BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI

BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI
BAB 52 : HUBUNGAN ASMARA


__ADS_3

Bel pulang berbunyi nyaring. Seluruh siswa Sekolah Menengah Pertama Kotabumi berhamburan keluar dari kelas setelah guru yang mengajar mereka memberikan ucapan penutup.


"Tan, gue anterin pulang yuk. Loe kan udah damai sama gue." Ucap Nazaruddin kepada Intan.


"Gimana ya. Tapi gue tuh udah minta di jemput!" Tolak Intan halus.


"Batalin aja Tan, lagian Nazaruddin nawarin loe sebagai tanda pertemanan tahu. Masa loe tolak sih." Sela Bagas seraya merangkul Ayu.


"Guys, gue duluan yah. Mau pergi bareng Nelly. Ok...!" Ujar Ari.


"Mau kemana loe, kencan nggak ngajak-ngajak. Bahaya tahu pergi berdua." Ucap Bagas.


"Kaya loe nggak aja sama Ayu." Jawab Ari sekenannya.


"Apaan sih loe Ri. Kok gue di bawa-bawa." Protes Ayu.


"Iyalah. Loe berdua kan sering pergi berdua tanpa pengetahuan kita-kita. Ngfak pengin di ganggu ya." Goda Ari seraya menggenggam tangan Nelly.


"Sialan loe. pergi sana, bosen gue ngelihat loe mulu." Ujar Bagas.


"Jangan gitu dong Gas!" Goda Ari mencolek lengan Bagas.


"Hih, amit-amit cabang betetan dah. Loe homo yah Ri, jangan gue dong yang jadi sasarannya." Protes Bagas seraya mengumpat di belakang Ayu.


"Ihhh, Ari." Bentak Nelly yang tidak terima.


"Peace sayang. Gue sayang sama elo kok. Tadi cuma bercanda. Suwer deh." Ucap Ari ketakutan.


"Mampus loe. Makannya jangan jail jadi orang." Ucap Intan ngakak.


"Ari ternyata selingkuh sama bagas Nel." Tambah Zahra juga ikutan ngakak.


"Nggak sayang. Jangan dengerin mereka ya. Tadi cuma bercanda. Kita pergi aja yuk." Ajak Ari.


"Hahaha...! Ari ternyata bukan pria tulen." Sela Nazaruddin yang tadi sudah sempat ngakak abis.


"Diem loe. guys gue cabut dulu yah. Bye semua." Pamit Ari seraya menarik tangan Nelly.


"Gue juga deh... Guys, gue cabut dulu ya. Bye." Pamit Bagas seraya menarik tangan Ayu.


"Tan, gimana? Loe mau kan gue anter pulang?" Tanya Nazaruddin lagi.


"Iya deh. Tadi supir gue bilang katanya mau jemput mamah juga. Tapi gue nggak ngrepotin?" Ucap Intan kemudian.


"Di jamin nggak Tan!." Sela Hendry. "Bener nggak sob?" Lanjutnya.


"Yah begitu lah pokoknya." Jawab Nazaruddin malu-malu.


"Ya udah deh, Ra. Gue pulang dulu ya...!" Pamit Intan.


“Iya sob. Gue juga pamit dulu.” Tambah Nazaruddin.

__ADS_1


"Bye Zahra." Lanjut Nazaruddin seraya menerik tangan Intan dan meninggalkan tempat itu.


"Ra, loe di jemput nggak." Ujar Hendry.


"Nggak Hen, hari ini gue pulang naik taksi." Jawab Zahra.


"Ya udah, bareng gue aja yuk." Ajak Hendry.


"Mmmm, nggak ngrepotin?" Tanya Zahra.


"Nggak kok, loe mau nggak?." Tanya Hendry.


"Ya udah deh. Gue mau.” Jawab Zahra seraya tersenyum manis.


"Ya udah, pulang yuk." Ajak Hendry dan segera beranjak menuju ke parkiran motornya kemudian melajukannya dengan Zahra yang berada di belakangnya.


"Pegangan Ra. Gue mau ngebut ntar loe jatuh" Suruh Hendry.


"Tapi Hen!?." Zahra Ragu.


"Udah, pegangan aja. Ntar loe bisa jatuh." Lanjut Hendry, menarik tangan Zahra agar mau melingkar di perutnya.


Terjadi keheningan di antara keduannya selama di perjalanan. Hanya bunyi beberapa kendaraan yang lalu lalang di jalan itu. Mereka berdua terlihat kikuk dalam menghadapi satu sama lain. Jantung mereka terasa berdetak lebih kencang satu sama lain.


Entah kenapa?


***


"Sayang, elo tahu nggak bedannya elo sama Pulau Bali?" Ujar Bagas.


"Nggak tahu. Emang apa?" Tanya Ayu seraya mengaduk minumannya.


"Mmm, kalau Pulau Bali itu milik Negara yang banyak sekali di kunjungi turis dari negara lain, kalau elo hanya milik gue seorang dan yang berkunjung hanya hati gue!" Ucap Bagas mengakibatkan kedua pipi Ayu menjadi merah merona.


"Gombal banget sih Gas." Balas Ayu.


"Nggak apa-apa dong. Yang penting elo seneng. Iya kan? Sampe merah gitu pipinya. Hayoooo...!" Balas Bagas.


"Udah deh. Jangan godain gue terus. Ngambek nie." Sungut Ayu pura-pura ngambek.


"Ngambek kok pake pengumuman sih. Ada-ada aja deh elo Yu...!" Canda Bagas.


"Biarin, yang jelas gue ngambek. Gue benci sama elo Gas!." Lanjut Ayu.


"Jangan dong sayang. Jangan ngambek yah, juga jangan benci sama gue. Kalau masih ngambek gue kasih ciuman deh." Ancam Bagas seraya mendekatkan wajahnya kearah Ayu.


"Apaan sih. Iya deh, gue nggak ngambek." Kalah Ayu. "Dari pada gue di cium sama elo!." Lanjutnya.


"Eh, jadi nggak mau gue cium? Beneran? Bukannya waktu pertama kali gue cium elo, elo seneng yah. Pake sok-sok nggak mau segala lagi." Goda Bagas.


“Apaan sih, Ihhh. Nggak usah di bahas deh." Balas Ayu senang.

__ADS_1


***


Sementara di sebuah taman yang terdapat sepasang sejoli ini sedang duduk di rumput yang tidak jauh dari permainan anak-anak yang memang terdapat di sana.


"Gue seneng banget lihat mereka jadi happy gitu deh Nel, ceria banget anak-anak itu bermain dan bercanda lepas bebas tanpa ada beban" Ujar Nelly seraya menyandarkan kepalanya ke bahu Ari.


"Ya Nel, itulah dunia anak-anak yang polos tidak mengenal masalah apa pun, mereka tahunya hanya bagaimana caranya membuat hati mereka senang!" Lanjut Ari menimpali kata-kata Nelly.


"Gue juga seneng banget. Kenapa elo suka sama anak kecil." Tanya Ari seraya merangkul kekasihnya itu.


"Karena mereka itu lucu dan berbuat seadanya tanpa ada janji yang diingkari, tanpa ada kata yang didustai dan kepolosan mereka terbukti keluar dari dalam hati bukan hanya rekayasa!" Ucap Nelly lirih.


***


"Tan udah sampai...!" Ujar Nazaruddin kepada Intan ketika mereka sudah sampai di depan rumah Intan.


"Eh iyah. Makasih." Ucap Intan seraya turun dari motor Nazaruddin. "Mau mampir dulu nggak?" Lanjutnya.


"Nggak usah deh, gue ada urusan." Tolak Nazaruddin halus.


"Oh, ada janji sama cewe' loe ya...?" Lanjut Intan.


"Nggak kok, gue nggak punya cewe'. Gue udah putus." Balas Nazaruddin.


"Oh, mau nyari lagi ceritanya?" Tanya Intan berkesan menyindir.


"Tan, loe tuh kenapa sih? Gue kan emang udah minta maaf sama loe. masa loe masih dendam sama gue? Loe masih nganggep gue temen loe kan?" Balas Nazaruddin.


"Iya, loe sekarang udah jadi temen gue. Tapi bukan berarti sifat playboy loe ilang kan?" Balas Intan.


"Gue emang lagi nyari cewe' dan gue udah nemuin tuh cewe'. Gue janji, setelah gue bisa dapetin tuh cewe' gue akan rubah sifat gue yang suka main-main sama cewe' lain deh!" Jelas Nazaruddin.


"Oh gitu ya...! Selamat deh kalau gitu. loe buru-buru nembak dia deh. Dari pada makin banyak cewe' yang selalu loe bikin mereka patah hati." Ucap Intan melipat tangannya di dada dan cuek.


"Iya. Gue akan buru-buru nyatain perasaan gue sama dia, setelah gue dapetin jawaban iya dari dia, gue janji gue akan ngilangin sifat playboy gue." Jelas Nazaruddin.


"Kenapa gue nggak suka gini ya? Nazaruddin mau nembak cewe' lagi, Aduh Intan, loe nggak mungkin suka sama playboy tengik kaya dia. lupakan Intan!" Batin Intan seraya memasuki rumahnya.


***


Sementara itu, kembali ke dalam keadaan dimana Hendry dan Zahra yang terjadi keheningan antara mereka berdua selama berada di perjalanan. Mereka memilih untuk diam dan menikmati satu sama lain. Jantung mereka berdua serasa berdetak lebih kencang. Ada rasa nyaman yang menyelimuti hati mereka berdua.


Setelah beberapa menit mereka sampai di sebuah rumah yang sangat mewah bercat perpaduan antara putih dan kuning mengakibatkan rumah itu bertambah asri.


"Thanks yah Hen, Loe udah mau nganterin gue." Ucap Zahra gugup.


"Iyah sama-sama." Jawab Hendry singkat nggak kalah gugupnya.


"Ehmmm, mau mampir ke rumah gue dulu nggak?" Tanya Zahra.


"Terima Kasih deh Ra, lain waktu ya!" Ucap Hendry menolak dengan berat kerena rasa gugup yang membuat Hendry merasa kurang nyaman.

__ADS_1


“Gue nggak tahu Hen, kenapa rasa ini muncul, setiap gue di deket loe, pasti gue ngerasa nyaman, maafin gue karena udah berani punya rasa ini buat loe, tapi gue mohon ijinkan gue mencintai loe dengan cara gue sendiri!" Gumam Zahra setelah Hendry berlalu pergi meninggalkan dirinya sendiri.


__ADS_2