Bayangan Cinta Pantulan Asa

Bayangan Cinta Pantulan Asa
Ke Pelaminan Yuk!


__ADS_3

"Mas." panggil Azzalia saat Seem sudah dipindah ke ruang rawat inap. Azzalia yang masih duduk di kursi roda, dituntun oleh Shanum menuju ruang rawat inap Seem.


Azzalia langsung berdiri dari kursi rodanya dan memeluk tubuh Seem yang masih duduk di atas hospital bad. Pelukan yang lama mereka lakukan untuk melepas rasa rindu yang dalam karena keadaan.


"Kamu baik-baik saja sayang?" tanya Seem membelai kepala Azzalia yang tertutup jilbab. Azzalia mengangguk dengan senyum harunya.


"Alhamdulillah, Mas juga baik." kata Seem.


"Aku sangat mengkhawatirkan mu mas. Aku ga kebayang, kalau kamu pergi tinggalin aku mas." kata Azzalia sambil menangis.


"Engga, ada Allah yang akan jagain kita. Allah yang beri kita kekuatan." kata Seem.


Lagi-lagi Azzalia memeluk Seem dengan cukup lama, hingga deheman Aziz membuat keduanya merenggangkan pelukannya.


"Jaga perasaan jomblo, bisa?" tanya Aziz yang membuat Azzalia sebal dibuatnya.


"Ih, Aziz! Nyebelin banget sih lo?" gerutu Azzalia.


"Hahaha, makannya, segera nikah tuh kaya Azza dan Seem." kata Dzen yang melihat tingkah putranya.


"Apaan sih pa? Gitu doang, main suruh nikah aja." omel Aziz.


"Seem, jadi ini istrimu?" tanya Meylani.


"Iya mah." jawab Seem.


"Kamu cantik sekali nak. Kenalkan, aku Meylani, mama kandungnya Seem." kata Meylani.


"Salam kenal tante." kata Azzalia.


"Tante?" tanya Meylani.


"Ehm..."


"Panggil aku mama ya, dan panggil di papa, karena dia adalah papa kandung Seem. Itu berarti kami adalah mertuamu juga, jadi panggil kami papa dan mama ya." pinta Meylani.


"I-iya mah." jawab Azzalia.


Tiba-tiba Zio datang dan memanggil Dzen.

__ADS_1


"Mas Dzen, ikut saya!" titah Zio dengan wajah dingin, membuat semua orang terdiam dengan sikap Zio.


Dzen dan Zio berjalan ke luar ruangan Seem, mereka berbicara di balkon rumah sakit yang tak jauh dari ruang rawat inap Seem.


"Mas Dzen, saya sudah mendapat informasi terkait kecelakaan Azzalia dan Seem."


"Bagaimana pak?" tanya Dzen penasaran.


"Benar dugaan kita, mobil hitam yam terparkir tak jauh dari rumahku itu bukan Orang baik, dia sengaja merusak bagian dari mobil Seem, dan mereka memang berniat untuk membuat kecelakaan itu." kata Zio.


"Dan orang itu, adalah orang yang sama dengan yang membuat kecelakaan pada mas Pian dan mbak Nilam, dan sudah dipastikan, dia juga yang melakukan kecelakaan pada Diego." kata Zio.


"Apa pak Zio sudah mempunyai rencana untuk kasus ini?" tanya Dzen.


"Saya akan menemui pelakunya dulu. Sebelum saya meminta untuk dihukum sesuai aturan undang-undang yang berlaku di negeri ini." kata Zio.


Setelah percakapan itu, Zio mengajak Dzen untuk pergi ke kantor polisi, memberikan keterangan dan menemui orang di balik kecelakaan yang menimpa keluarga Zio.


"Hahaha, kamu akhirnya menemui ku lagi." tawa seorang laki-laki yang keluar dari jeruji besi dengan wajah awut-awutan.


"Apa maumu?" tanya Zio.


"Maaf pak, setelah kami konsultasikan pada dokter jiwa, ternyata dia mengalami sedikit gangguan kejiwaan." kata seorang petugas kepolisian.


"Hem, baik pak. Terimakasih atas informasinya." jawab Zio.


"Aku ga akan pernah membiarkan kamu bebas, mulai sekarang sampai kamu mati, kamu akan mendekam di sini selamanya." kata Zio.


"Gue ga takut!" teriak laki-laki itu.


"Pian sudah merusak semuanya, Pian sudah membuat mamaku gila dan bahkan dia juga ga pernah mengakui ku sebagai anaknya. Orang macam apa dia? Cih!" kata pria bernama Roy itu.


Zio tak banyak berkomentar, karena yang dihadapannya kini bukan orang waras, dan dia tau tentang sikap Pian yang dulu memang meninggalkan istri pertamanya demi Nilam kakaknya, wanita yang dicintai Pian dengan sepenuh hati. Namun kesemuanya kini sudah tiada, Zio hanya diam dan meminta kepada petugas untuk terus mengawasi laki-laki gila di hadapannya.


Setelah menjenguk Roy, Dzen dan Zio kembali ke rumah masing-masing, karena setelah itu, Azzalia dan Seem juga sudah diperbolehkan pulang.


Seem diminta pulang ke rumah papanya, begitupun dengan Azzalia, karena lokasi mereka saat ini masih tinggal di Semarang, dengan keadaan kesehatan yang belum pulih betul.


Setelah beberapa waktu lamanya pemulihan kondisi Seem dan Azzalia, Meylani dan Fathan kembali rujuk demi Seem. Setelah mereka sudah sah suami istri lagi, mereka meminta acara resepsi untuk putra tunggal mereka.

__ADS_1


💕💕💕


"Assalamualaikum ukhti." sapa Mu'iz kepada Renata yang sedang berdiri menatap kedua mempelai pengantin sahabatnya.


"Eh, wa-wa'alaikumussalam." jawab Renata agak kaget.


"Sendirian aja?" sapa Mu'iz.


"Ehm, begitulah." jawab Renata kikuk, karena hatinya saat ini sedang melonjak kegirangan. Sosok pria yang beberapa waktu ini mengisi hatinya, ternyata Allah kembali pertemukan mereka lagi di acara resepsi sahabatnya, Azzalia.


"Ga ada temen ya? Kalau aku temenin, mau ga?" tanya Mu'iz, sambil melirik Renata, sedangkan Renata melirik ke arah Azkya sahabatnya, yang masih asyik mengobrol dengan Al, cowok yang selama ini di taksir Azkya, ternyata akhirnya luluh juga, Al mau membuka hatinya untuk Azkya


Renata mengangguk pelan, membuat hati Mu'iz berbunga-bunga, karena usahanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ga seru kan kalau niat hati tepuk tangan, tetapi ternyata hanya sebelah nya saja, tentu tidak bunyi bukan.


"Oya, mulai bulan depan, aku bakal tinggal di Jakarta juga lho. Aku akan lanjut kuliah di sana juga, bakal satu kampus sama kamu juga." kata Mu'iz.


"Oya?"


"Iya. Ga percaya ya?"


Renata menggeleng.


"Ya begitulah jika Allah sudah mendekatkan kedua hati yang mulai menyatu." kata Mu'iz.


"Maksudmu?" tanya Renata.


"Tunggu aja, dalam waktu dekat nanti, aku akan datang ke rumahmu, menemui orang tuamu dan meminta ijin kepada mereka untuk menjadikanmu teman hidupku." kata Mu'iz yang seketika membuat Renata terkejut dan tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Gapapa kan, masih kuliah, nikah? Harusnya sih gapapa ya, itu Azzalia aja juga nikah, InshaaAllah, Allah akan mudahkan." kata Mu'iz dengan percaya diri.


Renata masih tak habis pikir dengan Mu'iz, tak disangkanya pria bar-bar ini tidak basa basi dengannya, dan langsung saja menyatakan keseriusannya kepada Renata.


"Kita ke pelaminan yuk!" ajak Mu'iz.


"Ha? Sekarang?" tanya Renata yang langsung baper, karena seolah Mu'iz mengajak menikah saat ini juga.


"Iya, sekarang. Aku belum kasih ucapan selamat sama Azza dan Seem. Kamu mau kan temenin aku ke sana dan foto bareng mereka?" tanya Mu'iz.


'Ah, ya Allah, maksudnya ke sana untuk memberikan ucapan selamat ya? Kirain dia ajak ke pelaminan dalam arti lain.' batin Renata. Akhirnya Renata mengangguk, dan mengikuti langkah Mu'iz menuju tempat berdirinya Azzalia dan Seem.

__ADS_1


__ADS_2