Bayangan Cinta Pantulan Asa

Bayangan Cinta Pantulan Asa
Jilbab Baru


__ADS_3

Hari terus berganti, Azzalia menjalani hari-harinya dengan suka cita. Dia mulai beradaptasi dengan panasnya kota Jakarta dengan padatnya acara. Azzalia juga beradaptasi dengan beberapa teman barunya, yang tentu saja tidak terlalu sulit bagi Azzalia yang memang supel.


"Hai Za." panggil Al, yang beberapa waktu ini sudah mulai akrab sebagai teman dekat. Azzalia yang tadinya akan melangkah masuk kelas, memilih menghentikan langkahnya sebentar, lalu terus melangkah, tetapi dengan lebih perlahan.


"Eh, elo Al. Ada apa?" tanya Azzalia sambil berjalan perlahan.


"Eh, berhenti dulu dong. Bentar aja." kata Al menarik tangan Azzalia untuk menghentikan langkahnya.


"Ada apa? Keburu masuk ini." tanya Azzalia sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Nih. Gue ada hadiah buat elo. Diterima ya." kata Al.


"Buat gue? Dalam rangka apa? Gue ga ultah hari ini." tanya Azzalia.


"Emang kalau ngasih hadiah cuma pas ultah aja? Kapanpun boleh kan?" jawab Al.


"Iya juga sih. Ya udah, thank's ya." jawab Azzalia sambil menerima hadiah itu.


"Yup, sama-sama." jawab Al dengan penuh senyum bahagia.


Lalu Azzalia dan Al masuk kelas bersama dengan senyum mengembang di wajah Azzalia. Siapa sangka, kejadian itu dilihat sepasang mata dari tempat lain. Dia tampak sedih melihat itu.


"Azza? Cowok itu... Azza sepertinya suka sama cowok itu. Semenjak masuk kuliah, Azza tampak lebih sering bersamanya. Siapa sebenarnya cowok itu? Apa dia pacar Azza?". batin Seem.


Tadinya Seem ingin mengembalikan Senter Azzalia yang sudah dia bawa ke tempat servis, karena waktu dia mencoba untuk membenahinya, tidak bisa, sehingga dibawa Seem ke tempat servis sekaligus membenahi kameranya yang mengalami sedikit kerusakan. Namun, niatnya diurungkannya, karena setiap ingin memberikan senter itu, Azzalia selalu bersama orang lain. Kalau ga bersama Al, ya bersama teman Mawar Merahnya.


Seem kemudian masuk ke dalam ruang kelasnya dengan perasaan kecewa. Padahal dia sangat ingin bertemu Azza, gadis yang selalu mengusik hatinya akhir-akhir ini. Namun, meski tak bisa berbincang dan bertemu dengan gadis itu, hanya melihat gadis itu saja, sudah sedikit mengobati rasa rindunya.


💕💕💕


"Gimana? Elo suka ga?" tanya Al saat dosen sudah keluar dan melihat Azzalia mulai membuka paper bag yang diberikan Al tadi padanya.


"Jilbab?" gumam Azzalia sambil membuka bungkus jilbab dan membuka lipatan jilbab segiempat itu.


"Yup. Lo suka?" tanya Al sambil berdiri di belakang Azzalia yang masih duduk di kursi kuliahnya.


"Heem, cantik. Gue suka." jawab Azzalia.


"Yeah, syukurlah kalau elo suka. Itu sengaja gue beli, sebagai tanda terimakasih gue ke elo, karena waktu itu elo ngorbanin jilbab elo buat nolongin gue." kata Al.


"Oh...jadi itu alasannya elo ngasih gue jilbab?" tanya Azzalia.


"Yah, begitulah." jawab Al.

__ADS_1


"Sebenarnya elo tu ga usah repot-repot beliin jilbab buat gue begini, jilbab gue banyak, jadi ga perlu di ganti." kata Azzalia.


"Gue juga percaya kali kalau jilbab elo banyak. Soalnya cewek tu suka ngoleksi jilbab minimal satu lemari. Hahaha, kaya adek gue." kata Al.


"Oh ya? Tapi ga semua gitu juga kali." kilah Azzalia, sambil mencoba jilbab barunya di kepala.


"Elo tampak lebih cantik dengan motif bunga warna pink ini." puji Al sambil menatap kagum Azzalia.


"Ye...baru nyadar lo? Gue emang cantik kali. Udah ah, gue laper, mau makan." kata Azzalia sambil melepas jilbab barunya dan memasukkan kembali jilbab itu ke dalam paperbag berwarna coklat itu.


"Gue ikut." kata Al sambil melompat mensejajari Azzalia.


"No!" tolak Azzalia langsung.


"Why?" tanya Al sambil mengangkat kedua bahunya.


"Gue mau makan sama temen-temen mawar merah." jawab Azzalia sambil berjalan meninggalkan Al.


"Terus, gue gimana?" tanya Al.


"Terserah elo lah." ketus Azzalia.


Azzalia berjalan menuju kopma, dan menemui teman-temannya yang sudah duduk rapi sambil menyantap pesanan mereka.


"Hai Za. Sini Za, elo udah pesen belum?" tanya Renata.


"Belum lah, gue aja baru dari kelas, Re." jawab Azzalia.


"Tumben baru nongol? Perasaan tadi temen-temen elo udah pada keluar dari tadi." kata Renata yang kelasnya memang dekat dengan kelas Azzalia.


"Ye, kaya ga tau Azza aja Re. Dia pasti tadi tu masih berlama-lama sama cowok ganteng wajah arab itu lho. Si Al." kata Syaqila yang membuat Azkya menghentikan kegiatan makannya.


"Emang elo ada hubungan apa sama Al, Za?" tanya Azkya dengan nada sedikit kurang suka.


"Temen. Kita cuma temen kok." jawab Azzalia santai. Karena meski terlihat cuek, sebenarnya Azzalia tau bahwa Azkya sahabatnya itu menyukai Al.


"Gue pesen makan dulu ya." kata Azzalia melangkah pergi menuju dapur Kopma.


"Kak, Bakso saru pedes, sama lemon tea dingin satu ya." kata Azzalia sambil mengambil beberapa tempe goreng dan bakwan yang ada di depannya dan di letakkan di piring kecil yang sudah disediakan.


"Ini kak." kata petugas Kopma.


"Terimakasih kak." kata Azzalia sambil menerima pesanannya yang diletakkan disebuah nampan.

__ADS_1


Azzaliapun akan kembali duduk di kursinya, namun tiba-tiba seseorang memanggilnya.


"Mbakso nih Za?" sapa seorang cowok berkacamata yang ternyata itu adalah Aziz.


"Eh, elo Ziz. Iya nih. Gue laper banget, mau makan bakso. Elo mau juga? Gue pesenin sekalian." kata Azzalia.


"Ga usah. Makasih. Gue udah pesen Mie Ayam kok, tuh, baru di proses." kata Aziz menunjuk kedai mie ayam yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Dari dulu kok ga berubah. Tambah keriting tu nanti rambut elo Ziz. Hahaha. Ya udah deh, gue gabung sama temen-temen dulu ya, pegel ni tangan." keluh Azzalia.


"Enak aja lo ngomong. Ya udah sana. Makan yang banyak, biar gemukan dikit tu badan." ejek Aziz.


"Elo juga tuh." kata Azzalia berlalu.


Sesampainya di mejanya bersama teman-teman Mawar Merahnya, Azzalia langsung siap melahap menunya, sambil mengaduk-aduk baksonya yang masih panas.


"Za, itu tadi siapa?" tanya Renata.


"Ha? Siapa?" tanya Azzalia balik.


"Ye...ditanya bukannya jawab, malah balik nanya." keluh Renata.


"Itu lho Za, cowok yang papasan sama elo di situ tadi. Itu lho... yang duduk di sana. Pake kacamata." terang Syaqila.


"Oh...itu? Anu...itu...sahabat kecil gue. Aziz namanya. Dari fakultas kedokteran. Kenapa?" tanya Azzalia cuek sambil terus memotong baksonya dan memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Ganteng." kata Renata sambil terus menatap cowok itu yang memang terlihat sangat tampan dengan karisma nya.


"Ya iyalah ganteng Masa' cantik?" jawab asal Azzalia.


"Ye...elo mah...kalau diajak ngomongin cowok, semua dikata ganteng, bukan cantik." keluh Azkya yang memang sebal dengan sikap Azzalia yang selalu cuek dengan cowok.


"Ya abis gue harus komen apa coba? Sahabat gue itu, dari lahir juga udah ganteng. Dia itu, anak dokter, makannya dia sekarang sekolah dokter. Orang tua dia itu, dulu sering banget main ke rumah gue, nengokin oma, tapi semenjak oma meninggal, keluarganya udah jarang ke rumah. Karena memang orang tuanya juga orang sibuk semua sih." kata Azzalia panjang lebar.


"Keren..." puji Renata.


"Elo naksir dia? Kalo iya, gue harap sih, elo harus siap patah hati ya. Karena dia itu bukan tipe cowok yang suka main cinta gitu sama cewek. Ga gampang tertarik gitu. Jadi elo kudu punya kekuatan super gitu buat bisa taklukin hatinya." kata Azzalia sambil memainkan tangannya.


"Gitu amat sih Za?" tanya Nadia.


"Ya emang gitu orangnya. So, ya kudu sabar." tambah Azzalia.


"Ehm, Berarti dia keturunan darah biru dong ?" tanya Renata kagum dengan mengesampingkan kata-kata Azzalia tentang susahnya mendapatkan hati cowok itu.

__ADS_1


"Ya engga lah Re...Dia itu keturunan darah merah. Darah orang tuanya merah semua Re." jawab Azzalia yang akhirnya mengundang tawa teman-temannya dan mengundang perhatian Aziz yang sedang duduk sendiri menghadap gerombolannya Azzalia.


__ADS_2