
mereka masih setia duduk di kursi penonton untuk menonton El dan teman-temannya bermain basket.
sejak tadi tidak ada yang membuka suara diantara mereka bertiga hanya ada keheningan yang tercipta.
feby yang sesekali menunduk merasakan perih di pergelangan tangannya yang memerah akibat ditarik oleh El tadi .
diana yang memperhatikan sahabatnya feby yang hanya diam saja.sebenarnya diana tidak suka feby dekat dengan El dia takut El hanya akan menyakiti sahabatnya.
diana tahu feby belum pernah berpacaran berbeda dengan El yang terkenal fuckboy pasti dia lebih sering dekat dengan wanita.
diana akan menyelidiki tujuan El mendekati feby. diana kenal sekali dengan feby maka dari itu dia tidak rela sahabatnya disakiti.selama ini hanya ayah dan abangnya sosok pria yang sangat di cintai feby dan mereka tidak mungkin menyakiti feby.
" lo kenapa diem aja " tanya mala memecah keheningan diantara mereka.
" lo tanya gue apa feby ?" diana menunjuk dirinya dan juga feby.
" ya lo lah ,kan biasanya lo sukanya marah-marah kenapa diem aja " kata mala dengan wajah sedikit kesal.
" apaan lo aja yang suka mancing emosi gue " kata diana melotot.
" nggak usah melotot gitu lah ,tuh mata keluar baru tahu rasa lo " mala tertawa bahagia melihat wajah kaget diana mendengar kata-katanya.
" ck kalian ya sekalinya ngomong debat mulu " feby akhirnya turun tangan untuk memisah pertengkaran mereka.
" dia aja yang suka darah tinggi,kayak nenek lampir " mala mengejek diana yang memang mudah tersulut emosi.
" lo ya " diana akan menerkam mala tapi ditahan feby.
" udah ah ,kayak anak kecil aja kalian " kata feby.
" feb gue denger dari bokap gue ,lo latihan ngurus perusahaan ya ?" tanya diana.
" iya perusahaan milik kakek gue yang emang di kasih ke gue " jawab feby dengan pandangan menuju ke arah El.
" lo bisa ngurus perusahaan feb gila hebat banget lo " kata mala setengah berteriak.
" terus aja teriak yang kenceng biar semua orang tahu identitas asli kita " kata diana marah.
" ck nenek lampir marah-marah mulu " gumam mala.
" apa lo bilang ?" diana bersiap untuk memarahi mala.
__ADS_1
" eh nggak kok " mala mengangkat kedua tangannya.
feby terus memandang lurus ke arah El yang tengah bermain basket banyak wanita-wanita disana yang meneriakan nama El. padahal ini hanya latihan kenapa serame ini yang nonton batin feby bertanya-tanya.
kalo dilihat El memang terlihat lebih tampan dan cool dengan pakaian basket yang melekat di tubuhnya ,keringat yang keluar dari tubuhnya menambah kesan tampan .
tapi feby menampik pikirannya mengingat kejadian tadi dimana El menariknya secara paksa bahkan tangannya masih berbekas merah.
" gue saranin lo jangan terlalu deket deh feb sama El " kata diana yang sedari tadi memperhatikan sahabatnya yang tengah menatap ke arah El.
" kenapa ?" tanya feby menoleh kearah diana dahinya berkerut menandakan dia kaget dan heran dengan ucapan diana.
" jangan-jangan lo suka ya sama El ?" kini mala yang bertanya mencoba mencari kebenaram dari raut wajah diana.
" ck ya nggak gue cuma nggak mau nanti lo terlanjur sayang sama dia tapi dia malah ninggalin lo sama cewek lain " kata diana meyakinkan kedua sahabatnya.
" iya juga sih dia kan fuckboy " mala ikut menyetujui kata-kata diana.
" nggak kok kita juga cuma temenan " kata feby lemah.
" lo udah ada rasa sama El ?" tanya diana memegang bahu feby mereka saling tatap untuk melihat kebenaran dimatanya.
" nggak lah apaan sih,mana mungkin gue suka sama cowok fuckboy gitu " kata feby berkilah.
" tapi nih kalo dilihat-lihat vano juga ganteng ya " kata mala tiba-tiba membahas vano.
" kenapa jadi bahas itu " diana bertanya dengan nada kesal saat mengingat perlakuan vano.
" kenapa lo nyolot gitu " mala mulai membuat keributan.
" ck udah kalian berantem terus " feby mencoba memisahkan.
" dia aja sensian lagi pms ya " kata mala.
" dih apaan gue nggak suka aja tuh sama vano ngeselin " kata diana.
" tapi menurut gue mala bener sih vano emang nggak kalah ganteng dari El ,cuma ya dingin aja orangnya " kata feby memberikan pendapat.
" bener banget lo feb " mala membenarkan perkataan feby.
•••
__ADS_1
ditengah lapangan latihan kali ini memang di tonton banyak orang dan banyak wanita tentunya yang mengaggumi ketampanan El.
sedari tadi El terus memperhatikan permainan vano yang menurutnya tidak seperti biasanya,mungkin vano masih marah padanya pikir El.
El tahu vano tidak suka jika El menyakiti perempuan tapi kenapa semarah ini biasanya juga tidak.
El mencoba mendekat tapi vano selalu menghindar hingga akhirnya El merebut bola vano dan mereka duel basket .
El selalu berusaha berbicara kepada vano bertanya tentang kesalahanya tapi vano tetap bungkam,dia setia dengan kebisuannya hingga akhirnya El yang batas kesabarannya telah memuncak pun murka.
El melempar keras bola basket itu dan mengenahi dada vano hingga vano jatuh terjengkang kebelakang.
" gue udah sabar ya bicara baik-baik sama lo "
" kenapa lo diem aja ha ?"
" kalo gue salah lo ngomong ngga diem aja "
" tinggal 2 hari lagi kita tanding dan permainan lo hari ini buat gue kecewa "
" terserah lo mau gimana ,terus aja diem "
El meninggalkan vano yang masih terduduk cukup puas meluapkan segala emosinya.
" latihan hari ini slesai,gue balik duluan dit " kata El memberi arahan dan berpamitan pada adit.
dia berjalan menuju kursi penonton mengambil tasnya dan menarik feby ,tapi bukan tarikan kasar seperti tadi.
feby hanya menurut saja,dari raut wajah El terlihat dia menahan amarah tapi juga rasa bersalah. tentang apa feby juga tak mengerti.
langkah kaki El yang cepat membuat feby kesusahan untuk mengimbanginya tapi di juga tidak berani menegur El.
sesampainya di parkiran El membukakan pintu untuk feby,tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulut El.feby pun masuk kedalam mobil dan di ikuti El yang juga masuk ke dalam mobil.
sebenarnya feby belum pernah melihat El marah seperti tadi.El terkenal pribadi yang ceria ,slengekan dan tidak mudah terpancing emosi.
El duduk di kursi kemudi,dia tidak langsung menyalakan mobilnya justru menelungkupkan wajahnya di setir mobil.terdengar beberapa kali dia membuang nafas berat.
feby sungguh bingung harus bagaimana,melihat El yang sekarang ini seperti bukan El yang biasanya.
feby memberanikan diri mengelus bahu El memberikan ketenangan ,El mengangkat kepalanya menoleh ke arah feby dan seketika feby menarik tangannya takut jika El marah tapi tidak di sangka El justru memeluknya.
__ADS_1
feby mencoba lepas dari pelukan El.tapi El menahannya.
" biarin kaya gini bentar aja " kata El dengan suara lemah membuat feby tak tega . feby bertanya-tanya dalam hati ada apa sebenarnya.