BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI

BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI
BAB 33 : USAHA DETEKTIF


__ADS_3

"Nel, gue nggak akan bisa memaafkan diri gue sendiri jika kalian semua sampai ikut di skors. Gue melihat ini satu-satunya cara untuk melepaskan semua dari segala tuduhan. Sudahlah, Nel, elo nggak akan pernah mengerti." Jelas Bagas.


Sesudah berkata-kata, Bagas cepat-cepat berlalu ke kelas. Ayu sang kekasihnya, mengikutinya dengan langkah pelan-pelan di belakang. Ada perasaan asing menyelimuti hati Ayu waktu mendengar omongan Bagas tadi. Belum pernah ada orang yang rela berkorban buat sahabat-sahabatnya seperti ini. Dia dibesarkan di lingkungan yang kurang toleransi, dimana tiap orang harus berjuang untuk kepentingannya sendiri. Lingkungan yang memproteksi dirinya dari luar, sehingga dia tak pernah merasa kecewa, tak pernah merasa kekurangan, selalu berkecukupan, tapi di lain pihak haus akan kebebasan dan kebahagiaan yang tidak pernah didapatnya dari pojok manapun di kehidupannya. Dalam waktu berbulan-bulan belakangan ini, Bagas secara tidak langsung telah mengajarkannya untuk menghargai hal-hal kecil yang menyentuh hatinya.


Bagas telah mengenalkannya pada sisi lain di dunia ini yang membuatnya bahagia.


***


Siang itu Rosa mengajak Intan main ke rumahnya, seperti biasanya. Ngobrol-ngobrol di kamar, Intan suka sekali membaca puisi-puisi karya Rosa. Terutama setelah menjalin hubungan dengan Fakih, Rosa lebih sering menulis puisi-puisi ringan yang riang, dibanding puisi-puisinya terdahulu yang membuat orang sedih saja.


"Cha, elo sebelum ma Fakih sudah pernah jatuh cinta?" tanya Intan.


"Elo nggak pernah nanyain seperti ini, Tan?. Tumben. Kesambet apa sih?" Rosa balas bertanya dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


Intan diam saja, tapi wajahnya memelas, seakan berkata, "Jawab dong?"


"Sama seperti elo Tan, gue juga belum pernah jatuh cinta sebelum pacaran ama Fakih. Naksir dan pacaran pernah dengan Ivan, tapi jatuh cinta yang sebenar-benarnya cinta... Ya baru ini!" Jawab Rosa.


"Eh...! Emang ada bedanya naksir sama jatuh cinta?" Intan malah bertanya.


"Blo'on benar ini anak. Naksir tu cuma sekadar suka karena dia ganteng, atau karena salah satu kelebihan di dirinya. Biasanya ya karena ganteng itu tadi. Misalnya, elo naksir tetangga sebelah rumah elo, setiap ngelihat dia rasanya gimana gitu. Tapi ya cuma sebatas itu aja. Nggak ada niatan untuk menyayang atau disayang sama dia." Jelas Rosa.


"Trus kalo cinta yang kayak gimana?" Tanya Intan lagi.


"Reaksi orang terhadap cinta tu lain-lain, Tan. Ada yang nggak suka makan, nggak bisa tidur, mikirin si jantung hati. Ada yang malah makan terus, tidur juga pulas, karena mimpiin si jantung hati. Jadi gue nggak bisa jelasin definisinya, karena terlalu abstrak dan tiap orang lain-lain reaksinya." Jelas Rosa detail.


"Oke" Kasih contoh cinta jadi aku bisa ngerti dong." kata Intan kembali terlihat penasaran pake baget.


"Banyak dong! Romeo and Juliet, yang paling terkenal. Mati demi membela cinta. Cinta yang gue pernah rasakan adalah cinta ibu gue. Ibu mencurahkan segala cintanya pada gue. Masih banyak contoh-contoh lain, Tan. Yang pasangan-pasangan terkenal legendaris biasanya karena mereka mati tragis membela cinta."


"Hmm?" Intan cuma menggumam.


"Mereka terkenal karena seakan-akan mereka telah menjadi pahlawan cinta. Memperjuangkan cinta mereka sampai titik darah terakhir. Membuktikan bahwa cinta sejati itu benar-benar ada dan mereka nggak segan-segan mempertaruhkan nyawa untuk memperolehnya." Rosa melanjutkan penjelasannya.


"Kenapa gue nggak pernah mikir kesitu, Cha" Pinter juga elo." Intan mengacungkan jempolnya.


"Rosa...?" kata Rosa sambil menepuk dadanya.


***


Di kamarnya, Nelly yang merasa punya tanggung jawab penuh akan permasalahan Bagas, tidak bisa tidur malam itu. Dia sibuk memutar otaknya, bagaimana cara membuktikan bahwa Jimmy lah pelaku pencurian gelang itu. Dia harus bisa membuktikan bahwa semua rekayasa Jimmy untuk menjebak Ari namun ternyata Bagas yang terkena imbasnya dan Bagas sebenarnya tidak bersalah. Tapi bagaimana caranya" batin Nelly. "Gue sepertinya harus bicara dengan Fakih, dia musti tahu akan kejadian sebenarnya karena dia ketua kelas dan juga gue harap dia bisa membantu memecahkan permasalahan ini!" Lanjut suara batin Nelly kembali.


***

__ADS_1


Keesokan harinya, terlihat Nelly benar-benar melaksanakan niatnya untuk bicara dengan Fakih.


"Kih, elo udah gue ceritain semua yang menjadi permasalahan kita, baik pada gue, Ayu dan Ari terutama Bagas. Bagaimana pendapat elo!?" Tanya Nelly pada Fakih.


"Yakin udah semua yang elo sampein ke gue Nel?" Tanya Fakih.


"Ya, apa ada yang janggal Kih, menurut elo dari cerita gue?" Tanya Fakih.


"Nggak sih, tapi yang elo ceritain semua itu akibat dari perbuatan Jimmy kan? Yang gue mau tahu bukan persoalan Ari dan Bagas, tapi Jimmy?!" Lanjut Fakih.


"Maksud elo Kih?" Tanya Nelly.


"Kalau emang Jimmy pelakunya, ada di mana dia saat itu? Bagaimana caranya dia melakukannya? Tidak mungkin tidak ada yang tahu keberadaan Jimmy atau apa yang dia lakukan sebelum kejadian tersebut kan?!" Jelas Fakih. "Coba kita telusuri dari hal itu Nel!, Masih ingat nggak elo?" Lanjut Fakih.


"Kalau Jimmy pelakunya, berarti Jimmy ada di kelas 2D pada saat anak-anak sudah berkumpul di lapangan. Untuk balik lagi ke lapangan, Jimmy harus melewati kelas 2C, di mana Ari dan Nelly berada sebelum upacara mulai. Kapan dia menaruh gelang dan uang itu di laci Bagas?" Ucap Nelly sembari mengingat rentetan kejadian keberadaan Jimmy sebelumnya. Nelly berpikir lagi, Nelly dan Ari adalah dua orang terakhir yang memasuki lapangan, karena segera sesudah mereka masuk ke barisan, upacara segera dimulai. Gue nggak memperhatikan apakah Jimmy ada di lapangan waktu itu. Tapi yang jelas, Jimmy tidak mungkin sempat mengambil gelang di kelas 2D, lantas ke kelas 2A, menaruh gelang dan uang di laci Ari atau Bagas, sebelum Nelly masuk ke kelas 2A. Jam tujuh kurang Lima menit dia sampai sekolah. Anak-anak baru saja mulai berbaris karena bel baru saja berbunyi. Kalau asumsinya betul, Jimmy pasti ada di kelas 2D waktu gue menaruh tas. Waktu akan menaruh gelang dan uang di laci Ari, Jimmy pasti melihat Nelly dan Ari di kelas. Jadi dia mengurungkan niatnya. Dia baru bisa menaruh uang itu setelah Nelly dan Ari keluar dari kelas. Karena pintu besar ke arah lapangan dari arah 2C ditutup segera sesudah Nelly dan Ari lewat, Jimmy harus lewat pintu kecil samping kantin." Jelas Nelly mengingat dengan kerasnya.


"Nah, kalau benar urutan kejadiannya seperti apa yang elo utarakan Nel, artinya ada kata dan saksi kunci "KANTIN" dari kejadian tersebut kan!?" Senyum Fakih mengharuskan Nelly berusaha berfikir keras.


"Yes! Terima Kasih Kih! Otak elo emang keren!" Balas Nelly tersenyum senang mendapat pencerahan akan sebuah jalan keluar dari seorang Fakih.


Bingo! Ya...!!!


Nelly harus bertanya sama ibu yang jaga kantin, apa dia melihat Jimmy lewat situ setelah upacara dimulai.


***


"Tolong di ingat-ingat lagi, Bu. Ibu tahu Jimmy, yang tinggi, kulitnya putih, kurus, sipit, kan?" Tanya Nelly lebih mendetail lagi.


"Iya. Ibu sering lihat dia beli makanan di kantin." Jawab ibu kantin singkat.


"Dan dia nggak lewat sini kemarin pagi?" Lanjut Nelly.


"Endak." Jawab ibu kantin lagi.


"Ibu yakin?" tanya Nelly sekali lagi.


"Yakin. Mata ibu masih awas." Ibu kantin terlihat jengkel karena Nelly berkali-kali menanyakan hal yang sama.


"Sayang sekali. Ibu kenal Bagas? Bagas diskors gara-gara tingkah Jimmy." keluh Nelly.


"Bagas yang ganteng itu? Bagas...! Dia anak yang baik sekali, satu-satunya anak yang sering beri persenan, pada hal ibu tahu dia bukan dari golongan orang kaya." Lanjut ibu kantin menjelaskan.


"Iya. Bagas yang ganteng itu." kata Nelly tersenyum, ingat efek aksi balas dendamnya.

__ADS_1


"Bagas, dia terkena korban difitnah sama Jimmy, Jimmy mau jebak Ari tapi yang terkena jebak dia Bagas bu! Seakan-akan dia mencuri gelang." Jelas Nelly lirih.


Ibu kantin menggeleng-geleng. "Astaga-naga" Anak sebaik Bagas tidak mungkin mencuri gelang." Lanjut ibu kantin lagi.


"Itu juga keyakinan saya, Bu. Saya tahu Bagas tidak bersalah. Tapi saya nggak punya bukti untuk melepaskan Bagas dari hukumannya." Ucap Nelly lagi.


"Kalau Jimmy lewat sini, memangnya bisa membantu Bagas nak Nelly?" Tanya ibu kantin ingin tahu.


"Bisa sekali. Karena itu berarti membuktikan teori saya bahwa Jimmy terlambat mengikuti upacara, dan dia orang terakhir yang masuk lapangan upacara dari arah gedung kelas. Padahal saya tau persis, Jimmy nggak terlambat datang, malah dia datang pagi-pagi, karena saya papasan dengan dia jam setengah tujuh kurang." Jelas Nelly.


"Sebetulnya, Jimmy memang lewat sini!?" kata ibu kantin terlihat ragu-ragu. "Dua kali malah. Dia lewat sekali, lalu balik lagi, memberi sejumlah uang, lalu memaksa saya untuk berjanji tidak mengatakan kepada siapa-siapa kalau dia datang terlambat. Katanya, dia bisa dihukum kepala sekolah kalau ketahuan terlambat." lanjut ibu kantin.


"Jadi benar Bu? Jimmy betul-betul lewat sini?" Nelly tampak ceria.


"Iya. Saya nggak berani bilang karena Jimmy sudah memberi banyak uang. Seratus ribu rupiah." kata ibu kantin jujur.


Nelly lalu merogoh sakunya. Dia cuma punya punya dua puluh ribu rupiah hari itu. "Ini Bu?" kata Nelly seraya memberikan uang itu pada ibu kantin.


"Jangan,?" ibu kantin menolak. "Saya cuma ingin menolong Bagas. Dia anak baik. Tolong kalau ketemu Jimmy, kembalikan uang ini." kata ibu kantin malah memberikan uang seratus ribu pada Nelly.


"Jangan, Bu. Jimmy punya banyak uang. Saya ingin ibu terima uang ini juga. Saya cuma bawa segini hari ini?" Ibu kantin menatap mata Nelly.


Nelly mengangguk-angguk.


"Salam buat Bagas kalau ketemu, yah! Semoga keterangan dari saya bisa membantunya!." Pinta ibu kantin.


"Saya usahakan, Bu." Jawab Nelly tersenyum.


Nelly pagi itu juga menemui Pak Umar Yamin. Setelah berbincang-bincang lama sekali, memanggil ibu kantin segala, setelah di timbang-timbang, Pak Umar Yamin akhirnya percaya bahwa Jimmy yang memfitnah Ari imbasnya ke Bagas dan Bagad tidak bersalah.


Pagi itu juga Jimmy dipanggil Pak Umar Yamin, dan dipaksa mengaku. Rupanya karena bukti-bukti cukup kuat menuduhnya, juga takut pada Pak Umar Yamin, Jimmy mengakui semua perbuatannya.


Surat skors langsung di keluarkan dan besok pagi Jimmy bakal memulai masa hukuman skorsnya. Tiga minggu. Seminggu karena telah mencuri gelang Reni, seminggu karena memfitnah Ari dan Bagas, dan seminggu lagi karena telah menyuap ibu kantin untuk mengubur dosa-dosanya.


Nelly tersenyum puas karena usaha detektif kecil-kecilannya berhasil dengan gemilang.


Surat pembatalan skors Bagas sudah ada di tangannya. Nanti dia akan menyampaikannya sendiri ke rumah Bagas.


***


"Kih! Alhamdulillah! Surat pembatalan skors Bagas dah keluar!" Jelas Nelly saat bertemu Fakih yang kebetulan sedang bersama dengan kekasihnya Rosa.


"Syukurlah Nel!, yang benar pasti akan tetap benar dan sebaliknya kan!" Jelas Fakih tersenyum.

__ADS_1


Rosa bertanya-tanya, akan tetapi Fakih langsung menceritakan dari A sampai Z akan kejadian tersebut kepadanya setelah Nelly meninggalkan mereka berdua dengan senyum dan wajah ceria.


__ADS_2