
Rosa menapakkan kaki menuju bangkunya dengan malas, kelas masih sepi, belum ada murid-murid yang datang, baru Laras dan Intan.
Kali ini Rosa ingin fokus mengerjakan tugas sekolahnya yang sudah sangat banyak tertinggal tanpa ada seseorang yang mengganggunya lagi, termasuk Ari dan Ivan karena sejujurnya Rosa lelah dengan kelakuan mereka itu.
Belum lagi akhir-akhir ini Fakih banyak kesibukan di osis dan sulit di hubungi, terkadang menghilang entah kemana. Sudah tiga hari terakhir Fakih nggak pernah menemui Rosa. Di kelas pun dia sering menghilang tiba-tiba.
Perasaan Rosa mulai nggak enak, apa mungkin ngambek atau marah gara-gara melihat Ivan dan Ari yang selalu mengejar-ngejar dia.
Padahal kata Elani tadi pagi Fakih sudah berangkat, mereka berangkat bareng dan kebetulan Elani yang menjemputnya di rumah. Tapi kenapa nggak ada di kelas?
Rosa mencoba mencari Fakih dengan bertanya dengan kawan-kawannya namun tidak juga di temukan. Rosa menghela napas berat, berpikir sebentar. Kemudian mengajak Intan ke kelas F, kelasnya Marini, mungkin ada disana. Rosa berjalan di belakang Intan dengan menutup mukanya menggunakan buku, masih malu gara-gara ulah Ivan, Karena kebanyakan yang datang teman-teman se kelasnya Marini. Sambil memindai murid-murid yang berlalu lalang, siapa tau salah satunya itu Fakih.
Rosa membelalakkan matanya saat mendapati seorang cewe' yang tengah duduk di depan kelas berbincang-bincang mesra dengan seorang cowok, itu Fakih...!!!
Rosa menahan Intan agar berhenti melangkah untuk mengamati Fakih dari jarak agak dekat.
"Kita langsung menemui dia aja yuk ah", bisik Intan.
Rosa mengangguk, kemudian melangkah dengan hati-hati mendekati Fakih dan Marini, Marini yang pertama melihat kehadirannya tampak bergegas menjauhkan dirinya dari Fakih, raut mukanya seketika berubah.
"Ehh Rosa, Intan. Eee gue lagi ngobrolin masalah Persiapan Classmeting buat minggu depan, ya kan, Kih?", kata Marini terasa janggal.
Fakih hanya mengangguk.
"Ya udah gue masuk kelas duluan ya...!", kata Marini lagi melambaikan tangannya menjauhi mereka.
Rosa mengerutkan keningnya, Marini kenapa sih? Kemudian mendekati Fakih, "Elo kenapa kok kayaknya menjauh gitu dari gue Kih?" Tanya Rosa kemudian.
Fakih menghela napas, "Nggak kok Cha, gue masih Fakih sama seperti dulu" Balas Fakih.
Rosa menyipitkan matanya, "Mungkin gue terlalu cuek dengan elo ya Kih?, atau mungkin elo marah gara-gara gue sering bertemu sama Ivan? ma'afin gue ya................!" Ucap Rosa lembut.
Fakih tersenyum, "Nggak kok, Cha. Gue tau itu tidak berdasarkan kemauan elo, karna elo nggak akan seperti itu" balas Fakih.
"Trus kenapa elo kayak menjauh?" Tanya Rosa.
"Kemarin gue agak sibuk, gue nggak menjauh dari elo kok" jawab Fakih.
Mendengar jawaban dari Fakih, perasaan Rosa semakin tidak enak, kalimat pertanyaannya di ulang begitu, dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan perasaan Fakih.
"Gini lhoh, Kih. Kalo elo udah bosen atau nggak nyaman dengan gue, bilang aja yah. Gue lebih suka kalo elo jujur, dengan begitu kan urusannya gampang, gue akan pikirkan cara supaya elo nggak bosen" jelas Rosa. "Trus kalo gue lagi nggak ada kabar, atau elo sedang nunggu-nunggu gue, elo sambil beresin kegiatan yang elo ikuti atau ngelakuin hal-hal yang positif ya, jangan cari temen cewe' lain, gue nggak suka kalo ada cewe' yang elo permainkan!" Lanjut Rosa. "Tapi untuk sekarang gue lagi bener-bener mau fokus ke pelajaran, gue nggak mau ngecewain keluarga untuk kedua kalinya, gue nggak mau nilai-nilai gue ma juga nilai-nilai elo turun. Elo paham kan?" Rosa menjelaskan kembali kepada Fakih.
Dan untuk pertama kalinya Rosa bisa leluasa ngobrol dengan nyaman dan berbicara panjang lebar dengan seorang cowo' yang memang kekasihnya sendiri tanpa harus ragu atau malu di lihat orang rame, to semua siswa dan siswi di Sekolah Menengah Pertama ini sudah pada mengerti dan tahu hubungannya dengan Fakih.
Fakih menyunggingkan senyumannya, "Iya, Ocha sayang!. Gue paham, jangan khawatir!" Balas Fakih sambil menggenggam tangan Rosa, Rosa membalas genggaman tangan kekasihnya itu dengan erat dan tersenyum bahagia.
"Pacaran sih pacaran, tapi jangan kacangin gue gitu juga kale!", kata Intan mengerucutkan bibirnya.
Rosa dan Fakih tertawa senang dan gembira.
"Yeeee malah di ketawain, nggak lucu !!, udah ah gie males jadi obat nyamuk. Yuk ah ke kelas". Ucap Intan.
Mereka bertiga balik ke kelas A dan bergegas masuk karena pelajaran pertama buat hari ini sudah hampir di mulai. Duduk di bangkunya masing-masing untuk mendengarkan penjelasan dari guru bidang study olahraga mengenai strategi pelaksanaan classmeeting, karena beberapa hari lagi akan di adakan classmeeting di sekolah kebetulan Fakih yang menjadi ketua pelaksanaan harian yang di laksanakan selama satu minggu kedepan dengan perwakilan per kelas dalam setiap bidang olahraga yang akan di perlombakan.
***
Rosa dari tadi hanya menatap papan tulis tanpa berkedip, tangannya sibuk mencoret-coret kertas, sepertinya tengah memikirkan sesuatu. Kemudian kepalanya menoleh ke belakang, melihat Fakih yang malahan asyik mencoret-coret kertas menggambar sesuatu entah apa yang di lukisnya. Biasanya Fakih menganggunya, tapi ini malah sibuk sendiri.
Rosa mengirimkannya pesan melalui selembar kertas yang di tulisnya dan di sodorkannya ke Fakih,
ROSA PRATIWI
Guru lagi ngajar, jangan malah menggambar dan sibuk sendiri.
Terkirim sampai di tangan Fakih, dan ehhhh yang benar saja, cuma di lihat doang. Rosa berdecak kesal, Fakih kenapa sih, apa salah Rosa?.
Kemudian dia lupakannya sejenak soal Fakih dan mencoba untuk fokus mendengarkan materi pembelajaran yang sedang di paparkan di depan kelas.
Hemm ada apa ya dengan Fakih?
Setelah guru bidang study selesai mengajar, Rosa mengulas ulas kembali materi pembelajaran yang di sampaikan. Karena kalo nggak di ulas kan besok pasti sudah lupa. Ketika masih di jelaskan sih paham, tapi kalo udah ketumpukan materi pembelajaran yang lainnya ya lupa.
Rosa menoleh ke belakang lagi, Fakih sudah tidak ada.
Rosa kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela, melihat murid-murid yang sudah berhamburan di taman sekolah dan kantin sekolah.
__ADS_1
"Elo kenapa, Cha?" Tanya Intan.
Rosa menggigit bibirnya, "Nggak kok. Nggak apa-apa" jawabnya.
"Anak-anak udah mulai pulang tuh, elo nggak pulang?" Tanya Intan Lagi.
Rosa hanya diam, memandang dari kejauhan bangku Fakih yang masih kosong, Ya Tuhan Fakih kemana?
"Nanti aja. Fakih belum balik ke kelas" jawab Rosa.
Intan tersenyum, "Udah. Fakih biar gue yang cari. Elo pulang aja Cha" ucap Intan.
"Beneran Tan?" Tanya Rosa.
Intan mengangguk.
"Makasih, ya Tan!". Ucap Rosa.
Rosa masuk ke kelas mengambil tas untuk segera pulang dan meninggalkan Intan yang pergi entah kemana mungkin masih menepati janjinya ma dia untuk mencari keberadaan Fakih. Tasnya masih ada di bangku, tapi orangnya tidak ada dan dia malas mencarinya, Rosa hanya ingin cepat pulang.
Rosa merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit dan menghirup udara yang masuk melalui celah jendela.
Pikirannya mulai melayang-layang.
***
Cahaya mentari hampir menampakkan wujudnya dengan malu-malu di ufuk timur, teriakan ayam terdengar merdu di telinga.
"Ciyeeee pagi-pagi buta gini udah ngelamunin Rosa, ciyeeee", ledek Bambang Wahyudi dari belakang.
"Apa'an sih. Tumben elo dah sampai di kelas pagi ini Bang!?" Ucap Fakih.
"Biasa lah Kih, lagi kebetulan rajin aja kali ya!" Jawab Bambang.
"Bagaimana pendekatan elo dengan Nur?! Lancar Bang?" Tanya Fakih, Bambang sempat berterus terang padanya kalau dia suka dengan Nur Putri.
"Tahu lah Kih, bingung gue!" Jawab Bambang.
Fakih memutar tubuhnya ke hadapan Bambang, "Asal tahu tau ya, cewe' tuh suka cowo' yang baik-baik, apalagi cewe' model kayak Nur, Dia orangnya baik, jadi elo harus perbaiki diri. Lagi pula kalo di pikir-pikir... Kalo elo baik Nur baik, maka sempurna lah hidup ini...!" Jelas Fakih.
"Hemm maklum otak gue barusan habis di servis, makanya mikirnya bener", kata Fakih sambil tertawa santai.
Fakih membalikkan punggungnya melangkah keluar kelas hendak berjalan-jalan di taman sekolah sebentar. Raut mukanya tampak cerah, ahhh senangnya mau ketemu dengan Rosa.
Datang seorang cowo' menghadangnya dengan tatapan tajam, "mau ngapain?"
Fakih mengabaikan omongannya kemudian menerobos ke samping cowo' itu, langkahnya di percepat balik ke kelasnya lagi. Nggak ada waktu untuk meladeni cowo' sialan itu.
Tinggal sebentar lagi dia akan sampai di tujuan, langkahnya terhenti, seseorang menahan tangannya dari belakang, Fakih menolehkan kepalanya, matanya melotot, arrgghhh cowo' itu lagi. Kemudian tangan Fakih di seret paksa menuju ke belakang sekolah, menjedorkan tubuh Fakih ke tembok kemudian mencengkram kuat kedua tangannya, Fakih masih dengan santainya walau sedikit meringis menahan sakit.
"Pasti elo menunggu Rosa ya?, tanya Ari dengan tatapan tajamnya.
Fakih mencoba tenang, "Emang kenapa?" Tanyanya.
"Cuuiihhh. !!, Rosa nggak pantes dengan elo!" Lanjut Ari menuding Fakih.
"Elo tuh playboy kampungan shock kegantengan!, jadi nggak usah jadi pacar Rosa deh", kata Ari lagi.
Fakih memberontak cengkeramannya, Ari perlahan melepaskannya kemudian dengan mudahnya membanting Fakih ke lantai, hingga membuat kepalanya terbentur keras.
Fakih merangkak mencoba untuk bangun, kemudian mendekati Ari dengan nafas yang memburu, darahnya sudah hampir naik ke ubun-ubun.
"Rosa sudah jadi pacar gue, jadi elo nggak usah ganggu gue dengan Rosa lagi!", teriak Fakih.
Untung nggak ada orang, kalo ada. Pasti udah jadi pada ngumpul melihat kejadian ini.
Mendengar itu, Ari tertawa, "Elo kira udah hebat dan udah lo anggap Rosa milik elo karena sudah jadi pacarnya? Gitu! jangan harap !!!" Balas Ari.
"Terserah !!!, yang penting gue sudah menjadi pacarnya duluan". Kata Fakih sambil berjalan menjauhi Ari, buang-buang waktu saja meladeni orang nggak penting.
"Woooiiiii jangan kabur. cemen banget sih elo Kih, mana kemampuan bertikai elo dah jadi pengecut sekarang?", teriak Ari dari kejauhan.
Fakih tetap berjalan lurus ke depan mengabaikan teriakannya. Bodo amat, yang penting harus cepat-cepat ketemu dengan Rosa udah cukup buat Fakih.
BUUUUG!
__ADS_1
Pot bunga meluncur dengan keras di punggungnya, Fakih melesat ke depan jatuh tertelungkup mencium lantai, pot bunga berukuran besar yang terbuat dari kaca itu pecah berceceran di atas punggungnya. Seketika nyeri menjalar di seluruh badan Fakih. Langkah Ari terhenti di sampingnya, menyunggingkan senyum licik kemudian berjalan menjauhi Fakih.
Dengan susah payah, Fakih merangkak mencoba untuk bangun lagi, nafasnya tersengal-sengal, kemudian duduk berselonjor di dinding sambil memegangi punggungnya.
Tak lama kemudian datang Nazaruddin dengan muka panik, "Kok berantakan begini, kamu kenapa, Kih?" sambil membantu Fakih untuk bangun.
"Antarkan gue ke kelas, gue cuma ingin bersama Rosa saat ini!" Ucap Fakih.
Nazaruddin mengangguk, lantas menuntun Fakih berjalan, tangan kanannya berada di bahu kiri Fakih.
"Elo kenapa bisa jadi begini?" Tanya Nazaruddin.
"Si Ari sialan itu" jawab Fakih.
"Tuh anak nggak ada kapok-kapoknya nyiksa elo Kih, elo juga sih cuma diem aja!" Balas Nazaruddin.
"Biarin, namanya juga sialan. Kalau gue ladenin artinya gue juga sialan kayak dia Zar" jawab Fakih.
Nazaruddin hanya diam sambil senyum-senyum dan langkah mereka terhenti tepat di depan kelas A.
"Udah sampe sini aja, Zar", kata Fakih.
"Elo yakin nggak apa-apa, Kih?" Tanya Nazaruddin.
Fakih mengangguk mantap, melangkah menuju ke dalam kelas dengan menahan nyeri di punggungnya. Nanti kalo udah ketemu Rosa nyerinya juga bakalan hilang sedikit.
Tanpa basa basi Fakih langsung menyapanya, "Rosa...!"
Rosa menatapnya tajam, "Duduk di situ Kih!!!", sambil menujuk sebuah bangku kosong. Fakih mengerutkan keningnya, ada apa ini? Kenapa Rosa jadi kayak macan begitu? Lantas melangkah menuju bangku yang di tunjuk Rosa dengan tertatih-tatih.
Rosa bangkit dari duduknya kemudian berjalan menutup pintu.
"Ada apa dengan elo Kih!?" Tanya Rosa.
"Maksudnya!" Tanya Fakih pura-pura nggak tahu.
Rosa melipat kedua tangannya berjalan mengelilingi Fakih.
"Lihat punggung elo, baju kotor dengan luka begitu! Jawab dengan sejujur-jujurnya...!", kata Rosa lagi sambil menggebrakkan meja.
Mendengar itu, Fakih menghela napas berat, seharusnya dia yang menjelaskan hal itu ke Rosa melalui mulutnya sendiri. Tapi malah sudah keduluan Nazaruddin yang bercerita.
"Apa yang di lakukan Ari terhadap elo barusan Kih?" Tanya Rosa.
"Bukan apa-apa Cha!" Jawab Fakih.
"Elo masih terus mengalah?" Tanya Rosa.
"Ya mungkin cara itu lebih baik demi elo Cha!" Jawab Fakih lagi.
"Demi gue apa? Dengan diri elo nggak dianggap ma Ari?" Ucap Rosa keras. "Elo masih ingat Kih, atas dasar apa elo menembak gue dulu!?!", kata Rosa mengingatkan Fakih.
"Untuk menjaga elo, karena gue mencintai elo Cha!" Jawab Fakih mengulang pernyataan dia sebelumnya dengan Rosa.
"Tapi nyatanya? Buat jaga diri elo sendiri aja nggak bisa kan!" Ucap Rosa lagi.
"Bukan nggak bisa Cha, buat apa nggak ada gunanya gue ambil pusing dengan perbuatan Ari ma gue!" Jelas Fakih.
Rosa melototkan matanya, "Elo kira hati gue ini hati apa? Yang tega melihat kekasihnya di perlakukan seperti itu?!" Tanya Rosa.
"Gue dah janji ma diri gue Cha, kalau masih bisa nggak pake kekerasan kenapa nggak!" Jelas Fakih.
"Terus diri elo mau jadi bulan-bulanan Ari begitu? Terus nanti dia seenaknya dengan gue karena ngelihat elo lemah begitu!" Jelas Rosa.
"Ya mungkin bisa jadi seperti itu Cha!" Jelas Fakih datar dan santai.
Rosa menatap tajam Fakih...!!!
"Mulai detik ini, gue nggak akan pernah melarang elo lagi melakukan hal yang benar, walau pun itu di luar batas kemanusiaan, jaga gue tapi diri elo juga mesti elo jaga karena gue nggak akan pernah terima alasan apa pun itu jika diri elo nggak bahagia ma gue!" Ucap Rosa mulai santai.
Fakih berdiri melangkah mendekati Rosa, menahan nyeri di punggungnya yang masih terasa, jantungnya berdetak tak karuan, kemudian menggenggam tangan Rosa erat sekali.
Rosa membalasnya dengan genggaman yang semakin bertambah erat, Rosa sangat bahagia bisa bersama Fakih dengan cinta apa adanya tanpa ada basa basi yang menjadi formalitas dan hal ini yang terkadang membuat sebuah kejujuran tertutupi tapi tidak dengan mereka. Akhirnya Rosa membawa Fakih ke Ruang P3K untuk mengobati punggungnya yang memar dan ada sedikit bercak darah sisa.
Dari kejauhan Ari dan Ivan melihat hal itu, namun entah apa yang mereka berdua pikirkan.
__ADS_1