
"Ehem." deheman seseorang berhasil mengagetkan Azzalia yang baru selesai menyeranjatkan sepeda lipatnya. Azzalia langsung berbalik badan dan melihat orang yang berdehem.
"Eh, Seem?"
"Nih, senter lo. Gue mau balikin dari dulu, tapi ga sempet." kata Seem.
"Eh, ya ampun, gue malah lupa kalau gue punya senter." kata Azzalia.
"Sorry, sampe lama. Soalnya gue ga bisa benerin, rusaknya lumayan serius, jadi gue bawa ke tukang servis." kata Seem.
"Eh, elo bawa ke tukang servis? Terus, berapa ongkosnya?" tanya Azzalia yang langsung merogoh kantong celananya.
"Ga usah!" tolak Seem.
Setelah mendapatkan uang lembaran warna biru dari celana jinsnya, Azzalia langsung menggenggam kan uang itu ke tangan Seem.
"Ga, elo harus terima. Gue udah banyak ngerepotin elo, jadi please, elo kudu nerima. Kalau kemarin gue ga bisa kasih lo duit karena memang gue ga bawa duit, kali ini elo harus terima, karena gue bawa duit. Okey? ga boleh di tolak!" paksa Azzalia sambil tangan kirinya memegang punggung telapak tangan Seem, agar tangan Seem tidak berontak. Tak sengaja wajah mereka berada pada jarak yang cuku dekat, membuat jantung Seem berdegup tak beraturan, ditambah tangan Azzalia yang memegang tangannya.
"Gila, cantik banget. Ah, apa-apaan ini, ga ga, ga bisa. Gue ga boleh jatuh cinta sama dia." tolak Seem yang kemudian menarik tangannya dari genggaman Azzalia.
"Eh...ehm...okey. okey. Gue terima. Thank's ya." kata Seem sambil menunduk lalu bergegas pergi dari harapan Azzalia agar tidak ketahuan mukanya yang sudah berubah karena malu. Dia tak mampu menahan perasaannya yang tak menentu jika berjarak dekat dengan gadis itu.
"Oh...okey." jawab Azzalia dengan wajah bingung. Lalu Azzalia berjalan menuju kelasnya.
Sesampainya di kelas, Azzalia kembali teringat dengan kejadian pagi tadi, dia jadi flash back dengan kejadian dua tahun lalu, saat dia menolong Seem. Dia akui, bahwa Azzalia memang suka dengan Seem sejak pandangan pertama, tetapi rasa suka itu perlahan dia pupus karena dia tidak yakin bisa bertemu lagi dengan cowok itu. Namun siapa sangka, cowok yang menjadi cinta pada pandangan pertamanya justru muncul kembali di saat dia masuk kuliah, dan itu sikapnya sangat dingin, membuatnya canggung untuk ingin lebih dekat dengannya.
"Za, Azza. Elo ga ke kopma?" tanya Al membuyarkan lamunan nya.
"Eh, elo Al. Engga. Gue puasa. Gue mau ke masjid dulu, mau sholat." jawab Azzalia.
"Oh, okey. Ya udah. gue duluan ya." kata Al.
"Yup." jawab Azzalia.
Kemudian Azzalia menyusul Al keluar dari kelasnya, tetapi tidak untuk pergi ke tempat yang sama dengan Al. Melainkan dia menuju ke masjid. Namun, sebelum sampai di masjid, di lantai dasar, Azzalia dipanggil oleh empat sahabatnya.
"Za." panggil Nadia.
"Eh, Nad, ada apa?" tanya Azzalia.
"Sini, gue kasih tau." ajak Nadia sambil menarik lengan Azzalia ke depan sebuah mading di lantai dasar gedung fakultas itu.
"Liat!"
Azzalia melihat sebuah brosur berisi informasi pendaftaran anggota baru UKM Pers Mahasiswa yang tertempel di mading gedung fakultas.
__ADS_1
"Wah, keren nih." gumam Azzalia yang tanpa pikir panjang langsung merogoh kantong celananya dan mengambil ponselnya, dia masukkan CP nya dan langsung mengetik format pendaftaran.
"Katanya elo mau ikutan jadi penyiar, kaya kang Opik " kata Nadia.
"Iya emang." jawab Azzalia.
"Ua udah, langsung daftar aja, kita-kita udah kok." jawab Nadia.
"Udah? Emang kalian daftar apa?" tanya Azzalia heran.
"Ya sama. Di UKM Pers." jawab Nadia.
"Lhoh, katanya Kalian mau ikut LDK, terus elo mau di Kopma, kok ga jadi?" tanya Azzalia heran.
"Karena... kita mau tetap bersama." jawab mereka serempak.
"Ya ampun gaes, kalian ini sukanya ikut-ikutan aja. Mandiri dong. Pertahanin prinsip kalian." jawab Azzalia sambil mengirim apa yang baru saja dia ketik.
"Done!" kata Azzalia.
"Ye... bukannya ga bisa pertahanin prinsip, tapi kita mau pertahanin cinta." jawab Syaqila dengan senyum mengembang.
"Cinta? Maksud lo?" Azzalia terbengong-bengong tidak mengerti.
"Ya...kalau aku sih, pingin belajar tentang ilmu fotografi, karena itu memang kesukaanku sejak di pondok." jawab Nadia yang sebenarnya jauh dilubuk hatinya, sesungguhnya ada keinginan lain, namun dia enggan berterus terang.
"Kalau kalian?" tanya Azzalia pada Rere dan Azkya.
"Kita sih...cuma ngikut mereka, heheee, daripada ga ikutan sama sekali kan? Soalnya mau ikut ormawa lain, kita ehm...gimana...gitu ? Mending ikutan bareng-bareng deh, kan seru." jawab Rere.
"Ehm... gitu ya? Sebenernya gue ga suka sih dengan alasan kalian, tapi ya sudahlah. Daripada kalian jadi mahasiswa kupu-kupu? Kuliah pulang kuliah pulang ya...ada benernya juga sih kalau ikutan cari pengalaman di Pers, apalagi ini di sini tu bidangnya banyak, ada penyiaran Radio, Liputan TV, Fotografer, Desaingrafis dan Jurnalistik. Keren semua memang, kalau boleh ikutan semua, kayaknya gue pingin ikut semua deh." kata Azzalia panjang lebar.
"Ya udah Za, elo udah daftar? Langsung kopma yuk, laper nih." Ajak Rere.
"Ehm, kalian duluan aja. Gue hari ini puasa, masih membayar hutang puasa, hahahaha, males banget ya gue, sampe sekarang baru membayar hutang puasa. Payah!." jawab Azzalia ditutup dengan tawa.
"Ya...mending elo udah nyicil Za, lha gue...masih utuh." keluh Rere.
"Ada temennya Re." jawab Syaqila.
Azkya dan Nadia hanya tersenyum menanggapi teman-temannya.
"Ya udah Za, kita duluan ya." kata Nadia.
"Ok, have fun ya gaes. Gue mau ke masjid dulu, mau liat siapa yang adzan siang ini, hehehe." kata Azzalia karena ini memang belum jam masuk dzuhur.
__ADS_1
"Okey Za." jawab yang lain.
Sesampainya di masjid Azzalia langsung menuju tempat wudlu putri, kemudian dia duduk dan memakai mukena di bagian putri. Tak menunggu waktu lama, suara adzan berkumandang dengan merdunya di masjid kampus yang megah itu.
Bukan Azzalia namanya yang hanya duduk tenang di sana, dia penasaran dengan suara merdu orang yang mengumandangkan suara adzan. Azzaliapun berjalan mendekat pembatas jamaah putri dan putra. Azzalia mengintip dia sebuah celah, dan melihat sosok pemuda yang sedang mengakhiri adzannya. Setelah selesai berdoa, muadzin itu berbalik badan dan betapa terkejutnya Azzalia, ternyata muadzin dengan suara sangat merdu itu adalah laki-laki yang dikenalnya.
"Kak Opik?" Gumam Azzalia.
"Yaa Allah, udah baik, ganteng, suara merdu banget. Duh, hatiku jadi ikut deg-degan begini. Eh, bukan hati sih ya yang deg-degan. Yang deg-degan itu harusnya kan Jantung ya? Ah, serah lo dah Za, sholat dulu lo. Niat Sholat karena siapa? Lurusin niat lo!" hardik Azzalia pada dirinya sendiri.
Setelah itu, Azzalia duduk rapi di shof putri yang tidak terlalu banyak jamaah nya, karena dia menyadari bahwa ini masih jam kuliah, pasti banyak mahasiswa yang memilih untuk sholat di mushola fakultas masing-masing. Dan memang jarang ada mahasiswi yang sholat di masjid kampus, yang paling banyak memang jamaah laki-laki, karena laki-laki memang wajib pergi ke masjid.
Bahkan dirinya sendiri menyadari, kalau jam istirahat begini, dia lebih suka ke kopma dulu untuk isi amunisi, daripada sholat dulu ke masjid.
Setelah sholat, Azzalia yang memang sedang berpuasa, memilih menghabiskan waktunya di masjid, karena dia enggan pergi ke mana-mana kecuali ke kopma atau kantin. Perpustakaan bukan tempat yang cocok untuk dirinya, kecuali kalau keadaan kepepet.
"Azzalia?" sapa seseorang saat Azzalia sedang memakai sepatunya di teras masjid.
Azzalia pun menoleh ke samping kirinya, tepat dimana laki-laki yang memanggilnya itu duduk.
"Eh, Kak Opik? Sendirian aja?" tanya Azzalia.
"Iya. Kamu sendiri, juga sendirian aja?" tanya Opik juga.
"Iya kak. Temen-temen pada ke kopma. Daripada entar saya khilaf, karena saya masih harus bayar hutang puasa, ya mending berlama-lama di masjid kak." jawab Azzalia yang mengundang tawa pria manis itu.
"Hahaha, ada-ada saja kamu ini Za. Jadi hari ini kamu puasa? Makannya kamu di masjid?" tanya Opik.
"Iya kak."
"Ehm, bagus tu. Bisa fokus ibadah." jawab Opik.
"Iya kak."
"Mau kembali ke kelas?" tanya Opik.
"Iya kak." jawab Azzalia yang memang seketika dia kikuk kalau ngobrol sama kakak Seniornya satu ini.
"Bareng yuk." ajak Opik.
"Boleh." jawab Azzalia.
Merekapun berjalan beriringan menuju gedung fakultas dan mengobrol sedikit banyak tentang Kegiatan Remaja, Dan Azzalia tertarik untuk mengikuti kegiatan Remaja di kota tempat dia tinggal. Opik mengajak Azzalia tergabung dalam organisasi remaja di masjid kota dekat tempat Opik tinggal, dan mendapat sambutan hangat dari Azzalia.
"Alhamdulillah, satu langkah menuju PDKT, semoga memang kami berjodoh." batin Opik yang memang tertarik dengan adik tingkatnya itu.
__ADS_1