
"Ya Allah, ini kan dompetnya Azza. Kenapa masih di tas gue?" gumam Seem saat membongkar tas nya, mencari flashdisk berisi tugas-tugas kuliahnya.
Seem memang kemarin sempat membawakan dompet Azzalia saat di rumah sakit. Ketika Azzalia mengurus administrasi kakaknya. Karena buru-buru, Azzalia meninggalkan dompetnya di ruang administrasi, kemudian Seem dipanggil perawat bahwa dompet temannya ketinggalan, Seem pun memasukkan dompet Azzalia di ranselnya, hingga dia lupa bahwa ada dompet orang di ranselnya.
"Gue harus segera balikin ini dompet, khawatirnya Azza membutuhkan nya." kata Seem sambil memegang dompet kulit berwarna hitam milik Azzalia.
...****************...
Sudah hari ketiga sepeninggal Diego, Dian diminta kembali oleh orangtuanya yang akan membawa Dian dan Zoya pulang ke kampung halaman mereka di Aceh. Apalagi setelah mendengar kasus meninggalnya Diego, ayah Dian tidak ingin putri dan cucunya kenapa-napa, sehingga mereka meminta ijin kepada keluarga suami Dian, untuk membawa kembali putri mereka ke Aceh.
"Kak...hati-hati ya." kata Azzalia dengan sedihnya melepas kepergian kakak iparnya.
"Jaga diri kamu baik-baik ya dek." kata Dian sambil mengusap air matanya yang sedari tadi terus keluar. Rasanya Dian tak tega meninggalkan Azzalia seorang diri di rumah itu, tetapi Dian tak bisa menolak ayahnya demi keselamatan Zoya juga.
"Iya kak. Kakak juga." jawab Azzalia masih sesenggukan.
"Mbul, kamu baik-baik ya nak, jangan rewel, kasihan mama." kata Azzalia kepada baby Zoya.
"Iya aunti." jawab Dian mewakili Zoya yang belum bisa berbicara.
Azzaliapun mengecup kedua pipi Zoya yang gembul dan menggemaskan. Lalu Azzalia dan Dian saling berpelukan, hingga akhirnya mereka saling melambaikan tangan, sebagai tanda perpisahan.
Setelah kepergian Dian, Azzalia akan kembali masuk ke dalam rumah bersama Mutiara dan Shanum. Zio, Aziz dan Dzen mengikuti di belakang, tetapi saat Aziz akan masuk, Aziz melihat seperti ada orang yang mengintip di balik pagar rumah Diego.
Aziz yang penasaran, segera berjalan keluar, mencoba memastikan apakah penglihatannya tadi benar atau tidak.
"Ga ada siapa-siapa, tapi, perasaan tadi kaya ada orang." gumam Aziz.
Saat Aziz akan masuk, sebuah motor tiba di depan gerbang rumah Diego.
"Assalamualaikum." salam Seem yang sudah berada dihadapan Aziz.
"Wa'alaikumussalam. Eh, Seem. Ada apa Seem?" tanya Aziz.
"Ehm, maaf, Azzalianya ada?" tanya Seem.
"Ada, mari masuk." ajak Seem.
"Eh ga usah Ziz, gue disini aja. Gue cuma ada perlu sedikit sama Azza." kata Seem sungkan.
"Gapapa Seem, ayo masuk. Di dalem ada papa mamaku, dan om tantenya Azza. Rame kok di dalem." kata Aziz.
"Ehm, baiklah." kata Seem.
Saat tiba di ruang tamu, Azzalia masih menangis dengan ditenangkan oleh dua wanita paruh baya.
"Maaf pa, om. Ini ada temen Azza, ada perlu sama Azza katanya." kata Aziz kepada Zio dan Dzen.
"Oh, ya mari silakan duduk." kata Dzen mempersilakan.
__ADS_1
Azzalia menoleh ke arah tamu itu dengan wajah sembahnya, karena sudah tiga hari dia terus menangis.
"Seem?" gumam Azzalia sambil menghapus air matanya.
"Sorry Za. Ehm...gue lupa, gue udah bawa dompet elo sejak kemarin lusa." kata Seem sambil menyerahkan dompet hitam itu kepada Azzalia.
"Ya ampun Seem, gue kira gue kecopetan. Taunya elo bawa?" tanya Azzalia segera memeluk dompetnya.
"Iya, sorry. Kemarin pas elo ngurus administrasi kakak elo di rumah sakit, dompet elo ketinggalan, terus perawat ngasih kan dompetnya elo ke gue. Eh, abis itu, terus elo malah pingsan lagi. Ya udah, dompet elo gue rawat dulu." kata Seem.
"Thanks ya Seem." kata Azzalia lemah.
"Iya sama-sama. Di cek dulu, ada yang ilang engga. Soalnya jujur, gue ga ngambil apapun dari dalam dompet elo." kata Seem.
"Ga usah. Gue percaya sama elo kok." kata Azzalia dengan sedikit tersenyum.
"Ya sudah. Gitu aja, gue pamit ya." kata Seem kepada Azzalia.
"Lhoh, kok buru-buru nak?" tanya Dzen.
"Ehm, i-iya om. Saya ada keperluan lain." kata Seem beralasan.
"Oh, ya sudah. Kamu hati-hati ya." kata Dzen.
"Iya om. Ya sudah, saya permisi om, tante. Aziz." kata Seem ramah.
Semua orang di sana mengangguk dengan senyuman. Aziz mengantarkan Seem sampai di luar.
"Temen tante." jawab Azzalia singkat.
"Yakin?" goda Mutiara.
Kening Azzalia mengernyit.
"Maksud tante Tiara?" tanya Azzalia tak mengerti.
"Yakin cuma temen?" goda Mutiara.
"Ya, iya tante." jawab Azzalia masih dengan mode bingung.
"Dia ganteng lho." goda Mutiara.
"Ya masa' cantik tante? Dia kan Cowok." jawab Azzalia.
"Emang Azza ga suka sama dia?" tanya Shanum to the poin.
Azzalia terdiam, entah mengapa dia sulit menjawab pertanyaan tantenya.
"Iya tu tan, Azza pasti suka sama Seem." sergah Aziz tiba-tiba muncul dari pintu utama.
__ADS_1
"Aziz, apaan sih lo?" kilah Azzalia.
Zio yang sedari tadi hanya diam dalam sikap dinginnya, seketika berfikir bahwa ada ide untuk keamanan Azzalia.
"Udah...jujur aja, Gue tau kok. Dulu, elo sempet ketinggalan armada kan pas pepemaru, dan elo dibonceng Seem. Terus, pas pembekalan LPM, mobil elo mogok, yang ngurusin juga Seem. Dan kemarin, pas kak Diego di rumah sakit, elo ke sana dianter Seem juga kan? Tuh, udah jelas banget, kalian ada hubungan khusus." tebak Aziz yang sedari kecil memang cerdas dalam menganalisis.
"Ya...iya. Tapi...bukan berarti gue suka sama dia kan?" kilah Azzalia.
Zio manggut-manggut menanggapi percekcokan antara Aziz dan Azzalia.
"Baik, kalau begitu, kalian menikah saja." kata Zio tiba-tiba, seketika membuat semua orang menoleh ke arah Zio.
"Apa? Nikah?" tanya Azzalia shok.
"Ya. Lebih aman jika kamu menikah dengan dia." jawab Zio santai.
"Ta-tapi om..." sergah Azzalia yang terputus karena Aziz menyelas.
"Cocok om. Ide cemerlang! Azza tu anaknya ceroboh om, dia pelupa, dia juga sangat butuh pengawasan ekstra, lebih aman, kalau dia di nikahin aja." kata Aziz.
"Enak aja lo, gue masih terlalu muda untuk menikah tau." tukas Azzalia.
"Pa...maaf. Apa harus seperti itu jalan untuk menjaga Azzalia dari orang jahat?" tanya Shanum.
"Ya." jawab Zio dingin.
Dzen tampak berfikir, dengan mengelus jenggotnya yang hanya tumbuh sedikit.
"Ehm, maaf pak Zio. Apa...itu tidak terlalu terburu-buru? Mengingat, Azza masih terlalu muda untuk berumah tangga." sergah Mutiara.
"Tidak." jawab Zio tetap mode dingin.
"Ehm, menurut saya, memang ada baiknya Azzalia menikah lebih muda. Kamu bukan mahasiswa beasiswa kan?" tanya Dzen.
Azzalia menggeleng.
"Mahasiswa menikah saat masih kuliah, itu boleh kok, berbeda jika masih sekolah, hal itu pasti akan banyak pertanyaan. Apalagi saat ini kamu dalam ancaman, situasi tidak bersahabat untukmu jika kamu sendirian Azza. Sedangkan kami tidak bisa terus menerus di sini menemanimu." kata Dzen.
Azzalia terdiam, Dia membenarkan kata Dzen, karena memang saat ini dia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Sedangkan Zio dan Shanum tinggalnya di Semarang, dan Mutiara dan Dzen tinggal di Solo. Sehingga Azzalia berfikir keras untuk hal itu, apalagi sekarang, Dian juga sudah kembali ke tanah kelahirannya di Aceh. Azzalia merasa hanya sendiri.
"Sayang, jangan kamu ambil hati kata om mu Zio. Dia memberi solusi atas masalah mu dengan menikah, bukan berarti kami tak mau merawatmu, menjagamu dan menjadi keluargamu. Tetapi, kamu masih harus berjuang di kota ini, sedangkan kami harus kembali ke tempat tinggal kami masing-masing." kata Shanum hati-hati.
"Iya sayang. Jangan pernah kamu merasa sendiri, kami ada untukmu. Kami adalah orangtuamu." kata Mutiara.
"Ehm...om, tolong berikan waktu untuk Azza berfikir." pinta Azzalia.
"Baik. Besok pagi kamu jawab ya. Biar besok kami bisa langsung menyampaikan niat kami kepada Temanmu itu." jawab Zio.
"Maksud om, pihak perempuan yang menyampaikan niatnya kepada laki-laki?"tanya Azzalia tak percaya.
__ADS_1
"Ya. Bukankah Rasulullah dan siti Khodijah juga begitu?" tanya Zio.
"Ya Tuhan... kenapa ceplosanku teraamiin kan? Gara-gara mulut ini bilang kalau tipe cowokku itu seperti nabi Muhammad, jadilah nasib ku seperti kisah Nabi Muhammad kan?" batin Azzalia.