
feby baru saja memasuki rumahnya, dia sejenak mendudukan tubuhnya di kursi ruang tamu.memejamkan matanya untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya. mbak ida pembantu rumah tangga di rumah feby mendekatinya.
" non feby mau di bikinin minum " tanya mbak ida.
" teh anget aja mbak " kata feby tanpa membuka matanya.
" mama kemana mbak? "tanya feby lalu menegakkan duduknya.
" nyonya katanya ada arisan non " kata mbak ida lalu berlalu dari sana setelah meminta izin pada feby.
•••
setelah mengantarkan feby pulang, El tidak langsung pulang ke rumah dia memilih pergi ke lapangan basket, lapangan yang sengaja di belinya untuk berlatih bersama kedua sahabatnya. tempat itu juga merupakan tempat favoritnya untuk menenangkan diri dan meredam emosinya.
sesampainya di lapangan basket dia hanya melepas baju seragamnya lalu mengambil bola basket yang selalu dia bawa di dalam. mobilnya. El memasuki lapangan lalu mendribbling bola itu sesekali melemparkannya ke dalam ring.
setiap kali bola itu tak masuk ke dalam ring El selalu melemparnya sekuat tenaga agar bola itu masuk, sudah hampir satu jam dia disana bermain sendiri dan tidak beristirahat.
hingga tubuhnya sekarang bermandikan keringat tapi dia sama sekali tidak merasa lelah dia terus saja bermain.
" hah " teriak El seraya membanting bola basket itu keras, lalu tubuhnya terduduk dengan kedua lutut yang jadi tumpuannya.
" kenapa lo? " tanya seorang pria mendekat ke arah El. sembari mendribling bola.
" ngapain lo kesini? " teriak El karena emosi masih menguasainya.
" kenapa lo marah, tempat ini kan untuk kita jadi gue berhak kesini kapan saja " pria itu adalah vano setelah mengantarkan mala, adit dan terakhir diana. dia pergi menggunakan taksi ke lapangan ini .
" ck, terserah lo " kata El lalu berjalan ke pinggir lapangan mengambil minuman yang tadi sempat dia beli sebelum kelapangan basket ini.
" lo kenapa? " kata vano mendekati El.
" gue nggak papa " kata El berkilah.
" lo nggak lupa sama taruhan kita kan? " tanya vano memastikan.
" ya nggak lah, gue inget gue lagi nyusun rencana aja " kata El.
" prom night tinggal seminggu lagi, dan lo harus pacarin dia " kata vano mengingatkan El.
" gue tahu ini juga lagi usaha " kata El Teriak di akhir kalimatnya.
__ADS_1
" kenapa lo jadi marah " kata vano seraya tersenyum mengejek.
" ah udah lah mau pulang gue " kata El. menyambar tasnya lalu meninggalkan vano sendiri di lapangan.
" gue tahu lo mulai suka sama cewek itu El " kata vano saat melihat punggung El mulai menjauh. diapun mengikuti El untuk pergi dari sana.
•••
di kamar bernuansa biru muda terlihat seorang gadia tengah menatap kosong ke arah luar jendela, entah apa yang di pikirkannya saat ini. sore ini dia menikmati tiupan angin yang berhembus melalui celah jendela yang di buka.
dia sungguh menikmati udara hari ini, cukup membuat pikirannya sedikit lebih tenang. namun perasaannya masih saja melayang memikirkan satu sosok pria yang sangat dia rindukan, sosok pria yang sangat menyayanginya dia sungguh ingin bertemu dengan pria itu.
" feby sayang " kata feronika setelah membuka pintu kamar dan melihat putrinya tengah melamun.
" iya ma " kata feby mengalihkan pandangannya saat lamunannya di buyarkan oleh panggilan mamanya.
" kamu lagi apa sayang? " tanya feronika mendekati feby dan mengelus rambut coklat feby yang terurai bebas.
" nggak ma, cuma lagi menikmati udara sore aja " kata feby tersenyum ke arah feronika.
" kamu emang nggak jauh beda sama abang kamu, dia juga suka menikmati senja " kata feronika ikut melihat ke arah luar jendela.
" senja selalu bisa membuat rinduku sedikit berkurang ma, dulu saat aku sedih abang selalu temenin aku sambil mainin gitar kesayangannya dan nyanyi lagu buat aku " kata feby menerawang jauh masalalunya.
" boleh feby tanya sesuatu sama mama " kata feby menatap dalam mata feronika seraya menggenggam tangan feronika.
" kamu mau tanya apa sayang? " tanya feronika membalas tatapan feby.
" kita duduk dulu ma " kata feby mengajak mamanya untuk duduk di ranjang.
" apa alasan abang pergi selama ini ma? " tanya feby saat mereka sudah mendudukan tubuhnya di ranjang feby.
feronika bungkam, dia mengalihkan pandangannya dan melepaskan genggaman tangan feby. dia bimbang apakah ini saatnya dia menceritakannya kepada feby.
" kenapa mama diam saja? " tanya feby tidak sabar.
" belum waktunya mama cerita sayang " kata feronika setelah beberapa saat dia diam.
" ma feby udah dewasa, sampai kapan mama bakal sembuyiin ini ? apa perlu feby cari tahu sendiri? " kata feby seraya beranjak berdiri dari kasurnya.
" sayang " panggil feronika mengelus lengan tangan putrinya.
__ADS_1
" kasih aku jawaban ma " kata feby masih membutuhkan jawaban.
" mama bakal cerita sama kamu, sini kamu duduk " kata feronika menenangkan putrinya.
" jadi sebenernya waktu itu umur abang sekitar 17 tahun waktu abang lulus sma, kedua kakek kamu bersikeras buat jadiin abang penerus perusahaan kita, tapi abang yang masih sangat muda jelas menolak itu semua, abang bilang dia punya cita-cita sendiri tapi kakek nggak terima alasan itu, kata kakek abang bisa ngurus perusahaan sambil kuliah tapi abang yang nggak minat sama perusahaan kakek dia lebih memilih untuk tetap pada pendiriannya "
" kenapa nggak di kasih sama rizal atau farhan aja sih ma? " tanya feby memotong omongan mamanya.
" kamu tahu kan om indra itu kerjanya cuma hura-hura apalagi rizal dia kerjanya mabuk dan bolos sekolah terus, sedangkan om lukman kakek nggak bisa yakin sama kemampuannya dan farhan juga nggak bisa di andalkan untuk itu,dan yang di pilih sama papa dari mama itu abang kamu,dan perusahaan permana group di pegang papa. tapi abang tetep nggak mau dan sampai baats kesabaran kakek dia bilang, nggak ada yang boleh biayain kuliah abang dan keperluan abang karena penolakan itu papa dan mama juga nggak bisa berbuat apa-apa " kata feronika menginggat kejadian 8 tahun lalu yang membuat putranya pergi, air matanya tak bisa terbendung lagi.
" udah ma nggak usah di terusin kalo mama nggak bisa " kata feby mengelus tangan mamanya.
" mama terusin ya, dan setelah itu abang kamu tetep kekeh dengan pendiriannya dan kakek kamu yang marah mengusir abang dari rumah dan kalo mama atau papa bantu abang kamu yang jadi korbannya, kamu bakal di pisahin dari kita, dan dari situ abang pergi dia bilang dia bakal buktiin dia bisa suksea dengan cita-citanya sendiri " kata feronika menjelaskan dengan air mata yang mengalir deras dipipinya.
feby memeluk erat mamanya, sungguh tragis nasib abangnya.
" kenapa mama nggak cari abang " tanya feby lagi.
" mama sama papa udah berusaha tapi kita nggak bisa nemuin abang sampai sekarang " kata feronika lemah.
" terus nasib perusahaan kakek gimana ma? "
tanya feby seraya merebahkan kepalanya di pangkuan mamanya.
" untuk perusahaan utama permana group di pegang papa dan untuk cabangnya yang megang om satya " kata mama feby menjelaskan seraya mengelus lembut rambut putrinya.
" terus perusahaan aryatama group? " tanya feby, feronika adalah anak dari salah satu pengusaha kaya di masanya perusahaan itu adalah aryatama group.
" kalo perusahaan pusat di pengang sama om indra dan rizal perusahaan cabangnya di pegang om lukman sama farhan, dan salah satu cabang yang ada di luar kota atas nama kamu " kata feronika menjelaskan rinciannya.
" kenapa aku ma? " tanya feby mendongak menatap mamanya.
" karena abang kamu harus mewariskan permana group jadi kamu yang mewarisi cabang aryatama group yang terbesar itu "
" bukanya yang terbesar perusahaan pusat ya ma? "
" nggak sayang kakek nggak percaya sama kedua om kamu jadi perusahaan terbesar kamu yang harus urus, dan karena umur kamu sekarang udah 17 tahun jadi kamu harus mulai ngurus perusahaan sendiri "
jelas feronika yanh membuat feby tercengang.
" tapi feby nggak bisa ma " rengek feby.
__ADS_1
" kamu harus bisa, kamu bisa minta bantuan papa atau siapa yang kamu mau, kalo kamu udah siap kita bisa temuin kakek dan bilang kalo kamu udah siap " kaga feronika tersenyum lembut ke arah putrinya.