
Keesokan harinya, Azzalia sudah menyelesaikan tugas kuliahnya di kampus. Azzalia berjalan menuju kopma tempat ia biasa makan bersama teman-temannya. Tetapi sebelum ke kopma, Azalia berpapasan dengan Nadia dan mengajak Azzalia ke masjid untuk ikut sholat dzuhur berjamaah.
Setelah menyelesaikan sholatnya, Azzalia memakai sepatumu di teras sambil menunggu Nadia yang belum selesai dengan do'anya.
"Azzalia." panggil seseorang.
"Eh kak Opik?"
"Abis sholat juga?" tanya Opik.
"Iya kak. Ini masih nunggu Nadia." jawab Azzalia.
"Oh, bareng Nadia?" tanya Opik.
"Iya kak."
"Oya kak,, kok. tumben sendiri? Biasanya udah kaya Upin Ipin sama Seem." tanya Azzalia yang sebenarnya dia merindukan sosok Opa korea ga punya kamus bahasa itu.
"Hahahah,, ada-ada aja kamu ini. Tapi, iya juga sih. biasanya aku bareng dia. Ini dia lagi banyak kerjaan soalnya." jawab Opik.
"Oh..."
"Oya, pekan depan saya sudah sidang, do'akan ya." kata Opik.
"Oh, ya pasti kak. Do'a terbaik buat kak Opik." jawab Azzalia.
"Eh, kang. Disini juga?" sap Nadia yang sudah menyusul mereka.
"Iya, menyapa Azzalia yang tadi sendirian." jawab Opik.
"Bukan karena modus?" goda Nadia.
"Maksudnya?" tanya Azzalia bingung.
"Sttt." kata Opik menutup mulutnya dengan jari telujuk nya.
"Engga, Nadia bercanda. Ya sudah ya, saya duluan. Assalamualaikum." salam Opik yang kemudian pamit.
"Dasar Kang Opik, payah!" gerutu Nadia sambil memakai sepatu ket warna putihnya.
"Emang kak Opik kenapa Nad?" tanya Azzalia.
"Lhoh, emang kamu ga ngerasa ya Za? Selama ini, kang Opik deket sama kita itu karena apa?" tanya Nadia.
Azzalia menggeleng.
"Hem... asal kamu tau Za, aku ga pernah melihat kang Opik begitu ramah, baik dan perhatian, kecuali sama kamu. Kayaknya, kang Opik tu suka deh sama kamu." kata Nadia.
"What? Ta...tapi kan Nad, kak Opik kan memang orang baik." kilah Azzalia.
Nadia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari kepastian bahwa suasana nya aman.
__ADS_1
"Orang baik dan orang yang caper karena suka sama seseorang itu beda Azza. Aku tau betul sifat kangmasku satu itu, dia bukan tipe orang yang mudah menyapa gadis, dia sangat menjaga pandangannya, baginya, wanita yang dia cintai itu, adalah wanita yang akan dia nikahi nantinya. Dan, aku rasa, wanita itu adalah kamu." kata Nadia.
"Ya.. ga mungkin lah Nad, siapa gue? Cewek urakan kaya gue mana bisa jadi pilihannya?" kilah Azzalia.
"Za...kamu inget ga, kamu pernah nolongin anak kecil, usia TK, yang terpisah dari keluarganya? Dia masih mengenakan seragam sekolah, dan pas ditanya alamat rumahmu, dia menjawab rumah makan Latansa?" tanya Nadia.
Azzalia tampak berfikir dan mencoba mengingat-ingat.
"Ehm, ya...gue inget." jawab Azzalia.
"Itu adiknya kang Opik Za, itu Farah. Dan Kang Opik berjanji kalau dia akan menikahi orang yang sudah menolong adiknya, jika suatu saat dia bertemu dengan orang itu. Dan benar kan, kalian dipertemukan lagi?"
"Apa? Jadi..."
"Za, aku rasa, ga ada salahnya kamu menerima cinta nya kang Opik. Dia orang baik Za, Sholih. Dia sangat mencintai ibu dan saudara perempuan nya, sehingga aku jamin, dia akan menjadi suami yang baik buat kamu." kata Nadia sambil menggenggam tangan Azzalia.
"Tapi Nad...gue belum siap nikah. Gue juga ga pernah ada rasa sama kak Opik. Aku cuma anggap beliau itu kakakku, ga lebih." jawab Azzalia.
Ternyata, Opik berdiri di balik tembok pembatas putra dan putri. Opik mendengar penyataan Azzalia, dia kembali terpukul dengan pernyataan Azzalia.
"Hem...gitu ya? Ya sudah, aku laper, kita nyusul temen-temen yuk ke kopma." ajak Nadia.
"Okey." jawab Azzalia.
💕💕💕
Di sebuah kamar, Opik rebahan di ranjangnya menatap langit-langit kamarnya. Opik membayangkan sosok Azzalia, dari awal mereka bertemu. Hingga pernyataan Azzalia siang tadi saat di tanya Nadia.
"Apa aku salah? Kalau aku suka sama kamu?" tanya Opik sambil menatap sebuah foto gadis di ponselnya.
Saat Opik sedang sibuk dengan pikirannya, suara pintu kamar nya berbunyi.
tok tok tok
"Kang, suruh makan malam dulu." kata Nadia.
"Ya." jawab Opik dengan malas.
Opik pun keluar kamar dan ikut serta duduk di kursi ruang makan bersama keluarganya.
"Pik." panggil abah nya.
"Ya abah?"
"Gimana? Kamu bentar lagi lulus kan? Udah ada calon?" tanya abah.
Opik tampak berfikir.
"Uma ada kenalan, orangnya cantik Pik, anaknya temen pengajian Uma. Dia satu kampus juga sama kamu." kata Uma.
"Siapa bude?" tanya Nadia penasaran.
__ADS_1
"Hish, kamu nih Nad, yang bude ajak bicara kan kangmasmu, bukan kamu, kenapa kamu yang kepo?" tanya uma.
"Ya kan, tadi bude bilang, satu kampus sama kita, siapa Bude, mungkin Nad kenal." kata Nadia.
"Bude juga ga tau Nad, orang bude kenal nya cuma sama uminya." jawab Uma.
Saat Uma melihat Opik, tak ada sambutan hangat dari wajah Opik.
"Kak Opik sakit?" tanya Farah.
"Eh, engga kok Farah." jawab Opik penuh senyum pada adik bungsunya.
"Kenapa ditanya Uma, kak Opik diam saja?" tanya Farah.
"Ehm, karena kak Opik masih bingung mau jawab apa." jawab Opik.
Nadia melirik kangmasnya yang tampak frustasi.
"Apa tadi kang Opik mendengar percakapan ku sama Azzalia? Kok tumben kang Opik tampak bad mood gitu?" batin Nadia
"Maaf abah, uma. Opik belum ada pandangan." jawab Opik.
"Opik ngikut abah sama uma aja." jawab Opik.
Setelah menyelesaikan makannya, Opik masuk kamarnya dan berbaring di ranjangnya.
"Assalamualaikum kang." salam Nadia.
"Wa'alaikumussalam Nad. Tumben, ada apa main ke kamar ku?" tanya Opik Heran.
"Kang Opik tadi denger obrolanku sama Azzalia ya?" tanya Nadia.
Opik hanya diam tidak menanggapi.
"Kenapa ga dicoba dulu kang, jujur dan langsung sampaikan perasaan kang Opik ke Azza gitu. Siapa tau Azza berubah pikiran." kata Nadia.
"Ga mungkin Nad. Dia ga pernah cinta sama aku."
"Hem...aku tau kang. Azzalia sangat pandai menyembunyikan perasaannya, bahkan aku yang ngakunya sahabat, aku ga ngerti ada masalah apa di hidupnya, karena dia selalu tampak ceria dan bahagia. Dan kalau suka sama seseorang, dia sama sekali ga bisa ditebak, jadi aku ga tau, siapa sebenarnya yang dia sukai." kata Nadia.
"Aku pikir, dia care sama aku karena dia suka sama aku. Ternyata karena dia hanya menganggap ku kakaknya." keluh Opik.
"Jodoh ga akan kemana kang. Kalau kang Opik mau membuka hati, sejujurnya, ada kok orang yang suka sama kang Opik setulus hati." kata Nadia.
"Syaqila?" tebak Opik.
Nadia mengangguk.
"Entahlah, hatiku belum bisa berlabuh ke dia." jawab Opik.
"Kenapa kang?"
__ADS_1
"Entahlah, aku juga ga tau." jawab Opik.
Merekapun saling mengobrol dan Bercerita. Nadia berusaha menghibur Opik dan mencari solusi agar Opik tidak di jodoh-jodohkan oleh Uma dan abah nya. Karena Opik, bersikeras ingin mencari jodohnya sendiri sesuai pilihan hatinya.