Bayangan Cinta Pantulan Asa

Bayangan Cinta Pantulan Asa
Khawatir


__ADS_3

Sedangkan Azzalia yang berada di kursi penumpang bagian depan, bersebelahan dengan kursi kemudi tampak gusar dengan kejadian tadi.


"Duh...mobil gue gimana ya? Andai saja gue ga ceroboh, ga bakal kaya gini kan jadinya? Lagi-lagi gue harus ngerepotin Seem." batin Azzalia.


"Za, tumben lo diem aja? Sariawan ya?" tanya Aziz, yang sejak tadi memperhatikan sahabat kecil nya itu, saat teman-temannya asyik bergosip di kursi penumpang bagian belakang.


"Ga, gue baik-baik aja. Gue cuma kepikiran sama mobil gue." jawab Azzalia.


"Oh...kirain sariawan. Makannya, lain kali tu kalau mau pergi jauh, di cek dulu mobilnya. Di servis dulu gitu." kata Aziz memberi saran.


"Iya iya pak dokter." jawab Azzalia.


"Gue belum jadi dokter tau." tukas Aziz.


"Tapi kan calon dokter." jawab Azzalia.


"Tetep aja, gue belum jadi dokter." jawab Aziz.


"Kata itu adalah do'a. Jadi kalau aku berkata dokter, itu juga do'a supaya elo jadi dokter." balas Azzalia lagi.


"Ya udah, serah lo deh." kata Aziz pasrah.


Saat Azzalia fokus ke depan, tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada notif pesan masuk di ponselnya dari nomer baru yang tidak dia kenal.


'Mobil lo harus nginep'


"What? Nginep?" pekik Azzalia.


"Kenapa Za?" tanya Aziz.


"Apa yang terjadi Za?" tanya Renata.


"Mobil gue harus nginep." jawab Azzalia dengan lemas.


"Ya wajar sih, kalau aki nya yang bermasalah, mai ga mau ya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memperbaiki nya." ujar Aziz yang sudah berpengalaman mengurus mobil.


"Terus, Seem gimana dong?" tanya Azzalia.


"Emang itu siapa yang ngehubungin elo?" tanya Renata.


"Engga tau, nomer baru." jawab Azzalia.


"Coba liat nomernya." pinta Nadia. Azzaliapun menyerahkan ponselnya ke Nadia.


Nadia mengecek nomer yang mengirimi pesan kepada Azzalia, dengan melihat kontak Opik.


"Sepertinya ini nomernya Seem." kata Nadia.


"Benarkah?" tanya Azzalia berbinar.

__ADS_1


"Ya, karena ini bukan nomernya kang Opik." jawab Nadia.


"Emang elo ga punya nomernya Seem, Nad?" tanya Azzalia.


"Engg. Dia ga ngasih, jadi aku ga berani minta." jawab Nadia sambil menyerahkan ponsel Azzalia kepada pemiliknya.


"Kenapa ga ngambil dari ponsel gue ini aja?" tanya Azzalia memancing Nadia. Azzalia mengetahui bahwa Nadia ada rasa pada Seem, tetapi si opa korea ga punya kamus bahasa itu masih membeku seperti patung es.


"Itu namanya mencuri Za. Ga minta ijin dulu pada pemiliknya, itu ga baik." sanggah Aziz.


"Oh, gitu ya?" gumam Azzalia.


Merekapun berbincang tentang sosok Opik, Seem, para panitia LPM dan organisasi LPM yang mereka ikuti, hingga tak terasa mereka telah sampai di rumah masing-masing dengan diantarkan Aziz. Dan terakhir, Azzalia yang diantar juga sampai depan rumah.


"Thank's banget ya Aziz, udah nganterin temen-temen gue dan nganterin gue sampe rumah." kata Azzalia


"Iya, sama-sama, ya udah gue langsung aja ya." jawab Aziz.


"Okey, hati-hati lho ya." kata Azzalia.


"Okey." jawab Aziz.


Azzaliapun masuk rumah dengan menggendong tas ranselnya. Dan disambut dengan tatapan tajam dengan kedua tangan dilipat di dada oleh kakaknya, Diego.


"Kemana mobil lo?" tanya Diego dengan memasang tampang garang.


"Udah dibilangin, sebelum ne Bogor, dicek dulu mobilnya. Di servis dulu, begini kan jadinya? Terus, siapa yang nganterin lo tadi?" tanya Diego.


"Aziz. Anaknya tante Tiara. Kenapa?" tanya Azzalia ketus.


"Terus, mobil lo di mana?" tanya Diego.


"Di bengkel lah." jawab Azzalia.


"Di bengkel mana?"


"Di bogor."


"Terus, siapa yang ngurusin?" tanya Diego lagi.


Azzalia memutar bola matanya dengan jengah, badannya terasa lelah, tetapi sampai rumah sudah mendapat introgasi dari kakaknya.


"Ada kakak tingkat yang ngurusin." jawab Azzalia.


"Tuh kan, jadi ngerepotin orang lain lagi? Makannya kalau dibilangin mas nya itu didengerin!" kata Diego terus mengomel.


"Iya iya. Gue yang salah. Ya udah ya, gue mau istirahat, capek." keluh Azzalia sambil melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Setelah mandi dan istirahat, setelah sholat maghrib, Azzalia mendapat panggilan telpon dari Nadia.

__ADS_1


"Halo, Assalamu'alaikum. Za. Kamu udah dihubungi Seem belum?" tanya Nadia.


"Terakhir sih tadi pas di mobil, itu aja aku bales tapi cuma di read, ga di bales. kenapa emangnya Nad?" tanya Azzalia.


"Ternyata ibunya kang Opik ini di rawat di rumah Sakit, Za, dan kang Opik dari tadi siang udah ke rumah sakit bawa motornya Seem. Sedangkan Seem masih di Bogor ngurusin mobil kamu Za. Aku pikir kamu di chat sama Seem." kata Nadia.


"Apa? Seem ditinggalin kak Opik? Terua gimana pulangnya dia? Mobil gue kan masih belum jadi." Azzalia mulai panik.


"Itu dia yang membuat aku telpon kamu Za, Seem pulangnya gimana? Ngabari kamu engga?" tanya Nadia.


"Engga Nad. Emang kak Opik ga di hubungi Seem?"


"Katanya engga juga Za."


"Ya udah, coba nanti gue hubungi dia." kata Azzalia.


"Okey Za."


Setelah mendapat telepon dari Nadia, Azzalia langsung mencoba menelpon Seem, tetapi hanya jawaban dari operator yang menyampaikan bahwa nomer yang dituju tidak aktif. Azzaliapun mengirim pesan kepada Seem.


📨Samuel


Seem, gimana elo? Bisa pulang ga?


📨Samuel


Seem, jawab dong. Elo dimana?


📨Samuel


Seem, please, jawab dong. Balas pesanku.


Azzalia semakin cemas, nomer Seem tiba-tiba tidak aktif, dan dikirimi pesan juga hanya centang satu. Azzalia kembali termenung, dia mondar mandir di kamarnya memikirkan keadaan Seem di luar kota Jakarta dengan tanpa kendaraan. Ada rasa kekhawatiran yang berlebih dari dalam dirinya. Jiwanya sangat tidak tenang, memikirkan keadaan Seem di luar sana.


"Seem, lo dimana sih? Gue khawatir banget sama elo. Please, lo jaga diri lo ya. Gue ga akan pernah memaafkan diri gue sendiri kalau terjadi apa-apa sama diri lo Seem." batin Azzalia dengan air mata yang mulai tergenang di pelupuk mata.


Sepanjang malam, Azzalia tidak bisa tidur, dia terus terbayang sosok Seem, yang begitu dingin dan menyebalkan baginya. Tetapi dia merasakan kerinduan yang mendalam pada sosok opa korea ga punya kamus bahasa itu.


Hingga pagi menjelang, Azzalia masih belum bisa tidur karena menunggu kabar kepulangan Seem. Namun sayangnya, ponsel Azzalia masih sepi tak ada notif pesan maupun telpon masuk dari Seem.


Keesokan harinya, Azzalia berangkat ke kampus untuk mengikuti perkuliahan. Setelah jam setengah duabelas siang, saatnya jam istirahat, Azzalia segera keluar dari kelasnya, dia menunggu Seem di depan kelas Seem, berharap Seem muncul dari dalam kelas itu.


Dan, harapannya akhirnya terjawab dengan senyuman, Sosok opa korea ga punta kamus bahasa telah keluar dari dalam kelasnya, yang membuat Azzalia tersenyum bahagia.


"Seem!" panggil Azzalia saat melihat sosok pria yang dia rindukan itu telah tampak nyata di hadapannya, meski langsung membelakanginya. Seem tampak berhenti dan kemudian menolh ke sumber suara.


💕💕💕


Malam dears, mohon maaf ya, Dede telat up, karena masih masa berduka, di rumah masih di repotkan dengan banyak acara. Terimakasih atas do'a dari para reader untuk bapak kami, semoga menjadi kebaikan untuk anda semua. Love you dear. semoga tetap setia dengan karya Dede ya...😘🙏

__ADS_1


__ADS_2