
Seharian ini Nelly sama sekali tidak bisa konsentrasi ke pelajaran. Apa lagi kalau menyadari bangku kosong Bagas, semua terjadi asal muasal karena dia jadi Nelly musti bertanggungjawab dengan semua keadaan ini.
Bu Baninar yang lagi menjelaskan pelajaran Biologi tentang "Perkembangbiakan" nggak
menarik lagi buatnya.
"Nelly!" suara Bu Baninar mengagetkannya.
"Ya Bu?" Jawab Nelly.
"Kamu belum menjawab pertanyaan saya." Ucap Bu Baninar lagi.
"Mati aku!" seru Nelly dalam hati. "Tanya apa sih dia, gue koq nggak denger sama sekali?" bisik Nelly ke Nur, yang duduk di depannya.
Nur juga merasa nggak dengar-dengar.
"Maaf, Bu, saya tadi tidak mendengar, mohon diulangi lagi pertanyaannya." akhirnya Nelly harus mengakui ketuliannya.
"Saya tadi tanya, kamu sedang memikirkan belakang kamu yang hilang ya?" tanya Bu Baninar sambil tersenyum geli.
Sekelas langsung riuh rendah, waktu Bu Baninar tanya pertama kali tadi, mereka sudah cekikikan. Eh, Nelly malah pakai acara tanya lagi. Dua kali ketawa, deh. Nelly memang konyol.
Biarkan saja...!!!
***
Bagas sedang suntuk sendirian di kamarnya. Acara radio tidak ada yang menarik. Lagu-lagu yang diputar lagu cengeng semua. "Talk show murahan yang sering diadakan beberapa stasiun radio benar-benar membuat perut mulas", gerutu Bagas sambil mematikan radionya. Kamar dikuncinya dari dalam. Ibunya sudah memanggil-manggil sejak setengah jam yang lalu untuk makan siang, tapi dia selalu menjawab belum lapar.
"Hey, suara apa itu?" pikir Bagas dalam hati. Ada yang bermain piano. Seingat Bagas, di rumah ini tidak ada yang bisa main piano selain dirinya sendiri. "Siapa pula yang main piano?" Tertarik, dia lalu keluar kamar, menuju ke ruang tengah. Alangkah terkejutnya Bagas melihat Ayu sedang asyik memainkan jari-jemarinya yang lentik di piano usang miliknya.
Ayu pun mulai bernyanyi.
***
Lagu "Tiara Jika Kau Bertemu Aku"
Tiara menggamit kenangan zaman persekolahan
Tiara ku mimpi kita bersanding atas kayangan
Seakan bisa kusentuh peristiwa semalam
Di malam pesta engkau bisikkan
Kata azimat di telinga.
Kita terpaksa berpisah untuk mencari arah
Kita dipukul ombak hidup alam yang nyata.
Engkau jauh meniti puncak menara gading
__ADS_1
Yang menjanjikan hidup sempurna
Tapi aku hanya tunduk ke bumi
Hidup tertekan.
Jika kau bertemu aku begini
Berlumpur tubuh dan keringat membasah bumi
Di penjara terkurung terhukum
Hanya bertemankan sepi.
Bisakah kau menghargai
Cintaku yang suci ini
Oh Tiara pedihnya
Dapatkah kau merasakan.
***
Bagas menunggu dengan sabar sampai Ayu selesai memainkan seluruh lagu, baru dia mendekatinya. "Ayu...! ngapain sih ke mari? Katanya nggak mau ke sini lagi?" Ucap Bagas becanda.
"Gue bilang mau ke rumah Nelly." jawab Ayu. "Gue ada hal penting yang harus aku katakan langsung sama elo." Ayu lalu menelan ludahnya.
"Lho" Bagaimana sih" Nih, gue bawa surat dari kepala sekolah. Surat pembatalan skors elo. Gue dapat dari Nelly karena dia dengan bantuan Fakih juga berhasil buktikan bahwa Jimmy biang keladinya. Dia diskors tiga minggu, Gas. Tiga minggu!" kata Ayu jingkrak-jingkrak kegirangan.
"Koq bisa?" Bagas masih terheran-heran sambil membaca surat yang dibawa Ayu. "Makasih ya Yu." kata Bagas kemudian.
"Tapi gue tidak mengharapkan terima kasih. Gue pengen eli minta maaf." kata Ayu pasang tampang serius.
"Salah apa lagi gue sekarang?" tanya Bagas.
"Elo sudah berikan perasaan asing yang aneh yang semakin gue nggak pernah rasakan sebelumnya. Gue nggak tau cara mengontrolnya." Jawab Ayu dengan manjanya.
***
"Kalau elo bilang itu kesalahan, rasanya itu kesalahan bersama, Yu. Elo juga berikan perasaan yang sama duluan ke gue. Jadi gue nggak perlu minta maaf, kecuali elo minta maaf dulu ke gue." kata Bagas tersenyum.
"Gue takut, Gas?" kata Ayu sambil menundukkan kepalanya. Bagas lalu lebih mendekat sampai bisa memegang dagu mungil Ayu. Diangkatnya wajah Ayu pelan-pelan dengan tangannya.
"Yang elo bilang tadi.. Elo... serius mencintai gue, Yu?" Ayu mengangguk pelan, berusaha menunduk lagi. Bagas cepat-cepat mengangkat wajah Ayu lagi.
"Kalau begitu elo nggak perlu takut, Yu. Yang kita rasakan ini sesuatu yang teramat indah. Gue nggak takut. Yu, apapun yang terjadi, gue nggak akan pernah berhenti mencintai elo. Gue nggak akan pernah menyerah. Percayalah." Ucap Bagas tersenyum manis.
Ayu menatap mata Bagas yang menyorot tegas. Ada keteduhan di sana. Dia yakin, seandainya dia ditakdirkan untuk mencintai satu orang saja di dunia ini, dia tidak akan pernah menyesal memilih Bagas.
"Gue percaya koq. Kalo nggak percaya, gue nggak mungkin datang kemari hari ini. Oh iya, Gas. Berhubung gue belum pernah jatuh cinta, bahkan tadinya gue tidak pernah bermaksud untuk jatuh cinta, ini semua terjadi begitu saja di luar kendali, pasti gue bakal berbuat banyak kesalahan. Gue mungkin orang yang paling bodoh tentang hal-hal yang berkaitan dengan perasaan. Kalo gue salah, tolong jangan marah, ya?" Ucap Ayu lirih.
__ADS_1
Bagas tersenyum lebar. "Gadis bodoh. Gue juga belum pernah jatuh cinta. Kita belajar sama-sama. Cuma satu langkah awal yang harus elo ingat. Jangan tutup pintu hati elo. Maka segalanya akan berjalan dengan natural, asal elo mengikuti kata hati." Jawab Bagas nyaman.
"Gas, elo bisa jelasin, bagaimana gue bisa jatuh terlalu cinta sama elo?" tanya Ayu.
"Koq elo malah tanya gue, Yu? gue juga heran. Masuk akal buat gue untuk jatuh cinta sama elo. Tapi elo jatuh cinta sama gue! Suatu hal yang Gue pikir tadinya impossible. Gue seperti terlelap dalam mimpi yang panjang saja." Ucap Bagas.
"Hey! Kenapa masuk akal buat elo untuk jatuh cinta sama gue, tapi nggak buat gue?" tanya Ayu heran.
"Karena elo punya pendirian yang kukuh, bahwa seumur hidup elo nggak bakal jatuh cinta. Rasanya itu sudah harga mati yang nggak bisa ditawar-tawar lagi. Sedangkan gue memang dari kecil punya impian untuk menemukan cinta sejati gue. Seperti Sang Pangeran di cerita Cinderella." Jelas Bagas.
"Yep. Salah satu cerita yang gue paling benci." kata Ayu.
"Lho! Semua orang suka Cinderella. Baru kali ini gue denger ada orang benci Cinderella. Emangnya kenapa?" Bagas menyatakan keheranannya.
"Keenakan pangerannya. Masa! dia boleh milih dari sekian banyak cewe' sekerajaannya untuk dijadiin istri? Wah, kalo gue hidup di jaman itu, pasti gue boikot nggak mau datang. Enak saja. Kayak mau beli baju aja. Dicoba-coba dulu, dansa-dansa dulu. Makanya gue nggak suka cerita model-model seperti itu. Kayak cerita Ande-ande lumut. Wah. Itu juga pelanggaran hak asasi wanita tuh!" Ayu protes.
"Hmm...! kalo gue pangerannya, dan elo Cinderella nya, biar elo boikot nggak mau datang pun gue akan cari elo sampe dapat." kata Bagas sambil ketawa.
Mau nggak mau Ayu jadi tersipu-sipu mendengar kalimat Bagas barusan. Lalu dia meneruskan, "Gini lho, moral cerita Cinderella itu, dari sekian banyak cewe' cantik yang bisa saja dipilih Pangeran, Pangeran cuma milih Cinderella, atas dasar cinta. Hampir sama moral ceritanya dengan Ande-ande Lumut." Bagas mencoba menjelaskan. Dia tidak terima begitu saja cerita Cinderella nya diprotes oleh Ayu.
Ayu masih kurang puas. "Ya, tapi kan nggak perlu pake cara seperti itu. Lihat cerita Putri Salju. Pangerannya yang datang ke hutan, mencari-cari Putri Salju, mencari cintanya. Itu baru namanya cinta sejati." Balas Ayu.
"Hmm" tapi kayaknya elo lebih cocok jadi Cinderella." kata Bagas.
"Kenapa?" Tanya Ayu.
"Karena ukuran kaki elo kecil sekali. Pangeran jadi mudah mencari elo, Yu!." kata Bagas sambil tertawa lepas.
"Tapi elo nggak cocok tuh jadi pangerannya." Timpal Ayu.
"Kenapa?" Bagas curiga, Ayu pasti bermaksud membalas ejekannya.
"Karena elo lebih cocok jadi kecoa. Nakal, usil dan bau lagi!" Ayu gantian yang tertawa terbahak-bahak.
"Tertawanya berhenti dulu..." Ibu Bagas menengahi. "Bagas belum makan siang tuh. Dari tadi disuruh makan jawabannya 'ogaaah' melulu" lanjut Ibu Bagas.
"Oh iya. Sampe lupa nggak tanya. Kalo belum makan, makan di sini saja, Yu!." kata Bagas menawarkan.
"Tapi Ibu cuma masak kering tempe lho?" Ibu Bagas setengah berbisik.
"Ayu juga belum makan, sih. Ayu tapi belum pernah makan kering tempe. Sering dengar, tapi belum pernah makan." Ucap Ayu ingin mencoba masakan kering tempe ibunya Bagas.
"Kalau lapar ya makan saja dulu. Siapa tau suka." kata Ibu Bagas.
"Wah, Bu. Mestinya jangan ditawari. Ayu itu apa-apa suka. Ngabis-ngabisi malah, kalo udah suka." ledek Bagas.
"Nggak papa diabisin kalo suka ya malah bagus" kata Ibu Bagas.
Ayu cuma mesam-mesem sambil bilang terima kasih.
Setelah secicip, ternyata Ayu suka sekali kering tempe. Entah karena Ibu Bagas yang jago masak, atau karena memang pada dasarnya Ayu sedikit rakus, pokoknya yang jelas siang itu Ayu makan dengan kenyangnya.
__ADS_1