Bayangan Cinta Pantulan Asa

Bayangan Cinta Pantulan Asa
Menjemput Bidadari


__ADS_3

"Gimana Az, udah ada jawaban dari Nadia?" tanya Syaqila yang mulai cemas, karena ternyata sampai jam perkuliahan sudah berakhir, Nadia masih belum nampak di kelas.


"Belum Sya, aku udah mencoba WA, cuma centang dua, belum di read. Ini aku coba telpon, tapi cuma berdering, ga diangkat-angkat juga." jawab Azkya juga cemas.


"Semoga Nadia baik-baik aja." do'a Syaqilla.


"Aamiin." jawab Azkya.


Jam perkuliahan masih nanti siang lagi, setelah ba'da dzuhur, sehingga mereka berdua keluar kelas, namun saat berada di lobi, mereka bertemu dengan Azzalia dan Renata yang juga baru saja selesai perkuliahan.


"Azkya, Syaqilla. Nadia mana?" tanya Azzalia.


"Itu dia Za, kita udah berusaha hubungi dia, tapi ga ada jawaban. Ga biasanya dia ga masuk tanpa keterangan seperti ini." kata Azkya dengan raut wajah cemas.


"Yaa Allah, ga biasanya kan Nadia kaya gini?" tanya Azzalia heran dan wajah cemas mulai menghiasi wajahnya.


Saat mereka sedang bingung dengan wajah kecemasan, tiba-tiba Seem datang menghampiri Azzalia.


"Sayang." panggil Seem saat sudah sampai di dekat Azzalia dengan wajah pucat pasi.


"Eh, mas, kamu kenapa kok wajah kamu pucet gitu? Kamu sakit?" tanya Azzalia sambil menempelkan telapak tangannya di kening Seem.


"Kita harus ke rumah Opik sekarang." kata Seem sambil memegang lengan Azzalia.


"Lhoh, emang kenapa mas? Soalnya Nadia dari tadi juga ga bisa dihubungi, dia ga masuk hari ini." kata Azzalia.


Seem berusaha menenangkan dirinya, kemudian menyampaikan kabar yang baru saja dia buka saat selesai jam perkuliahan.


"Opik..." kata Seem tersengal.


"Kak Opik kenapa?" tanya keempat gadis itu hampir bersamaan.


Seem menarik napasnya dalam, dan mengeluarkan nya perlahan.


"Opik... telah meninggal." jawab Seem sambil menahan air mata yang akan lolos dari kedua pelupuk matanya.


"Apa?" serentak keempat gadis itu berteriak tak percaya.


"Mas, kamu bohong kan? Ga, ga mungkin mas. Kamu dapet kabar dari siapa?" tanya Azzalia yang syok dengan air mata yang telah berhasil lolos dari kedua matanya.


"Aku ga bohong. Kabar ini dari Abah." jawab Seem.

__ADS_1


"Innalillahi wainnailaihi rojiun." seru keempat gadis itu bersamaan, dan seketika itu juga, tubuh Syaqila lemas tak berdaya, tubuhnya terkulai lemas di lantai, air matanya berderai, tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Ayo, kita harus segera ke rumah duka, karena ga ada orang di sana yang menyiapkan rumah." ajak Seem menarik lengan Azzalia.


"Ya mas." jawab Azzalia.


"Ya udah Za, kamu duluan aja, biar kita tenangin Syaqila dulu. entar kita nyusul." kata Azkya sambil menahan tubuh Syaqila agar tidak ambruk.


Azzaliapun pergi bersama Seem, sedangkan Azkya dan Renata masih berusaha menenangkan Syaqila.


💕💕💕


Sesampainya di rumah duka, Jenazah Opik yang sudah di suci kan di rumah sakit, terbujur kaku di rumah duka, dan silih berganti orang-orang baik yang mengenal sosok Opik menyolatkan sosok pria baik itu. Azzalia bersama ketiga sahabatnya berusaha menenangkan Nadia yang masih sangat terpukul atas kepergian kakaknya. Sedangkan Seem membantu keluarga Opik dalam mengurus keperluan pemakaman Opik.


Dari kejauhan, setelah ikut menyolatkan, Azzalia menatap sosok jenazah yang ditutup kain itu, ada giliran bening mengalir di pipinya, yang berkali-kali dia hapus. Azzalia teringat saat dia menolak cinta Opik melalui surat yang dia berikan bersama arloji yang dia berikan kepada Opik. Ada sesak di dada, karena setelah menolak Opik, dia justru menikah dengan Seem, sahabat Opik, padahal dia sudah mengatakan kepada Opik, bahwa dia belum mau menikah, jika belum lulus kuliah. Sedangkan kini, di semester dua, dia justru sudah menyandang status istri.


"Maafkan aku kak." gumam Azzalia dengan penuh penyesalan.


"Mungkin, Allah memang tidak menjodohkan aku denganmu kak, karena Allah telah menyiapkan bidadari syurga untukmu. Kamu berhak bahagia di sana kak, aku sebagai saksinya, bahwa kamu adalah orang baik kak." kata Azzalia lirih. Hatinya terasa perih, ketika kembali teringat dirinya menolak cinta tulus dari sosok Opik.


Setelah beberapa saat, jenazah Opik diangkat untuk segera dikebumikan. Disaat itu juga, Ummah Hani pingsan lagi untuk kesekian kalinya. Ummah Hani dikuatkan oleh Azzalia selaku anak menantu angkatnya, sedangkan Nadia yang juga lemas, dikuatkan oleh Azkya dan Syaqila juga lemas, dan di dampingi Renata. Seem ikut serta mengantarkan Jenazah Opik menuju peristirahatan terakhirnya bersama keluarga Opik lainnya.


"Syaqila?" panggil seseorang yang sangat familiar di telinga sang pemilik nama. Syaqila pun segera mendongak.


"Kak Sarah?" Syaqila tampak terkejut atas kedatangan kakak kandungnya di sana dengan wajah sembab, sama seperti dirinya. Dan tambah terkejut lagi, saat Syaqila melihat abi dan uminya juga berada di sana.


"Kamu di sini juga Sya?" tanya Umi.


"Lhoh? Umi dan abi juga di sini?" tanya Syaqila heran.


"Iya sayang. Kamu sendiri, kok ada di sini? Apakah kamu dekat dengan keluarga pak Daud?" tanya Umi.


Syaqila terdiam, kenapa orang tuanya dan kakaknya berada di sini, ada hubungan apa mereka dengan keluarga Opik?


"Dia sahabat saya tante." jawab Nadia yang melihat Syaqila tidak merespon.


"Oh, anda ini..." tanya umi yang belum berlanjut,


"Saya Nadia, saya adik sepupunya almahrum." jawab Nadia.


"MaasyaaAllah, yaa Allah nak, kami turut berduka ya nak atas kepergian kakakmu. Semoga nak Opik ditempatkan di tempat yang terbaik oleh Allah subhanahu wata'ala." kata umi sambil memeluk Nadia.

__ADS_1


"Dimana bu Hani?" tanya umi Syaqila.


"Di dalam tante, silakan masuk." kata Nadia.


"Tunggu, umi, kak Sarah. Kenapa kalian ada di sini? Ada hubungan apa kalian dengan keluarga Opik?" tanya Syaqila dengan tatapan nanar.


"Sya, rencananya sore nanti, keluarga pak Daud akan datang ke rumah, untuk melamar kakakmu, tapi..." kata umi terputus.


"Melamar? Siapa yang mau melamar?" tanya Syaqila lagi.


"Almarhum nak Opik Sya." jawab umi.


Jedarrr


Seketika hati Syaqila terasa semakin sakit saat mendengar kenyataan bahwa ternyata pria yang dimaksud kakaknya tadi pagi adalah pria pujaan hatinya selama ini.


💕💕💕


"Sya." panggil Sarah saat Syaqila sedang merias wajahnya di depan cermin.


"Kenapa kamu kak? Kaya lagi seneng gitu?" tanya Syaqila heran.


"Kamu tau ga, entar sore, kakak mua dilamar lho." kata Sarah penuh bahagia.


"Serius? Siapa kak?" tanya Syaqila antusias.


"Tunggu nanti aja deh, kalau dia udah dateng ke rumah. Pasti kamu bakal setuju kalau kakak sama dia, karena dia bukan cowok hidung belang ataupun cowok play boy seperti para mantan kakak dulu." kata Sarah.


"Oya? Jadi penasaran nih. Siapa sih?" tanya Syaqila lagi sambil menghentikan kegiatannya.


"Udah, sabar. Pokoknya, nanti pulang kuliah, kamu harus bantuin umi beres-beres rumah, terus kamu harus bantu kakak merias diri untuk menyambut calon suami kakak." kata Sarah antusias.


"Temen kuliah kak? Atau...temen sekolah?" tanya Syaqila masih penasaran.


"Bukan, dia itu anak temennya umi. Tapi...pas kakak tau foto dan biodatanya, ternyata, dia itu temen kakak waktu di pesantren. Dia itu, idolanya kaum hawa di pesantren, hampir semua santriwati tuh suka sama dia, karena selain ganteng, dia itu baaaaik banget, dan pinter juga." kata Sarah bercerita.


"Wah, bagus dong. Ya udah deh, selamat. Jadi penasaran nih kaya apa sih calon suami kamu itu." kata Syaqila sambil melanjutkan kegiatan make punya.


"Ya udah kak, ayo sarapan, aku udah laper nih, udah siang juga, entar aku telat." kata Syaqila.


"Okey, ayo." jawab Sarah.

__ADS_1


__ADS_2