
Ayam berkokok dengan suara merdu nan panjang, menandakan sang fajar telah akan terbit di ufuk timur.
Aku pun segera beranjak dari tempat tidur untuk mandi, lalu mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah, karena hari itu dimana kembali kegiatan pramuka di SMPN Satu Kotabumi akan dimulai, ada perkemahan di lapangan Gotong Royong, Kampung Tanjung Aman.
Setelah mempersiapkan barang yang akan dibawa, aku pun berpamitan lalu setelah itu langsung berangkat ke sekolah, setiba di sekolah semua kelas dua dan kelas satu yang akan ikut perkemahan diminta berkumpul di lapangan untuk melaksanakan apel pagi.
Apel dilaksanakan pada pukul 07.00 – 08.00 Waktu Indonesia Barat.
Kalau boleh jujur aku paling tidak suka mengikuti pramuka, males dijemur di lapangan kayak pakaian sehabis dicuci ramai-ramai kumpul dilapangan, memang sejauh aku tahu pramuka itu sering berbaris di tengah lapangan. Tapi, apa boleh buat, aku harus berangkat dan mengikuti pramuka di sekolah, karena aku juga merupakan salah satu dewan pembinanya.
Aku berangkat menuju tempat pertemuan dengan cepat dan sesampainya di sana aku rada terkejut, semua sudah baris di lapangan, tapi di antara yang baris hanya sedikit siswa cowo' yang datang, mereka semua yang berbaris rata-rata adalah cewe'.
"Kih, pake acara telat segala!" Ucap Bambang salah satu temanku sebagai panitia pramuka juga.
"Udah dari tadi, gue nunggu di kelas nggak tahunya dah pada kumpul di sini!" Jelas Fakih.
"Ya udah buruan bersiap-siap, kita sudah mau berangkat!" Ucap Bambang lagi. "Ayo semua, cepat berbaris!!!" Bambang memberikan komando kepada siswa dan siswi yang sudah berbaris dan berada di lapangan.
Setelah apel selesai seluruh siswa dan siswi segera berangkat ke lapangan Gotong Royong, Kampung Tanjung Aman dengan berjalan kaki bersama kelompoknya masing-masing.
Aku di wajibkan mengetuai satu kelompok, karena di setiap kelompok harus ada dewan pembinanya. Semua di arahkan untuk segera pergi ke pos 1 sampai pos 5 untuk menerima tugas dan soal dari kakak pembina utama pramuka yang ada di tiap-tiap pos. Perjalanan jauh yang lumayan untuk tempuh bersama-sama. Setiba di lapangan Gotong Royong, Kampung Tanjung Aman, semua siswa dan siswi yang ikut dalam acara perkemanhan ini segera meletakkan barang bawaan, lalu istirahat sebentar.
"Kih elo sudah melihat kelompok mana yang akan elo ketuai apa!?" Tanya kakak pembina utama kepada Fakih.
"Belum kak! Emang sudah keluar apa jadwalnya!" Tanya Fakih.
"Sudah, coba lo lihat di papan pengumuman tenda utama!" Jelas kakak pembina utama lagi.
"Siap 86 kak!" Jawab Fakih.
Aku segera berlari mendekati tenda utama, di sana ternyata sudah ramai siswa dan siswi yang berdesak-desakan untuk melihat dimana kelompoknya, siapa kawan-kawan satu kelompok dan siapa ketua kelompoknya.
Pukul 11.00 siang, semua teman-teman berkumpul dengan kelompoknya masing-masing, mereka segera mendirikan tenda karena saat itu cuaca mendung tanda akan turun hujan.
"Kih, gue minta ma kakak pembina utama biar satu kelompok ma elo!" Ucap Intan.
"Emang siapa aja kelompok kita Tan?" Tanya Fakih kemudian.
"Yang dari kelas dua gue ma Ocha, tujuh lainnya dari kelas satu Kih!" Jelas Intan.
"Coba elo suruh mereka berkumpul semua dulu Tan!" Balas Fakih kemudian.
Intan segera mengumpulkan kelompok mereka dan Fakih sebagai ketua Kelompok sebagai dewan pembina, Intan sebagai Wakil Ketua karena pangkat Intan di dalam pramuka cukup tinggi dan sudah tidak di pungkiri lagi dengan pengalamannya yang sudah sering terjun di pramuka. Sedangkan Rosa menjadi koordinator Regu dengan membawahi tujuh adik tingkatnya jadi mereka satu kelompok terdiri dari sepuluh orang.
Fakih, Intan dan Rosa mengadakan rapat kecil untuk pembagian tugas. Lalu Rosa segera memberikan komando kepada anggota regu lainnya "Sebelum kita melaksanakan kegiatan selanjutnya, kakak mau berkenalan dulu dengan semua anggota regu... Yang di panggil namanya harap maju le depan akan di berikan tugas dengan kak Fakih dan kak Intannya ya!, Aldo Sambudi, Andi Sofian, Rudi Kamadi, Tigor Samosir silahkan ikut intruksi kak Fakihnya dan silahkan keluar dari barisan!"
Anggota yang di sebutkan namanya segera meninggalkan barisan untuk menerima Intruksi dari Fakih sebagai ketua kelompok.
Rosa melanjutkan, "Zahra Talita, Rahmawati dan Laili Fitri silahkan ikut kak Intannya dan kak sendiri, terima kasih!" Lanjutan Komando dari Rosa dengan tegas.
"Buat anggota yang cowo', ayo kita segera dirikan tenda, sebentar lagi turun hujan, jangan lupa persiapkan segalanya dan lokasi untuk kelompok kita di sudut lapangan dekat pohon jati ya!" Ucap Fakih kepada anggota cowo'.
"okey... Kak siap!" jawab mereka serempak.
Buat anggota yang cewe', segera persiapkan alat-alat memasak dan kita akan membuat dapur bersih dan dapur kotor. Bawa semua perlengkapan baik alat mau pun bahan, jika semua sudah selesai segera memasak makanan sesuai dengan apa yang kita bawa masing-masing!" Perintah Intan di Aamiinkan oleh Rosa tanda setuju.
Hari itu hujan turun cukup deras, lalu aku dan teman-teman yang ada di tenda memutuskan untuk tetap di dalam tenda. Tenda yang di bangun cukup besar di sekat dengan batas antara tempat cewe' dan cowo' secara terpisah.
Tanpa terasa waktu berjalan dengan tanpa bisa di hentikan oleh siapa pun dan telah menunjukkan pukul 19.00 malam, hujan sudah mulai turun dengan santai hanya tetesannya saja yang masih tersisa.
Rosa meminta di temani ke kamar mandi, lalu kami pun berangkat berdua, sedangkan Intan masih sibuk mengomandoi anak-anak cewe' untuk menyedikan makan malam untuk kami semua. Aku pergi mengantar Rosa ke kamar mandi, di jalan yang kami lewati aku merasa ada yang mengikuti dan memanggilku.
Lalu aku bertanya pada Rosa "Cha, apa elo mendengar sesuatu?!"
"Kih, sebetulnya gue juga merasakan apa yang elo rasakan, tapi gue diam aja karena takutnya nanti anak-anak tahu pada ketakutan dan pingsan!" Jawab Rosa mengiyakan apa yang aku utarakan.
"Asal jangan elo aja yang pingsan Cha, nggak kuat gue ngangkatnya! hehehe…!" Fakih sedikit bergurau menghilangkan suasana yang janggal tersebut. "Sudahlah nggak usah dipikir, anggap saja tidak ada apa-apa Cha!" Lanjut Fakih kembali.
"Ya sudah...! ayo Kih, kita kembali ke tenda!" jawab Rosa.
Tenda yang kami tempati memang jauh paling ujung lapangan, gelap dan dekat dengan pohon-pohon jati besar, sehingga wajar kalau suasana di sekitar tenda membuat sedikit berbau mistis.
"Kak Intan, boleh tanya nggak kak!?" Aldo salah satu anggota regu cowo' angkat bicara.
"Ya, ada apaan!" Jawab Intan tanpa menoleh dan masih sibuk mempersiapkan makan malam mereka bersama anggota regu cewe' lainnya.
"Kak Fakih ma kak Rosa itu pasangan kekasih ya?!" Lanjut Tanya Aldo.
"Bisa ya, bisa juga tidak!" Jawab Intan.
__ADS_1
"Lah kok begitukan jawabannya?!" Andi ikut bicara.
"Kalau sepengetahuan kalian dari gosip sekolah atau dari kenyataan yang di lihat sekarang bagaimana?!" Intan balik bertanya, dia berhenti sebentar dari kegiatannya dan melihat ke arah Aldo dan Andi.
"Kalau gue sih kayaknya iya kak!" Jawab Aldo.
"Alasannya?!" Lanjut Intan.
"Ya apa ya...!" Aldo berpikir sebentar. "Gosip di sekolah sih mereka berdua emang dekat kak, kalau kenyataannya ya emang dekat kak mereka!" Jawab Aldo sekenanya saja.
"Ahahhaaaa...! Artinya apaan kalau seperti itu Do!?" Intan tertawa dan bertanya kembali.
"Mereka berdua pacaran kak!" Jawab Rudi dan Tigor serentak, yang sedari awal mereka hanya sebagai pendengar saja.
"Belum tentu juga pacaran lah!" Protes Andi.
"Kakak juga nggak bisa kasih jawaban pasti ya, cuma kakak mau cerita sedikit jika kalian semua mau mendengarkannya!" Ucap Intan.
"Mau kak!" Semua menjawab, yang tadinya anggota regu cewe' hanya mendengar sekarang ikut-ikutan mendekati Intan ingin tahu.
"Kami berlima, Kakak, Fakih, Rosa, Nur dan Nelly dari kelas satu bersama. Bahkan kakak dari Sekolah Dasar (SD) bersama kakak Fakihnya lo...! Jadi seandainya kami berlima terlihat dekat satu dengan yang lainnya suatu kewajaran kan!" Jelas Intan.
"Lah... Kalau kak Intan malah dari Sekolah Dasar (SD) udah bareng ma kak Fakih?!" Tanya Zahra.
"Iya, bahkan sudah akrab dari dulu!" Jelas Intan.
"Maaf ya kak, kakak Intan apa ndak ada perasaan buat kak Fakihnya?!" Tanya Rahma.
"Sudah-sudah jangan di lanjut, ntar kak Fakih dan kak Rosa nya tahu kita lagi gosipin mereka, nggak enak lagi!" Jawab Intan mengalihkan pertanyaan dari Rahma.
Sementara Fakih dan Rosa hanya tersenyum mendengar percakapan mereka yang sedari tadi diam di belakang pojok tenda, saling pandang pun diantara mereka terjadi...!
"Apaan Kih! Lihat gue sampe segitunya!" Kata Rosa.
"Nggak, gue cuma mau tanya biar anak-anak kalau ntar tanya gue bisa jawab...! Kita berdua pacaran apa nggak?!" Tanya Fakih, sembari memandang Rosa lekat-lekat.
"Bodo amat ha...! Terserah elo mau jawab apa!" Rosa bergegas meninggalkan Fakih beranjak dari tempat persembunyiannya dengan maksud mengalihkan pertanyaan Fakih dan menyembunyikan warna wajahnya yang memerah bahagia.
***
Seharusnya, malam ini menjadi malam yang menyenangkan.
Mengikuti jurit malam bersama teman-teman, berjalan di tengah hutan saat tengah malam, menghirup udara bebas sembari waspada dengan munculnya makhluk-makhluk yang tampak maupun tidak, mungkin saja mengganggu kami di tengah perjalanan.
PRIIIT! PRIIIT!
Peluit sudah ditiup 2 kali. Tanda aku harus berkumpul di lapangan untuk ma’rifatul medan (MM) yaitu mempelajari jalan untuk jurit malam nanti.
Fakih dan Intan akan mewakili untuk ma’rifatul medan (MM) sedangkan anggota lainnya mempersiapkan segala lerlengkapannya.
"Tan... Intan...! Udah belum mandinya? Disuruh ngumpul nih!" teriakku dari luar kamar mandi.
"Belommm, tungguin gue, lagi sabunan, nih," jawab Intan dari dalam kamar mandi.
"Ayo cepeeeet. Udah 3 menit nih," seru Fakih tidak sabar.
"Hhhhh, iya iya. Kalau gue kelamaan, elo berangkat ajak Rosa untuk perwakilan kelompok kita. Oke?" Jawab Intan kemudian.
Aku menghela napas.
Tanpa menjawab kalimat Intan barusan, aku langsung lari menuju tenda regu. Melewati jalan setapak berbatu yang diselimuti tanah yang basah akibat hujan. Sekali dua kali aku terpeleset.
Sesampainya di tenda.
"Kalian! Tadi ada peluit, yang MM disuruh ngumpul, bukan?" tanyaku.
"Nggak Kih, tadi pemimpin regu dan wakilnya aja yang disuruh ngumpul," jawab Rosa.
"Elo udah mandi Cha?" Tanya Fakih.
"Udah. Gue tadi nungguin si Intan, asli lama banget mandinya," jawab Rosa. "Paling juga di kira mandi di rumah sendiri, kali."
5 menit kemudian.
Intan belum juga keluar dari kamar mandi.
"Waduh, kalau terlambat, bisa-bisa kena hukuman push-up 20 kali sama kakak ketua pembina." Batin Fakih.
"Eh, Cha, mending elo ikut gue yuk! Gantiin Intan ntar malah dapat hukuman lagi!" Usul Fakih.
__ADS_1
"Iya, ndak apa-apa! Yuk berangkat!" Ucap Rosa.
Kami bergegas memakai sepatu lapangan, siap berlari menuju lapangan. Namun…
"TUNGGU...!!! AKU MAU NAROH BAJU DULU! PLIS TUNGGUIN!"
Dengan wajah tanpa nya Intan berteriak sambil lari ke arah Fakih.
"Haish. Cepetan! Cha elo tetap berangkat, biar kita bertiga yang ikut ma’rifatul medan (MM)" seru Fakih kemudian.
"Iya, iya. Ampun," Intan bergegas masuk ke tenda dan menaruh baju kotornya.
***
Petualangan dimulai.
Kami harus melewati sejumlah jalanan terjal nan licin dan penuh tumbuhan liar. Sering sekali anggota kelompok terpeleset, walau pun tidak sampai jatuh. Melewati lumpur, sungai, bahkan kami harus berseluncur ria, saking curamnya turunan yang kami lewati, tidak memungkinkan untuk kami lewati dengan loncat atau berjalan.
Beberapa percabangan jalan dihalangi dengan ranting, membentuk tanda silang, artinya tidak boleh dilewati. Jalan yang harus kami lewati, ditandai dengan tali rafia merah.
Jurit malam nanti, kami akan melewati 5 pos. Pertama, pos Tri Satya dan Dasa Dharma pramuka. Pos selanjutnya adalah pos pesan berantai. Pos ketiga yaitu pos hafalan, disusul pos bercerita sahabat nabi dan pos kelima… selesai!
Lepas pos 4, kami disambut dengan gonggongan anjing yang membuat perjalanan kami semakin “berwarna”. Lalu berbelok melewati turunan dengan jalan yang sama dengan jalan masuk pekemahan.
Karena Rosa kurang berhati-hati berjalan, dan konsentrasi yang sudah terpecah sejak tadi karena kelelahan, dia tersandung, tergelincir, dan…!!!
BRUK!
Rosa menahan tubuhnya dengan tangan kiri, namun tetap tangannya sakit, sakit sekali… Rosa menangis karena tanggannya seperti tak dapat digerakkan sama sekali. Sepertinya urat tangannya ada yang tertarik. Aku langsung memapah Rosa, dengan tertatih-tatih kami berjalan.
Teman-teman kelompok yang lain aku suruh tetap terus berjalan untuk menyelesaikan misi dengan Intan yang ambil alih komando.
Hiruk pikuk masih terdengar di luar tenda peleton. Sedangkan aku masih memapah tubuh Rosa lembali ke tenda, ku balut tangannya dengan perban yang ada di kotak P3K yang memang ada di tenda, dan tubuhnya yang menggigil ku pakaikan jaket agar tidak terlalu kedinginan.
"Gimana tangannya Cha dah bisa di buat gerak!" Tanya Fakih pada Rosa yang masih meringis kesakitan.
"Sudah lumayan kok Kih! Terima Kasih ya sudah perhatian ama gue, dan nggak ninggalin gue di sana tadi!" Ucap Rosa sembari mencoba tersenyum sedikit masih menahan sakitnya.
"Ngomong apaan sih Cha, nggak perlu berterima kasih tau. Udah sepantasnya gue lakuin itu!" Jawab Fakih sembari memandang Rosa dengan sedih. "Nih sembari makan biskuit dan ada sedikit coklat biar tuh perut keisi walau sedikit!"
Rosa mencoba duduk dari posisi setengah duduk setelah Fakih membalut lukanya tadi, dia ingin menerima biskuit dan coklat dari tangan Fakih, namun dia belum kuat sehingga Fakih terpaksa membantunya untuk duduk.
Sesaat Rosa memandang lekat wajah Fakih yang tidak menyadari kalau sedang di perhatikan, lalu Rosa dengan sadar mencium pipi Fakih.
"Cha...!" Ucap Fakih.
"Terima kasih ya Kih!" Ucap Rosa wajahnya benar-benar merona merah entah karena perbuatannya barusan atau karena rasa sakitnya yang pasti dia merasa sangat bahagia.
***
Acara api unggun pun diadakan, semua kelas kelompok pramuka mengikuti acara tersebut dengan antusias, semua menyanyi, menari, dan bercanda bersama. Tak terasa sudah pukul 23.00 Waktu Indonesia Barat, semua teman-teman sudah pergi ke tenda mereka masing-masing untuk tidur, semua teman-teman yang berada di tenda bersamaku pun juga sudah tertidur dengan lelap, kecuali aku.
Entah mengapa malam itu aku tidak bisa tidur, aku selalu teringat dengan ciuman yang diberikan Rosa kepadaku. Apa maksud dari semua ini?
Sudah pukul 24.00 Waktu Indonesia Barat tapi aku belum bisa tidur, lalu aku bangun untuk minum akan tetapi tiba-tiba ada suara aneh itu lagi, aku pun mulai berkeringat, tapi kucoba tenangkan diri. Aku mencoba ke luar dari tenda untuk melihat keadaan di luar, tapi ternyata di luar tenda suasananya sangat sepi, sunyi, dan gelap tidak ada orang di luar.
Suara aneh itu pun berubah menjadi suara tangisan yang semakin terdengar jelas, tubuhku pun langsung terasa lemas, keringat dingin pun mulai menetes membasahi wajahku, dan jantungku berdetak dengan kencang.
Suara itu dari balik pohon besar yang berada di utara tendaku. Lalu suara itu mulai tidak terdengar lagi.
Tiba-tiba ada yang menegurku yang jelas membuatku sangat kaget luar biasa. "Kih, apa yang elo kerjain di luar, nggak masuk sudah malam lo!" Ucap Intan mengingatkan Fakih.
"Oooh ya Tan!" Jawab Fakih.
Sengaja Intan tidak ku kasih tau tentang kejadian tadi. Lalu aku pun tidur dan mencoba melupakan kejadian tadi.
Keesokan harinya aku menceritakan semua yang ku alami tadi malam kepada Rosa, dia berkata bahwa sebetulnya mungkin ada makhluk halus di bawah pohon jati besar itu, dan ternyata benar dugaanku bahwa suara tengah malam itu berasal dari bawah pohon besar itu.
"Kih, jika ada suara aneh itu lagi jangan elo hiraukan, karna makhluk halus itu ingin menakut-nakuti lo!" pinta Rosa.
"Ya Cha...!" jawab Fakih.
***
Agenda hari adalah meminta tanda tangan dari kakak-kakak Pembina utama pramuka dan menjawab pertanyaan dari mereka. Agenda tersebut berlangsung dari jam 08.00-12.00 Waktu Indonesia Barat. Setelah itu semua teman-teman melaksanakan sholat dhuhur berjama’ah.
Setelah sholat dhuhur hujan turun dengan deras sampai malam, aku dan teman-teman yang lain mengungsi di Sekolah Dasar yang dekat dengan lapangan, karena tenda yang aku tempati tergenang air, barang-barang kami yang ada di tenda juga basah.
Aku dan semua teman-teman akhirnya menginap di tempat pengungsian. Saat aku di pengungsian tak kudapati lagi suara-suara aneh itu lagi dan kejadian-kejadian aneh lain.
__ADS_1
Keesokan harinya ada apel perpisahan tanda perkemahan itu telah selesai, teman-teman semua sedih karena perkemahan itu dirasa sangat cepat, tapi saat itu aku tidak tau apa yang kurasakan, ada rasa senang karena bersama dengan seseorang yang aku sayangi, tapi di sisi lain aku juga masih penasaran dengan kejadian yang selama ini kualami.
Hatiku selalu bertanya-tanya apa maksud dari semua itu dan mengapa harus aku yang mengalami itu semua, tapi kucoba ambil hikmah dari kejadian itu, yaitu kita harus mempercayai adanya makhluk ghaib dan dengan adanya kejadian itu untuk menguji keimanan dan keberanianku.