BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI

BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI
BAB 44 : MENGIKUTI TEST OSIS


__ADS_3

Bel berbunyi nyaring menandakan bel Istirahat untuk semua murid. Kantin yang tadinya kosong sekarang malah penuh dan pada berebut kursi. Berbeda dengan keempat cowo' yang sedang berjalan menuju kantin. Mereka berhenti sejenak melihat keadaan kantin yang rame banget.


"Gila nih kantin. Sampe nggak muat gitu tempatnya, kayaknya harus ada kantin tambahan nie." Komentar salah satu pria yang putih dan lonjong serta bermata sipit itu.


"Tahu, terus kita makan di mana?" Tanya Pria hitam manis di sebelahnya.


"Nggak tahu gue juga bingung, gimana bro, kita jadi makan atau nanti ajah." Ucap pria chubby dan wajah putih itu kepada temannya yang berdiri paling depan.


"Jadilah, laper nie gue." Sahut pria hitam manis dan tinggi itu yang berada paling depan.


"Terus duduk dimana?" Tanya pria chubby lagi


"Kita pesen dulu ajah deh." Tukas cowo' hitam manis itu.


Setelah itu mereka melangkah dengan pasti memasuki kantin dan menerobos kerumunan orang yang sedang berebut makanan di kantin.


Yang tadinya mereka sedang berebut makanan, melihat keempat cowo' tampan itu mereka berhenti beraktifitas apa lagi para kaum hawa.


"Ganteng banget!." Ceplos salah satu cewe' di kantin.


"Gila, keren." Ceplos salah satu cewe' lagi.


Itulah komentar sebagian dari gadis yang pada terkesan melihat keempat pria itu.


Mereka sangat terkenal, apalagi di kalangan kaum hawa. Dengan ketampanan yang mereka miliki dan dengan gaya cool dan khas yang mereka miliki.


"Eh, ngapain cewe'-cewe' itu pada lebay banget nglihat empat cowo' itu. Nggak ada keren-kerennya juga. Heran gue." Gumam Zahra di meja nomor dua dari depan yang sedang makan bersama dengan ketiga teman barunya itu.


"Gitu-gitu cowo' gue tahu. Dan menurut gue mereka emang keren, tapi lebih kerenan cowo gue." Sahut Nelly dan asyik menyeruput minumannya.


Gara-gara mendengar pernyataan Nelly barusan, Zahra tersedak es jeruk yang di pesannya.


"Pelan pelan neng, santai aja lagi. Kenapa sih loe?" Ucap nur seraya menyerahkan air putihnya untuk Zahra.


"Makasihh, gue cuma kaget ajah denger pernyataan loe Nel, loe beneran pacaran sama salah satu dari mereka?" Tanya Zahra masih tidak percaya.


"Iya lahh, loe jangan kaget juga, Nur juga pacarnya salah satu di antara mereka tahu." Ujar Nelly.


"Serius Nur? Kok bisa sih?" Balas Zahra.


"Kok loe kaya nggak percaya gitu sih, kenapa Ra? Salah yah?" Tanya Nur.


"Nggak gitu sih. Cuma mareka kan ….. ahh udah ahh, nggak usah di bahas lagi." Balas Zahra.


Sementara itu keempat cowo' itu sudah selesai memesan makanan dan minuman mereka masing-masing. Kemudian berhenti di depan meja paling belakang dan mengedarkan pandangannya ke segala arah di seluruh kantin.


"Gue tahu kita duduk dimana?" Ceplos pria hitam manis itu.


"Dimana?" Tanya ketiga cowo' lainnya.


"Tuh...!" Ucapnya kemudian sembari menunjuk meja keempat cewe' tadi. Kita makan disana, ayo." Ucap pria hitam manis itu seraya melangkah mendekat ke meja keempat cewe' itu dan yang lainnya terpaksa mengikuti dari belakang.


"Hay Sayang...!" Sapa pria hitam manis itu seraya duduk di sebelah Nur.


"Hay juga sayang." Sahut Nur seraya tersenyum manis.


Yang lainnya pun mengikuti duduk. Cowo' berwajah putih dan lonjong itu duduk di sebelah Nelly selaku pacarnya itu. Dan cowo' berwajah chubby dan putih duduk di samping Intan yang selaku musuh bebuyutan dari awal masuk Sekolah Menengah Pertama Kotabumi dan Ketua OSIS Sekolah Menengah Pertama Kotabumi duduk di sebelah anak baru, karena tidak ada tempat duduk lagi.


"Ngapain loe duduk di sini, ada yang ngijinin gitu." Protes Intan merasa tidak terima musuh bebuyutannya duduk di sebelahnya.


"Nggak ada, gue pengin duduk aja disini. Lagian nie meja bukan punya loe kan? Ngapain marah." Ujar pria chubby dengan sekenannya.


"Heh playboy cap kampung. Loe denger yah, nie meja emang  bukan punya gue, tapi gue yang pertama duduk disini dan gue sangat tidak suka dengan loe. Ngerti." balas Intan ketus.


"Heh, gue juga aslinya nggak mau duduk disini, dan loe juga mesti denger baik-baik gue bukan playboy cap kampung. Seenaknya aja loe manggil gue dengan sebutan kaya gitu. dasar cewe' jadi-jadian. Nggak ada sifat cewe'nya di diri loe." balasnya.


"Heh, loe seenaknya aja ngomong gitu. terserah gue dong. Mau apa aja kek, itu urusan gue. Dan nggak ada sangkut pautnya sama loe." Bentak Intan.


"Hey udah udah. Ngapain sih loe berdua. Berantem mulu dari tadi, sekali-kali akur gitu. kan enak dilihatnya." Lerai Ari.

__ADS_1


"Gue bakal akur, kalo temen loe ini gak minta maaf sama gue." Sindir Intan.


"Nggak, ogah gue minta maaf sama loe. Justru loe yang harusnya minta maaf sama gue." Ujar pria chubby.


"Loe berdua kalo gak bisa diem gue lempar nie botol." Ujar Ketua OSIS itu seraya memegang botol kecap yang ada di hadapannya dan bersiap melempar ke arah dua orang di hadapannya.


Sepertinya kegiatannya merasa terganggu.


"Hehehe. Peace bro, damai. Kejem amat loe Ndry sama sahabat sendiri." Ujar Nazaruddin ketakutan.


"Ya lagian loe nggak bisa diem dari tadi, terganggu nie acara makan gue." Bales Hendry sinis.


"Iya iya sorry." balas Nazaruddin lagi.


"Ehhh sayang, ini siapa?. Loe cewe' yang tadi nyariin Hendry kan? Anak baru yah." Cerocos cowo' berwajah putih dan lonjong.


"Ehh iya sampe lupa, kenalin semua, ini temen baru kita, anak baru di kelas kita pindahan dari Bandung namanya Zahra Talita Putri, panggil Zahra ajah." Ucap Zahra pada semua.


"Hallo kak nama gue Zahra." Ucap Zahra sembari mengulurkan tangannya pada Ari.


"Hallo juga, loe bisa manggil gue Ari, selaku pacar Ayang Nelly." Ucap Ari.


"Gue Nazaruddin cowo' paling ganteng nan keren di sekolah ini." Ucap Nazaruddin narsis.


"PeDe banget hidup loe, dasar playboy cap kampung, nggak tau malu banget deh.” Sela Intan.


“Diem loe cewe' jadi-jadian, nyambung aja loe kaya pipa.” balas Nazaruddin.


"Heh...! udah udah malah berantem. Gak usah dengerin Ra, loe bisa manggil gue Bambang!." Ucap Bambang seraya melepaskan jabatan tangannya dari Zahra.


Kemudian mata mereka mengarah kepada sang ketua OSIS yang sedari tadi sibuk memakan makanannya. Kemudian mereka bertatap tatapan penuh arti.


"Mmmm Ra' sorry yah!" Ucap Ari sembari melirik cowo' yang sedang asyik memakan makananya. "Loe bisa manggil dia Hendry aja cukup. Dia ketua OSIS disini, kapten basket juga." Terang Ari mengingat sahabatnya yang selalu marah jika aktivitasnya terganggu.


"Iyaah, salam kenal semuannya." Jawab Zahra.


***


***


Terdengar suara seperti itu melewati seluruh speaker sekolah yang menandakan ada panggilan yang ditujukan kepada sang ketua OSIS dan anak baru untuk segera berkumpul.


"Ra...!, loe di panggil tuh." Ucap Intan.


"Bro...!" Kata Bambang sambil menepuk tangan Hendry.


"Apaan sih, loe ganggu aja deh Bang!. Ada apaan?" Tanya Hendry sewot.


"Loe nggak denger tadi? Ada panggilan buat loe tuh. Katanya disuruh ke ruang OSIS sekarang. Sama Zahra juga, udah sana, kayaknya penting deh bro.” Cerocos Nazaruddin.


"Fakih mana ya? Bisa kali dia aja yang wakilin gue!" Ucap Hendry terlihat masa bodo.


"Tahu aja lah kalau Fakih mah! Masih sibuk urusan dia dengan Rosa kayaknya!" Balas Ari.


"Belum kelar-kelar juga tuh anak?" Tanya Hendry.


"Belum, malahan jadi muter-muter tuh masalah hati!" Ucap Nazaruddin becanda.


"Di jeda bisa kali Zar, panjang banget kata-kata loe. Ya udah gue pergi, duluan yah semua.” Ujar Hendry seraya beranjak pergi dan berlari menuju ke Ruang OSIS.


"Gila tuh anak, Ra! loe sendirian nggak apa-apa? Atau mau gue anterin? Sayang lagi cewe' cantik kaya loe jalan sendirian ke Ruang OSIS." Goda Nazaruddin kepada Zahra.


"Dasar playboy, jangan mau Ra!, ntar loe di pellet sama dia." Sela Intan nyolot.


"Heh, loe ngajak berantem gue mulu yah. Nyebelin banget sihh loe." Nyolot Nazaruddin.


"Siapa yang ngajakin loe berantem ??? Gue Cuma gak mau sahabat gue masuk ke perangkap sesat loe itu. Udah punya cewe' mau godain cewe' lain lagi." Decak Intan kesal.


"Heh, urusan gue dong. Kenapa loe, ngiri yah karena gak punya cowo', makanya jadi cewe' tuh yang lembut. Wujud aja nggak jelas gini. Mau cowo' apa cewe'. Jadi kan nggak ada cowo' yang mau sama loe. Ntar di kira mereka homo lagi pacaran sama loe." Ujar Nazaruddin sinis.

__ADS_1


"Apa loe bilang? Loe nyebelinn." Ucap Intan seraya pergi menjauh dari kantin.


"Loe Zar, omongan loe nyesek banget tuh. Gila loe." Ucap Ari yang sedari tadi nggak tahan pengin melerai keributan sahabatnya dan sekaligus sahabat pacarnya Nelly.


"He... Mau tanya dong!? Kalau Fakih siapa ya? Kok tadi Hendry menyebut-nyebut nama itu?" Tanya Zahra ingin tahu.


"Ooooh... Ketua kelas kita tuh, plus Ketua Seluruh Seksi di OSIS...!" jelas Nelly.


"Yang mana ya orangnya?" Zahra penasaran.


"Fakih mah super sibuk, pas elo masuk kalau nggak salah masih ada acara untuk Sekolah Perawat Kesehatan bersama kekasihnya Rosa!" Jelas Nelly lagi.


"Oooo... Jadi penasaran! ya udah deh, gue ke ruang OSIS dulu yah" Ucap Zahra seraya pergi dari kantin.


"Loe sih, Intan jadi pergi kan? Jahat banget sih loe. Loe boleh benci sama Intan tapi loe gak berhak ngeluarin kata-kata kasar kaya gitu sama dia. Kalo gue jadi Intan gue juga pasti marah sama loe." Ucap Nur.


"Tahu nie, loe nyebelin banget sih. Tega banget loe ngomong gituh sama Intan. Nur, kita pergi dari sini yuk. Duluan yah, mau nyusulin Intan. Daaahhh." Ujar Nelly seraya menarik tangan Nur seraya pergi meninggalkan kantin dan menyusul Intan.


"Zar, gue heran sama loe. Loe tega banget sama Intan. Gimana pun juga dia cewe' dan masih punya perasaan, loe kasar banget sama dia." Ujar Bambang.


"Sorry guys, gue kalut tadi, yah habis tuh cewe' ngajak ribut gue mulu." Gumam Nazaruddin.


"Sorry... sorry, jangan minta maaf sama kita, minta maaf sana sama Intan. Gue cabut duluan, mau ke Perpustakaan ya!." Ujar Bambang seraya pergi melangkah menuju Perpustakaan.


"Parah loe, gue kekelas dulu yah." Pamit Ari seraya meninggalkan Nazaruddin sendirian di kantin.


"Emang kata-kata gue tadi kasar banget yah sama Intan? Haaa! pusing gue." Gumam Nazaruddin sendiri.


***


Hendry yang sudah sampai di Ruang OSIS langsung masuk ke dalam tidak lupa untuk mengetuk pintu terlebih dulu. Setelah dia masuk, dia melihat disana ada Pak Umar Yamin selaku Kepala Sekolah Menengah Pertama Kotabumi, Pak Budi Waluyo sebagai bagian kesiswaan dan Bu Ernawati juga bagian kesiswaan.


"Permisi pak, bu." Pamit Hendry ramah.


"Iyah Hen, silahkan duduk dulu. Zahra belum datang Hen?" Tanya Pak Budi Waluyo.


"Zahra? Memangnya Bapak menyuruh Zahra buat datang ke sini juga?" Tanya Hendry heran.


"Iyah Hen, kamu nggak denger pengumuman tadi. Ya sudah, kita tunggu Zahra sebentar supaya dia kesini." Ujar Pak Umar Yamin heran dengan sang Ketua OSIS Sekolah Menengah Pertama Kotabumi.


Beberapa menit kemudian ada suara yang mengetuk pintu depan Ruang OSIS. Dan seluruh orang yang ada di ruangan akan mengira bahwa yang datang adalah orang yang sedari tadi ditunggunya.


"Masuk." Ucap Kepala Sekolah dengan suara rada keras.


Setelah itu terlihat seorang cewe' di balik pintu, kemudian cewe' itu menutup pintunya lagi. Sedangkan sang ketua OSIS hanya bisa menundukan kepalannya dan memainkan minuman di hadapannya yang telah disediakan sedari tadi tanpa memperdulikan cewe' yang baru datang itu.


"Masuk Zahra, sini duduk disini." Ujar Bu Ernawati dengan ramah dan mempersilahkan Zahra duduk di samping Hendry.


"Makasih Bu, ada apa yah pak, bu, kok saya di panggil kesini." Tanya Zahra yang masih terlihat gugup melihat sang ketua OSIS dan guru guru di hadapannya.


"Begini Zahra, kamu kan anak baru disini, peraturan murid baru disini adalah mengikuti Test yang selalu di adakan oleh OSIS. Dan setiap ada murid baru akan selalu di tangani oleh Ketua OSIS nya untuk membantu memberikan pelajaran supaya murid baru bisa mengerjakan test dengan lancar." Terang Bu Ernawati menjelaskan.


"Jadi intinya ya Zahra, kamu akan mengikuti test satu minggu lagi dan selama satu minggu ini kamu akan di ajarkan oleh Hendry, kamu tahu kan kalau Hendry itu ketua OSIS disini?. Jadi dia akan mengajarkan kamu supaya kamu bisa mengerjakan soal test nanti." Tambah Pak Budi Waluyo menjelaskan.


Zahra begitu kaget mendengar penjelasan dari guru-guru di hadapannya. "Apa yang harus ia lakukan? Selama satu minggu ini dia harus selalu berurusan sama ketua OSIS yang cuek ini dan sudah menjadi musuh akibat kejadian yang sepele dulu. Bagaimana ini?" Batin Zahra.


"Sebenarnya selain dengan ketua OSIS Hendry ada satu orang lagi yang bisa mengajarkan kamu soal test ini, tapi Fakih Alfarizi sepertinya masih sibuk dengan Rosa Pratiwi mengenai pawai di Sekolah Perawat Kesehatan Kotabumi yang kebetulan mereka menjadi bagian dari acara tersebut. Tapi tidak masalah Hendry bisa menangani ini!" Jelas Pak Budi Waluyo lagi.


"I … I ya bu, pak. Saya mengerti kok.” Jawab Zahra berusaha tersenyum.


"Ok, bagaimana dengan kamu Hendry? Tentu kamu sudah tahu bukan tentang rencana ini, dan pasti kamu tidak kaget lagi dengan pernyataan Pak Budi Waluyo dan Bu Ernawati tadi. Memang selama ini, murid baru yang daftar disini selalu mendapatkan nilai yang bagus akibat dibantu dengan Fakih, akan tetapi ibu harap kali ini kamu ambil alih tugas Fakih dan juga, musti bisa mengajarkan untuk Zahra, bagaimana?" Ucap Pak Umar Yamin selaku Kelapa Sekolah Menengah Pertama Kotabumi ini.


"Iya bu, saya sudah tahu kok, dan saya akan berusaha semaksimal mungkin supaya saya bisa mengajarkan materi nanti dan hasilnya memuaskan." Ujar Hendry dengan nada dibuat seramah mungkin.


"Bagus Hen, ibu percaya sama kamu. Jangan kecewakan Bu Ernawati sama Pak Budi Waluyo yang udah memberi kamu kepercayaan Ham, pergunakan baik-baik." pesan Kepala Sekolah ramah.


"Ham, bapak tahu kamu pasti bisa, bapak juga akan coba menghubungi Fakih untuk membantu kamu dalam hal ini, tapi kita juga tidak bisa berharap banyak dengan dia karena keaktifannya mengikuti kegiatan baik internal maupun eksternal sekolah yang begitu banyak. Dan untuk sementara pelajaran kamu akan bapak alihkan Ham, pergunakan waktu istirahat sebaik mungkin dan berusaha mencari waktu luang yang baik." Pesan Pak Budi Waluyo disertai anggukan dari Bu Ernawati yang berarti sependapat.


"Baik Bu, pak. Terima Kasih telah mempercayakan semuanya sama saya." Ucap Hendry.

__ADS_1


"Ya sudah Ham, kami permisi dulu, perkenalan aja dulu. Ibu tunggu kabar selanjutnya ya!." Pamit Bu Ernawati disertai anggukan dari Kepala Sekolah dan Pak Budi Waluyo.


"Kami permisi dulu Hendry, Zahra." Pamit Kepala Sekolah dan guru-guru bagian kesiswaan seraya meninggalkan Ruang OSIS.


__ADS_2