
"Ehem, gitu amat sih ngeliatinnya? Naksir ya?" goda Azkya saat melihat Renata yang terus menatap sosok Mu'iz.
"Eh, elo Az. Ehm. Gimana ya? Bisa dibilang naksir sih." jawab Renata.
"What? Kamu serius? Terus, sebenarnya kamu itu suka adiknya apa kakaknya sih?" tanya Azkya tak habis pikir dengan sahabatnya ini.
"Hehe, gimana ya? Soalnya, kakaknya tuh Ganteng, dan adeknya manis. Gimana dong? Aku jadi bingung nih, pilih yang mana, dua-duanya juga boleh." kata Renata dengan canda nya.
"Istighfar Re, istighfar, sesuatu yang berlebihan itu ga baik. Apalagi cewek, suka sama dua cowok? Emang kamu pingin Poliandri?" tanya Azkya.
"Ya elah Az, gue cuma naksir aja sama mereka, lagian belum tentu juga mereka suka sama gue kan. Malah bisa juga mereka ilfeel sama gue, hahaha." kata Renata dengan ditutup tawa renyah.
Azkya menepuk keningnya, merasa payah dengan komentar sahabatnya, ternyata Renata masih sadar diri juga.
"Lo sendiri gimana? Masih mau sama anak band itu?" tanya Renata.
"Maksudmu?" tanya Azkya.
"Elo masih menunggu balasan cintanya Al?" tanya Renata memperjelas, karena Azkya terkadang memang loadingnya lama.
Azkya tampak diam dengan wajah datar, dia tak bergeming.
"Kalau menurut gue sih, tinggalin aja yang ga pasti-pasti itu. Cari yang pasti-pasti aja lah." saran Renata.
"Entahlah Re. Aku mau fokus kuliah dulu aja." jawab Azkya.
"Ye...giliran ditanya masalah hati, terus bilang mau fokus kuliah, gaya lo Az." cibir Renata.
Azkya hanya nyengir kuda mengomentari cibiran sahabatnya.
"Ya udah, diantara kita berempat, tinggal kita lho yang jomblo, jangan salahin gue ya, kalau tiba-tiba gue jadian sama salah satu dari kakak beradik itu." kata Renata.
"Iya, iya. Aku tau kok." jawab Azkya mulai bedmood.
"Ya udah, makan yuk, laper nih gue " ajak Renata ke tempat makanan.
💕💕💕
Setelah acara resepsi selesai, kedua sahabat Azzalia sudah berpamitan untuk pulang lebih dahulu. Sedangkan Azzalia dan keluarga dari Pak Daud juga masih berkumpul di sana. Azzalia tampak operprotektif dengan suaminya sendiri, karena sejak awal acara, ada seorang gadis yang selalu mencari kesempatan untuk mendekati Seem, dan hal itu membuat Azzalia panas dibuatnya.
"Sayang, bisa dilonggarin dulu ga gandengannya?" tanya Seem.
"Kenapa emangnya, kamu ga nyaman aku gandeng mas?" protes Azzalia.
"Bukan begitu maksud mas, tapi ini ga enak lah kamu nempel terus begini di hadapan keluarga." kata Seem mengingatkan sikap Azzalia yabg berlebihan menurut Seem.
__ADS_1
"Oh... ga enak ya? Ya udah, aku pergi sekarang." kata Azzalia dengan wajah cemberut.
"Lho, kok gitu sih sayang, maaf. Mas ga bermaksud, mas cuma mau ngingetin aja sayang." rayu Seem saat melihat istrinya cemberut.
"Udah ah. kamu tu ga romantis mas, aku mau nyamper tante Tiara aja." kata Azzalia melangkah menuju Mutiara yang sedang berbincang dengan keluarga pengantin.
"Eh, Azza? Seem mana?" tanya Mutiara ramah saat melihat keponakannya berjalan ke arahnya dengan wajah cemberut. Namun, belum sempat Azzalia menjawab, Seem sudah lebih dulu berjalan ke arahnya.
"Oh ya ampun, kalian ini so sweet banget sih? Dari tadi tuh tante udah merhatiin kalian, yang selalu lengket, kemana-mana bareng terus, jadi ngiri nih tante." goda Mutiara.
"Ih, apaan sih tante?" jawab Azzalia yang merasa masih sebal dengan suaminya.
Saat sudah sepi, Azzalia dan Seem berpamitan denga keluarga pengantin, juga kepada Nadia dan Ashar.
"Tante om, kami ijin duluan ya, kami mau mampir ke Semarang dulu, ke tempatnya om Zio." kata Azzalia.
"Oh, ya sayang. Kamu ga mampir ke solo dulu?" tanya Mutiara.
"Engga tante, makasih. Mungkin lain waktu tante." kata Azzalia lagi.
"Baiklah, kalian hati-hati ya. Seem, titip Azza ya." kata Mutiara kepada Seem.
"Baik tante." jawab Seem.
Sesampainya di rumah Zio, Azzalia dan Seem di sambut hangat oleh sepasang suami istri yang sudah berpakaian santai, karena hari sudah malam, mereka sudah bersiap untuk beristirahat.
"Kalian makan malam dulu gih." perintah Shanum.
"Makasih tante, tapi tadi, kami sudah mampir rumah makan tante, soalnya Azza ga bisa nahan laper, hehe." jawab Azzalia.
"Okeylah, tapi kalian menginap di sini kan?" tanya Shanum yang sudah menyiapkan kamar tidur untuk kedua keponakannya.
"Rencananya sih gitu tante, tapi ya coba nanti nunggu jawaban dari rekan kerjanya mas Seem tante, besok dia bisa gantiin mas Seem pemotretan engga." kata Azzalia.
"Oh, gitu? Ya sudah, kalian mandi bersihin tubuh kalian trus ke sini ya, kita ngobrol-ngobrol dulu." kata Shanum.
"Baik tante."
Merekapun membersihkan diri di kamar lantai dua rumah Zio, saat Azzalia mandi lebih dulu, Seem sengaja mencari udara segar dengan memandang langit malam di Balkon kamar itu. Saat Seem melihat ke bawah, tampak sebuah mobil sport hitam terparkir tak jauh dari rumah Zio. Seem mencoba mengingat, bahwa itu adalah mobil yang sedari tadi mengikuti dirinya saat akan memasuki perumahan tempat tinggal Zio.
"Itu kan...mobil yang tadi..." gumam Seem yang kemudian terpotong saat istrinya memanggilnya.
"Mas, aku udah selesai. Kamu ngapain di situ?" tanya Azzalia sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk.
"Oh, okey sayang. Aku mandi sekarang." kata Seem yang bergegas menuju kamar mandi, dengan menyisakan rasa penasaran pada mobil sport hitam yang dia ketahui sejak di jalan tadi.
__ADS_1
Setelah mandi, Azzalia dan Seem memenuhi undangan Shanum dan Zio untuk berbincang di ruang keluarga, Zio menanyakan keadaan mereka selama di Jakarta, dan menanyakan karier Seem di bidang fotografi, serta menanyakan kabar kuliah mereka.
"Om sangat senang, kalian baik-baik saja. Tidak ada yang mencurigakan di rumah kalian kan?" tanya Zio memastikan.
"Selama ini, alhamdulillah aman kok om." jawab Azzalia tenang. Meski sebenarnya, Seem ingin menyampaikan isi hatinya tentang mobil sport yang terparkir di luar rumah tak jauh dari rumah Zio.
"Syukurlah."
"Terus, gimana ini kabar generasi penerus keluarga pak Geopian? Apakah sudah ada perkembangan?" tanya Shanum.
"Ehm, maksud tante...anak?" tanya Azzalia polos.
"Hahaha, ya iya lah Za. Kamu ini jelas banget sih ngomongnya." komentar Shanum, Azzalia jadi merasa kikuk dibuatnya.
"Hehe, belum tante. Kita belum berani, soalnya Azza masih mau fokus kuliah dulu tante." jawab Azzalia.
"Anak itu rejeki Za, jangan di halangi, atau nanti kamu akan menyesal." ucap Zio dengan tulus, karena sesungguhnya Zio merasa menyesal karena dulu dia dan Shanum sama-sama berambisi tak ingin repot dengan anak, sehingga setelah melahirkan Azizah, Shanum langsung KB, dan niat hati untuk program hamil semenjak Azizah berumur tujuh tahun, gagal hingga kini. Mereka tak jua di beri keturunan lagi, setelah Azizah.
"Ehm, iya om." jawab Azzalia menunduk.
Banyak nasehat dan cerita yang disampaikan Shanum dan Zio, Azzalia dan Seem hanya mampu mendengarkan sambil terkantuk-kantuk, karena memang mereka merasa lelah seharian berada di acara resepsi Nadia. Hingga suara notif telepon berbunyi dari ponsel Seem.
"Ya halo? Apa? Kamu ga bisa? Ya ampun, jam berapa ini? Okey, besok aku usahain. Aku pulang ke Jakarta sekarang." kata Seem sambil menutup ponselnya.
"Kenapa mas?" tanya Azzalia penasaran.
"Kita harus pulang malam ini juga, karena Deni ga bisa gantiin aku di acara resepsi anaknya pak mentri." jawab Seem.
"What? Malam ini?"
"Ya."
"Ya udah, kita pamit dulu sama om Zio dan tante Shanum." kata Azzalia dengan nada kecewanya.
"Kalian hati-hati ya, malam begini, cukup berbahaya untuk perlajanan jauh." pesan Shanum.
"Iya tante, InshaaAllah." jawab Azzalia.
"Ga bisa besok ya Seem?" tawar Zio.
"Ga bisa om, waktunya ga nuntut." jawab Seem.
"Baiklah, yang penting hati-hati. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi kami." pesan Zio.
"Baik om." jawab Seem.
__ADS_1