
Seem menyetir dengan sesekali menoleh ke kaca spion, seolah sedang melihat sesuatu di belakang, yang membuat Azzalia penasaran dengan sikap aneh suaminya.
'Kenapa mobil itu ngikutin gue? Apa cuma perasaan gue aja? Tapi itu kan mobil yang tadi terparkir di dekat rumah om Zio, siapa mereka? Dan apa mau mereka?' batin Seem.
Sepersekian detik, akhirnya Seem baru sadar, akan tujuan pernikahan mendadak nya dengan Azzalia, karena om nya Azzalia menginginkan Azzalia dia lindungi dari orang jahat yang sedang mengincar nyawa istrinya. Seem berusaha menambah kecepatan mobilnya, demi menghindari mobil yang mengikutinya, meski itu mustahil, karena mobil itu adalah mobil sport yang kecepatan lajunya lebih tinggi dibandingkan mobil yang dia kemudikan.
"Mas, kamu kenapa sih? Liatin spion terus, emang ada apa sih?" tanya Azzalia yang juga jadi Penasaran dan menoleh ke belakang, tetapi menurut Azzalia tidak ada yang mencurigakan.
"Gapapa kok sayang. Udah larut malem gini, kamu kayaknya udah ngantuk ya? Tidurlah 'yang." kata Seem mengalihkan perhatian Azzalia dengan mengusap lembut kepala Azzalia.
"Ga ah mas, aku mau nemenin kamu aja. Kasian kamu, tengah malem bigini, lewat tol, takutnya ada sesuatu yang lewat." kata Azzalia horor.
"Kamu ni 'Yang, pikirannya kenapa horor gitu sih?" komentar Seem.
"Ya biasanya kan gitu mas, nyetir malem-malem sendiri lewat tempat sepi, kan horor mas. Apalagi kamu kan ganteng, takutnya nanti kalau ada yang naksir kamu gimana? Hayo?" goda Azzalia.
"Hahaha, ada-ada aja kamu 'yang." jawab Seem yang kemudian melihat ke arah spion lagi, dan tampak dari sana, mobil yang sedari tadi mengikutinya, seketika menyalipnya dengan kecepatan tinggi, lalu Seem fokus pada mobil itu.
"Kenapa mas?" tanya Azzalia yang melihat ekspresi Seem berubah saat melihat mobilnya di salip mobil lain.
"Gapapa. Pegangan ya, mas mau agak balap ini jalannya." kata Seem.
"Lhoh, kenapa?" tanya Azzalia penasaran, tetapi seketika saat Seem akan menjawab tiba-tiba mobilnya oleng, dan Seem mencoba mengerem tetapi ternyata rem mobilnya blong.
"Mas, ini kenapa mas?" tanya Azzalia panik.
Saking paniknya, Seem tidak menjawab, Seem berusaha mengemudikan mobilnya agar tetap baik-baik saja, tetapi sayangnya, apa yang diharapkan tidak sesuai.
Brush
💕💕💕
Di rumah Zio, tampak Zio mondar-mandir dengan wajah dinginnya. Shanum yang sejak tadi sudah bersiap untuk tidur, tak bisa tidur juga, karena suaminya belum juga naik ke ranjang untuk merebahkan tubuhnya.
"Mas, kamu kenapa sih?" tanya Shanum heran.
"Gapapa, tidurlah." jawab Zio.
"Gimana aku bisa tidur, kalau kamu aja dari tadi mondar-mandir ga jelas begitu. Kenapa sih?" tanya Shanum lagi.
__ADS_1
"Ya berusahalah untuk tidur. Karena aku belum mengantuk, tadi aku minum kopi, jadi aku belum bisa tidur." jawab Zio.
"Ada yang kamu pikirkan mas. Ceritalah." pinta Shanum.
"Tidak."
"Tentang Azzalia dan Seem?" tebak Shanum yang berhasil membuat Zio menoleh ke arahnya. Shanum bisa menebak tatapan itu, bahwa apa yang diduganya itu benar adanya.
"Kita do'akan saja, semoga mereka lancar di perjalanan." kata Shanum mencoba untuk menenangkan.
"Ya, semoga." jawab Zio.
Namun, Beberapa saat kemudian, Shanum sudah terlelap, sedangkan Zio akan merebahkan tubuhnya, karena dia merasa bahwa kedua keponakannya akan baik-baik saja, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Ya, Halo?"
"Apa? Baik, saya segera ke sana sekarang." kata Zio yang langsung mematikan panggilan itu, lalu meletakkan ponselnya di nakas. Zio langsung mengenakan celana panjang, dan kaos serta jaketnya. Namun, saat Zio membuka hendel pintu, tiba-tiba Shanum terjaga.
"Mas? Kamu mau kemana?" tanya Shanum penasaran, karena penampilan Zio tidak sedang bersiap tidur.
"Aku harus pergi sekarang." jawab Zio dingin.
"Dugaan ku benar." jawab Zio yang kemudian membuat Shanum terjingkat bangun dari tidurnya.
"Aku ikut." kata Shanum yang sudah berlari untuk mengganti pakaian dan bersiap lainnya. Zio pun tak bisa menolaknya, walau bagaimana pun juga, Azzalia dan Seem pasti membutuhkannya.
Sesampainya di TKP, Zio menemui polisi yang sedang mengurus kecelakaan. Lalu Zio diarahkan untuk segera menyusul ke rumah sakit, karena kedua korban sudah di lari kan ke rumah sakit terdekat.
"Baik Ndan, kalau ada informasi apapaun itu terkait kecelakaan ini, langsung saja kabari saya." pesan Zio kepada salah satu polisi yang bertugas, yang kebetulan dia adalah teman sekolah Zio dahulu.
"Siap bos." jawab polisi itu.
Sesampainya di rumah sakit, Zio dan Shanum segera menuju ruang IGD, tempat dimana kedua korban di tangani. Namun, baru sebentar mereka tiba, sosok Seem yang terbujur di hospital bad, tampak di bawa petugas ke luar ruang IGD.
"Mau dibawa ke mana sus?" tanya Zio.
"Ke ruang ICU pak " jawab sang perawat.
"Apa keadaannya kritis?" tanya Zio.
__ADS_1
"Ya." jawab perawat itu yang langsung berlari membawa Seem ke ruang ICU.
Zio tampak cemas dan mondar mandir di ruang IGD.
"Sabar mas, InshaaAllah mereka akan baik-baik saja." kata Shanum berusaha menenangkan suaminya.
"Bagaimana aku bisa tenang mah? Mereka kecelakaan itu dari rumah kita, padahal kita sudah mengingatkan, tetapi mereka tetap bersikeras untuk pulang. Ini yang ku khawatirkan mah, jadi kejadian." kata Zio dengan penuh emosi.
"Sabar mas, kita ga tau akan rencana Tuhan." kata Shanum.
Tiba-tiba dokter sudah keluar dari ruang pemerikasaan Azzalia.
"Dokter, bagaimana keadaan keponakan kami?" tanya Zio cemas.
"Syukurlah, pasien atas nama Azzalia lukanya memang cukup dalam, dan harus dilakukan tindakan jahitan di beberapa titik. Tetapi tidak apa-apa, tidak ada yang serius." terang dokter.
"Baik dokter, terimakasih atas informasinya." kata Zio.
"Sama-sama pak. Tetapi pasien harus tetap di rawat inap dulu ya pak, karena besok kami masih harus melakukan tindakan lagi untuk luka dalamnya." kata dokter.
"Baik dok, apapun itu, lakukanlah yang terbaik untuk keponakan saya." kata Zio.
"Baik pak."
Setelah mendapat keterangan tentang kondisi Azzalia, Zio meminta Shanum menemani Azzalia di ruang IGD sambil menunggu ruang inap untuknya. Sedangkan Zio segera berjalan ke arah ruang ICU, untuk memastikan keadaan Seem.
Setelah beberapa saat di depan ruang ICU, Zio melihat seorang laki-laki berjalan dengan wajah sendu. Laki-laki itu duduk menunduk di kursi yang bersebelahan dengan Zio.
"Dengan keluarga saudara Samuel." panggil seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU.
"Saya om nya." jawab Zio.
"Saya papanya." jawab Laki-laki itu bersamaan.
"Oh, baiklah, saya akan berbicara dengan keluarga terdekatnya. Anda, papanya pasien." kata Dokter yang memilih laki-laki itu untuk diajak ke ruangannya.
Zio melihat laki-laki itu, dia seperti mengenalnya, tetapi Zio menahan rasa penasarannya, karena Laki-laki itu harus segera mengikuti dokter itu melangkah.
"Siapa dia? Benarkah dia papanya?" batin Zio yang masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1