
Dengan was-was, Nadia menoleh ke sumber suara, dan benar adanya, bahwa orang yang dia tabrak adalah orang yang dia kenal.
"Mas Ashar?" Gumam Nadia.
"Kamu kembali Nad?" Tanya Ashar dengan wajah yang tak dapat dibohongi binarnya.
"I-iya mas." jawab Nadia.
"Nadia apa kabar?" tanya Ashar.
"Alhamdulillah, baik mas." jawab Nadia dengan masih menundukkan kepala.
"Nadia mau ke mana?" tanya Ashar lagi.
"Ehm, tadinya mau ke dapur mas, mau ngisi kegiatan, soalnya bingung juga mau ngapain." jawab Nadia yang tidak bisa menyembunyikan rasa groginya, jika bertemu dengan Ashar. Kakak tingkatnya yang juga dibesarkan di pesantren ini sejak mereka sama-sama masih kecil.
Ashar adalah keponakan Kyai Ilham, yang sejak kecil sudah diangkat anak oleh Kyai Ilham, karena orang tua kandung Ashar kurang mampu membesarkannya, karena kedua orang tuanya tergolong kurang mampu, sedangkan adik Ashar masih kecil-kecil ada tiga, dan kala itu ibunya sedang hamil lagi, sehingga kini, adik Ashar sudah ada empat.
"Terus, ini jadi mau ke dapur, atau...mau ke mana? Kalau mas ajak, mau ga?" tanya Ashar yang memiliki paras rupawan, putih bersih, hidung mancung dan badan yang tinggi, dia dikenal sebagai idolanya para santriwati di pesantren itu.
"Ehm..." tampak Nadia sedang berfikir.
"Mas ga maksa kok, kebetulan mas mau beresin buku di perpustakaan, ada buku baru yang baru datang, dapat kiriman dari Kairo, Nad bisa bantuin mas?" tanya Ashar membahasakan dirinya dengan kata 'mas' yang membuat Nadia semakin grogi dibuatnya. Pasalnya, memang Nadia tipikal gadis yang mudah baper dan jatuh cinta, sehingga mendapat perlakuan manis seperti itu saja, sudah membuat hatinya meleleh, apalagi yang memperlakukan itu adalah laki-laki tampan dan baik, yang pernah mengisi hari-hari Nadia di saat remaja.
"Ehm. Bisa mas, InshaaAllah." jawab Nadia.
"Ya udah yuk, kita ke perpus sekarang." ajak Ashar, Nadiapun mengekor di belakangnya.
💕💕💕
"Mas, liburan semester ini, kamu sibuk ga?" tanya Azzalia saat sedang sarapan bersama di ruang makan.
"Kenapa emangnya?" tanya Seem.
"Ye, ditanya bukannya jawab malah genti nanya." sewot Azzalia.
"Ya maksud aku, kalau aku sibuk, kenapa kalau ga sibuk kenapa?" tanya Seem memperjelas.
__ADS_1
"Ehm, tadinya sih, kalau mas Seem ga sibuk, Azza mau ajak mas ke Solo, ke rumah tante Tiara." jawab Azzalia.
Seem tampak mengerutkan keningnya, ada rasa heran di benaknya, kenapa tidak ke Semarang saja, ke rumah om Zio, secara kan, om Zio itu om kandungnya.
"Emang, kamu mau ngapain ke sana?" tanya Seem.
"Mau curhat." jawab Azzalia singkat.
"Curhatin aku? Kamu mau ngadu?" tanya Seem menelisik.
"Ih, ya engga lah mas. Kaya anak kecil aja ngadu. Aku tuh cuma pingin Sharing aja sama tante Tiara sama om Dzen. Gimana caranya ngatur waktu, biar Aku tuh bisa menjalani tugas sebagai istri dengan baik, meskipun aku masih berstatus mahasiswi. Gitu lho." kata Azzalia menjelaskan.
"Oh, kirain mau ngadu, karena aku nakal, atau aku ga perhatian gitu." kata Seem.
"Ya engga lah mas, kamu tuh perhatian banget tau, tapi... kalau nakal... iya kamu tuh nakal kalau di kamar, hahahah." kata Azzalia jujur, dan seketika membekap mulutnya sendiri karena keceplosan tertawa terbahak.
"Dasar kamu tu ya, yang nakal siapa, yang di tuduh nakal siapa." protes Seem.
"Emang kamu nakal kan mas, abisnya kamu tuh hobi banget bikin aku kecapekan tau ga." kata Azzalia.
"Terserah kamu lah." pasrah Seem.
"Kalau ke Semarang, Emang kamu udah siap, untuk ketemu orang tua kamu mas?" tanya Azzalia balik.
Seem tampak berfikir sejenak.
"Aku ngerti mas, kalau memang iya, kamu rindu mereka dan siap ketemu mereka, aku akan menyiapkan mental ku juga untuk ketemu mertua kandungku." kata Azzalia sweet sambil menggenggam tangan Seem.
"Engga Za, aku... belum siap." jawab Seem sendu.
Azzalia tersenyum, mencoba memahami maksud suaminya.
"Aku ngerti mas, itulah sebabnya aku mau ajak kamu ke Solo aja, selain ketemu tante Tiara dan Om Dzen, aku juga mau ajak kamu main ke Tawangmangu, tempat yang indah untuk kita me reefresh pikiran kita selama ini." kata Azzalia.
"Oya? Bilang aja mau ngajak bulan madu." goda Seem.
"Ih, apaan sih mas? Engga kok." protes Azzalia sambil mencubit pinggang Seem dengan mesra.
__ADS_1
"Eh, kok nakal sih sayangku ini? Mau aku hukum nih?" goda Seem sambil siap menggelitiki Azzalia.
"Eh, engga mas, tadi tu refleks mas, sorry, sorry." kata Azzalia yang langsung bergidik ngeri jika mendapat gelitikan dari suaminya.
Setelah keduanya tenang setelah saling bercanda, kini giliran Seem yang bertanya.
"Btw, kenapa kamu kaya lebih deket sama tante Tiara sih daripada tante Shanum 'yang? Sama Om Dzen juga lebih akrab, ketimbang sama om Zio, emang apa bedanya sih?" tanya Seem penasaran.
"Yang jelas, tante Tiara dan Om Dzen itu orangnya santai mas, mereka itu welcome sama aku. Sejak kecil, aku tuh lebih nyaman sama mereka, ketimbang sama om Zio dan tante Shanum. Karena Om Zio dan tante Shanum itu orang-orang pekerja keras, dan dingin. Mereka kurang hangat, jika kita mendekat, membuat aku sendiri sungkan kalau sama mereka. Sedangkan om Dzen sama tante Tiara, mereka itu orangnya hangat mas, membuat aku nyaman. Mereka sangat baik dan bisa menempatkan dirinya, sebagai orang tua, maupun sebagai sahabat. Bahkan, waktu aku kehilangan mama papa, terus kehilangan oma, justru mereka tempatku bersandar. Karena nasehat mereka, dan ketulusan mereka membuatku tenang dan nyaman." jawab Azzalia panjang kali lebar sama dengan luas.
"Oh, gitu ya?"
"Jadi gimana? Mau kan nemenin aku ke Solo?" tanya Azzalia lagi.
"Iya sayang, nanti aku akan atur jadwalku dulu ya. Kayaknya ada beberapa waktu yang kosong kok." jawab Seem.
"Alhamdulillah, makasih mamasku sayang, kamu emang suamiku yang terbaik." kata Azzalia sambil mencubit kedua pipi Seem hingga memerah.
"Astagfirullah, sayang... sakit tau." kata Seem cemberut.
"Ups, sorry sayang, aku elus ya, maaf maaf, abisnya aky gemesh sama kamu. Ganteng mu kebangetan sih." kata Azzalia sambil mengelus pipi Seem yang memerah. Nmain, kemudian tangan kanan Seem memegang tangan Azzalia yang sedang mengelus pipinya dengan lembut, lalu ditatapnya mata Azzalia dengan sorot mata menuntut.
"Kamu menggodaku?" tanya Seem.
Seketika wajah Azzalia bersemu merah karena malu, ya. Memang niat Azzalia menggoda suaminya, karena beberapa hari ini mereka liburan kuliah, tetapi Azzalia di rumah sendiri tanpa Seem. Sedangkan Seem seperti biasa, melaksanakan tugasnya sebagai fotografer.
"Kalau iya, kenapa?" tantang Azzalia.
"Okey, aku akan penuhi maumu." kata Seem sambil menggendong tubuh Azzalia dan di bawanya ke kamar, dengan tanpa memperdulikan alat makna mereka yang masih berantakan.
"Iiiih, mas, kenapa kamu main gendong aja sih, itu piring kotor belum aku beresin." protes Azzalia sambil memukul-mukul dada bidang Seem, Tetapi Seem tidak perduli, hingga akhirnya Azzalia pasrah, diapun mengapungkan kedua lengannya di leher Seem dan menatap lekat wajah Seem. Sesampainya di kamar, Seem mencumbu istrinya dengan garang, seperti orang yang sedang kelaparan.
Hingga ponsel Seem berbunyi, membuat adegan panasnya gatot untuk di jalankan.
"Sorry sayang, aku sudah ditunggu." kata Seem dengan wajah kecewa.
"Alhamdulillah, lolos juga aku. Iya udah sana, lagian kamu nih mas, masih pagi udah laper aja." protes Azzalia.
__ADS_1
"Hem... liat pembalasan ku nanti malam." ancam Seem sambil melangkah pergi meninggalkan kamar. Sedangkan Azzalia di kamar berusaha merapikan dirinya yang acak-acakan, dan senyum-senyum sendiri mendapatkan perlakuan manis suaminya pagi ini.