
Aku tidak mungkin bisa untuk diam dan tidak melirik saat mendengar celotehan di ujung-ujung lorong dan seperti biasa, dia tetap dengan posisinya terus bercerita dan tertawa, Apakah memang dia sudah tidak pernah peduli lagi padaku?
Setidaknya itu menurut pemikiran saat ini yang ada, sebab setiap kali beradu pandangan yang tanpa tersengaja dan dia tidak tersenyum atau menunduk seperti gadis lain di sekolahku.
Mereka rata-rata sibuk mencari perhatian, itu sepertinya sudah menjadi makanan pokok yang wajib dan terkadang rasa hambar membuat kehilangan sensasi saat melihat cewe' cantik yang tersenyum semanis madu asli tanpa gula, mengharap aku membalas dengan seulas senyum yang akan berlanjut dengan perjalanan-perjalanan hati berikutnya.
Baru sekali ini dada terasa bergetar oleh senyum seorang cewe', yang mustahil jika dia tidak mengetahui siapa adanya sosok diri pribadi ini, tapi mengapa dia seperti batu yang tidak tergiur dengan segala pesona yang terpancar dan jelas menyilaukan matanya saat berada di dalam kegelapan hati saat itu.
Bukan seorang cewe' yang cantik serta menawan dan memikat hati, dia hanya siswi cewe' kelas 2A yang lebih senang menghabiskan waktu istirahatnya di kelas, bercanda bersama dengan sahabat-sahabatnya, menghabiskan waktu dengan sebuah perkataan kebersamaan.
Fikiranku sudah tidak waras ini berucap lantang kalau ini bukan cinta, ini adalah ambisi dan obsesi.
***
Tahun hampir berlalu berjalan dan berganti tanpa ada kompromi, namun masih saja seorang cewe' cantik nan mempesona dengan keasliannya merasa hidupnya terasa sama, tidak ada yang berubah.
Dia Rosa Pratiwi.
Hari ini suara gemuruh hujan turun dari muntahan langit yang sudah tak terbendung begitu deras, menganggu pendengarannya dan penglihatan mata dalam menikmati sajian pemandangan yang mencekam tapi sangat sukses membuat hati menikmatinya pula.
"Kau kedinginan?" ucap seorang cowo' yang sedang khawatir dengan kondisi pacarnya.
"Ya, sedikit!" Cewe' itu menjawab.
Rosa Pratiwi hanya terdiam mendengarkan tanpa menoleh kearah samping, ia sedikit melangkah untuk menjauh dari dua sejoli itu.
"Cha!, ngapain disitu, ayo kesini" bersyukur ada Nelly yang memanggilnya agar menjauh dari dua sejoli yang sedang bermain peran khawatir satu sama lain.
"Ah iya, sebentar!" Rosa melangkah mendekati Nelly.
"Elo ngapain mendekat pada mereka, apa elo mau merasakan sakit hati lagi!?" Ucap Nelly, berbisik memarahi.
"Gue nggak mendekat, secara kebetulan aja mereka berada di dekat gue Nel!" Rosa menjawab tanpa menoleh kearah Nelly.
"Iya terserah elo Cha!, yang penting jangan pernah elo mendekati mereka lagi" Rosa hanya mengangguk. Sekilas Rosa kembali di masa sebelumnya dan mengingat bahwa dia pernah berada di posisi seperti mereka itu. Canda tawa bersama di saat hujan dan seakan-akan mempunyai rasa khawatir antara satu sama lain.
Namun itu hanya tinggal sebuah kenangan.
__ADS_1
Tak sengaja Rosa menoleh kearah dua sejoli yang sedang bermesraan layaknya orang pacaran atau mingkin saja mereka memang sudah berpacaran.
Matanya bertatapan dengan sang cowo', dua detik bertatapan, sang cowo' mencoba mengalihkan pandangannya menghindar, sementara Rosa masih menatap sang cowo' dengan pandangan sendu.
"Aku sudah dijemput, tunggu hujannya reda, jangan menerobos hujan ya!" sang cewe' berbicara.
"Baik, hati-hati di jalan" sang cowo' tersenyum.
Setelah sang cewe' pergi, keheningan mulai tercipta, tiada lagi suara canda tawa mesra dari dua sejoli itu.
Rosa yang sedang melamun dan sang cowo' yang terdiam karena buat mereka tidak ada hal yang pantas untuk dibicarakan kembali.
Dia Ivan, merupakan sebuah masa lalu buat Rosa.
Putus hubungan dari satu tahun lalu dan mereka hanya seorang mantan kekasih walau pun mungkin salah satu atau keduanya masih berharap untuk kembali ke masa lalu menjadi seorang kekasih lagi.
Selama ini Rosa hanya diam ketika Ivan bermesraan dengan cewe' selain dirinya, karena ia sadar bahwa ia bukan siapa-siapa dan tidak punya hak apa pun dalam menjalin atau meneruskan hubungan yang sebelumnya penuh dengan keegoisan.
"Cha, gue duluan ya, gue sudah dijemput" Nelly berbicara nyaris tak terdengar di derasnya suara hujan. "Gue pulang duluan!, ingat Cha, elo jangan berdekatan dengannya lagi, gue nggak mau kejadian lama dengan elo terulang lagi!" Nelly memberi pesan.
Kini tersisa hanya Rosa dan Ivan.
Mereka berdua hanya terdiam tanpa ada yang mau memulai membuka sebuah topik pembicaraan. Mereka bagaikan orang asing yang yang baru datang ke planet ini, tidak mengenal siapa pun dan belum pernah mengenali satu sama lain.
Rintik hujan semakin deras, Rosa mulai merasa kedinginan dan mulai menggosok telapak tangannya berulang-ulang kali agar merasa hawa mulai menghangat. Ivan mulai peka dengan kondisi Rosa, ia mengerti jika Rosa sedang merasa kedinginan. Ivan bingung harus bagaimana? Ingin membantu tapi rasa gengsi menguasai diri tetapi tetap saja rasa kemanusiaan itu muncul perlahan-lahan.
"Pakai ini!" Ivan menyodorkan sebuah hodie berwarna coklat miliknya kepada Rosa.
Rosa menatap hodie yang berada di tangan Ivan, lagi-lagi ia mengingat bahwa ia pernah memakai hodie itu disaat Rosa merasa kedinginan di masa silam saat mereka bersama.
"Tidak, terima kasih" Rosa menolak.
Ivan tidak suka dengan penolakan Rosa, mengambil tangan Rosa lalu menaruh hodienya di tangannya. "Tidak usah gengsi, aku tau kau kedinginan!" Ivan berkata dengan ketus.
Sejenak Rosa tersenyum tipis, ternyata Ivan masih peduli padanya. "Ya, terima kasih" Rosa mulai memakai hodie milik Ivan, badannya terasa sedikit hangat.
"Mengapa kau tadi menatapku?" Ivan bertanya tanpa menatap kearah Rosa.
__ADS_1
"Tidak sengaja!" Rosa menjawab secara acuh.
"Tapi pandanganmu sendu!" tanya Ivan.
"Pandangan mataku memang sendu!" Rosa berbohong.
"Kau pikir aku tidak tahu jika kau berbohong? kita pernah bersama selama berbulan-bulan!" ucap Ivan.
"Mengapa kau mengungkit hal yang sudah menjadi masa lalu?" jawab Rosa lirih, pandangannya kembali sendu.
"Bukan seperti itu maksud ku, tetapi aku tahu kau berbohong, bersamamu selama berbulan bulan membuatku tahu bagaimana sifatmu!" ucap Ivan.
"Maaf, jika kau masih ada rasa padaku, tolong hilangkan!" sejenak Rosa terdiam. "Aku tidak ingin kau dan aku merasakan sakit, kisah ini sudah lama berlalu" lanjut Rosa.
"Nyatanya aku tidak bisa menghilangkan rasa untukmu, biarkan rasa ini tetap ada sampai waktu yang tidak bisa ditentukan, aku tidak pernah berusaha untuk melupakanmu atau berjuang untuk mendapatkanmu!" jawab Ivan.
"Aku hanya membiarkan rasa ini tetap ada di hatiku dan lambat laun akan musnah terbawa angin sang waktu yang tak pernah kembali!" ucap Rosa.
"Tetapi hati elo akan semakin akan merasakan sakit, gue nggak mau menjadi cowo' yang brengsek tanpa peduli dengan apa yang elo alami" ucap Ivan.
"Kenyatanya elo sudah menjadi seorang cowo' yang brengsek dan itu sudah terjadi!" setelah mengatakan itu, Rosa pergi tanpa pamit kepada Ivan.
Ivan hanya diam melihat kepergian Rosa, rasa bersalah selalu memenuhi pikirannya. Ivan tidak bisa meminta untuk kembali karena ia sudah tidak memiliki rasa pada Rosa dan Rosa pun sama, rasa sakit karena sebuah pengkhianatan telah membuat rasa hatinya sudah tidak terasa lagi.
Untuk apa hubungan jika tidak ada rasa didalamnya? Dia tidak ingin sebuah hubungan yang hambar.
"Semoga kau bisa mendapatkan lelaki yang selalu melimpahkan cintanya padamu!" Ivan berbicara lirih.
***
Malam menghitam tanpa kehadiran rembulan dan bintang gemintang. Langit berselimut awan hitam pekat. Malam pun merangkak pelan, dan bulir-bulir air mulai berjatuhan kembali dari langit membasahi bumi.
Beberapa menit kemudian, Rosa merasa lelah dengan kegiatan seharian ini. Rosa pun merebahkan tubuhnya dan mencoba untuk beristirahat.
Malam yang begitu sunyi.
Kini, cewe' itu terlelap setelah berusaha untuk menepis pikiran yang masih berada di atas kepalanya. Setelah dia berusaha menepis bayangan saat bersama orang yang entah benar mencintainya atau hanya perkataan semata...!!!
__ADS_1