
feby POV
perlahan aku buka mataku ,ku kerjap-kerjapkan mataku untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kemataku.
melihat sekeliling merasa asing dengan tempat ini,kamar bernuansa putih dengan bau obat-obatan yang cukup menyengat . dan aku tahu ini dirumah sakit tapi kenapa aku bisa disini . seketika pikiranku menerawang kejadian sebelum aku berada disini dan yah aku mengingatnya.
kurasakan tanganku di genggam kuat ,kulihat seorang pria dengan pakaian basketnya .dia tertunduk disamping tempat tidurku ,aku menengok ke arah sofa yang disana ada kedua sahabatku dan juga dua orang pria yang juga memakai seragam basket. mereka belum sadar jika aku sudah bangun.
aku coba menggerakan tanganku karena aku tahu pria disampingku tidak sedang tidur.
dia mendongak melihat kearahku mataku bertemu dengan manik mata coklat miliknya aku tersenyum saat melihat raut kaget diwajahnya. dia masih melongo melihat ku ingin rasanya aku tertawa melihat wajahnya yang menggelikan. ku angkat tanganku lalu kutepuk bahunya dia sadar dari lamunannya.
senyumnya mengembang sempurna saat sadar dari lamunannya.
" feb lo udah sadar ?"
" apa ada yang sakit feb,ah iya gue panggilin dokter dulu ya feb " kata dia kelimpungan kulihat jelas raut kawatir dan juga gembira .dia langsung bergegas keluar kamar untuk memanggilkan dokter.
kedua sahabatku pun mendekat ke arahku mereka tersenyum lalu memelukku.di tengah pelukan itu kudengar mereka sesenggukan.
" kok nangis ?" tanyaku heran kenapa setelah aku siuman mereka malah menangis.
" lo tidurnya kelamaan kan kita kawatir " kata mala masih dengan sesenggukannya.
" iya lain kali jangan lama-lama kalo tidur " kini giliran diana yang memarahiku aku terkekeh geli melihat kedua sahabatku yang cengeng ini.
" emang sejak kapan gue tidur " tanyaku belagak bodoh.
" dari kemarin " kata mala bersungut kesal dan aku hanya beroh ria.
" udah lah nggak usah nangis gue nggak papa ini " kataku agar mereka berhenti menangis.
" siapa yang nglakuin ini sama lo feb " tanya salah satu pria itu dengan nada dinginnya dia adalah vano salah satu sahabat Elrangga.
dan pria tadi adalah elrangga yah nama yang beberapa hari ini menghiasi hari-hari gue yang dulunya menyenangkan dan sekarang lebih menyenangkan karena hadirnya.
belum sempat gue menjawab dokter keburu dateng dan memeriksa gue.
__ADS_1
" kondisinya sudah membaik hanya masih butuh banyak istirahat ,mungkin satu atau dua hari lagi baru bisa pulang "
" kalo gitu saya pamit undur diri " kata dokter itu dan diangguki seluruh orang yang ada disana.
" lo beneran udah nggak papa? masih ada yang sakit ? atau mau makan apa biar gue beliin ?"tanya El dengan wajah paniknya yang justru membuat aku tersenyum senang begitu perdulinya dia denganku.
" nggak kok gue nggak papa nggak pengen apa - apa juga" kataku seraya tersenyum.
" feb lo buat kita jantungan tahu tiba-tiba ngilang gitu aja " kata mala bersungut kesal.
" ya namanya musibah siapa yang tahu sih " jawabku acuh mencoba duduk dan dibantu oleh El.
" jadi siapa yang nglakuin ini sama lo " tanya vano lagi masih dengan wajah dinginya.
sesaat aku dibuat takut dengan ekspresi vano yang menakutkan haruskah aku mengatakan yang sejujurnya tapi dia emang udah keterlaluan sih.
" dina cs " kataku acuh yang membuat mereka semua kaget.
" gila juga tuh anak " adit bersungut kesal.
diana aku tahu dia sedang menyusun rencana untuk membalas perbuatan dina ,sedangkan vano juga terlihat memikirkan sesuatu.
Elrangga dilihat dari wajahnya dia sangat marah saat dia akan beranjak pergi aku genggam tangannya tak akan kubiarkan dia pergi. kulihat diana sedang mengotak-atik ponselnya aku tahu dia sedang memberi kabar pada papaku dan aku tahu apa yang akan dilakukan papa.
" nggak jangan sekarang ya, kamu disini aja " kataku dengan puppy eyes andalanku akhirnya dia luluh juga aku beralih menatap adit,vano,mala dam diana bergantian.
" kalian jangan gegabah oke ,gue baru siuman masak iya kalian udah mau balas dendam temenin gue disini lah " kataku memohon.
" lo bisa critain kejadiannya gimana " tanya vano lagi aku menghela nafas lelah mengingat kejadian kemarin.
" jangan sekarang ya van,setelah gue sembuh gue bakal critain ke kalian dan setelah itu terserah kalian mau gimana "kataku karena malas mengingat kejadian kemarin.
" sekarang gue mau bahas kalian "kataku bersemangat dan ditatap heran oleh mereka.
" kenapa kita feb ?" tanya adit aneh.
" ya gue lihat kalian pakai sragam basket artinya kalian kesini setelah pertandingan kan hasilnya gimana ?" tanyaku dengan senyum yang tak pernah luntur.
__ADS_1
kutatap mereka satu persatu yang hanya diam menunduk ya gue tahu jawabannya seketika aku ikut menunduk sedih. andai gue nggak disini pasti gue kasih semangat buat mereka supaya pertandingannya lebih bagus.
" kita menang " kata El seketika aku mendongak melihat ke arah El yang tengah tersenyum.
" ahh gue seneng deh " kataku teriak girang yang ditatap aneh oleh mereka yang ada disini.
" girang banget lo " tanya adit berjalan ke arah sofa lalu mendudukan tubuhnya.
" ya nggak papa dong dit kan gue ikut seneng " kataku masib terus tersenyum.
" ya tapi hampir aja sih kita kalah karena tuh anak satu nggak fokus " kata adit menunjuk ke arah El yang tengah melotot kearah adit.
" kenapa nggak fokus ?" tanyaku kepada El.
" ah nggak cuma ya ada masalah sedikit udah nggak usah dipikirin kamu istirahat aja " katanya berkilah.
" kan gue baru bangun masak suruh tidur lagi " kataku bersungut kesal.
" iya lo El aneh-aneh aja " kata diana berjalan ke arahku setelah mengambil apel lalu memberikannya padaku dan aku menerimanya karena aku memang sedang lapar.
" orang baru bangun tuh dikasih makan bukan disuruh tidur lagi " kata mala tanpa melihat ke arah El.
" ya lo pada juga yang sakit siapa yang banyak makan malah kalian aneh tahu " kata El tak kalah kesal aku hanya terkekeh melihat perdebatan mereka.
" gue udah bilang bokap lo dan bokap lo lagi slidiki siapa dina dan dari keluarga mana dia " kata diana berbisik agar tak ada yang mendengar aku hanya mangut-mangut aku tahu diana cukup cepat tanggap akan hal ini.
" kenapa bisik-bisik " tanya El
" urusan cewek lah lo nggak perlu ikut campur " kata diana lalu ikut duduk bersama vano dan adit.
" ck " El berdecak kesal karena diana masih saja ketus padanya.
" temen kamu tuh makan cabe apa gimana sih ,pedes banget kalo ngomong " gumam El dengan wajah kesal yang justru lucu dimataku.
" gue denger El " kata diana yang sibuk memainkan ponselnya.
" udah nggak usah di masukin hati " kataku tersenyum
__ADS_1