Bayangan Cinta Pantulan Asa

Bayangan Cinta Pantulan Asa
Teman Jadi Idaman


__ADS_3

Di sebuah perpustakaan sederhana disebuah pesantren, tampak seorang gadis berjilbab lebar sedang merapikan beberapa barang setelah tadi merapikan buku-buku yang baru datang.


"Biar mas aja Nadia." kata Ashar tiba-tiba mengambil alih sebuah kardus berukuran sedang yang awalnya akan diangkat Nadia.


"Eh, ya mas." jawab Nadia sambil mundur satu langkah memberikan ruang kepada Ashar.


Setelah Ashar meletakkan kardus itu di sebuah rak, Ashar kembali berjalan menghampiri Nadia sambil menempuk-nepuk kedua tangan nya yang terkena debu.


"Jazakumullah khoir ya Nad, kamu udah bantuin mas. Wah, ga tau deh kalau ga kamu bantuin, mungkin belum selesai juga tugas mas, sedangkan bentar lagi mas harus ngajar." kata Ashar.


"Iya mas, sama-sama." jawab Nadia singkat sambil menunduk.


"Sebagai gantinya, ayuk mas traktir. Nad pasti udah kangen sama jajanan nya bu Sri kan?" kata Ashar yang mengingatkan Nadia pada masa lalunya bersama Ashar.


"Mas Ashar masih ingat?" tanya Nadia terkejut.


"Tentu. Apapun yang berhubungan dengan Nadia, mas selalu mengingatnya." kata Ashar sambil tersenyum penuh arti kepada Nadia, dimana Nadia masih setia menatap lekat lantai yang dia pijak.


"Ayo." lanjut Ashar mengajak Nadia. Dan Nadia pun mengekor di belakang Ashar.


Jika dulu, Nadia bahkan selalu minta gendong Ashar, ketika Nadia masih kecil, kini mereka telah tumbuh dewasa, bahkan sekedar menatap saja, mereka kini sudah sungkan, karena mereka sudah mengetahui batasan mereka.


Sesampainya di warung bu Sri, Ashar langsung memesankan makanan dan minuman kesukaan Nadia, dan lagi-lagi Nadia tersenyum bahagia, karena ada orang yang masih sangat perhatian terhadapnya.


"Yaa Allah, di sini aku dipertemukan dengan orang yang sangat menganggap ku, dan menyayangiku dengan sepenuh hati, kenapa pula aku harus menangisi orang yang jelas-jelas tidak ada rasa apapun kepadaku? Bodohnya aku." rutuk Nadia dalam hatinya.


"Nadia, makanlah. Kenapa? Apa kamu sudah tidak menyukainya?" tanya Ashar.


"Eh, engga mas, Nad masih sangat menyukainya. Ehm, Nad cuma heran aja sama mas Ashar, kenapa mas Ashar masih mengingat betul kesukaanku mas?" tanya Nadia terharu.


"Kan tadi mas udah bilang Nad, apapun yang berhubungan sama kamu, mas masih mengingat nya semua." jawab Ashar.


"Sebegitu nya ya?" gumam Nadia.


"Ayo Nad, dimakan, jangan bilang kalau kamu minta Mas suapin ya, hehe...kalau minta disuapin, nunggu halal dulu lho ya." kata Ashar bercanda dengan kekehan.

__ADS_1


"Ih, apaan sih mas? Iya, ini Nad makan kok." kata Nadia bersemu merah.


Setelah selesai makan di warung makan bu Sri, Nadia dan Ashar kembali ke pesantren, Ashar langsung pamit untuk bersiap mengajar, sedangkan Nadia pamit kembali ke asrama.


Sesampainya di asrama, Nadia sudah dihadapkan pada umi Husna yang ternyata sejak tadi kebingungan mencari sosok Nadia.


"Ya Allah Nad, kamu dari mana saja? Umi sudah bingung nyariin kamu, umi kira kamu di culik." kata Umi Husna yang muncul di kamarnya, dengan raut wajah cemas.


"Oh, maaf umi. Maafkan Nadia. Tadi, Nadia ketemu mas Ashar dan mas Ashar membutuhkan bantuan untuk merapikan buku-buku yang baru datang di perpustakaan umi. Maaf, jika Nadia tidak berpamitan." kata Nadia merasa bersalah.


"Kamu sama Ashar? Berdua saja?" tanya Umi Husna terkejut.


"I-iya umi." jawab Nadia ragu Nadia tau, nada bicara umi kali ini berbeda, sepertinya Umi tidak suka dengan apa yang sudah terjadi antara Nadia dan Ashar.


"Umi harus bicara sama Ashar, dimana dia?" tanya Umi Husna tampak garang.


"Mas Ashar sedang mengajar umi." jawab Nadia sambil menunduk.


"Baiklah, sekarang Nadia bersiap makan siang dulu saja ya. Umi akan mencari Ashar dulu." kata Umi Husna sambil berjalan meninggalkan Nadia.


💕💕💕


"Apa maksudmu Ashar? Kenapa kamu hanya berdua saja dengan Nadia di perpustakaan?" sidang Umi Husna kepada keponakannya yang sudah dianggap anak olehnya.


"Afwan umi." jawab Ashar sambil menunduk.


"Baik, umi paham. Kamu dan dia adalah teman semasa kalian kecil, bahkan kalian sudah sangat dekat. Kalian sering bermain bersama, tetapi itu dulu Ashar. Sekarang kalian Sudah tumbuh dewasa, sudah ada batasan diantara kalian. Kalian itu bukan mahrom." kata Umi Husna menasehati.


"Iya Umi, Ashar paham." jawab Ashar.


"Kalau paham, kenapa kamu berduaan sama dia?" tanya Umi Husna.


"Ya wajar to mi... namanya juga mereka sudah lama tidak bertemu, sekalinya ketemu kan ga pingin ngobrol-ngobrol dulu." jawab Kyai Ilham yang memaklumi apa yang di lakukan Ashar.


"Tapi abi... mereka itu..."

__ADS_1


"Mereka anak muda umi, kaya umi ga pernah muda aja." sanggah kyai Ilham.


"Kan bahaya abi...mereka berkholwat." lagi-lagi Umi Husna tidak suka dengan sikap Ashar.


"Ya sudah to mi, mereka sudah besar-besar. Dulu mereka teman, dan kini sepertinya menjadi Idaman. Tampaknya mereka juga saling rindu, dan saling suka. Ya sudah, tinggal kita halal kan saja mereka berdua, biar tidak jadi fitnah." jawab Kyai Ilham, yang seketika membuat Umi Husna melotot tak percaya dengan ucapan suaminya, begitupun dengan Ashar yang juga tak kalah terkejut, karena memang itu sebenarnya keinginan Ashar. Ashar ingin menghalalkan Nadia untuk dirinya, tetapi Ashar belum punya nyali untuk itu.


"Maksud abi, kita nikahkan mereka?" tanya umi Husna memperjelas.


"Ya namanya dua insan yang tidak halal, terus di halal kan itu jalan satu-satunya kan ya cuma nikah to mi? Gimana to umi ini?" kata Kyai Ilham heran dengan sikap istrinya.


"Sudah, sudah. Sekarang gimana denganmu Shar? Ini to yang kamu mau? Iya to? Kamu pingin menghalalkan Nadia to?" tebak kyai Ilham, yang pada akhirnya dianggukkan oleh Ashar.


Setelah menginterogasi Ashar, kini acara makan malam, Nadia di ajak ikut serta makan bersama di kediaman kyai. Umi Husna tidak mengijinkan Nadia makan malam bersama santri.


"Nadia." panggil Kyai Ilham.


"Ya abi?" jawab Nadia ramah.


"Boleh abi bertanya?"


"Silakan abi."


"Apa kamu sudah memiliki rasa pada lawan jenismu?" tanya kyai Ilham yang membuat Nadia menghentikan kegiatan makannya.


"Afwan abi, maksud abi, apa ya?" tanya Nadia masih bingung.


"Begini Nadia, jadi... ada seorang laki-laki, dia itu... ya, kalau dibilang mapan sih, belum mapan, tetapi dia adalah seorang laki-laki pekerja keras, rajin, dan Sholih, InshaaAllah. Ibadahnya bagus, bacaan qur'an nya juga bagus. Dan, laki-laki itu, ternyata menyukaimu. Apakah Nadia siap, jika menikah di usai Nadia saat ini? Karena abi rasa, Usia Nadia sudah mencukupi jika ingin menikah." kata Kyai Ilham.


Seketika Nadia terkesiap, dan dia mulai berfikir dengan menundukkan kepalanya. Sedangkan di seberang tempat duduk Nadia, tampak Ashar juga menunduk dengan hati yang tak menentu rasanya.


"Nadia, jika hatimu masih ragu, kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Kapan waktu, kalau Nadia sudah sreg, Nadia bisa bilang sama umi atau abi. Apalagi, saat ini kan kamu baru juga tiba dari Jakarta, kamu masih butuh waktu istirahat, jadi umi dan abi tak akan memaksamu untuk segera menjawab pertanyaan abimu." kata Umi Husna yang membuat hati Nadia lebih tenang rasanya.


"Ehm, baik umi, abi. Nadia akan memikirkannya dulu, InshaaAllah dalam waktu dekat, Nadia akan menjawabnya." jawab Nadia yang justru membuat Ashar semakin tak karuan rasanya. Sesekali Ashar tampak melirik gadis pujaan hatinya itu, tetapi gadis itu masih setia fokus dengan makanannya di meja dan juga lantai tempatnya berpijak.


"Aku sangat berharap, kamu mau menerimanya Nadia. Karena aku sungguh mencintaimu, dan aku tak bisa membohongi perasaanku." batin Ashar.

__ADS_1


__ADS_2