Bayangan Cinta Pantulan Asa

Bayangan Cinta Pantulan Asa
Oh Ternyata?


__ADS_3

"Halo. Apa? Kamu serius mbak?" tanya Mutiara yang masih tak percaya dengan kata orang di seberang.


"Terus, sekarang mereka di mana mbak?"


"Okey. aku ke sana." kata Mutiara menutup panggilan teleponnya.


"Mas, mas Dzen." panggil Mutiara membangunkan Dzen yang sudah terlelap karena kelelahan perjalanan dari Ponorogo tadi siang.


"Hem?"


"Papa, bangun dong, mama ada info penting ini." kata Mutiara menggoyangkan tubuh Dzen.


Dzen pun mengerjap, mencoba mengumpulkan puing-puing nyawa yang sudah melanglang buana beberapa saat.


"Ada apa sih sayangku?" tanya Dzen.


"Azza pa, Azza." kata Mutiara dengan wajah cemas nya.


"Azza? Azzalia maksudnya?"


"Iya pa."


"Kenapa?"


"Azzalia sama suaminya mengalami kecelakaan pa, di Semarang. Sekarang mereka di bawa ke rumah sakit terdekat." kata Mutiara.


Seketika Dzen melebarkan matanya, menatap lekat mimik wajah istrinya.


"Kamu serius mah?" tanya Dzen.


"Serius pa, barusan mbak Shanum yang telpon." kata Mutiara.


"Okey, kita ke sana sekarang. Aziz dibangunin ga?" tanya Dzen.


"Tadi dia belum tidur pa, coba papa panggilin dia ya, mama mau siap-siap dulu." kata Mutiara.


"Okey."


💕💕💕


Ceklek


Suara pintu ruang dokter terbuka, tampak wajah sedih sosok seorang laki-laki yang keluar dari ruang dokter itu. Zio melihatnya, lalu segera menemui laki-laki itu.


"Maaf pak, apakah anda benar papanya Seem?" tanya Zio sopan.


Laki-laki itu menoleh, dan menatap wajah Zio.


"Pak Zio?" kata laki-laki itu tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Anda mengenal saya?" tanya balik Zio.


"Anda dosen di Universitas Semarang bukan? Pak Zioda?" tanya laki-laki itu memastikan.


"Ya, benar." jawab Zio.


"Saya Fathan pak, Fathan Ginanjar Prasetyo, alumni universitas Semarang." jawab Fathan.


"Fathan?"


"Ya pak."

__ADS_1


"Oh, baik."


"Anda mengenal putra saya pak? Apakah putra saya membuat ulah pada anda pak?" tanya Fathan.


"Oh, tidak. Sungguh, tidak. Jadi, benar, Seem itu putramu?" tanya Zio.


"Benar pak, dia anak saya satu-satunya." jawab Fathan.


"Oh, syukurlah, Tuhan mempertemukan kalian dengan cara ini. Bagaimana keadaan Seem? Apa kata dokter?" tanya Zio penasaran.


"Seem, mengalami benturan yang cukup keras di kepalanya pak, sehingga dia mengalami pendarahan yang cukup serius di bagian kepalanya. Dan, dia harus segera mendapatkan donor darah." kata Fathan.


"Apa golongan darahnya?" tanya Zio.


"A resus positif pak. Dan yang cocok dengan golongan darahnya itu, mamanya pak." kata Fathan.


"Apakah anda sudah menghubungi mamanya?" tanya Zio.


"Sudah pak." jawab Fathan.


"Pak Zio sendiri, kenapa ada di sini dan bisa mengenal putra saya?" tanya Fathan.


"Ya, karena, keponakan saya juga mengalami kecelakaan bersama Seem. Maaf, jika saya lancang, dan anda mungkin belum mengetahui berita ini." kata Zio.


"Terkait Seem menikah?" tebak Fathan.


"Anda sudah mengetahuinya?" tanya Zio.


"Ya pak. Saya selama ini mengawasinya dari jauh, dengan mengutus beberapa pekerja saya untuk selalu memberikan informasi tentang dia, termasuk saat dia mengalami kecelakaan saat ini." jawab Fathan.


"Namun, kenapa anda tidak hadir ketika mereka menikah?" tanya Zio.


"Saya tidak ingin mengganggu ketenangannya pak. Melihat dia tersenyum bahagia, tanpa mengeluh, dan terseok-seok karena kerasnya kehidupan, itu sudah lebih dari cukup Bagi saya." jawab Fathan.


"Sudah pak. Itulah sebabnya saya tidak memunculkan diri. karena saya masih belum bisa menerima kenyataan itu, tetapi saya tidak tega jika harus acuh tak acuh padanya." jawab Fathan.


"Luar biasa!" komentar Zio.


"Ehm, apakah, pak Zio ini. bagian dari keluarga istri Seem?" tanya Fathan.


"Ya. Saya om nya." jawab Zio.


💕💕💕


Di sebuah lobi rumah sakit, tampak seorang wanita dengan rambut tergerai sebahu, dengan setelan celana panjang dan jas wanita, sambil menenteng tas kecilnya. Wanita itu menuju meja resepsionis, menanyakan lokasi ruang ICU di rumah sakit itu. Setelah bertanya, tak sengaja dia menabrak seseorang.


Bruk


"Eh, maaf. Maaf." kata wanita itu.


Orang yang ditabrak nya masih dengan posisi berdiri, sambil tangan kirinya menggandeng lengan seorang wanita. Sepasang suami istri itu menatap wanita yang menabrak itu.


"Mbak Meylani?" sapa Mutiara.


Tampak wanita itu mengernyit, dan mencoba mengingat-ingat sosok wanita yang menyebutkan namanya ketika remaja.


"Saya Tiara mbak. Mutiara Hati, alumni Universitas negeri Semarang." lanjut Mutiara yang mengerti raut kebingungan lawan bicaranya.


"Astaga, Tiara? Ya Tuhan, Ra. Kamu kok makin cantik aja, aku jadi pangling." kata Meylani yang langsung memeluk teman lamanya.


"Alhamdulillah mbak. Tapi bisa aja lho mbak Meylani ini, aku ini kan sudah tua, sudah hampir kepala lima, masak masih dibilang tambah cantik sih?" komentar Mutiara

__ADS_1


"Hahaha, iya, mama cantik. Oh ya, maaf ya Tiara, aku buru-buru. Anakku membutuhkan kau di ruang ICU." kata Meylani yang teringat dengan putranya.


"Oh, ya mbak. Hati-hati." kata Mutiara yang memahami perasaan seorang ibu.


Meylani pun segera pergi meninggalkan Mutiara dan Dzen.


"Temanmu sayang?" tanya Dzen.


"Iya mas." jawab Mutiara.


"Mana sih Aziz? Lama sekali?" gerutu Dzen.


"Sabar mas."


Tak berapa lama akhirnya anak sulung Dzen dan Mutiara muncul juga, merekapun segera berjalan menuju ruang rawat Azzalia dan ke ruang ICU, tempat Seem di rawat. Setelah menemui Azzalia, Mutiara ijin ikut Dzen dan Aziz untuk menjenguk Seem. Saat Mutiara tiba di ruang tunggu ICU, Azzalia melihat sosok laki-laki yang tak asing baginya.


"Kak Fathan?" sapa Mutiara.


Fathan melihat sosok wanita yang menyebut namanya, dan Seketika Fathan teringat dengan sosok wanita lemah lembut serta ramah jaman dia kuliah dahulu.


"Tiara?"


"Kak Fathan kenapa ada di sini?" tanya Mutiara heran.


"Kamu sendiri, kenapa ada di sini?" tanya balik Fathan.


"Saya menjenguk keponakan saya kak." jawab Mutiara.


"Dia papanya Seem." jawab Zio yang mengerti akan maksud pertanyaan Mutiara tadi.


"Oh, ternyata kak Fathan papanya Seem?" tanya Mutiara yang terkejut dengan kenyataan yang ada.


"Ya Ra, aku papanya Seem. Kamu mengenalnya?"


"Tentu, dia suami dari keponakan saya." jawab Mutiara.


"Jadi, pak Zio dan Kamu ini saudara?" tanya Fathan.


"Bisa dibilang begitu." jawab Zio.


"Ini, suamimu?" tanya Fathan menyalami pria di samping Mutiara.


"Iya kak. Dia dokter Dzen."


"Ya, aku mengenalnya. Dia kan dokter kesayangan nenekku dulu." jawab Fathan yang masih sangat ingat akan kisah masa lalunya bersama sang nenek.


"Oh, ya. Salam kenal." jawab Dzen.


"Dan ini putra sulung kami, Aziz." kata Mutiara memperkenalkan Aziz kepada Fathan.


"Oh, ya, saya Fathan. Papanya Seem." kata Fathan memperkenalkan diri.


"Aziz. Temannya Seem." jawab Aziz.


Merekapun saling berbincang hingga proses transfusi darah antara Seem dengan ibunya selesai, lalu wanita yang keluar dari ruang transfusi darah itu keluar, dan menyapa Zio dan Fathan. Namun, tak disangka nya, dia kembali bertemu dengan Teman lamanya yang dia jumpai di lobi tadi.


"Tiara? Kamu di sini juga?" tanya Meylani.


"Eh, iya mbak." jawab Mutiara.


"Dia, mamanya Seem." kata Fathan memperkenalkan Meylani kepada Mutiara.

__ADS_1


"Ya Allah, ternyata dunia ini sempit ya?" komentar Mutiara sangat bahagia.


__ADS_2