
Satu tahun sudah berlalu, Azzalia menjalani hari-harinya menjadi mahasiswa di universitas Islam di Jakarta. Dia jalani rutinitasnya menjadi mahasiswi, aktivis kampus, sekaligus karyawan dari perusahaan meubel milik keluarga Anggoro.
Sore itu, Azzalia baru menyelesaikan kuliahnya dan berlanjut siaran radio.
"Okey gaes, kita lanjut ya buat pesan-pesan yang masuk lainnya, sebelum kita closing. Ini ada dari...Al, jurusan KPI. Nitip salam buat yang siar, jangan lupa makan ya kalau sakit, aku juga ikutan sakit lho. Haduh, haduh, Al... thanks banget atas perhatian elo ya, tenang aja, ni mulut hobi makan kok, jadi aman lah." kata Azzalia saat ditengah siaran.
Ternyata di luar ruang siaran, sudah ada seseorang yang memperhatikan Azzalia, sambil membuka-buka map berisi sebendek tulisan berjudul Skripsi. Telinganya fokus mendengarkan Azzalia dan matanya fokus menatap setiap gerak gerik Azzalia dari balik jendela kecil antara ruang siaran dan ruang tamu.
Tak menunggu waktu lama, Azzalia sudah closing dan keluar dari ruang siaran.
"Eh, ada Kak Opik? Dari tadi Kak?" Tanya Azzalia.
"Iya Za."
Azzalia menghampiri Opik, lalu duduk di kursi yang berada di samping kursi tempat Opik duduk.
"Wah, skripsi tu Kak?" Tanya Azzalia berbasa basi saat melihat sebendel kertas yang ada diaatas meja. Karena bagi Azzalia Opik sudah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri.
"Iya Za."
"Ehm, abis bimbingan ya Kak?"
"Iya. Alhamdulillah, udah acc, bimbingan terakhir, tinggal nunggu jadwal sidang." jawab Opik.
"Wah, keren Kak Opik. Cepet banget Kak selesainya skripsi, kaya gampang gitu." puji Azzalia.
"Iya Za, tergantung kitanya, juga dosen pembimbingnya sih Za. Kalau kitanya rajin merevisi, dan dosbimnya gampang ditemui, inshaaAllah semua akan berjalan lancar Za." jelas Opik.
"Oh gitu?" gumam Azzalia.
"Oh ya Za, sore ini kamu ada acara ga?" tanya Opik.
"Engga kak. Kenapa?"
"Boleh minta waktunya? Aku pingin ngobrol"
__ADS_1
"Oh, ya bisa kak. Bisa disini apa...dimana?"
"Sambil makan aja gimana?"
"Boleh. Ya udah ayuk kak, keburu malem." ajak Azzalia.
"Ayuk." jawab Opik sambil memasukkan tumpukkan kertas skripsinya ke dalam ranselnya.
Opik mengendarai motor dan Azzalia mengendarai sepeda lipatnya, mereka menuju warung makan yang ada di luar kampus. Sesampainya di warung Bakso yang terkenal enak di lidah para mahasiswa, dan harganya juga terjangkau.
"Makan bakso gapapa kan Za?" tanya Opik.
"Ya gapapa lah kak yang penting nih ya, bisa mengisi perutku yang udah konser, hehehe." jawab Azzalia yang membuat Opik tersenyum.
Bakso pesanna merekapun datang, Opik dan Azzalia makan bersama sambil mengobrol.
"Za, boleh tanya sesuatu ga?" tanya Opik.
"Ya, boleh kak." jawab Azzalia masih fokus dengan baksonya.
"Ya, boleh kak, tapi gue bisa jawab ga ya kak?" Azzalia merasa ragu.
"Bisa lah, soalnya beberapa waktu lalu, aku denger kamu pernah membicarakan tentang nikah muda saat siaran. Itulah sebabnya, aku milih kamu sebagai narasumber dari artikel ku." jawab Opik.
"Oh, ya...bisa bisa." jawab Azzalia sambil manggut-manggut.
"Jadi, gimana pendapat Azza tentang pacaran?" tanya Opik yang sudah mulai mengambil catatan kecilnya.
"Pacaran? Kalau menurut para ustadz yang pernah Azza denger nih ya, katanya tu ga boleh kak, karena pacaran itu termasuk mendekati Zina." jawab Azzalia.
"Kalau menurut Azza sendiri?" tanya Opik.
"Ehm... kalau Azza pribadi, meski model Azza kaya begini, Azza juga belum pernah pacaran sih kak, dan kalau bisa sih, ga usah pacaran. Hehe."
"Kenapa?" tanya Opik yang tampak terkejut, ternyata sosok gadis gaul dan supel seperti Azzalia belum pernah pacaran juga.
__ADS_1
"Ya...karena...apa ya? Ribet sih kalau menurut gue." jawab Azzalia.
"Ribet? Ribet gimana? Bukannya kalau pacaran itu banyak menguntungkan di wanitanya? Dia akan terlindungi oleh sosok pacaranya, minta apapun bisa di kasih pacarnya, jadi semangat belajarnya, dan..."
"Sepertinya Kak Opik lebih pengalaman ya? Kak Opik pernah pacaran ya?" tebak Azzalia.
"Ha? Eng engga. Aku ga pernah pacaran juga Za. Ya...cuma liat di TV gitu, sama cerita dari temen-temen. Gimana mau pacaran, aku kan anak pesantren." kilah Opik.
"Hahaha, just keed kak, sorry." kata Azzalia yang seketika melihat wajah Opik berubah merah, dia tak tega melihatnya.
"Ya, mungkin kak Opik berfikir yang diuntungkan itu wanitanya, tetapi tak sedikit juga yang diuntungkan itu laki-lakinya dan wanitanya itu justru korban. Karena dari pacaran, mereka bisa berhubungan bebas, dan wanita yang menanggung resikonya, sedangkan si laki-lakinya ga tanggungjawab. Banyak kok kasus kaya gitu, termasuk temen-temen Azza." lanjut Azzalia.
"Dan ribet yang kumaksud itu, gini. Azza kan tipe cewek ga mau diem, Azza suka beraktivitas, suka main kesana kesini, suka berkenalan sama siapa aja, kalau punya pacar, biasanya si pacar akan membatasi pergerakan kita. Misal gur mau deket sama kak Opik nih, pasti dia cemburu. Mau nongkrong sama temen-temen, si pacar minta jalan berdua aja. Trus belum lagi kalau gue mau kerja, dia minta ditemenin. Belum lagi entar minta belanja, makan bareng, ah... banyak pengeluaran." keluh Azzalia.
"Hem...gitu ya? Terus, kalau nikah muda gimana?" tanya Opik yang sejujurnya dia mencari jawaban dari pertanyaan hatinya. Selain untuk menulis Artikel, Sebenarnya Opik juga ingin menjajaki pendapat Azzalia tentang nikah muda. Jika Azza pro, maka Opik akan segera maju dan melamar Azzalia.
"Nikah muda? Bagus sih, itu salah satu usaha untuk mengontrol hati agar terhindar dari zina. Tapi...ada banyak kasus nikah muda itu, usia pernikahannya juga muda abis itu bubar jalan." jawab Azzalia.
"Karena, diusia muda itu kan, emosi seseorang belum stabil kak. Yang istri masih ingin bersenang-senang bersama temannya, tetapi suami menginginkan pelayanan dari istrinya. Ada juga yang langsung hamil, istri yang harus mengurus anaknya, sedangkan mentalnya belum siap untuk itu. Belum lagi kalau suaminya ga pengertian dan suka main tangan, akan terjadi KDRT yang menjadikan istri menjadi korbannya, dan akhirnya berpengaruh pada kejiwaan istri dan anak-anaknya. Belum lagi, hubungan dari keluarga suami, atau keluarga istri yang juga berpengaruh pada perjalanan bahtera rumah tangga mereka, yang juga menjadi salah satu penyebab terjadinya permasalahan keluarga." jawab Azzalia.
Opik tampak berfikir, memang benar adanya, ada banyak kasus nikah muda yang berakhir dengan perceraian di usia muda pernikahan mereka. Karena beberapa hal yang membuat terjadinya percekcokan, KDRT dan perselingkuhan. Sehingga terjadilah perceraian yang hal itu sangat dibenci oleh Allah.
"Kalau menurut Azza sendiri, apakah Azza pro dengan nikah muda?" tanya Opik dengan hati yang dag dig dig der, karena sesungguhnya inti dari obrolannya justru ada di sini.
"Engga." jawab Azza singkat yang seketika membuat Opik terperanjat, dia tak menyanyi, tanpa berfikir panjang Azzalia langsung menjawab dengan jawaban yang tidak sesuai dengan ekspetasinya.
"Ke...kenapa?" tanya Opik berusaha menetralisir hatinya.
"Belum siap. Dan yang jelas, Azza ingin meniti karir Azza dulu kak. Azza masih pingin menyelesaikan kuliah, kerja, dan banyak hal positif lainnya yang ingin Azza lakukan, sebelum Azza menjadi istri orang. Karena kalau Azza udah nikah, Azza harus siap dengan segala keputusan suami Azza, harus siap mengurus anak, harus siap berhadapan dengan mertua, ipar dan banyak yang harus Azza pertimbangan. Dan lagi, Azza adalah seorang yatim piatu, Azza harus mempertimbangkan hal itu juga kak. So, Azza harus lulus dulu dari kuliah, agar tidak mengurangi hak suami dan anak-anak Azza jika Azza masih mengenyam pendidikan kuliah." jawab Azzalia santai tanpa beban.
"Sedetail itu pertimbangan dia untuk memutuskan menikah. Sejauh itu pertimbangan nya untuk memutuskan dirinya lepas lajang" batin Opik.
"Oya kak, entar kalau apa yang kusampaikan ini akan diunggah di artikel, jangan tuliskan nama Azzalia ya. Tulis aja nama samaran Azza, Putri." pesan Azzalia.
"Oh, okey." jawab Opik masih sedikit shok mendengar kejujuran Azzalia.
__ADS_1
Obrolan akhirnya menjadi ringan seiring berjalannya waktu, hingga waktu maghrib tiba, Opik bermaksud mengantar Azzalha pulang ke rumahnya, tetapi Azzalia menolak, karena Azzalia tau bahwa Opik ada jadwal mengisi pengajian remaja di masjid dekat rumah Opik. Akhirnya modus Opik untuk PDKT, gagal. Selain itu, Opik juga masih merasa kecewa dengan jawaban Azzalia, yang membuat hatinya tidak baik-baik saja. Sehingga Opik harus menetralisir hatinya terlebih dahulu.