Bayangan Cinta Pantulan Asa

Bayangan Cinta Pantulan Asa
Muhasabah Cinta


__ADS_3

Wahai pemilik nyawaku


Betapa lemah diriku ini


Berat ujian dari-Mu


Kupasrahkan semua pada-Mu


Tuhan, baru kusadar


Indah nikmat sehat itu


Tak pandai aku bersyukur


Kini 'ku harapkan cinta-Mu


Kata-kata cinta terucap indah


Mengalir berzikir di kidung doaku


Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku


Butir-butir cinta air mataku


Teringat semua yang Kau beri untukku


Ampuni khilaf dan salah selama ini


Ya Ilahi, Muhasabah cintaku


Tuhan, kuatkan aku


Lindungiku dari putus asa


Jika ku harus mati


Pertemukan aku dengan-Mu


Kata-kata cinta terucap indah


Mengalir berzikir di kidung doaku


Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku


Butir-butir cinta air mataku


Teringat semua yang Kau beri untukku


Ampuni khilaf dan salah selama ini


Ya Ilahi, Muhasabah cintaku

__ADS_1


Kata-kata cinta terucap indah


Mengalir berzikir di kidung doaku


Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku


Butir-butir cinta air mataku


Teringat semua yang Kau beri untukku


Ampuni khilaf dan salah selama ini


Ya Ilahi, Muhasabah cintaku


Sound track yang mengiringi Syaqila saat dirinya menuliskan kata-kata pada buku diarynya, di lembaran terkahir.


['Hari ini aku sangat bahagia, karena malam ini adalah malam ketiga aku bertemu dengannya dalam mimpi. Dia datang kepadaku dengan busana pengantin, dan memberikan sebuket bunga padaku. Aku tak tau apa arti dari mimpiku, yang jelas, aku sangat bahagia mendapatkan senyuman khusus darinya. Kalau berharap menjadi jodohnya di akhirat, itu adalah impianku semenjak dia pergi. Tetapi aku sadar diri, dosaku terlalu banyak, hingga aku tak yakin bisa bersanding dengannya di surga.


Aku hanya berharap, rasa sakit ini segera pergi, karena menahan rasa sakit itu sungguh tidaklah mudah. Semoga, rasa sakit yang kurasa ini, bisa menjadi penggugur dosaku, dan membuatku bisa berjumpa dengannya di di surga.


Yaa Allah, sungguh aku MerindukanMu, jikalau engkau ingin memanggilku untuk kembali padamu, InshaaAllah Aku siap. Aku tak ingin merepotkan siapapun atas penyakit yang ku derita, aku ingin mereka tetap bahagia, dengan tanpa beban merawat ku terlalu lama. Aku mohon, kabulkanlah doaku.']


Selembar kertas dalam buku diary, di baca Azzalia bersama dengan Azkya dan Renata yang juga sudah duduk bersama di kamar Syaqila. Mereka semua menangis sambil berpelukan, setelah tadi mereka mengantarkan jenazah Syaqila menuju tempat istirahat terakhirnya dan Sarah mengantarkan mereka ke kamar Syaqila untuk membaca beberapa pesan dari Syaqila untuk sahabat-sahabatnya.


"Assalamualaikum." salam seseorang yang membuat ketiga sahabat itu menoleh ke sumber suara yang berdiri di ambang pintu kamar Syaqila.


"Wa'alaikumussalam." jawab mereka serempak dengan wajah terkejut.


"Nadia!" pekik Azkya yang langsung meloncat memeluk Nadia yang sudah berdiri di kamar itu.


"Nad...Syaqila Nad, Syaqila..." tangis Azkya sambil memeluk Nadia. Nadiapun membalas pelukan Azkya dan mengelus punggung sahabatnya.


"Aku tau. Kita harus ikhlas, agar Syaqila bahagia di sana." pesan Nadia sambil mengelus kepala Azkya yang terbalut jilbab hitam lebar.


Setelah keempat sahabat itu saling berpelukan, mereka kemudian saling bercengkrama, Dan Nadia menjadi salah satu tersangkanya, karena Nadia pergi tanpa pamit.


"Maafkan aku." jawab Nadia.


"Pokoknya aku ga mau, diantara kita ada yang main rahasia-rahasiaan lagi. Kita ini sahabat, kita ada untuk berbagi, tidak untuk sendiri-sendiri." kata Renata yang diangguki semua temannya.


"Kalian setuju?" tanya Renata.


"Setuju." jawab Azzalia dan Azkya. Lalu Renata menoleh ke arah Nadia, yang masih mematung.


"Nadia?" panggil Renata. Lalau Nadiapun terkesiap, dan akhirnya ikut mengangguk.


"Sekarang, jelasin ke kita, kenapa kemarin kamu pergi ninggalin kita tanpa pamit?" introgasi Azkya yang masih tidak terima dengan sikap Nadia beberapa waktu lalu.


"Ehm..."


"Apakah kita ada salah sama kamu Nad?" tanya Renata, yang langsung dijawab Nadia dengan celengan kepala.

__ADS_1


"Terus kenapa?" tanya Azkya masih penasaran.


"Karena... karena sudah tidak ada kang Opik di sini." jawab Nadia tertunduk pilu.


"Seperti yang kalian tau, sejak kecil aku tinggal tanpa orang tua, aku hanya tinggal bersama kakek dan Kang Opik. Namun saat kang Opik mesantren, akupun ikut pesantren, tetapi karena ga diterima di pesantren kang Opik. akupun didaftarkan di pesantren dekat dengan pesantren kang opik, tepatnya aku ikut di pesantren khusus anak yatim. Dan karena ibuku menikah lagi, membuatku enggan untuk kembali ke rumah, dan aku memilih ikut kang Opik."


"Saat kang Opik lanjut study di Jakarta, akupun ikut kang Opik. Kang Opik dapet beasiswa, sedangkan aku? Aku hanya ikut yang reguler yang setiap bulannya aku harus membayar, yang mana pakde dan budeku lah yang menanggung segala biaya kuliahku. Awalnya aku enjoy saja, namun setelah kang Opik pergi rasanya aku kurang nyaman. Dan aku memilih untuk kembali ke Pesantren di Ponorogo. Aku sengaja kembali ke sana untuk kembali kepada orang tua angkat ku, dan aku akan lanjut kuliah di sana sambil bekerja." lanjut Nadia.


"Oh, begitu? Jadi bukan karen kita?" tanya Azkya.


"Sungguh, bukan." jawab Nadia tulus.


"Lalu, kamu ke sini sama siapaa Nad? Dan, kamu tau kabar Syaqila meninggal dari siapa?" tanya Renata.


"Aku dapet kabar dari budeku, bu Hani. Bu Hani dapet kabar dari...Seem." jawab Nadia sambil menoleh ke arah Azzalia.


"Terus, ke sininya kamu naik bis Nad?" tanya Azkya yang sudah tau rutenya.


"Tidak, aku diantar." jawab Nadia.


"Siapa?" tanya Azkya penasaran.


"Mas Ashar." jawab Nadia dengan rona wajah yang berubah.


"Mas Ashar?" tanya Azkya tak percaya, tetapi Renata dan Azzalia hanya melihat dengan bingung, karena mereka tidak mengenali orang yang disebut Nadia.


"Iya " jawab Nadia.


"Kok bisa?"


"Ya bisa. Karena mas Ashar ada di pesantren." jawab Nadia.


"Engga, maksud aku, kok bisa mas Ashar yang anterin kamu? Emang boleh sama pak Kyai dan bu Nyai?" tanya Azkya Heran.


"Ehm, ya, boleh. Karena...beliau calon suamiku." jawab Nadia yang berhasil membuat ketiga sahabatnya terbelalak tak percaya.


"What? calon suami?" tanya Azkya, dan Renata bersamaan.


"Ya, calon suami. Dan InshaaAllah, minggu depan aku akan menikah." jawab Nadia mantab.


"Kamu serius Nad?" tanya Azkya masih tak percaya.


"Iya. Serius." jawab Nadia.


"Kamu... ga lagi berusaha mencari pelampiasan kan Nad?" tanya Azzalia yang merasa, bahwa karena dia menikah dengan Seem, membuat Nadia menjauh dan menerima pernikahan dengan orang lain.


"Maksudmu?" tanya Nadia yang sebenarnya tau arah pembicaraan Azzalia.


"Iya nih Za, apa sih maksud lo?" protes Renata yang merasa janggal dengan kata-kata Azzalia.


"Tidak Azza, sungguh, aku bersyukur, ternyata aku kembali ke tempat yang tepat, dimana ada seseorang yang menantikan ku, sehingga saat aku baru tiba, dia sudah mengkhitbahku, dan kami akan segera dinikahkan." jawab Nadia berbinar.

__ADS_1


"Kamu ga ngundang kita?" tanya Renata.


"Tentu aku mengundang kalian, karena kalian adalah sahabat terbaik ku. InshaaAllah nanti undangannya menyusul ya." kata Nadia tersenyum tulus kepada ketiga sahabatnya. Mereka berempatpun berpelukan dengan penuh bahagia.


__ADS_2