Bayangan Cinta Pantulan Asa

Bayangan Cinta Pantulan Asa
Kecelakaan Terencana


__ADS_3

Sesampainya di rumah duka, Azzalia jatuh terkulai lagi, saat melihat jasad sang kakak sudah terbujur kaku di ruang tamu dengan ditutup selembar kain batik atau biasa disebut dengan jarik. Azzalia tidak melihat keberadaan Zoya maupun Dian. Azzalia teduduk lemas, didekat jasad Diego. Dan Azzalia terus didampingi sahabat Mawar Merahnya.


"Maaf Neng, adakah yang bisa membantu menenangkan bayinya pak Diego?" tanya seorang warga saat Azzalia telah tiba di rumah duka.


"Ibunya kemana bu?" tanya Nadia.


"Ibunya pingsan Neng." jawab seorang ibu.


"Baiklah, saya akan coba bantu." jawab Nadia sambil mengajak temannya.


Syaqila dan Azkya mengikuti Nadia, sedangkan Renata masih menemani Azzalia di samping nya bersama Seem. Seem masih tak ingin jauh dari Azzalia, dia masih sangat mengkhawatirkan keadaan Azzalia.


Tak lama setelah itu, Tiba-tiba sekelompok polisi datang ke rumah duka, dan mencari pihak keluarga.


"Maaf, dengan keluarga bapak Diego?" tanya polisi.


"Saya adiknya." jawab Azzalia sambil berdiri dari duduk nya dengan dibantu Renata.


"Bisa kami bicara sebentar?" tanya polisi.


"Baik pak." jawab Azzalia.


Merekapun menuju ruang tengah yang sunyi dari para takziyah dan takziyin.


"Maaf nona, apakah saudara Diego memiliki musuh sebelumnya?" tanya Polis.


"Tidak." jawab Azzalia pelan.


"Apakah sebelumnya saudara Diego ada masalah dengan seseorang, hingga memunculkan rasa dendam dan sejenisnya?" tanya polisi lagi.


Azzalia kembali teringat dengan masa lalunya, Saat dia berdiri di samping Diego kala papa dan mamanya meninggal dunia.


"Saya rasa Tidak."


Polisi tampak berbisik.


"Memangnya ada apa ya pak?" tanya Azzalia.


"Begini nona, kecelakaan yang menimpa korban, diduga adalah kecelakaan terencana, karena menurut para saksi, ada orang yang sengaja membuat rusak konstruksi dan mengarahkan korban menuju lokasi, hingga akhirnya korban tertimpa alat bantu konstruksi." jawab polis.


"A-Apa? Kecelakaan terencana?" tanya Azzalia tak percaya.


"Ya nona." jawab polisi.


"Papa dan mama saya juga dulu meninggal karena kecelakaan yang direncanakan pak, apakah ini ada hubungannya dengan kematian kakak saya juga?" tanya Azzalia yang mulai teringat dengan masa lalunya, saat banyak polisi di rumahnya dikala papa dan mamanya sudah dikebumikan.


Para polisi tampak saling pandang.


"Dimana kejadian orang tua anda mengalami kecelakaan?" tanya polisi.


"Di Muntilan, Semarang. Sekitar...duabelas tahun yang lalu." jawab Azzalia.

__ADS_1


"Ehm...baiklah. Kami akan mencoba mencari tau kasus ini." jawab Polisi.


"Baik pak. Terimakasih."


"Kami permisi." kata polisi.


Azzalia mengangguk, lalu kembali kakinya tersungkur dengan tatapan kosong, dan kedua tangannya memegang mulutnya.


"Ga mungkin. Ga mungkin." gumam Azzalia sambil terus menggelengkan kepala.


"Re, tolong kamu ambilkan minum buat Azza ya, coba aku tenangkan Azza dulu." kata Seem.


"Ya kak." jawab Renata berlari ke dapur untuk mengambilkan minum untuk Azzalia.


"Apa yang terjadi Za?" tanya Seem sambil menahan tubuh Azzalia agar tidak ambruk.


"Mereka...mereka telah menemukan kami. Mereka...mereka pasti juga akan membunuhku, seperti hal nya mereka membunuh papa mama dan kak Diego. Aku...aku takut Seem...aku takut..." racau Azzalia sambil bersembunyi di dada bidang Seem.


"Kamu tenang ya, ada aku. Aku akan selalu jagain kamu. Aku janji." kata Seem mencoba menenangkan Azzalia.


"Kak, ini minumnya." kata Renata saat kembali dengan membawa segelas air putih untuk Azzalia.


"Kamu minum dulu ya, biar tenang." kata Seem mencoba memberikan air minum pada Azzalia.


Cleguk


Azzalia berhasil meneguk air minum itu dengan bantuan Renata dan Seem.


Tak lama kemudian, datang beberapa orang yang baru turun dari mobil.


"Tante..." pekik Azzalia yang sudah tak kuat berdiri lagi, dia hanya mampu menoleh ke arah wanita paruh baya itu.


"Tante di sini sayang." kata Shanum yang langsung memeluk tubuh keponakannya.


"Hiks hiks...Mas Diego tante...Mas Diego ninggalin Azza. Azza udah ga punya siapa-siapa lagi tante, Azza nanti sama siapa?" adu Azzalia kepada Shanum. Shanum belum bisa berkata apa-apa. Shanum terus menciumi pucuk kepala Azzalia dengan linangan air mata.


"Maaf, kalian siapa?" tanya laki-laki berjas, dengan mata elang nya.


"Kami sahabat Azza om." jawab Renata.


"Istri Diego dimana?" tanya Zio lagi.


"Kalau kata tetangga tadi, istrinya kak Diego pingsan om, mungkin di kamar nya." jawab Renata lagi.


"Kamu? Siapa?" tanya Zio menatap tajam Seem.


"Sa-saya...Seem. Teman Azza Om." jawab Seem.


Zio menatap Seem dari atas sampai bawah dengan tatapan tajam nya. Lalu mengangguk.


"Saya ke depan dulu." kata Zio dingin.

__ADS_1


Beberapa waktu kemudian, Jasad Diego yang sudah di mandikan, di kafani dan di sholat kan, langsung dikebumikan. Tangis histeris Azzalia dan Dian terus menggema di rumah duka. Namun tidak dengan Zoya, yang sudah berhasil ditenangkan Nadia dan kawan-kawannya dengan bersholawat hingga akhirnya tertidur.


Mawar Merah belum ada yang pulang, begitupun dengan Seem, dia masih terus menemani Azzalia yang masih terpukul atas kepergian kakaknya. Dan tak alpa juga Aziz, sahabat kecil Azzalia yang sudah menghubungi kedua orangtuanya dan kini sedang menanti kedatangan kedua orang tuanya tiba di rumah duka.


"Azza." panggil seorang wanita berjilbab lebar berlari kearahnya dan memeluk Azzalia dengan eratnya.


"Tante...Hiks hiks..."tangis Azzalia kembali pecah.


Sedangkan Dzen yang baru tiba, langsung diajak Zio ke suatu tempat, dengan membawa salah seorang teman Azzalia bernama Seem.


"Dia siapa?" tanya Dzen kepada Zio.


"Dia teman Azza, dia yang mendampingi Azza sejak tadi." kata Zio.


"Terus, ada apa aku diajak ke sini?" tanya Dzen bingung.


"Kejadian belasan tahun lalu, yang menimpa Mbak Nilam dan mas Pian, kembali terulang pada Diego." jawab Zio dingin.


Dzen terperanjat saat mendengar kabar itu.


"Coba kamu jelaskan padanya." pinta Zio kepada Seem.


"Iya om. Tadi, sebelum om ini datang, ada polisi datang ke rumah ini, dan menginterogasi Azzalia. Polisi menduka, dari kesaksian para saksi, mengatakan bahwa kemungkinan besar, kecelakaan ini adalah kecelakaan terencana." jelas Seem.


Dzen tampak berfikir keras sambil memijat keningnya.


"Azza sudah kita anggap sebagai anak kita sendiri. Kita harus menjaganya Dzen." kata Zio.


"Ya."


"Sudah dipastikan mereka masih mengincar Azza. Karena dendam mereka pada mas Pian dan mbak Nilam sangat besar." kata Zio lagi dengan geram.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Dzen.


"Azza harus dalam perlindungan. Begitupun dengan Zoya dan istrinya " jawab Zio.


"Ya." jawab Dzen.


"Ehm...siapa tadi namamu?" tanya Zio kepada Seem.


"Seem." jawab Seem.


"Sungguh kamu hanya berteman dengan Azza?" tanya Zio.


Seem mengangguk.


"Ehm...tak mungkin jika Azza kita langsung ajak kembali ke Semarang atau Solo. Ada baiknya dia kita titipkan pada Aziz dan...kamu. Seem." kata Zio.


"Ha? Saya?" tanya Seem terkejut.


"Saya tau, kamu bisa menjaga amanah ini." kata Zio sambil menepuk pundak Seem.

__ADS_1


"Tolong jaga dia, seperti tadi kamu menjaganya." kata Zio.


Ternyata sejak kabar kecelakaan itu, Aziz yang belum bisa menyusul Azzalia sudah mengabarkan pada Zio dan Dzen, bahwa sudah ada laki-laki yang menjaga dan mendampingi Azzalia. Sehingga Zio dna Dzen sangat yakin, bahwa Seem adalah orang baik bagi Azzalia.


__ADS_2