BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI

BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI
BAB 28 : ROCK BAND


__ADS_3

Siang itu juga, setelah bel pulang sekolah berbunyi, Ari berusaha menjelaskan apa yang terjadi.


"Cha, gue serius nggak memberikan kertas itu pada Bagas. Sumpah! Memang gue yang mengambil kertas itu dari tas elo, tapi itu cuma untuk memuaskan rasa ingin tahu gue aja. Gue memang salah, seharusnya mencegah Bagas membaca puisi itu. Maafin gue, ya?" kata Ari tulus.


"Kalau tujuan elo ingin mempermalukan gue, kenapa pakai menyewa Bagad sebagai aktor?" Kenapa nggak elo lakukan sendiri?" jawab Rosa sinis, sambil memberesi buku-bukunya dari laci.


"Sudah gue bilang, gue sama sekali nggak berniat mempermalukan elo. Gue cuma ingin baca, terus gue kembalikan lagi. Bagas datang pada saat yang salah." Jelas Ari.


"Jadi kamu menimpakan kesalahan padanya?" Nol rasa tanggung jawabmu, ya!" Ucap Rosa lagi.


Ari menelan ludahnya. "Maafkan gue, Cha. Gue memang salah, tapi sama sekali nggak bermaksud untuk bikin elo malu. Sumpah! Lagi pula, kenapa elo mesti marah-marah begini, sih" Puisi elo itu bagus sekali kok! Kenapa kamu mesti malu?" Jelas Ari.


"Gue nggak butuh penilaian elo. Terserah gue dong mau marah atau bangga. Sekarang ini gue malu dan marah. Elo mau apa?" Balas Rosa sengit.


"Ya sudah, ya sudah! Maaf dong?" Balas Ari pasrah.


Rosa merengut. "Permisi, gue musti pulang sekarang." Katanya kemudian, karena Ari masih duduk di sebelahnya, menghalangi jalan keluarnya. Ari berdiri dan mempersilahkannya untuk lewat, Rosa bergegas keluar menenteng tasnya.


Ari mengejarnya. "Sudah di maafin belum nich?" teriaknya.


Rosa berlari menjauh, ke arah pintu gerbang luar. Udah malas meladeninya. Serasa ingin menangis kalo mengingat kejadian yang tadi.


Benar-benar memalukan...!!!


Puisi tadi adalah ungkapan isi hatinya, bagaimana dia tidak marah? "Enak saja Ari bilang kenapa mesti malu." Rosa tidak pernah mengungkapkan emosinya pada orang-orang, jadi ini adalah pengalaman pertamanya. Ya gara-gara Ari itu. "Suatu saat pasti aku balas!" janji Rosa pada diri sendiri.


***


Untuk melakukan aksi balas dendamnya, Rosa sepertinya mengurungkan niat untuk pindah tempat duduk. Dengan duduk di depan Ari, semakin mudah menyusun siasat untuk balas dendam, bukan?" batin Rosa dalam hati.


"Tapi ke mana anak itu hari ini? Ini sudah jam tujuh kurang tiga menit. Bel pertama sudah bunyi dua menit yang lalu, tiga menit lagi pelajaran akan segera di mulai. Ari biasanya tidak pernah terlambat. Tuh, bel sudah berbunyi lagi. Kemana dia?" Mata Rosa jelalatan ke luar kelas mencari sesosok Ari.


Pak Hadi Parjono sudah masuk kelas, langsung memperingatkan murid-murid untuk menyusun buku catatannya, karena ringkasan mereka akan diperiksa. Beberapa anak panik mencari buku catatannya di dalam tas dan di laci. Beberapa lemas karena belum selesai meringkas. Yang nekad langsung antri lapor tidak membawa buku. Rosa tenang-tenang saja. Ringkasannya sudah selesai dua hari yang lalu. Malah dia sudah mulai meringkas bab berikutnya.


Rosa melongok ke arah luar jendela. Itu dia Ari! Dia dihukum lari keliling lapangan tengah karena terlambat. "Hihi.. sukurin."


"Maaf pak, saya terlambat." kata Ari saat masuk kelas.


"Baiklah, Ari. Silahkan duduk. Kamu sudah selesai meringkas? Bawa kemari buku catatanmu." Ucap Pak Hadi Parjono.


"Sudah, pak." Ari lalu mencari-cari buku catatan biologi dari tas kumalnya, lalu diletakkan di atas tumpukan buku di meja guru.


"Kenapa kamu terlambat?" tanya Rosa, iseng.


"Bukan urusanmu." jawab Ari singkat.


"Iiih" galaknya. Ya sudah. Aku kan tanya baik-baik." Ucap Rosa.


"Aku musti mengantar ibu beli kain di pasar. Biasanya juga begitu sih, tapi tadi sial, ban sepedaku kena paku di tengah jalan dari rumah kemari. Makanya lama. Kamu tumben tanya-tanya?" Ari heran. Selama ini Rosa jarang buka mulut. Paling-paling cuma bilang permisi kalau mau lewat.


"Nggak boleh tanya-tanya?" Balas Rosa.


"Boleh, tapi nanti yah. Soalnya pak Hadi Parjono memperhatikan elo terus tuh." bisik Ari menunjuk ke arah depan.

__ADS_1


Oh, baik juga dia, memperingatkan sebelum pak Hadi Parjono menyemprotnya. Juga mengantar ibunya ke pasar sampai rela terlambat. Tapi itu tak cukup untuk mengurangi rasa kesalnya pada Ari tentunya.


"Jadi, kamu setiap hari mengantar ibumu ke pasar?" tanya Rosa penuh selidik.


Saat jam istirahat, jadi Rosa bisa bebas bertanya sekarang.


"Nggak. Cuma kalo ibu dapet orderan aja." Balas Ari.


***


"Pagi, Cha," Fakih mengagetkannya dari jendela. "Nih gie beliin sate telor dari kantin buat elo Cha! Dah sarapan belum?" Tanya Fakih.


"Udah kok, gue masih belum lapar. Eh emang elo dah sarapan Kih? " Tanya Rosa singkat.


"Udah, makanya sekalian gue beliin buat elo Cha!" Jelas Fakih.


"Ya udah, barengan aza makannya ya! Jadi bisa habis. Kan sayang dah di beli Kih!" Jelas Rosa pada kekasihnya itu.


"Okey, Gue punya aqua juga." tawar Fakih sambil mengacungkan sebotol aqua.


Rosa hanya tersenyum melihat kelakuan Fakih yang tergadang buat bikin keki, karena itu lah salah satunya yang buat perasaan sayang Rosa nggak berkurang.


"He Cha kemarin kenapa dengan Ari?. Elo koq ketus amat sama dia?" Tanya Fakih.


"Gue nggak akan ketus sama dia kalau dia tidak berniat mencampuri urusan gue Kih. Dia terang-terangan mengambil puisi dari dalam tas dan menyuruh baga untuk membacakannya di depan orang ramai!" Jelas Rosa.


"Trus, kenapa elo mesti ketus sama dia, bukannya Ari sudah minta maaf?" Tanya Fakih.


***


Bel segera berbunyi. Bu Aliantina, guru bahasa Indonesia, sudah berdiri di depan pintu.


Ari buru-buru menyobek kertas dari buku tulisnya, "Dilanjutin nanti pulang sekolah yah!" Ucap Ari.


Nelly merebut kertas itu dari tangan Ari, lalu menulis, "Nggak ada yang perlu dilanjutin."


Ari mengambil kertas itu kembali ke tangannya, "Please, tinggal sebentar siang ini di kelas."


Belum sempat Nelly mengambil kertas itu kembali, tiba-tiba kertas itu sudah diserobot seseorang dari belakang. dari belakang. Keduanya terperanjat. Bu Aliantina! Guru yang terkenal killer itu membaca yang baru saja ditulis Nelly dan Ari.


"Kalian berdua, nanti pulang sekolah tinggal di kelas selama satu jam." kata bu Aliantina berkicau, sambil membuang kertas itu ke tempat sampah.


Jam dua siang, Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Bu Aliantina sudah menunggu di depan pintu kelas 2A.


"Bu, maafkan kami." kata Ari memelas.


"Kaliankan yang ingin bercakap-cakap? Sekarang saya berikan kesempatan sepuas-puasnya, satu jam. Silahkan...! Pintu saya tutup. Satu jam dari sekarang, cari saya di ruang guru. Awas kalo berani keluar sebelum satu jam." jawab bu Aliantina sambil menutup pintu.


"Ari... sih...!" Ucap Nelly pada Ari. "Elo! Selalu saja cari gara-gara." tuduh Nelly sambil menudingkan jarinya ke arah Ari.


"Hey, jangan bilang begitu. Kita cuma sedang bernasib jelek. Sekarang kita enjoy saja." Balas Ari.


"Enjoy bagaimana? Gue baru kali ini dihukum guru. Ini gara-gara elo." Nelly menggerutu.

__ADS_1


"Jadi elo murid alim ya? panutan semua orang! Kelihatannya elo begitu sempurna." jawab Ari dengan nada sinis.


Nelly diam saja. Dia masih jengkel. Dia ada les bahasa Inggris jam setengah 3 siang ini. "Elo lagi mikir apa Nel?" tanya Ari.


"Aku ada les jam setengah 3. Sekarang aku harus kelaparan sampai jam setengah 4 karena aku mesti les dari jam setengah 3 sampe jam setengah 4. Sudah terlambat les, masih nggak sempat makan dulu. Gue benci Elo Ri!." Ucap Nelly.


"Ya sudah... ya sudah...! gue yang salah" ucap Ari pada Nelly. "Ngapain elo ngomel-ngomel melulu lo Nel?" Lanjut Ari.


"Gue yang seharusnya nanya, ada apa elo ma Ocha? Sampe dia bisa kesel banget ama elo gitu?" Tanya Nelly.


"Ya nggak sengaja lo Nel, ibaratnya Iseng membawa bencana lah, lagian gue kan dah minta maaf ma Ocha! Masa iya masih kena marah dari elo lagi?" Ucap Ari datar.


"Salahnya kenapa lo isengin Ocha, gue yang nggak enak ma dia ma Fakih. Gara-gara elo!" Balas Nelly.


Berlama-lama mereka mengacuhkan satu sama lain. Ari sendiri sudah tidak bersemangat lagi untuk mengorek keterangan lebih lanjut. Gadis kekasihnya yang satu ini benar-benar susah dimengerti.


Lama sekali menunggu satu jam usai. Ini bahkan baru lewat sepuluh menit. Ari mengambil walkman dari tasnya, lalu mulai memutar kasetnya sambil manggut-manggut. "Lagu apa sih?" tanya Nelly, memecah kesunyian. Ari tidak mendengarnya, karena volume walkmannya yang keras. Nelly lalu menyenggol kakinya. Ari melepas salah satu ear piece-nya.


"Ada apa lagi?" tanya Ari.


"Lagu apa?" Tanya Nelly.


"Ini...!" Elo gak bakal suka lah. Ini Metallica, Enter Sandman" kata Ari.


"Aku boleh ikut dengerin?" tanya Nelly.


Heran, tapi dengan sopan Ari memberikan ear piece yang dipegangnya ke Nelly.


Nelly pun ikut bernyanyi...!!!


"Some people want it all


But I don’t want nothing at all


If it ain’t you, baby


If I ain’t got you, baby


Some people want diamond rings


Some just want everything


But everything means nothing


If I ain’t got you, yeah"


"Heh Nel! Elo tahu juga lagu ini?" Ari tak percaya. Setiap tingkah cewe' dia ini benar-benar membuat surprise.


Nelly pura-pura tak mendengar yang barusan Ari bilang. Dia asyik dengan lagunya. "Hey" elo suka The Diary of Alicia Keys juga?" tanya Ari lagi, kali ini lebih keras, memastikan Nelly mendengarnya.


"Kamu akhir-akhir ini sering tanya-tanya ke orang-orang tentang gue kan sebelum kita jadian? " Masa" belum dengar kalo gue itu satu-satunya cewe' anggota rock band sekolah "Kita sering manggung di acara-acara radio."


Ari meringis. "Ketahuan deh. Darimana Nelly bisa tahu kalau Ari belakangan sebelum ini sibuk menyelediki latar belakangnya" Pasti Ayu yang melapor saat Ari tanya-tanya tentang Nelly beberapa waktu yang lalu." Kutuknya dalam hati. "Nggak tuh. Nggak ada yang bilang. Elo anggota rock band sekolah?" Ari semakin tak percaya. Apa sih yang tidak disukai cewe yang belum lama jadi kekasihnya ini" Nelly mengangguk. Dari tadi dia memang sudah mengangguk-angguk mengikuti irama lagu rock itu.

__ADS_1


__ADS_2