
"Nur...!" terdengar teriakan memanggil, Nur menoleh ke arah datangnya suara.
"Hei Cha... Kenapa?" tanya Nur.
"Bagas Nur... Dia jadian sama Ayu...!" ujar Rosa menjelaskan.
Deggg... Deggg... Deggg...!!!
"Akhirnya... Ayu?" tanya Nur lagi, Rosa hanya mengangguk ikut perihatin akan perasaan sahabatnya ini.
"Harus berapa lama lagi Cha gue nunggu dia?" Tanya Nur mengharap mendapat jawaban.
"Hmm.." aku hanya mendengar deheman Rosa.
"Sampe dia peka lah Nur...!" ujar Rosa duduk disebelahku.
"Tapi kapan?" Tanya Nur Fitri.
"Gue ngerti akan penantian elo Nur!" Balas Rosa.
"Nggak Cha. Lo nggak ngerti! Lo udah bahagia sama Fakih. Jadi lo nggak akan pernah ngerti yang gue rasa saat ini." lagi-lagi Nur terlihat perasaan yang kecewa bercampur aduk dalam dirinya.
"Sabar ya Nur...!" balas Rosa menenangkan Nur.
"Harus berapa lama lagi Gas? Gue udah nunggu elo paham dan mengerti akan perasaan gue! Sampai di mana elo akan sadar akan perasaan gue ma elo? Sekarang apa harus gue menderita lagi untuk yang kesekian kalinya? Apa gue harus tersiksa lagi untuk nunggu elo putus sama Ayu? Aaah gue benci Gas! Gue benci setiap kali hembusan nafas itu semua cuma buat elo. Elo yang nggak tau kalo ada gue di sini, elo yang nggak pernah mencoba untuk mencari tau tentang orang orang yang mengharapkan elo Gas!. Walau bagaimana pun, gue tetep nggak bisa benci sedikit pun sama elo. Yaaa! itu semua karena gue cinta sama elo, iya! cinta yang membutakan semua." lamun Nur yang panjang.
"Nur... Nur Fitri!" ujar seseorang menepuk-nepuk pundak Nur.
"Apa sih Cha? Lagi galau nih gue. Udah diem ah!" Ucap Nur kesal.
"Nuuuur...!!!" suara itu mengeras.
Nur menoleh... "bu... Bu... Bu Siswati?" ujar Nur terbata-bata.
"Kerjakan soal di depan!" Lanjut bu Siswati lagi.
Seketika mata Nur langsung tertuju pada papan tulis dan maju perlahan untuk mengerjakannya. Nur memang lumayan pintar di pelajaran matematika, nggak jarang Nur mengikuti berbagai lomba bidang study matematika dari sekolah satu tim bareng Fakih dan Rosa.
"Sudah bu...!" ujar Nur sambil bergegas menuju tempat duduk semula.
"Baik Nur... Jangan melamun lagi ya.." balas bu Siswati.
"Hehe" Nur tersenyum.
KRINGG...! KRINGG...! KRINGG...!
Bel tanda pulang telah berbunyi...! Nur dan Rosa langsung keluar kelas. Laksana dua ekor hewan yang telah lama di kurung, setelah melihat pintu terbuka langsung berlarian keluar dan tanoa di sengaja aku menabrak seseorang.
"Eh maaf maaf...!" ujar orang itu.
Nur yang sedari tadi menunduk lalu menatapnya. "Iya ga..pa..pa...!" ternyata yang menabrak Nur itu Bagas.
Nur tidak tau harus berbuat apa langsung menarik tangan Rosa secara paksa menjauh dari Bagas, sementara Bagas tetap diam dengan gaya coolnya memperhatikan kami yang kian menjauh.
***
"Cha demi apa tadi gue bisa denger suaranya? Aaa meleleh gue.." ujar Nur cerewet.
"Hahaha iya iya... Cie sumringah banget sih.." balas Rosa.
"Ah udah yuk cepetan deh jalannya" sahut Nur sambil senyam-senyum.
"Tau deh yang lagi kasmaran.. senyum mulu... Cantik tau Nur!" balas Rosa sambil menyamai langkah Nur.
"Oh ya Cha, Nur...! Besok yang ikut kegiatan osis suruh ngumpul di Laboratorium ruang pak Budi Waluyo ya!" Fakih menegur mereka berdua yang sedang asik dengan candanya.
"Siap... pak Bos!" Ucap Nur segera meneruskan galaunya bersama Rosa.
"Sip...!" Ucap Fakih tidak mau mengganggu mereka, hanya melemparkan senyumnya ke Rosa.
***
Malam ini, malam tanpa bintang dan bulan di langit. Semua seakan tau tentang perasaan seseorang Nur saat ini. Perasaan yang sangat sangat berantakan beradonankan gusar, senang, dan yang parahnya kesel ada juga sebagai bumbunya.
Kukuruyukkk...! Kukuruyukkk...! Kukuruyukkk...!
Suara ayam jantan berkokok panjang membangunkan tidur.. Nur segera mandi dan bergegas ke sekolah.
Selama perjalanan, Nur memegang semua yang bisa dipegang, melihat semua yang bisa dilihat. Tiba tiba pandangannya terfokus di satu titik di mana ada dua orang yang sedang keluar gerbang dengan motor.
"Bagas ? Ayu?" ujar Nur lalu memalingkan wajahnya.
"Tuhan, gue muak! Hapuskanlah rasa ini. Seandainya gue tidak akan bisa memilikinya kenapa Engkau kirimkan rasa di hati ini? Kenapa Tuhan? Apa gue salah? Kalau memang gue salah, kenapa Engkau menyiksa dengan cara seperti ini Tuhan? Mencintai orang yang tak mencintai, bahkan menganggap saja tidak, itu cuma membuat hati ini terasa sakit Tuhan." Pemberontakan hati Nur dalam diam.
***
Dengan berjalan gontai menuju kelas, Nur tetap memikirkan hal itu...!
"Hei...!" sapa seseorang mengagetkan Nur.
"Hei Bang...!" balas Nur.
"Lagi galau ya?" Canda Bambang.
"Lo ngapain sih kesini? Mau ngeledek gue doang? Hah?" bentak Nur pada Bambang.
"Eh nggak begitu juga kali Nur, Gue mau.. Mau...!" Balas Bambang terasa berat.
"Ah udah lah... Bacot lo!" balas Nur kasar lalu meninggalkan Bambang.
Bambang sempat heran dengan segala perkataan yang terucap dari mulut Nur, bukan seorang Nur yang berkata seperti itu. Sebenernya Nur bukan tipe cewe' yang suka ngebentak-bentak, tapi mungkin Bambang muncul di waktu dan tempat yang tidak tepat.
Nur telah sampai di kelas, pandangannya menerobos kelas ini, tak ada Rosa?
"Rosa kemana ya? Kok tumben belum datang...?" ujar Nur dalam hatinya, sambil mengeluarkan buku tulis dari tas.
Tak lama, Rosa datang dengan kekasihnya Fakih Alfarizi.
"Mesra amat... Iri gue!!" Ucap Nur.
"Hehhehe... Oh ya ada PR nggak Nur?" tanya Rosa.
"Nggaak tau...Cha!" balas Nur.
"Oooh ya yuk pada ke ruang OSIS sekarang, udah di tunggu ma pak Budi Waluyo!" Ucap Fakih kemudian.
***
Fakih, Rosa dan Nur berjalan bersama dengan sigap ke ruang Osis...! Tak lama, ada yang menepuk pundak Nur yang sering sekali terlihat melamun sendirian di saat apa pun.
Nur menoleh "Lo lagi... Lo lagi..." ujar Nur saat melihat Bambang di sebelahnya.
"Jutek amat neng... Mau kemana?" tanya Bambang.
"Ke ruang Osis. Lo?" balas Nur masih dalam keadaan kesal.
"Sama.. Gue ikut Osis.." balasnya girang Nur menoleh ke arahnya dengan ekspresi yang tak sewajarnya.
"lo? Seorang Bambang? Yang terkenal badungnya di Sekolah Menengah Pertama ini mau ikut Osis? Nggak salah?" ujar Nur menahan tawa.
"Yeee nggak donggg... Gue kan mau berubah jadi baik" balas Bambang.
"Nggak percaya gue.. Daaa!' balas Nur lalu lari ke ruang Osis menyusul Rosa dan Fakih.
Brukkk...! Brukkk...!
"Aww.." rintih Nur.
"Hei sorry sorry..." ujarnya membangunkan Nur dari posisi terjatuh akibat tabrakan yang tidak di sengaja tadi.
__ADS_1
Nur mendongakkan kepala "Yu... Ayu...?"
"Hai?" sapa Ayu.
"Eh... eh! ada apa nih?" tanya Bagas yang tiba-tiba datang.
"Gue nggak sengaja nabrak Nur tadi Gas.." jelas Ayu.
"Nur? Ikut Osis kan? Masuk.." ujar Bagas saat melihat Nur.
'Bagas menegur gue?' batin Nur girang lalu masuk ke ruang Osis meninggalkan Bagas dan Ayu berdua.
***
Selama rapat OSIS berlangsung, Nur tidak sepenuhnya memperhatikan ketua OSIS berbicara. Tapi, dia memperhatikan seseorang dan siapa lagi kalau bukan Bagas?
"Mengerti semua?" Tanya ketua OSIS.
"Mengertii!" ujar semua.
Ketua OSIS yang melihat Nur melamun...!
"Nur...!" ujarnya. Nur masih melamun. "Nuuuur...!" ujarnya lebih keras.
"Eh mengerti gue sangat-sangat mengertiii!!" sahut Nur lalu berdiri sambil hormat.
Semua anak tertawa tak terkecuali Bagas, Bagas tertawa juga melihat kelakuan Nur tersebut.
"Okey, silahkan saudara Fakih Alfarizi sebagai ketua seluruh seksi untuk menjelaskan masalah clasmeting selanjutnya!" Lanjut ketua OSIS lagi.
"Baik, terima kasih ketua! Saya akan menjelaskan............................................!!!" Fakih menjelaskan semuanya dengan detail dan sangat memahami dengan materi apa yang dia paparkan.
***
"Nur!" panggil seseorang
"Yaa?" ujar Nur menoleh.
"Pulang bareng siapa?" Tanyanya.
"Sendiri lah. Kenapa Bang?" tanya Nur balik.
"Bareng gue yuk!" Ucapnya lagi.
"Naik motor?" ujar Nur. Bambang mengangguk.
"Ayo deh. Gratis kan?" goda Nur.
"Iyalah apa sih yang nggak buat Nur? Hahah!" balasnya menggoda.
"Apa deh lo...!" Ucap Nur tertawa.
"Naik!" suruh Bambang.
Motor Bambang melesat diantara mobil dan motor dijalan ini.
"Baaang! pelan pelannnn!" ujar Nur.
"Peluk yang erat!" Balasnya sedikit tidak jelas karena terhalang helm dan masker.
***
Karena Bambang yang menyetir motornya dengan cepat, aku telah sampai rumah.
"Bang, mau masuk dulu?" tanya Nur.
"Boleh deh. Bentar aja yaa Cuma mau pamit sama nyokap lo!" balas Bambang.
"Sip.. masuk!" suruh Nur.
"Nur pulang…!" ucapku saat memasuki rumah.
"Kamu Bam...! Bam...!siapa nama kamu?" Tanya mamah saat melihat Bambang berdiri di belakang Nur.
"Bambang tante...!” ujar Bambang sambil cium tangan mamah.
"Iyaa Bambang ya nama kamu.. maaf ya tante lupa. Kamu pacarnya Nur?" Tanya mamah.
Nur yang sedang membuka sepatu langsung kaget dan menatap mamah.
"Apasih maa? Bukannn!!" elak Nur.
"Bukan tante.. tapi ba…!" Ucapan Bambang terpotong.
"Udah ya Bang mending lo pulang.. udah sore tuh nanti lo diomelin lagi!" ujar Nur sambil mendorongnya pelan keluar rumah.
"Hehehe Bambang pulang ya tante!" ujar Bambang sambil duduk di atas jok motornya dan segera pulang.
"Coba aja Bambang itu Bagas atau Fakih" pikir Nur sambil menutup pintu rumahnya.
***
"Hei Nur!" sapa seseorang.
"Lo nangis?!" kagetnya. Nur segera menghapus air matanya dan menutup novel yang tadi terkena air mata dan menoleh.
"Bambang!?" ujar Nur saat melihat Bambang yang dengan baju seragamnya.
"Haiii...!" balasnya sumringah.
"Sok imut lo...!" sahut Nur.
"Hehehehe.. suruh ngapain deh?" Tanya Bambang.
"auu ah!" balas Nur.
***
"Nur!" ujar seseorang memanggil Nur.
"Eh Ayu. Ada apa Yu?" tanya Nur.
"Bisa tolong titipin ini ke Bagas nggak? Gue buru-buru nih mau ke toilet!" balas Ayu.
"Iya boleh kok." Jawab Nur.
Nur melihat bunga mawar dan sekotak hadiah ini...!!! "Gue nggak tau apa yang ada di dalam kotak ini. Apa permen? Apa coklat? Atau bunga juga? Ah aku nggak ada hak. Apapun yang ada di dalam kotak ini dan hal ini nggak akan merubah semuanya. Bagas hanya untuk Ayu dan Ayu hanya untuk Bagas. Lalu gue ini siapa?" batin Nur dengan bergetar yang lumayan terasa.
"Hoy ngelamun aja!" ujar seseorang mengagetkan Nur.
"Bagas?" Kata Nur.
"Eh apa nih?" Tanyanya saat melihat bunga dan kotak yang di pegang Nur.
"Nih dari Ayu!" Balas Nur terlihat lesu.
"Buat gue?" Balas Bagas.
"Siapa lagi?" tanya Nur balik.
"Huh elo.. ya udah deh makasih yaa!" ujar Bagas dan langsung pergi dari hadapan Nur.
"Iya sama sama!" tunduk Nur lalu terdiam.
***
Nur sedang terdiam di bangku, mencorat-coret sebuah buku harian. Entah mengapa moodnya saat ini, melihat orang tertawa saja kesal, mendengar orang bernyanyi saja geram. Ada apa denganmu Nur Fitri?!
Sebuah tangan dengan sebotol air mineral digenggaman tepat di depan mata Nur.
__ADS_1
"Mau minum?" Tanya-nya halus.
"Hmm.. iya makasih Bang!" balas Nur mengambil botol darinya.
"Sama-sama" sahutnya tersenyum dan duduk di sebelah bangku Nur.
"Nggak bosen?" Tanya Bambang lagi.
"Bosen? Nggak kok" balas Nur.
"Bener?" Tanya Bambang lagi.
"Iya Bang. Kenapa sih?" tanya Nur lagi.
"Nggak apa-apa… suram aja ngeliat lo begitu terus." Ujarnya sambil menatap lurus kearah depan.
"Aduh gitu gimana deh?" Balas Nur.
"Ya begitu deh hahaha!" balasnya tertawa.
"Ih nggak lucu gila lo!" ucap Nur.
"Kira kira kapan ya?" ujar Bambang.
"Kapan apanya?" tanya Nur.
"Kapan lo peka Nur?" suara Bambang begitu samar.
"Apa Bang?" Tanya Nur seakan dia tidak mendengar perkataan Bambang barusan.
"Hah? gapapa kok hehe. Gue ke belakang dulu ya!" ujarnya kemudian.
"Huh. Iya sana sana!" Balas Nur.
***
"Ya Tuhan, gue lelah. Gue lelah karna merasakan perasaan yang tak sepatutnya ada. Gue sakit karena terlalu lelah menunggu orang yang tidak pernah menganggap gue ada. Ya Tuhan, andai gue nggak diizinkan memilikinya kumohon hapuskan rasa ini dan tunjukkan kepada gue orang yang tepat.
***
Nur saat ini merasa sangat tenang karena tidak ada Bagas, tak ada Ayu, dan yang paling penting tidak ada Bambang.
Si pengacau yang selalu datang tiba tiba itu.
"Eh pipi gemblong!" colek seseorang dipundak Nur.
"Apa sih Cha?" tanya Nur tanpa menoleh sedikit pun. Aku terlalu pintar untuk dibodoh-bodohi oleh seorang Rosa.
"Hahahaha tau aja lo kalo gue Rosa!" ujarnya.
"Hmm...!" balas Nur.
"Nggak di rumah, sekolah, toilet dan di sini elo galaaaaaaaau mulu. Nggak capek apa Nur?" Tanya Rosa.
"Ih apasih Cha?! Gue nggak galau!" elak Nur.
"Gue udah hapal lo Nur. Jangan boongin gue!" sahut Rosa membuat Nur terdiam.
"Sampe kapan lo nunggu bagas? sampe kapan lo gini terus?! Hei life must go on Nur. Apa lo terus akan rela kalau kebahagiaan lo, kesenangan lo direnggut sama seseorang yang ga jelas itu. Mau berapa lama Nur? Nur yang gue kenal dulu sudah berubah, dari yang periang dan sekarang menjadi yang paling nyebelin. Jujur gue lebih respect lo yang dulu Nur bukan sekarang. Nur yang cengeng, yang susah dibilangin.” Ujar Rosa panjang lebar.
"Lo nggak tau gue Cha!" Ucap Nur rada keras.
"Gue tau lo. Dan gue tau siapa yang pantes buat lo dan itu bukan Bagas. Ngerti? Bukan Bagas Nur tapi…!" ucapan Rosa terpotong.
"Udahlah. Lo sama aja kaya semua. Gue benci!" ujar Nur lalu pergi dari hadapan Rosa.
"Tapi Bambang, Nur!" Tutur Rosa di hati kecilnya.
***
Nur berlari menjauh dari semua. Karena kesal dan terasa beban hati semakin mejadi-jadi akan rasa yang tak terbalaskan, di kursi taman sederhana sekolah Nur duduk sendiri di sana, menangis sejadi jadinya, tak peduli jika ada yang melihat.
Dalam tangisan ini, Nur memikirkan semua hal itu dalam kondisi kekecewaan yang membuat terkadang tertawa kecil dan semakin membuat bertambsh menangis. "Ah gue benci hidup ini! Hidup ini terlalu tidak adil untuk gue." Dalam hati yang sedih pun masih bersuara lirih.
Terdengar suara jejak mendekat. Aku menoleh "Bambang?" Ucap Nur.
"Nih...!" ujarnya mengulurkan tissue dengan tersenyum. Nur mengambil tissue nya dan segera memalingkan badan.
"Mau ditemenin?" Tanya Bambang lagi dan Nur hanya mengangguk lemah lalu Bambang duduk tepat di sebelah Nur.
"Kenapa?" Tanya Bambang lagi dengan nada penuh care. Refleks, Nur dengan tiba-tiba memeluknya.
"Bang, apa gue nggak pantes jatuh cinta?' ujar Nur sesenggukan di pelukannya.
"Hah? Apaa?" Tanya Bambang.
"Iiih.. apa gue nggak pantes jatuh cinta?" tanya Nur lagi tapi tidak dalam keadaan masih memeluk Bambang.
"Semua orang pantes jatuh cinta dan semua orang harus jatuh cinta" balas Bambang.
"Iya tapi nggak buat gue. Perjalanan cinta gue terlalu suram!" jawab Nur.
"Iya karena lo stuck di satu orang. Dan nggak pernah buka hati lo buat orang lain. Nggak pernah nyoba peka sama orang lain!" sahut Bambang.
"Maksud lo?" Tanya Nur lagi.
"Ya lo nggak pernah mau buka hati buat orang lain. Lo selalu nutup hati elo demi orang yang jelas-jelas nggak anggep lo ada." Balas Bambang.
"Percuma gue buka hati gue buat orang lain. Toh hati itu akan ke tutup lagi karena masih ada Bagas" ujar Nur kembali.
"Sekarang coba lo nunggu Bagas berapa lama?" Tanya Bambang.
"Lumayan? Lo juga suka sama orang? Dan lo dicuekin? Hahahahaha samaan kita!" ucap Nur.
"Hehe.. iyaa!" Jawab Bambang.
"Kasih tau dong siapaa… insialnya aja deh!" ujar Nur.
"Hahahahha iyaa ini nih inisialnya. ELO!" balas Bambang.
"ELO? Siapa deh? Anak sekolah kita? Kayanya nggak ada deh inisialnya ELO. Ohh jangan jangan…?!" ucapan Nur terpotong.
"Emmm cewe' yang gue maksud tuh lo!" ujar Bambang menjelaskan.
"HAH? Gue?" Nur kaget bukan mainan.
"Iyaaa Nur Fitri!" balas Bambang.
"Kenapa gue?" tanya Nur.
"Tanya gih kenapa cinta gue jatuh di hati lo!" ujar Bambang.
"Ihhhhh…!" Balas Nur membuang muka.
Hening…!!!
"Tapi maaf gue nggak bisa bales rasa sayang dari lo. Gue belum bisa ngelupain Bagas. maaf ya Bang!" ujar Nur nggak enak hati.
"Hmm iya nggak apa-apa Nur.. kita bisa sahabatan kok. Tapi lo harus janji, lo nggak boleh jadi Nur yang lemah. Nggak boleh jadi Nur yang cengeng, tapi harus jadi Nur yang dulu. Nur yang periang dan nggak mikirin yang nggak penting. Bisa?" ujar Bambang.
Nur terdiam seribu bahasa dan kemudian!
"Nggak bisa ya?” Tanya Bambang lagi.
"Bisa kok.. gue janji!" ujar Nur merangkulnya kembali.
"Nah gitu dong!" balas Bambang.
***
__ADS_1
"Gue nggak bisa menyalahkan Tuhan dalam keadaan kisah cinta ini. Justru gue jadi belajar, merelakan seseorang demi kehidupan dimasa mendatang. Sulit memang, tapi itulah takdir. Gue akan belajar merelakan Bagas dan mencoba untuk mencintai Bambang dan gue harap bisa. Tuhan, bantu gue melupakannya!" Ucap Nur dalam hati dengan senyuman mengembang!.