Bayangan Cinta Pantulan Asa

Bayangan Cinta Pantulan Asa
Jodoh Akhiratku


__ADS_3

"Wa'alaikumussalam." jawab bu Hani sambil melihat sosok gadis cantik dihadapannya. Wajahnya putih bersih, senyumnya teduh, menampakkan dua lesung pipit kecil di kedua ujung bibirnya. Gadis itu mengenakan jilbab yang senada dengan keponakan dan teman-temannya yang ada di dapur saat ini.


"Selamat malam tante." kata Syaqila santun.


"Selamat malam nak. Ehm, maaf apakah anda ini temannya Nadia juga?" tanya Ummah Hani.


"Iya tante, saya Syaqila." jawab Syaqila.


"Syaqila?" tanya Ummah Hani memastikan, sambil mengingat-ingat wajah gadis ini, mirip seseorang.


"Iya tante." jawab Syaqila.


"Maaf nak Syaqila, kalau boleh tante bertanya, siapa nama ayahmu?" tanya ummah Syaqila.


"Oh, boleh tante. Ayah saya bernama Surya." jawab Syaqila.


"Surya? Apakah ibumu bernama Fina?" tanya Ummah Hani.


"Iya tante, benar. Kakak saya bernama Sarah, beliau yang kemarin akan di khitbah oleh kak Opik." jawab Syaqila memperjelas.


Seketika ummah Hani menutup mulutnya, dan tangan kanannya memegang punya Syaqila, lalu Ummah Hani menarik tubuh Syaqila ke dalam pelukannya.


"Syaqila, maafkan tante, tante sungguh tidak tau nak, kalau kamu adalah adiknya Sarah." kata ummah Hani.


"Iya ibu, tidak apa-apa. Karena memang, kak Sarah dan saya tidak terlalu mirip." jawab Syaqila.


"Maafkan anak tante ya nak, yang belum bisa membalas perasaanmu kepadanya." kata Ummah Hani dalam isak tangisnya.


"Ma-maksud tante apa ya?" tanya Syaqila heran.


"Masuklah nak." kata ummah Hani.


Syaqila dituntun ummah Hani duduk di ruang keluarga, tempat dia berbicara dengan Seem tadi. Lalu ummah Hani mengambil kembali buku catatan milik Opik, yang tadi diberitahukan kepada Seem. Sedangkan saat ini, Seem sudah melangkah pergi ke masjid untuk menunaikan sholat isya'.


"Nak Syaqila. Ibu menemukan buku ini di kamar Opik, ibu sudah membaca beberapa ceritanya, salah satunya bercerita tentang seorang gadis yang mencintainya, tetapi dia belum bisa membuka hatinya untuk gadis itu. Sampai akhirnya, dia memilih untuk pasrah, memenuhi keinginan abah dan ummah, untuk melamar gadis pilihan kami. Ternyata, gadis yang mencintainya sejak dulu, itu... kamu ya nak?" tanya Ummah Hani.


"Iya tante." jawab Syaqila singkat sambil menunduk.


"Maafkan anak saya ya nak, belum bisa membalas cintamu." kata Ummah Hani.


Syaqila menatap ummah Hani, lalu memeluknya.


"Tante, saya tulus mencintai putra tante, tetapi sayangnya, Allah lebih mencintainya, sehingga Allah lebih dulu memanggilnya. Tetapi, meski begitu tante, Syaqila belum bisa melepaskan hati ini kepada laki-laki manapun, kecuali kak Opik tante. Meski kak Opik tak pernah ada rasa pada Syaqil, tetapi Syaqil akan terus berdoa, agar kak Opik suatu saat nanti bisa menjadi jodoh saya, bila pun kami tak berjodoh di dunia, Syaqila selalu berharap, agar kami bisa berjodoh di akhirat." jawab Syaqila sambil beberapa kali berusaha menghapus air matanya dengan tisyu.


"MaasyaaAllah nak... terimakasih atas ketulusan mu untuk mencintai putraku nak." jawab ummah Hani.

__ADS_1


Syaqila dan Ummah Hani saling berpelukan, menumpahkan kerinduan pada sosok yang tak kan pernah kembali. Hingga akhirnya, abah Daud pulang dari masjid, lalu disusul oleh beberapa tamu undangan yang akan mengikuti acara doa bersama untuk Opik.


💕💕💕


Selama di acara kirim doa untuk Opik, tak henti-hentinya Seem menatap wajah Azzalia dari kejauhan, dan hal itu diketahui juga oleh Azzalia.


"Ehem, cie...Azza, diliatin terus tuh sama mamas suami." goda Renata.


"Ih, apaan sih lo Re, biasa aja kali." jawab Azzalia berusaha menutup rasa malunya.


"Udah, jujur aja lagi, santai aja, laagian kalian kan pasangan halal, kenapa musti malu-malu?" tanya Renata lagi.


"Ya harus punya malu lah Re, ini di pasemuan, kalau ga, bisa malu-maluin." jawab Azzalia yang berhasil membuat Renata tertawa semakin lebar, namun seketika di tutupnya rapat-rapat mulutnya.


"Ssstttt." Azkya memberi isyarat kepada Renata untuk tenang, meski acara doa sudah selesai, kini acaranya tinggal acara sarasehan sambil menikmati hidnagan yang ada.


Setelah acara selesai, Azzalia dan Seem berpamitan kepada keluarga pak Daud, setelah tadi Seem sempat ikut serta menjadi among tamu menemani pak Daud.


"Ehm, Nadia, maaf. Ini gamisnya aku pinjem dulu ya." kata Azzalia kepada Nadia.


"Iya, pake aja Za." jawab Nadia.


"Makasih banyak ya Nad, kamu baik banget." kata Azzalia dengan tersenyum cerah.


Setelah berpamitan, Azzalia dan Seem pulang ke rumah, dan saat diperjalanan, Azzalia mengobrol dengan Seem sambil berusaha menghalau rasa dingin.


"Ya?"


"Kenapa tadi ngeliatin aku terus sih?" tanya Azzalia.


"Emang kenapa?"


"Ya ga nyaman aja gitu, masa' ngeliatin nya gitu banget?" protes Azzalia.


"Ngeliatin istri sendiri ga ada salahnya kan? Daripada aku ngeliatin cewek lain?" goda Seem.


"Eh, emang mas mau liatin cewek lain? Ha?" tanya Azzalia mulai tersulut emosinya


"Santai dong sayang, ya engga lah. Makannya aku liatin kamu terus karena kamu tu cantik banget malam ini." puji Seem.


"Emang kemarin-kemarin ga cantik?"protes Azzaia lagi dengan wajah cemberut.


"Cantik...tapi malam ini tu, cantiknya berlipat-lipat." jawab Seem jujur.


"Gombal." ketus Azzalia.

__ADS_1


"Serius."


"Emang, itu jilbab punya siapa? Kok kayaknya seragaman ya Mawar Merah?" tanya Seem heran.


"Iya mas. Itu seragaman, ini, masih bau baru, belum aku cuci. Baru tadi pagi dibagikan, sorenya langsung dipake." jawab Azzalia.


"Emang siapa yang ngasih?" tanya Seem.


"Kak Opik." jawab Azzalia singkat.


"Opik?" tanya Seem memastikan.


"Iya."


"Keren ya dia. Selain mengajakku hijrah menjadi mu'alaf, dia kini mengajak kalian berhijrah dengan jilbab syar'i yang dia beri." puji Seem kepada Opik.


"Iya kak."


"Kenapa dulu dia kamu tolak?" tanya Seem.


"Ehm...yang jelas, karena aku sudah menganggapnya kakak, dan karena aku merasa minder aja gitu kak. Dia itu kan, pinter, hafidz Qur'an, ngajinya bagus, agamanya bagus, lha aku? Bocah urakan kak, lagipula awalnya kan, aku belum mau nikah kak, masih pingin lulus dulu, tapi takdir berkata lain." jawab Azzalia.


"Oh, gitu ya?"


"Iya."


"Oya sayang, kita mau mampir-mampir dulu ga nih ?" tanya Seem.


"Engga usah mas, aku udah capek banget ini, pingin segera tidur." kata Azzalia.


"Okey permaisyuriku " jawab Seem.


Saat di perjalanan mereka kembali melanjutkan obrolan mereka menuju rumah dengan mengendarai motor.


"Udara sangat dingin malam ini, peluk aja aku, ga usah sungkan, kita udah halal." kata Seem mengambil tangan Azzalia lalu dilibgkarkan di pinggulnya.


"Iya iya."


"Entar, sampe rumah, Aku kelonin ya." tawar Seem.


"Ih mas, ngomongin ranjang kok di sini sih? Ga Etis ah, kalau ada orang lewat denger gimana?" protes Azzalia.


"Ya udah, sorry. Tapi, mau kan?"


"Ya nanti gampang lah. Pokoknya cepetan dong, aku udah capek banget ini." jawab Azzalia.

__ADS_1


Seempun melajukan motornya dengan kecepatan sedang, menembus jalur pulang mereka. Azzalia menyandarkan kepalanya di punggung Seem dan kedua tangannya menelusup di kantong jaket Seem. Hangat."


__ADS_2