Bayangan Cinta Pantulan Asa

Bayangan Cinta Pantulan Asa
Kabar Pagi


__ADS_3

"Opik kemari lah!" titah abah suatu pagi saat melihat Opik pulang dari olahraga dengan pakaian olahraga nya.


"Ya abah?" jawab Opik santun dan menunduk menuju tempat abah nya duduk.


"Apakah hari ini kamu sibuk?" tanya abah.


"Tidak abah." jawab Opik.


"Sebentar, abah panggil umah dulu." kata Abah yang hendak memanggil ummah, namun Ummah sudah lebih dulu berdiri di belakang abah sambil membawakan secangkir teh panas untuk suaminya.


"Ada apa mau panggil ummah bah? Ummah sudah ada di sini." kata Ummah sambil meletakkan cangkir berisi teh panas untuk abah.


"Ini, mumpung Opik longgar ummah, kita utarakan langsung saja niat ummah." jawab abah.


"Tapi, emang ga papa, dengan kondisi Opik yang bau keringat seperti itu bah?" tanya ummah melihat keringat membekas di kaos yang dikenakan Opik tampak basah.


"Ya, Opik sih cuma nurut aja apa kata abah kok mah." jawab Opik.


"Ya sudah. kalau memang kamu tidak ada urusan lain, kamu mandi dulu saja, nanti temui abah sama ummah di sini ya." titah abah nya.


"Baik abah, kalau begitu, Opik mandi dulu. Assalamualaikum." salam Opik sambil berdiri dan meninggalkan kedua orang tuanya menuju kamar nya.


Setelah selesai mandi, seperti yang dikatakan Abah, Opik sudah kembali duduk ditempat tadi dengan kondisi lebih bersih dan wangi dari sebelumnya.


"Nah, gitu kan jadi enak ngobrolnya." komentar ummah yang memang tidak suka dengan sesuatu hal yang berbau keringat.


"Opik, apakah kamu siap untuk menikah?" tanya Abah.


Opik sudah menduga nya, sejak awal memang kedua orang tuanya sangat Menginginkan Opik segera menikah. Tetapi, hingga kini, Opik masih belum mengenalkan Atai sekedar bercerita tentang wanita pilihannya.


"InshaaAllah, jika abah dan Ummah menghendaki Opik segera menikah, Opik siap." jawab Opik.


"Apakah ada wanita yang sedang kau cintai?" tanya Ummah.


Opik rasanya ingin mengangguk, tetapi mengingat wanita yang dicintainya justru telah menikah dengan sahabatnya sendiri, Opik memilih untuk menggeleng.


"Kalau begitu, Abah dan Ummah memutuskan untuk mengenalkanmu dengan anak teman kami. Apakah kamu setuju?" tanya abah.


"Bukankah dulu abah dan Ummah sudah pernah berkata bahwa akan menjodohkan Saya dengan anak teman ummah? Dan Opik juga sudah menyetujuinya." jawab Opik lagi.


"Tapi, ummah masih belum yakin kamu menerimanya dengan sepenuh hati nak, itulah sebabnya ummah dan abah ingin bertanya lagi kepadamu." kata ummah.


"Lakukan saja ummah. Opik akan menurut." jawab Opik.

__ADS_1


Setelah itu, abah dan ummah menghubungi temannya dan akan menyetujui perjodohan mereka. Dan mendapatkan sambutan hanya dari pihak wanita, kemudian keesokan harinya, keluarga Opik diminta untuk melamar gadis itu.


"Nak, kamu mau kemana sepagi ini?" tanya Ummah dengan memegang al-Qur'an setelah sholat subuh.


"Opik ada jadwal menghadiri kajian ustadz Syamsul ummah, acaranya jam enam, jadi ini Opik harus segera berangkat." jawab Opik.


"Cuaca masih sangat dingin Pik, dan berkabut, apa ga sebaiknya agak nanti saja? Sambil menunggu abahmu pulang dari masjid." tanya ummah khawatir.


"Tidak ummah, InshaaAllah semuanya akan baik-baik saja. Maaf ummah. Opik harus segera berangkat. karena Opik harus memoderatori acara." jawab Opik sambil melihat arloji pemberian Azzalia.


"Baiklah, kamu hati-hati ya." kata Ummah sambil mengelus kepala Opik saat Opik berpamitan.


"InshaaAllah ummah. Tolong pamit kan abah ya ummah " kata Opik.


"Ya nak."


Opikpun segera mengambil kunci motornya dan helm. Opik segera menaiki motornya dan keluar rumahnya menerobos kabut yang masih cukup tebal.


Sepanjang jalan, Opik berusaha terus menetralisir pikirannya tentang perjodohan, karena sesungguhnya, dia masih mencintai gadis itu, tetapi Opik harus menerima gadis lain untuk dia jadikan istri. Namun setidaknya, Gadis pilihannya telah menemukan kebahagiaan nya, yaitu dengan sahabatnya sendiri, Opik merasa lega, karena suami dari gadis yang dicintainya adalah sahabatnya yang sangat baik. Dan masih banyak lagi pikiran yang mengusik di hatinya.


💕💕💕


"Assalamualaikum." salam abah.


"Bah, tadi Opik pamit. dia harus mendampingi ustadz Syamsul berdakwah, jadi ini tadi dia berangkat tanpa menunggu abah. Katanya waktunya ga nuntut bah " kata Ummah.


"Anak itu, selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk gurunya. Semoga kelak, dia bisa menjadi manusia yang mulia." kata abah yang mengetahui betul sifat putranya.


"Ya, tidak apa-apa ummah." jawab abah.


Saat tiba waktu sarapan, abah dan ummah sudah siap di meja makan, kemudian Nadia menyusul ke meja makan.


"Assalamualaikum bude, pakde." salam Nadia.


"Wa'alaikumussalam Nadia. Duh, cantik bener keponakan bude, sepertinya sudah siap menikah ini." puji ummah.


"Ih, bude apaan sih, biar kang Opik dulu aja bude, baru Nad." jawab Nadia.


"Eh, kang Opik kemana bude?" tanya Nadia yang celingak celinguk mencari sosok kang mas nya.


"Dia pergi ke kajiannya ustadz Syamsul, katanya lumayan jauh, dan dia menjadi moderatornya, jadi harus tepat waktu. Makannya tadi ba'da subuh, dia langsung berangkat." jawab ummah.


"Oh. gitu?" jawab Nadia.

__ADS_1


Kemudian, seperti biasa, keluarga pak Daud tidak mengijinkan ketika makan sambil berbicara, sehingga Nadia fokus makan tanpa berbicara. Hingga terdengar suara telepon dari ponsel pak Daud.


"Bah, telepon." kata Ummah mengingatkan.


Pak Daud segera berdiri dan mengambil ponselnya yang terletak di meja kamarnya.


"Halo, assalamualaikum." salam pak Daud.


"Wa'alaikumussalam. Maaf, apa benar ini dengan keluarga saudara Ahmad Taufiqurrahman?" tanya orang di seberang.


"Ya, benar. Saya ayahnya." jawab Pak Daud.


"Kami dari kepolisian daerah pak, kami informasikan bahwa Putra bapak bernama Ahmad Taufiqurrahman mengalami kecelakaan di jalan mekar asri." jawab polisi.


"Innalillahi wainnailaihi Raji'un. Baik pak, saya akan segera ke lokasi kejadian." jawab pak Daud.


"Baik pak."


Pak Daud terbengong, dia masih syok dengan kabar yang didengarnya.


"Ada apa bah?" tanya ummah yang muncul di balik pintu.


Pak Daud menoleh ke arah istrinya yang ternyata sudah bersanding dengan Nadia.


"Abah harus menyusul Opik sekarang." kata pak Daud yang segera tersadar lalu mengambil jaket nya.


"Apa yang terjadi dengan Opik Bah?" tanya Ummah panik.


Pak Daud menatap istrinya dengan penuh kesedihan.


"Kita do'akan, Opik baik-baik saja." jawab pak Daud.


"Apa kang Opik kecelakaan pakde?" tanya Nadia. Dan pertanyaan Nadia dijawab anggukan oleh pak Daud, seketika Ummah tersungkur dengan duduk. Kaki ummah lemas mendengar kabar itu, dan tak terasa air mata mengalir di kedua matanya.


Akhirnya abah mengajak kedua wanita itu ke lokasi, dan ternyata oleh pihak kepolisian korban segera dilarikan ke rumah sakit sehingga keluarga Opik menyusul ke rumah sakit yang dimaksud warga. Sesampainya di rumah sakit, tampak Opik terbaring lemah dia atas ranjang rumah sakit dengan selang-selang medis yang banyak.


"Keluarga Ahmad Taufiqurrahman?" panggil dokter yang keluar dari ruang ICU.


"Kami dokter. Saya ayahnya." jawab Pak Daud.


"Bapak, ibu... kami hanya berusaha, dan nyawa seseorang, hanya Allah yang tau. Maaf, tetapi harus kami informasikan, bahwa pasien telah berpulang ke Rahmatullah." jawab dokter.


"Innalillahi wainnailaihi Raji'un." jawab mereka bersama hingga ummah tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2