Bayangan Cinta Pantulan Asa

Bayangan Cinta Pantulan Asa
Manis


__ADS_3

Hari yang ditunggu telah tiba, Azzalia dan Seem sudah tiba di Ponorogo, tempat acara resepsi Nadia dilangsungkan. Mereka berangkat bersama rombongan keluarga pak Daud juga, begitupun dengan kedua sahabat Azzalia yang tersisa, mereka juga ikut serta.


Saat ijab qobul telah selesai diucapkan, acara langsung berganti dengan resepsi, dan semua para tamu undangan duduk di tempat yang sudah di sediakan di aula pesantren.


"Selamat ya Nad, baarokallahufikum. semoga jadi keluarga sakinah mawaddah warohmah, dan doakan kita juga, semoga segera nyusul." kata Azkya kepada Nadia.


"Terimakasih ya Az. Iya pasti, doa terbaik untuk kalian juga ya." jawab Nadia.


"What? Kita? Elo aja kali, gue engga." jawab Renata sinis.


"Lhoh? Emang elo ga pingin nikah Re?" protes Azkya.


"Ya pingin, tapi ga dalam waktu dekat ini." jawab Renata.


"Kenapa?" tanya Azkya penasaran.


"Hello, Azkya, kita ini masih muda keles, kita belum lulus kuliah, gue mau lanjutin study gue dulu." jawab Renata.


"Hem, okeylah." jawab Azkya mengalah.


Kemudian, karena ada tamu yang lain yang mengantri ingin berfoto dengan mempelai, akhirnya Azkya dan Renata turun dari panggung dan berjalan menuju tempat yang pas untuk berswa foto.


"Re, cuma kita lho ini yang jomblo, foto bareng dulu yuk, siapa tau kita juga akan segera ketemu jodoh kita." canda Azkya sambil mengarahkan ponselnya untuk berselfi ria.


"Ih, apaan sih lo Az, gue kan udah bilang, gue belum siap nikah." protes Renata.


"Ye...jodoh itu belum tentu kita segera nikah Rere! Bisa aja kan, kita ketemunya sekarang, nikahnya masih sepuluh tahun lagi, karena kita ga pernah ketemu?" kata Azkya tak mau kalah.


"Hem, serah lo dah!" jawab Renata melenggang pergi, namun tiba-tiba.


Bugh


Tubuh Renata mental ke belakang, namun untungnya tubuh kecilnya segera tertangkap sebuah tangan kekar seorang pria berbadan tinggi besar. Dan pada saat Renata masih berada pada tahanan tangan pria itu, manik mereka bertemu.


"Aziz?" gumam Renata, dengan tidak melepaskan pelukannya pada pria itu.

__ADS_1


"Ehem, baru juga diomongin, ketemu jodoh, ketemu beneran kan?" kata Azkya yang berhasil membuyarkan lamunan Renata, seketika Renata melepaskan tubuhnya dari tangan pria itu, yang di duga Aziz.


Tampak pria itu mengernyit, saat mendengar kata 'Aziz' pada wanita itu. Namun, disaat menolong wanita itu, ada sesuatu hadir dalam hatinya, Pria itu terkesima pada paras cantik Seorang Renata.


"Eh, sorry." kata Renata menjauhkan dirinya dari pria yang mirip dengan Aziz, tapi nyatanya, pria itu rambutnya lebih panjang dan lurus dibandingkan Aziz, dan tubuhnya lebih besar dari Aziz, meski memang wajahnya identik mirip dengan Aziz, sosok pria yang menjadi pujaan hatinya di kampus.


"Its okey." jawab Pria itu ramah dengan senyuman manisnya.


'Ya Tuhan...kenapa manis banget sih dia? Bisa tergoda ini imanku.' batin Renata saat melihat senyum manis pria itu.


"Ehem, ehem." deheman Azkya membuat Renata salah tingkah.


"Saya Mu'iz, bukan Aziz. Kalau boleh tau, anda siapa? Kenapa anda memanggil saya Aziz? Apakah Anda dari Jakarta?" tanya Mu'iz beruntun.


"I-Iya, gue dari Jakarta. Oh, Mu'iz? Maaf, soalnya wajah elo tu mirip sama temen gue di Jakarta." kata Renata yang masih belum mau pergi dari wajah tampan pria yang ditabrak nya.


"Siapa? Namanya Aziz? Apakah anda kuliah di universitas islam Jakarta?" tanya Mu'iz.


"Lhoh? Anda tau?" kata Renata terkejut, begitupun dengan Azkya yang tak kalah terkejutnya.


"Oh, iya. Berarti...kalian ini kakak Adik? kakakmu Abdul Aziz Alghifari bukan?" tanya Renata masih tak percaya.


"Iya, benar." jawab Mu'iz.


"Wah, kalian kaya anak kembar ya? Kok kamu bisa ada di sini? Kamu temennya Nadia juga?" tanya Renata.


"Hahah, begitulah. Ehm, bukan. Aku keluarga dari pihak mempelai pria. Dan, kak Aziz juga ada lho, karena kami ke sini sekeluarga." kata Mu'iz, yang kemudian datang Mutiara yang sedari tadi bingung mencari anak bungsunya.


"Yaa Allah dek, kamu di sini rupanya? Mama muter-muter nyariin kamu, nelponin kamu, ga diangkat, ternyata kamu di sini?" omel Mutiara kepada anak bungsunya.


"Hehe, maaf mama, udah bikin khawatir ya? Harusnya mama ga perlu khawatir in Mu'iz, karena aku sudah besar mama. Bukan anak kecil lagi." kata Mu'iz.


"HaPemu dimana? Kenapa mama telpon ga diangkat?" protes Mutiara.


"HP? Oiya, lupa. HP ku tadi aku titipin mas Aziz mah, terus Aku ijin ke toilet, eh malah ketemu gadis-gadis temennya kak Aziz ini mah." jawab Mu'iz.

__ADS_1


"Bu Mutiara?" sapa Renata dengan mode tak terkejut.


"Ya?" jawab Mutiara.


"Ibu ini, praktisi kan? Dulu pernah mengisi seminar, *** Education di sebuah SMA swasta di Depok." tebak Renata.


"Ehm, ya saya pernah mengisi seminar di sana. Anda ikut juga?" tanya Mutiara ramah.


"Alhamdulillah, suatu kebanggaan bagi saya bu, bisa bertemu anda lagi secara langsung. Saya sangat suka dengan teori anda, dan saya dari dulu ingin sekali berbincang dengan anda, tetapi saya tidak punya kontak anda." kata Renata.


"Oh, kebetulan ya. Baik, sekarang anda bisa save nomer saya." kata Mutiara ramah.


"Ma, tau ga. Dia ini temennya mas Aziz, berarti dia juga kenal dong sama Azzalia." kata Mu'iz.


"Azzalia? Dia sahabat kami." jawab Renata antusias.


"Oya? Kalian sahabatnya Azza?" tanya Mutiara.


"Iya bu." kini giliran Azkya yang menjawab.


"Kenapa serba kebetulan gini ya? Apaa jangan-jangan kita berjodoh?" tanya Mu'iz.


"Iz... jangan macam-macam kamu. Anak kecil saja, kok udah ngomongin jodoh." hardik Mutiara sambil menjewer telinga Mu'iz.


"Aduh, mama, sakit mah." protes Mu'iz sambil meringis.


"Inget, masmu aja belum ada calon kenapa kamu udah ngomongin jodoh?" kata Mutiara.


"Mama, jodoh itu rahasia Allah. Jodoh itu rejeki. Dan satu lagi, Mu'iz bukan anak kecil lagi mama, Mu'iz sudah besar, sudah lulus sekolah mama, sudah siap menikah juga." kata Mu'iz yang matanya melirik ke arah Renata.


"Mu'iz...kamu ini ya. Udah ayo ikut mama, kita harus foto keluarga bersama. Ayah dan mas mu sudah menunggumu sejak tadi." kata Mutiara sambil menarik lengan putra bungsunya.


"Okey mama. Okey. Bye gadis-gadis cantik, semoga lain waktu bisa ketemu lagi ya." kata Mu'iz dengan entengnya.


"Mu'iz..." omel Mutiara.

__ADS_1


Sedangkan Renata dan Azkya hana bisa tersenyum geli melihat pemandangan ibu dan anak itu. Tampak lucu memang pria tampan itu di jewer dan di tarik oleh mamanya. Tetapi di hati Renata, rasanya sudah mulai tumbuh rasa yang tak bisa di sampaikan. Rasa apa itu?


__ADS_2