
Aku mengenal Elani kala sekolah di SMP 01 Kotabumi, tidak sempat satu kelas tapi Elani selalu berangkat bareng ke sekolah yang kebetulan rumahku selalu di lewatinya. Jadi sedikit banyak aku tahu betul bagaimana Elani menghadapi cewe'. Aduh…!, minta ampun, betul-betul penakut. Kadang lucu, kadang menjengkelkan, kadang menyedihkan, kadang kasihan. Mungkin ada sejarah kelam di memory keluarganya.
Elani, anak tunggal dari orang tua yang cukup berada. Anaknya lumayan gagah, tinggi, hidung agak mancung dan membesar, rambut agak lurus dan sedikit keriting, wajahnya mirip-mirip orang arab pinggiran.
Wajahnya cukup lumayan bila di sandingkan dengan level wajah terbawah dari rata-rata standar. Hanya saja otaknya kadang buat bingung, mau di bawa ke arah mana pikirannya dan perkataannya nggak ada yang tahu, kadang kita ngobrol ke barat ya dia ke timur nanti temu-temunya saat matahari tepat di kepala.
Pelajaran yang pakai hitung-hitungan: aljabar, ilmu ukur sudut, dan pelajaran lain selalu minta bantuanku. Jika ada PR, Elani hanya menyalin dariku. Aku ya… senang-senang saja, wong ilmu yang aku peroleh tidak berkurang, apalagi Elani sering ngajak aku ke kantin: pisang goreng dengan minuman es teh dingin secara gratis aku nikmati.
Cerita bermula di kelas dua SMPN 1 Kotabumi, aku dengan Elani tidak duduk dalam satu bangku denganku, karena aku duduk di barisan paling depan sedangkan dia barisan kedua dari depan bagian sebelah kiri. Pada baris yang sama di bagian kanan duduk gadis yang bernama Ayu Yuniarti, panggilannya Ayu, cewe' yang lumayan cantik dan berkulit putih berambut panjang di kelas dua A. Ayu juga pandai makanya dia bisa masuk ke kelas A, ada yang di sayangkan karena Ayu itu rada sedikit judes.
"Fakih, kenapa yaaa…! kalau lihat Ayu, jantung gue selalu dheg, dheg, dheg, apalagi kalau dia memandang, jantung gue terasa berhenti, gue nggak berani menatapnya. Sebenarnya kepengin ngajakin dia ngobrol, tapi yaaa...! kalau sudah dekat, entah mengapa mendadak perut gue mules. Apakah itu yang disebut cinta ya Kih?!" Penjelas Elani yang panjang membuat perut Fakih juga terasa mules.
"El, masa soal cinta saja mesti dikait-kaitkan dengan gue? Apa elo bener naksir ma Ayu? apakah kamu berani menembaknya?" Ucap Fakih dan herannya malahan Elani menggangguk dengan apa yang baru saja Fakih utarakan.
Antara percaya dan tidak atas anggukannya...!!!
Pada jam istirahat Fakih datangi Ayu...!!!
"Ayu, Elani naksir berat sama elo, dia ingin nembak elo, gimana Yu?!" Tanya Fakih jujur.
"Boleh, tolong sampaikan ke Elani besok ya Kih, tapi di depan kelas, kayak elo menyatakan cinta ma Rosa, jam istirahat kedua, teman-teman harus menyaksikan!" Jawab Ayu yang sungguh tidak terduga, antara percaya dan tidak.
Apakah Ayu juga naksir sama Elani secara diam-diam? Rasa-rasanya? Apa Ayu hanya ingin mempermalukan Elani?
"El, tadi gue udah ngomong sama Ayu, kalau elo mau dan akan menyampaikan perasaan elo ma dia!" Jelas Fakih.
"Terus apa yang harus gue lakukan, Kih?!" Elani malah bertanya.
"Ya terserah elo El, gue heran elo itu mau menyampaikan perasaan tapi nggak tahu apa yang akan dikatakannya!" Ucap Fakih. "Gini aja El, besok elo bawa bunga mawar merah yang masih segar ya, terus hafalkan kalimat. "Ayu gue cinta mati ama elo, maukah elo jadi pacar gue!" Fakih memberikan secarik kertas yang hanya bertulisan kata-kata tersebut. Aku yakin Elani akan menghafalkannya, karena sangat gampang untuk mengingatnya.
Esok harinya, ketika berangkat sekolah, aku lihat mulut Elani komat-kamit sambil melihat secarik kertas yang aku berikan, tangan sebelah kiri membawa mawar merah yang masih segar, entah dimana membelinya. Dengan hati-hati, disimpannya bunga tersebut dalam lacinya.
Jam istirahat kedua masih cukup lama. Selama pelajaran berlangsung, Elani mulai merasa tidak tenang dengan posisi duduknya. Mendekati jam istirahat pertama, keringat sudah mulai membasahi bajunya, sebentar-sebentar nengok Ayu, lihat jam, buka laci, terlihat jelas ketegangan tampak di wajahnya.
Teng…! Teng…! Teng…!
Tanda istirahat pertama terdengar, Elani berdiri dan setengah berlari keluar menuju toilet.
"Fakih, tadi perut gue mendadak mules, kepengin buang air kecil", cepat-cepat gue lari ke toilet. Setelah selesai, kertas cotekannya gue hafalkan lagi, “Ayu gue cinta mati ama elo, maukah elo jadi pacar gue!" Ucap Elani menjelaskan.
Aku merasa kasihan juga jengkel, masa iya... kata yang demikian mudah bisa tidak hafal-hafal. Masih ada tiga pelajaran lagi sebelum istirahat kedua, bahasa Indonesia, aljabar dan ulangan sejarah. Aku khawatir saat ulangan sejarah, jangan-jangan Elani menulis "Ayu gue cinta mati ama elo, maukah elo jadi pacar gue!" Bisa kacau nih urusan.
Teng…! Teng…! Teng…!
Terdengar suara lonceng jam istirahat yang kedua. Aku sudah tidak sabar ingin menjadi saksi bagaimana Elani menyatakan cintanya kepada Ayu.
Teman-teman satu kelas berebut maju ke depan. "Ayoo El, Ayoo El, Ayoo El!
Suara riuh teman-teman memberi semangat kepada Elani dan terlihat dengan jelas kalau baju Elani semakin basah. Ayu dengan tenangnya maju ke depan, berdiri di depan papan tulis.
Aku bisikkan di telinganya "El, ayo maju, berikan mawar merahnya dan katakan kepadanya, "Ayu gue cinta mati ama elo, maukah elo jadi pacar gue!", ingatkan!" Jelas Fakih.
Elani mengambil bunga mawar yang sebagian bunganya sudah mulai rontok, maju dengan keragu-raguan, berhadapan dengan Ayu.
"El, elo mau apa?" Suara berat ditekankan Ayu sambil menatap wajah Elani dengan sorotan mata burung hantu yang akan menakuti mangsanya di kala malam telah datang berkunjung.
Elani menunduk, tangannya gemetar memegang bunga mawar merah, terlihat jelas celananya sudah basah. "Aaa…ku….!!! Aaa….ku...!" Ucapnya gagap.
Ayu balik badan langsung keluar, sedangkan suasana kelas kembali ramai dan gaduh.
Cinta Elani ditolak sama Ayu.
Satu minggu Elani tidak masuk sekolah gara-gara cintanya ditolak Ayu dan sejak itu, Elani tambah grogi kala mengadapi gadis cantik.
Aku sungguh kasihan kepadanya.
Seiring waktu berjalan, minggu berganti pikirku, Elani sudah mulai ada keberanian untuk mendekati Ayu. Ternyata tidak. Elani masih seperti dulu, Ayu hanya cinta khayalannya.
"Fakih, masa sih Ayu berjalan bergandengan dengan Akmaluddin, dia kan tahu kalau gue naksir berat!" Ucap Elani.
"El, lupakan Ayu, coba elo dekatin Dian Eliza, dia itu naksir sama elo. Berani nggak?" Dian Eliza memang tidak secantik Ayu dan tetap sama, Elani juga tidak mempunyai keberanian mendekatinya.
"El, kenapa dengan Dian Eliza?" Tanya Fakih.
"Gue nggak tahu Kih, setiap mendekati Dian, perut gue mendadak mules, kepengin buang air kecil, keringat dingin keluar, gue nggak berani ngomong, Kih?!" Ucap Elani jujur.
***
Ivan menelan ludah, memberanikan diri untuk menyapanya, "Hai...!"
Rosa hanya menyunggingkan senyumannya dan tidak ada niat untuk membalas sapaan Ivan. Yang ada nanti malah gagal move on, Rosa sudah membuang jauh-jauh nama Ivan di hati dan pikirannya. Cukup sulit move on dari Ivan awalnya, karena dia sering berkeliaran di dekat Rosa, maklum kan masih berada dalam satu sekolah. Ivan pernah berpacar dengan Rosa semenjak akhir kelas satu dan berakhir saat di kelas dua Sekolah Menengah Pertama ini.
Tak lama kemudian Fakih menghampiri Rosa setelah balik dari perpustakaan sekolah dengan membawa buku yang di maksud Rosa untuk di ambilkan.
Rosa menerimanya, "Makasih ya, Kih"
Fakih hanya tersenyum kemudian duduk kembali.
"Ohh iya Kih, nanti kalo gue nggak ada kabar, jangan negatif thinking lho. Elo tau sendiri kan kalau gue belajar lama banget." Jelas Rosa.
"Iya. Gue tau, jangan khawatir gadis cantik...!" Balas Fakih tersenyum.
Rosa tersenyum miring, beranjak dari tempat duduknya hendak pulang, melirik sekilas ke Ivan yang raut wajahnya menampakkan ketidak sukaan melihat perlakuan Rosa kepada Fakih dan itu membuat Rosa menahan tawanya.
Ivan mengepalkan tangannya, menghela nafas kemudian menghembuskannya pelan-pelan, mencoba untuk menahan cemburu yang mulai menguasainya.
"Gue pulang duluan ya," kata Rosa melambaikan tangannya ke Fakih.
"Hati-hati kalo ada apa-apa kabari gue ya Cha!." Balas Fakih membuat rasa senang di hati Rosa.
Rosa hanya mengangguk menahan tawanya, seraya bergegas melangkahkan kaki menuju pintu keluar dengan terburu-buru.
Bruukk!
"Awwh..!" Rosa merasakan pantatnya menghantam keras lantai, hingga membuat nyeri saat tidak sengaja menginjak lantai licin yang tergenang air.
"Kenapa bisa ada air disini? Apa tadi malem hujan?," gumam Rosa pelan, seraya mencoba untuk bangun. Namun kedua matanya terhenti di tangan yang memegang kedua lengannya membantu Rosa untuk segera bangun. Tanpa basa basi dia langsung membalikkan badannya ke belakang, "Makasih ya, Kih.." Rosa tersenyum ketika melihat cowo' yang menolongnya, merupakan orang yang dia sayangi.
"Kenapa? Ada hantu? Ya Cha!," suara Ivan terdengar mengejek.
"Ya. Elo hantunya," Rosa tidak menggubris ejekan Ivan.
"Cha, udah nggak usah di ambil pusing!" Ucap Fakih menenangkan kekasihnya.
Ivan menghela nafas berat menatap punggung Rosa yang mulai menjauh, sedangkan Fakih kembali ke perpustakaan untuk mencari materi pelajaran tugas yang harus di selesaikannya, entah kenapa dia nggak rela melihat Rosa pergi. Apa lagi selama enam bulan berjalan ini, tiap hari melihatnya tanpa bisa mengajaknya ngobrol. Tapi mau gimana lagi, di kejar pun pasti cewe' itu akan bersikap acuh dengannya. Dan itu semua salah Ivan sendiri, kenapa coba sengaja memilih cewe' lain dan meninggalkan Rosa. Itu sama saja ingin menyakiti hatinya sendiri. Mentang-mentang cowo' katanya tahan banting, tapi juga punya perasaan yang bisa untuk merasakan kan?
Bukan Ivan namanya kalo hanya menatap kepergian seseorang yang di inginkannya pergi. Dia mempercepat langkah kakinya mengikuti Rosa dan pandangannya kosong, pikirannya melayang-layang memutar memori masa lampau.
Ivan mencoba mengabaikan lamunan itu, memberanikan diri untuk menyentuh tangan Rosa yang sudah di depan mata.
Rosa terhenti, "Tolong tangannya di lepaskan" Dengan hati-hati, Ivan melepaskan tangannya, "Tapi jangan kabur, aku hanya ingin ngobrol."
__ADS_1
Rosa berpikir sebentar, nanti kalo Fakih salah paham gimana? Ketangkap basah ngobrol berdua dengan Ivan, terus di putusin. Ahh tidak. Fakih bukan cowo' yang egois dan nggak pernah negatife thinking dengan Rosa. Akhirnya Rosa mengiyakan ajakan Ivan dan duduk di bangku depan ruang laboratorium sebekah perpustakaan, jadi Fakih masih bisa melihat sebatas mana hubungannya dengan Ivan tanpa harus cemburu karena berada di lokasi yang ramai.
"Bagaimana kabar elo?", tanya Ivan penuh basa basi.
"Seperti yang elo lihat sekarang." Balas Rosa seperlunya.
Ivan bernafas lega karena setelah mengaguminya dalam diam akhirnya bisa ngobrol dengan Rosa lagi.
"Nanti elo bisa ikut jalan-jalan dengan gue?." Ucap Ivan.
Rosa memandangnya dengan tatapan sulit di mengerti. Apa dia bilang? Pacar aja nggak kok berani-beraninya ngajak jalan-jalan.
"Gue nggak bisa," tolak Rosa, dan ia bisa melihat raut kekecewaan di wajah Ivan.
"Kenapa?" Tanya Ivan.
"Kita hanya teman dan elo dah tahu sendiri kalau gue sekarang pacarnya Fakih kan! Jadi tidak perlu gue jelasin panjang lebar!" Jelas Rosa.
Ivan terdiam, kedua sudut bibirnya terangkat ke atas, ternyata Rosa masih sama seperti dulu. Nggak mau di ajak jalan-jalan selain pacarnya.
"Yakin nggak mau?." rayu Ivan.
"Kalo nggak ya nggak." tolak Rosa membuang mukanya.
"Ya sudah kalo nggak mau?!" Ivan meyakinkan kembali jawaban Rosa.
Rosa diam tak menjawab, Dia mendengar helaan nafas dari cowo' yang ada di depannya.
"Sebenarnya tujuan gue ngajakin ngobrol dengan elo hanya ingin.." Ivan menghentikan ucapannya sebentar, membuat Rosa menaikkan alisnya. "Minta ma'af." Lanjut Ivan lagi.
"Ma'af? Untuk apa?," tanya Rosa yang semakin tidak mengerti.
"Iya. Kesalahan gue waktu dulu!" Ucap Ivan.
Apa itu yang namanya kesalahan? Putus nyambung nggak jelas? Tentu saja menurut Rosa itu adalah kesalahan. Apalagi yang namanya hati itu bukan tempat umum yang bisa bebas keluar masuk kapan saja. Rosa tidak mempermasalahkan siapa Ivan, hanya saja dia nggak suka caranya. Kalo emang niat sungguh-sungguh, apapun situasinya ya terus di pertahankan jangan sampai putus.
Dan sekarang Ivan gila ini minta ma'af lagi? Sepertinya ada udang di balik batu. Dia nggak mau terjebak. Oke fixs, pura-pura nggak tau, ikuti saja permainannya.
"Gue mau pulang," Rosa bangkit dari duduknya hendak beranjak. Ivan berhasil menghadangnya.
"Di jawab dulu" ucap Ivan.
Rosa menghela nafas berat dan sudah susah payah melupakan masa lalu, nih Ivan kayaknya sengaja bikin Rosa mengingat-ingat Dia.
"Gue harus cepat pulang. Udah hampir sore," Rosa menerobos ke samping Ivan, melangkah menjauhinya yang masih berdiri di belakang.
"Bagaimana mungkin elo bisa melupakan gue begitu saja.." teriak Ivan, sukses membuat Rosa berhenti. "Gue tau elo sangat membenci gue, tapi... Apa salahnya jika gue merindukan elo!?." kalimat itu langsung spontan meluncur melalui mulutnya Ivan.
"Apa maksud elo?" Rosa masih tetap berada di posisinya. Ivan bungkam, mendadak bingung hendak ngomong apa. "Kita sekarang hanya teman, nggak lebih. Jadi jangan bertingkah di luar batas!. Biarkan gue pulang sekarang." Lanjut Rosa.
"Tapi...!" Ucap Ivan terdiam.
"Stop...!!!, masa lalu adalah masa lalu. Dan sekarang gue nggak akan tertipu lagi dengan omongan elo!!" Balas Rosa sedikit kesal.
Rosa terdiam sejenak.
Mencoba mengatur nafasnya agar tidak marah meledak-ledak. Samar-samar terdengar suara langkah kaki orang di belakangnya mulai mendekat. Rosa tidak berani menoleh, dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan air matanya agar tidak tumpah. Rosa meredam emosinya kemudian mengepalkan tangannya. Memberanikan diri untuk menoleh, "ingat !!, Fakih adalah teman elo. Jangan coba-coba menghianatinya !" Balas Rosa kasar.
Ivan hanya diam, susah menelan ludahnya melihat Rosa yang menatapnya dengan tatapan mematikan. Apalagi saat ini Rosa sedang berjalan mendekatinya, kini wajah mereka hanya berbatasan beberapa senti.
"Elo masih punya perasaan dengan gue kan?" Tanya Rosa tiba-tiba.
Ivan hanya bisa mengangguk karena mulutnya tiba-tiba tercekat. Entah kenapa Ivan merasakan saat ini Rosa berubah menjadi harimau kelaparan yang ingin menerkamnya hidup-hidup.
Lagi-lagi Ivan hanya bisa menatap kepergian Rosa. Melihat raut mukanya yang tiba-tiba berubah seperti ini, Ivan menyimpulkan bahwa selama ini Rosa sangat marah padanya. Mengingat Rosa itu adalah sosok seorang cewe' yang jarang marah.
Dia hanya tidak rela jika Rosa jatuh ke cowo' lain lalu menyakitinya, cukup hanya dia saja yang dulu pernah mempermainkannya. Dan sekarang kedatangannya ingin memperbaiki kesalahannya. Karena menurutnya, yang melakukan adalah yang bertanggung jawab.
Ivan mengusap kasar rambutnya ke belakang dengan kedua tangannya, kaki kanannya bergerak cepat menendang tiang yang ada di sebelahnya.
"Dulu gue memang pengecut!!" Ucap Ivan kemudian.
"Hey, elo mau bikin sekolah kita ambruk?" teriak Fakih yang berdiri agak jauh di belakangnya, baru keluar dari perpustakaan akibat mendengar suara getaran ulah Ivan yang menurutnya sedang mengamuk.
Ivan tidak menggubris omongan Fakih, lalu pergi begitu saja meninggalkannya.
"Tuh anak kenapa? Positif thinking aja, mungkin dia lagi kesurupan." kata Fakih ngomong sendirian.
***
"Ehh, Cha. Elo tadi dapat salam lagi dari Ari," kata Nelly sambil menghampiri Rosa lalu duduk di sampingnya.
Rosa hanya diam, kemudian mengangguk.
"Nggak ada salam balik gitu?" kebiasa'an nih Rosa, selalu saja nggak pernah respon bakalan Nelly yang jadi sasaran pertanyaan Ari.
"Ya salam balik" balas Rosa malas.
"Mending terima aja Ari Cha. Hidup gue nggak tenang nih di titipin salam mulu" ucap Nelly.
"Balikan lagi ama Ivan aja Cha!" Tiba-tiba Nur menimpali.
"Stop !!, kalian apa sudah lupa kalo gue udah punya pacar? Aku tetap pertahankan Fakih. Kalo Ivan, gue udah lupa dengannya dan masalah Ari, dia harus mengatasinya sendiri.
***
Rosa membereskan buku-bukunya yang tergeletak di atas bangku kelas untuk di masukkan ke dalam tas, kemudian berjalan keluar kelas bersama Nelly menuju ke perpustakaan, karena anak-anak pun sudah berhamburan pergi ke taman dan kantin.
Belum sampai di perpustakaan, tangannya di tarik paksa oleh seseorang dari belakang. Rosa berteriak memanggil-manggil Nelly, tapi malah Nelly semakin lurus berjalan ke depan. Mungkin telinganya Nelly perlu di periksakan ke dokter.
Rosa di seret menuju ke kelas, tangannya di cengkeram kuat.
"Mau kamu apa sih?", teriak Rosa.
Ari mendekat, " Elo beneran pacarnya Fakih?"
Rosa menghela napas berat. Nih anak di bilangin nggak percaya banget. "Iya. Jadi jangan ganggu gue lagi" balas Rosa.
"Gue suka sama elo, Cha. Please kamu putusin Fakih ya", Pinta Ari.
"Nggak bisa !!!", teriak Rosa sambil mencoba melepaskan cengkeraman tangan Ari. Tapi malah Ari semakin memperkuat cengkeramannya.
Rosa meringis menahan sakit.
"Ayolah, Cha. Baiklah kalo begitu.... Kamu yang mutusin sendiri atau aku yang mutusin?" Ancam Ari.
Rosa melototkan matanya, "Kamu kira hatiku ini hati apa? Gonta ganti orang seenaknya, kalo Fakih ya Fakih, jadi lepasin cengkeraman ini!!!" Bentak Rosa kuat.
"Fakih itu apanya sih yang elo sukai, lebih ganteng gue lah" ucap Ari sombong.
"Tapi gue sama sekali tidak tertarik dengan ganteng elo itu !!!, mentang-mentang ganteng seenaknya sama cewek, bunglon!!", Rosa menepis cengkeramannya kemudian bergegas pergi menjauhi Ari.
__ADS_1
Tapi Ari menahannya, "Please, Cha. Gue suka sama elo dari dulu, elo nggak kasihan gitu dengan gue?" Pinta Ari.
Rosa membalikkan tubuhnya, menatap tajam Ari, "Dan elo nggak kasihan dengan gue kalo gue gonta ganti cowo'?" Ucap Rosa sengit.
Ari terdiam, memikirkan kata-kata untuk membalas Rosa, akan tetapi dia sudah beranjak pergi, lagi-lagi Niko berhasil menghadangnya. "Gue akan terus mengejar elo!" Ucap Ari lagi.
Rosa menghela napas berat, nih anak minta di sleding kayaknya. "Cewe' yang lebih cantik dari gue disini banyak kan? Jadi, elo bisa minggir sekarang?" Bentak Rosa.
"Sayangnya nggak bisa!" Jawab Ari.
Rosa berpikir sebentar, "Cewe' seksi disini banyak kan? Jadi Ari tolong minggir sekarang!!!" Bentak Rosa.
"Pokoknya nggak bisa!" Ari bersikeras.
Rosa terdiam sejenak, memikirkan kata-kata untuk mengusir Ari.
Dari belakang Ari, seorang cowo' datang menarik tangan Rosa dan Ari pun jatuh tersungkur di lantai, mencoba untuk berdiri kemudian berlari mengejar dan meraih tangan Rosa lagi.
Rosa memberontak, tapi Ari semakin menyeretnya. Tangan Ari di tepis cowo' tersebut dan Ari pun yang sekuat tenaga untuk menangkap tangan Rosa terjerembab jatuh ke depan.
"Woiiii, kalo baru pacarnya jangan blagu!!!", teriak Ari dari kejauhan dan belum bangkit dari jatuhnya.
Mereka mengabaikan teriakan Ari, berlari melintasi beberapa orang yang berlalu lalang, membuat semua pasang mata menatapnya heran dan sampailah mereka di kantin.
" elo nggak apa-apa Cha?", tanya Fakih sambil santai.
"Gue nggak apa-apa kok Kih" balas Rosa.
"Lain kali kalo elo di orang lagi, teriak yang kenceng, atau bilang ma siapa suruh panggil gue, gue pasti akan datang". Jelas Fakih.
"Iya deh. Makasih ya, Kih" balas Rosa.
"Untuk apa?" Tanya Fakih.
"Menyelamatkan gue dari Ari tadi?!" Jawab Rosa.
Fakih tersenyum, "Sudah tugas gue sebagai pacar elo Cha, untuk menjaga lo!" Lanjut Fakih.
Fakih hanya membalasnya dengan senyuman.
Mereka terdiam, sibuk dengan kesibukannya masing-masing, sebenarnya Rosa ingin sekali menanyakan sesuatu kepada Fakih, tapi takut Fakih akan mengacuhkannya. Tapi tidak... Fakih bukan cowo' yang seperti itu.
Rosa memberanikan diri untuk bertanya, "Emm...Kih!" Ucap Rosa.
Fakih menoleh, "Kenapa?"
"Emm... Elo nggak menyesal punya pacar seperti gue?", kata Rosa berharap Fakih tidak mengacuhkannya.
Fakih mengerutkan keningnya, "Emangnya ada apa?"
"Gue takut kalo elo menyesal Kih setelah tahu diri gue!" balas Rosa.
Fakih tersenyum, "Nanti kalo udah waktunya, elo kan tau sendiri", tambah Fakih.
Rosa terdiam sejenak. Maksudnya apa?
***
Pagi-pagi sekali Rosa sudah bersiap ke sekolah, memakai baju warna pink dengan membawa buku di tangannya, biar kayak anak pintar, eehh Rosa kan emang pintar.
Rosa semakin mempercepat langkah kakinya, perasaannya mulai nggak enak, takut dua cowo' rada gila datang, siapa lagi kalo bukan Ivan dan Ari.
Seorang cowo' menahan tangannya dari belakang, Rosa menghentikan langkahnya, lelaki itu berjalan menuju hadapannya. Kemudian menyunggingkan senyumannya.
"Ivan lagi Ivan lagi, Minggir !! Gue mau masuk kelas", kata Rosa.
"Kan hari ini nggak ada jam pelajaran, gurunya pada rapat!" Ucap Ivan.
"Trus kenapa?" Balas Rosa.
"Gue pengen ngobrol sama elo, Cha", pinta Ivan.
"Malessss, ngirit suara", jawab Rosa ketus.
"Ihhh elo itu ya, masih aja gemesin kayak dulu!" Balas Ivan.
Rosa hanya diam perasaan malas yang hadir di hati Rosa menanggapi orang setengah gila di hadapannya ini.
Datang seorang cowo' lagi dari belakang memegang tangan Rosa, "Yuk masuk ke kelas!"
Tuh kan bener, 2 orang rada-rada gila pada ngumpul, ohh ya Tuhan...!!!
Ivan menepis tangan Ari, "Nggak ada pegang-pegangan" ucap Ivan.
Ari mendekati Ivan, "Oh... Elo Van!. Elo kemana aja sekarang?" Balas Ari.
Ivan melototkan matanya, "Kenapa emangnya Ri?!" Ucap Ivan.
"Ehh biasa aja kali nggak usah nyolot gitu !!!", teriak Ari, hingga semua orang menatapnya.
"Siapa yang nyolot hah???", teriak Ivan nggak kalah kencang.
Ari mendorong Ivan, "Itu elo... Paham!" Ucap Ari.
Ivan menatapnya tajam, "Nggak usah ngajak ribut" balasnya.
"Ehh elo tadi yang ngajak ribut duluan" balas Ari.
"Kalian bisa diem nggak !!!!", teriak Rosa melototkan matanya kemudian pergi meninggalkan mereka.
Ivan mengejarnya, di ikuti Ari dari belakang.
"Cha...! tunggu, gue cuma pengen ngobrol sebentar ma elo!" Teriak Ivan.
Rosa berhenti, "Apa lagi?"
Ivan mendekat, "Emm gue minta ma'af"
"Ehhhh gue yang akan ngobrol dengan Rosa!", serobot Ari.
"Gue nggak ada urusan sama elo, jadi harap elo bisa pergi?", Kata Ivan dengan nada rendah.
"Nggak bisa" jawab Ari.
"Jangan pancing emosi orang" balas Ivan.
Ari menepuk pundak Ivan, "Ayolah, kawan. Dulu kan elo jagoan!"
Ivan mengepalkan tangannya, matanya melotot.
Ari balas melotot, "Apa? Mau nonjok?" Ucapnya.
__ADS_1
Tak seberapa lama kemudian Fakih datang melerai mereka, Ivan dan Ari merasa tidak enak dengan kehadiran Fakih kabur satu per satu. Rosa pun yang melihat kedatangan Fakih bergegas pergi masuk ke kelas.