepada Seem dari tas kecil yang disimpan Opik bersama ransel dan barang bawaan lainnya. Azzalia bahagia, karena mendapat perhatian dari opa kore ga punya kamus bahasa itu.


Saat Seem mengambil mobil, Azzalia duduk bersama Opik.


"Tadi kamu kemana? Kok bisa sampe ketinggalan truk?" tanya Opik.


"Ke toilet kak. Perut Azza mules." jawab Azzalia.


"Oh... pantesan. Pasti karena kebanyakan makan sambal rujak tadi ya?" tebak Opik.


"Hehe, kayaknya sih iya kak. Abisnya enak banget kak. Kan jarang banget Azza makan rujak." jawab Azzalia. Opik memperhatikan Azzalia dengan penuh kekaguman, dia memang gadis unik, dan cantik tentunya. Opik merasakan sesuatu di relung hatinya. Apakah dia jatuh cinta? Entahlah.


Merekapun berbincang hingga akhirnya Seem datang membawa mobil Azzalia. Seem dan Opik membantu Azzalia memasukkan barang bawaannya ke dalam bagasi mobil.


"Makasih ya kak." kata Azzalia.


"Iya, sama-sama." jawab Opik.


Azzaliapun menaiki brio hitamnya. Lalu berpamitan kepada dua seniornya.


"Kita ikutin Azza gimana Seem?" tanya Opik.


"Okey." jawab Seem bersemangat.


Seem dan Opik mlajukan motornya menuju rumah Azzalia. Sesampianya di rumah, Azzalia memang tidak sadar jika sedaritadi dirinya diikuti dua orang memakai motor.


"Kemana aja lo? Jam berapa ini?" tanya Diego saat Azzalia Sudah keluar dari mobilnya.


"Sorry, tadi gue jalan sama temen dulu, sekalian yang keluar soalnya." jawab Azzalia berbohong, agar tidak kena semprot kakaknya yang bawel.


"Ga mungkin! Elo ketinggalan armada kan?" kata Diego, Dan Azzalia hanya bisa pasrah, karena ternyata Diego sudah mengetahui kebenarannya.


"Kamu tu ya, ceroboh kok ga ilang-ilang? Untung aja masih ada panitia yang pulang akhir, jadinya kamu masih dapet pertolongan." omel Diego.


"Hem...itu pertolongan dari Allah buat anak baik sepertiku." kata Azzalia penuh rasa percaya diri dan langsung mengambil barang-barangnya dari dalam bagasi.


Omelan demi omelan terus keluar dari mulut Diego, hingga Azzalia pusing dia buatnya, namun dia tetap tidak menggubrisnya. Azzalia langsung masuk kamar dan mandi lalu tidur.


"Dasar bocah ceroboh!" gerutu Diego lagi, dan Dian hanya geleng-geleng kepala mendengar omelan Diego.

__ADS_1


__ADS_2