
Rosa terbangun dalam tidur yang tidak begitu terlalu nyenyak dan melihat jam dinding yang menyatakan bahwa sekarang sudah pukul 07.00 Waktu Indonesia Barat. Rosa sepertinya sudah pasrah untuk tidak berangkat sekolah karena badanku terasa lemas, pendangan matanya lurus keatas melihat langit-langit kamar yang di sana ada banyak hiasan bintang dan bulan yang masih menyala sinarnya.
Rosa mulai berimajinasi dengan perjalanan pikirannya, melalang buana keliling dunia membayangkan sebuah wajah, wajah milik Fakih Alfarizi.
"Gue tidak percaya bahwa kami telah putus. lalu, sekarang hati gue benar-benar terluka. Jadi seperti ini akhirnya?" Batin Rosa.
Rosa memalingkan wajahnya melihat ke arah jendela dan cahaya mentari pun malu-malu untuk masuk ke dalam kamar. Rosa bangun dari tempat tidur dan melihat ke luar dan terlihat jalanan yang basah dengan di imbangi rintikan hujan yang turun. Membuat kaca jendela mengembun karena hembusan nafas berat cewe' cantik itu. Rosa melihat sekeliling, entah seperti berharap ada seseorang yang berdiri di bawah dan berharap itu Fakih Alfarizi.
"Sepertinya gue masih sayang. Tidak...! Gue akan melupakannya. Karena cinta memang sudah seharusnya untuk saling percaya. Jika salah satunya mematahkan kepercayaan itu, mempertahankannya hanya sebuah kesia-siaan belaka...!" Batin Rosa kemudian.
"Badan kamu panas Cha?" Mamah masuk ke kamar dan memegang kening anak gadisnya itu dan melihat mamah seperti ini Rosa juga menjadi khawatir.
"Ngga mah, cuma sedikit pusing aja" jawab Rosa sambil mengeluarkan senyum ke mamah. Berharap mamah tidak begitu khawatir lagi terhadapnya.
"Turun yuk, mamah sudah buatkan kamu bubur ayam kesukaanmu!" ucap mamah sambil merangkul lengan Rosa.
"Iya mah" jawab Rosa kemudian.
Saat mamah jalan keluar kamar tiba-tiba mamah masuk lagi dan berkata "Oh iya tadi Fakih telephone mamah...!" Jelas mamahnya.
Rosa hanya terdiam. Mamah terlihat hal tersebut kebingungan dan akhirnya Rosa turun ke bawah untuk makan dan minum obat.
Saat Rosa masuk ke kamar, dia mendapatkan telephone dari salah satu sahabatnya.
"Cha, elo kenapa kok nggak masuk sekoalh? Elo sakit ya? Tadi gue denger dari temen-temen kalau elo sudah putus sama Fakih kenapa bisa coba elo ceritain dong...?!" Ucap Intan sahabat dekat dia dan Fakih dari seberang sana.
"Gue nggak apa-apa Tan, gue cuma nfgak enak badan aja, Iya gue putus sama dia. Besok kalau gue sudah masuk sekolah bakalan cerita ke elo...!" jawab Rosa, saat Rosa menerima telephone dari Intan, bibi Ijah mengatakan kalau ada seseorang yang mencari di luar.
Rosa segera turun ke bawah dan melihat siapa yang ada di luar. Sesaat aku membuka pintu Rosa begitu terkejut karena seseorang itu adalah Fakih Alfarizi.
"Elo kenapa nfgak masuk sekolah Cha?" Ucap Fakih dengan raut wajahnya yang begitu khawatir.
Rosa melihat rambut Fakih yang sedikit basah karena rintikan hujan. Dan baju seragam sekolahnya yang basah karena dia melaju kesini menggunakan motornya.
Segera aku mempersilahkannya masuk.
"Kok elo nfgak sekolah?" Lanjut tanya Fakih.
"Iya gue bolos." Ucap Rosa singkat.
"Gue kepikiran elo, gue takut elo kenapa-kenapa” Ucap Fakih.
"Ya tapi jangan kaya gini juga, nanti kamu bisa sakit Kih!" ucap Rosa khawatir juga dengan keadaa Fakih sekarang. "Sebentar Kih, gue kebelakang dulu mau ambil handuk dan buatin minum buat elo!" Jawab Rosa segera.
"Nggak usah Cha, gue cuma ingin menanyakan sesuatu!" Fakih menahan Rosa dengan memegang tangannya.
Akhirnya Rosa duduk kembali di sofa ruang tamu. "Elo juga bisa kena marah Pak Sigit Suparaman, Kih!" Ucap Rosa.
"Biarin Cha, lagian juga gue baru pertama kali bolos kan! jawab Fakih sambil meledek Rosa.
Rosa tanpa sengaja tersenyum dan entah kenapa Rosa seperti melupakan hubungannya yang telah berakhir dengan Fakih. Keheningan kemudian muncul dan akhirnya Fakih mengawali pembicaraan.
" Cha, elo nggak papa?" Tanya Fakih.
"Beneran gue nggak apa-apa" Rosa menjawabnya dengan senyum kecil.
"Gue tahu semua yang …!" Ucap Fakih terhenti.
"Iya kita putus, bukan karena elo. Itu karena gue" balas Rosa tegas.
Fakih hanya terdiam dan kemudian dia memandangi Rosa...!!!
__ADS_1
Rosa hanya diam dan heran, apa maksud dari Fakih?. Kemudian Fakih pulang dengan melambaikan tangannya dari atas sepeda motornya. Rosa melihat senyum dari bibirnya yang begitu tulus.
Rosa rasanya mulai malas dengan apa yang telah terjadi dan dia memejamkan matanya dan setidaknya cukup menghilangkan pikiran tentangnya.
***
Tidak terasa awan yang tadinya berwarna jingga kini sudah berubah menjadi warna biru tua yang hampir pada titik nol warna hitam. Dengan gelapnya langit di atas sana namun tidak sendirian langit itu ditemani sesuatu yang begitu bercahaya. Tidak hanya satu melainkan ribuan bahkan milyaran.
Rosa terus memandangi ke arah langit dan terlihat dia mulai bosan seharian penuh berada dalam kurungan ini. Rosa seperti terpenjara karena amarahnya sendiri kekesalan sendiri. Akhirnya Rosa bangkit berjalan ke luar rumah ingin mencari udara segar dengan berjalan ke sebuah supermarket yang ada di sekitar rumahnya itu.
Rosa membeli beberapa minuman segar dan membayarnya di kasir.
"Jadi totalnya tiga puluh tiga ribu mba!" Ucap Mas Kasir.
"Nih Mas uangnya...!" Ucap Rosa seraya memberikan uang yang di sebutkan oleh mas kasir tadi.
"Terima Kasih mba!" Jawab mas kasir itu.
Rosa keluar dengan mengambil eskrim dari kantong kresek dan duduk di bangku yang ada di depan supermarket. Rosa melihat jalanan ramai dengan mobil dan motor yang lalu-lalang. Sambil memakan eskrim yang lama kelamaan mencair juga.
Rosa mengingat Fakih lagi. "Kenapa dia tidak mengirim pesan atau menelepon gue. Apakah dia benar-benar tidak punya hati?" Batin Rosa. Rosa semakin kesal dan dalam hati dia berkata "Jika Fakih mengirimi pesan atau menelepon, gue tidak akan meresponnya." Lanjut batin Rosa.
Sesaat Rosa sedang menghabiskan eskrimnya, dia melihat seseorang cowo' yang sangat dia kenal, berjalan dari arah sudut jalab menuju sesuatu tempat. Cowo' itu berjalan begitu cepat dan tanpa memperhatikan apa yang ada di depannya. Rosa kaget karena dia adalah Fakih Alfarizi.
"Mau kemana dia?" Ucap Rosa lirih.
Rosa mulai mengejarnya dan membututinya dari belakang. Seketika dia menyebrang dan menuju Rumah Sakit Umum Daerah Mayjen HM Ryacudu Kotabumi.
"Hah Rumah Sakit? Siapa yang sakit?" Rosa mulai penasaran dan akhirnya memutuskan untuk terus membututi Fakih dari tempat yang lumayan jauh.
Dengan pakaian yang cukup sederhana berkesan seadanya, Rosa hanya menggunakan kaos panjang dan celana panjang dan terus berjalan membututi Fakih dan jangan sampai kehilangan Fakih. Rosa mengikutinya memasuki tiap-tiap lorong yang cukup gelap. Karena banyak orang Rosa hampir saja kehilangan jejaknya, beruntungnya Rosa masih bisa menemukannya. Akhirnya Fakih berhenti di salah satu ruangan dan dia pun masuk ke ruangan itu. Rosa melihat dari luar ruangan dengan mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup dengan rapat.
Saat Rosa sedang serius mengintip, tiba-tiba dari belakang ada yang menyentuh pundak Rosa. Rosa langsung kaget dan spontan lengannya menyenggol pintu ruangan itu dan akhirnya terbuka lebar. Semua mata yang ada di dalam ruangan tertuju pada Rosa termasuk Fakih. Fakih merasa heran dengan adanya Rosa yang tiba-tiba. Kalau saja tangan seorang suster tidak mengagetkan Rosa hal ini tidak akan terjadi.
Ibu Fakih menghampiri Rosa dengan mata yang merah dan berkaca-kaca.
"Ibu, tidak apa-apa?" Tanya Rosa.
"Ibu nggak apa apa Nak Ocha, kamu kok di sini tadi bareng Fakih yah Nak?" Lanjut mamahnya Fakih dengan pertanyaannya.
Rosa merasa tidak enak dan mulai kaget karena melihat bahwa yang terbaring adalah papahnya Fakih beliau sedang kritis dan kini hanya doa saja yang bisa menyelamatkan. Rosa merasa sedih dan merasa kasihan kepada Fakih.
Setelah beberapa lama ada di dalam ruangan, Fakih mengajak Rosa untuk keluar dari ruangan. Rosa dan Fakih duduk di bangku taman yang ada di Rumah Sakit Umum Daerah Mayjen HM Ryacudu Kotabumi itu. Rosa melihat matanya berkaca-kaca dengan begitu jelas karena sorotan lampu tiang yang berdiri kokoh di belakang bangku. Rosa terus memperhatikan dan memegang tangannya.
"Fakih maafkan gue!" Jawab Rosa memecahkan keheningan.
"Nggak apa-apa Cha, gue baik-baik aja" balas Fakih.
"Elo bohong. Gue nggak tau apa yang sedang terjadi di keluarga elo, elo harusnya cerita dan berterus terang sama gue!" Balas Rosa sedih.
Fakih lantas menggantikan ucapan Rosa, kini tangan Rosa yang di genggamnya "Gue baik-baik saja kok Cha, gue tau elo pasti kawatir kan sama gue?" Ucap Fakih lirih.
"Iya la, gue jelas kawatir banget sama elo. Gue berharap papah elo bisa sembuh ya!. Sudah jangan sedih terus Kih, yang kita lakukan sekarang hanyalah berdoa, mengharapkan kesembuhan papah elo!" Ucap Rosa menguatkan semangat Fakih.
"Makasih ya Cha, gue nggak tau kalau nggak ada elo!" Fakih tersenyum pada Rosa.
Rosa membalas senyumnya dan merasa bersalah padanya karena sudah berfikir yang tidak-tidak karena Fakih jarang bahkan tidak pernah menghubunginya belakangan waktu ini.
"Jadi elo nggak sekolah, karena gue?" Tanya Fakih.
"Emm mungkin!" ucap Rosa, berusaha menahanya kemudian melanjutkannya lagi "Nggak kok, Kih" Lanjut Rosa.
__ADS_1
Dan itu membuat Fakih tertawa dan mencubit pipi Rosa. Karena sudah hampir malam pukul 21.00 Waktu Indonesia Barat Rosa bergegas pulang dan pamit pada ibunya fakih dan Rosa mulai berjalan cepat menuju rumahnya, karena kebetulan rumah Rosa dekat dengan Rumah Sakit Umum Daerah Mayjen HM Ryacudu Kotabumi itu.
Sesampainya di rumah, mamah menanyakan Rosa pergi kemana saja karena tadi dia hanya pamit untuk ke supermarket saja. Rosa menjelaskan panjang lebar pada mamah dan akhirnya Rosa masuk ke kamar. Di dalam kamar ini Rosa membayangkan Fakih lagi. seketika Rosa merasa berpacaran lagi dengan Fakih dan melupakan masalah yang kemarin. Sepertinya Rosa sudah terlalu cepat memutuskan sesuatu masalah.
Di halaman sekolah terlihat dedaunan kering berjatuhan dan berserakan pula. Terlihat tukang sapu sekolah sedang bekerja membersihkan sampah daun sisa hujan semalam. Rosa berjalan menelusuri koridor dan masuk ke ruang kelas 2A. Rosa merasa sudah lama sekali tidak melihat suasana di kelas ini padahal hanya satu hari saja tidak masuk sekolah.
Rosa menduduki di bangku yang biasanya dia tempati, terlihat sudah beberapa orang di dalam kelas ada yang membaca buku bahkan mengerjakan tugas. tetapi Rosa tidak melihat Fakih. Rosa mengambil novel yang dikeluarkan dari tas dan kemudian mulai membacanya hingga dia tersadar Nelly menaruh tasnya di meja.
"Cha, gimana kabarnya, elo udah sehat?" Tanya Nelly.
"Iya nih Nel!" Rosa menjawab dengan memasukan kembali novel yang tengah di bacanya ke dalam tasnya.
"Syukurlah, terus Fakih gimana?" tanya Nelly yang begitu kepo.
"Iya gue udah putus, tapi......!" Rosa menjeda ucapannya karena merasa bingung harus bagaimana dengan situasi yang seperti ini.
***
Masih kusimpan rapi, kisah yang indah dalam sebuah catatan. Sudah lama aku tak membuka setiap jilidnya. Catatan itu seakan melukis semua kenangan. Ya walaupun, Aku tidak begitu banyak mengingat setiap kejadian. Setidaknya sudah tersusun dalam deretan kata. Kau tau, semua ini kutulis untuk mengingatmu sewaktu-waktu.
Tahun 1994...!
Kala itu, hujan turun begitu pelan. Aku menikmati setiap rintiknya dengan secangkir kopi pahit. Menenggelamkanku dalam kesedihan. Tahun 1994 penuh dengan cerita, dimana Allah SWT mempertemukan kita di antara banyak pilihan, walaupun kau memilih untuk mengakhirinya. Tetapi hujan masih saja betah. Seperti halnya rindu yang selalu kutitipkan di setiap percikannya.
Fakih Alfarizi ini tentangmu, pagi ini milikmu.
Hujan terus membasahi bumi. Seiring dengan irama lagu favoritmu. Kau perlahan masuk dalam ingatanku. Terserah kau saja. Aku ingin segera mengakhiri. Tapi egois sekali sepertinya. "Biarkan saja ini berlalu dengan semestinya!" itu kan katamu. Tetapi, tak semudah yang dibayangkan ternyata. Bagaimana bisa aku melupakan kejadian yang membuat aku kehilangan arah. Tersesat, rindu, menangis dan selalu saja begitu, lagi dan lagi.
Apakah kamu tidak mengerti, sedikit saja. Perasaan yang aku ciptakan hanya untukmu, semua itu tentangmu. Sedikit saja kamu mengerti, bolehkan?
Apa aku salah?
Jika aku selalu memintamu untuk kembali, dan duduk berhadapan denganku, hanya sekedar memutar lagu favoritmu, ketika sore kembali datang. Membuatkan secangkir kopi untukku. Bercerita tentang bagaimana kerasnya dunia, bagaimana bertahan hidup dan bagaimana kita bisa jatuh cinta? Ya.
Itu lucu bukan...!
Cuma sebatas itu yang aku mau dan mengapa kamu tidak berbicara sepatah kata sekarang. Atau kamu sudah begitu bahagia, sampai kamu benar benar lupa, ada aku yang selalu menantimu kembali. Atau kamu sengaja membuat aku menangis. Biar tahu apa itu luka, apa itu air mata. Kamu terlalu banyak bercanda.
Apa tidak ada cara lain membuat aku menangis?
Hey Rosa...! Apa kabar kamu hari ini, Tadi aku melihatmu tersenyum. Kau tau? Aku begitu bahagia. Kutulis catatan pertamaku. Menghiasi kertas putih dengan namamu. Apa ini jatuh cinta? Dan membiarkan rasa ini untuk mengungkapkan. Walaupun tanpa ada satu kata yang tercipta.
Bahagia itu melebihi semesta dan seisinya...!
Bolehkan aku ungkapkan sedikit kata yang belum pernah aku sampaikan kepada siapapun di dunia ini. Sedikit saja "I Love You, Always and Forever" kata ini aku titipkan pada angin yang membawa hujan di setiap rintiknya aku titipkan rindu untukmu semoga kau mengingatku.
Sudahlah...!
Mungkin kamu lupa.
Terima Kasih atas lukanya.
Terima Kasih senyuman itu.
Terima Kasih segalanya.
Aku sangat merindukanmu.
Pesan ini kusampaikan pada angin yang lembut selembut sikapmu, pesan yang belum sempat aku sampaikan ketika kau masih ada di dunia. Ketika kau menangis dalam pelukanku, ketika aku masih bisa melihat senyummu, Semoga kamu Bahagia di sana, Ini aku orang yang menyukaimu sewaktu dulu.
"TAMAT"
__ADS_1