
"Adduhh rumah Intan dimana sih? Dari tadi nggak ketemu-temu." Sungut cowo' tampan ini seraya mengendarai motornya di sebuah kompleks perumahan. "Tadi kata Nelly, rumah Intan itu di kompleks Perumahan Cempaka Putih nomor 16, berarti disana." Ceplos cowo' ini dan mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.
Akhirnya cowo' ini sampai di sebuah rumah yang cukup mewah di kompleks Perumahan Cempaka Putih. Setelah berhasil memarkirkan motornya cowo' ini masuk ke dalam dan menekan bel rumah itu.
"Permisi...! Permisi...!" Teriak cowo' ini sesekali menekan bel rumah itu.
"Iya, cari siapa yah." Ucap wanita paruh baya tapi terlihat anggun.
"Maaf tante mengganggu. Saya Nazaruddin teman Intan. Bisa bertemu dengan Intan tante?!" Pinta Nazaruddin dengan ramah.
"Oh Intan. Ada di dalam, mari masuk. Tante panggilkan Intan dulu di kamarnya ya." Jawab wanita yang anggun itu.
"Iya Tante terima kasih." Jawab Nazaruddin seraya di persilahkan menunggu, duduk di sofa ruang tamu.
Seorang cewe' sedang menuruni tangga menggunakan baju yang sangat sederhana. Hanya memakai kaos warna pink ceria dengan celana pendek selutut gadis ini menghampiri tamu yang mengaku sebagai teman Intan. Dengan langkah gontai dia berjalan. Jika mamahnya tidak memaksa untuk menemui tamu yang tidak di undang ini mungkin dia masih berada di dalam kamar dan tidak menemui tamunya itu.
"Ngapain sih loe kesini. Tahu dari mana lagi rumah gue." Ucap Intan sewot.
"Santai aja dong non, niat gue kesini bukan mau nyari ribut sama loe. gue tahu rumah loe dari Nelly!" Jawab Nazaruddin berdiri menghampiri Intan.
"Terus ngapain, udah deh nggak usah basa basi gue ngantuk pengin tidur. Loe tahu, kehadiran loe itu sangat mengganggu gue." Ketus Intan.
"Iya sorry, gue kesini cuma mau minta maaf atas kesalahan gue selama ini sama loe. maafin gue karena gue selalu bikin loe kesel bikin loe sakit hati dan bikin loe nangis karena perlakuan gue selama ini, gue sadar kok kalau gue udah kelewatan sama loe. maka dari itu gue mau minta maaf sama loe." terang Nazaruddin.
"Permintaan Maaf loe nggak gue terima. Enak banget loe ngomong maaf, loe tahu kesalahan loe itu udah banyak banget sama gue." Ucap Intan seraya melipat tangannya di dadanya.
"Iya Tan, gue bakal ngelakuin apa aja yang loe suruh deh. Asal loe mau maafin gue." Pinta Nazaruddin.
"Sejak kapan loe ngemis-ngemis minta maaf sama gue. Bukanya selama ini loe paling anti sama yang namanya minta maaf ya. Selama ini juga loe selalu ngajak gue ribut. Loe minta maaf sama Rival loe sendiri, nggak masuk akal lagi!" Jelas Intan dengan nada masih terlihat kesal.
"Terserah loe deh mau ngomong apa sama gue. Yang jelas gue minta maaf sama loe. gue juga mau kalau setiap hari loe suruh buat ngebersihan semua rumah loe. atau nguras kolam renang yang ada di belakang rumah loe. gue juga mau kalau loe suruh gue buat mutusin semua cewe' gue." Balas Nazaruddin asal bicara.
"Itu mah masalah kecil buat loe. loe mutusin semua cewe' loe sekarang, besoknya loe udah dapetin yang lebih banyak lagi kan? coba gue suruh loe loncat ke jurang atau minta loe buat berdiri di jalan raya yang rame banget, pasti loe gak mau kan?" Ucap Intan ketus.
"Ya jangan gitu juga dong. Itu mah mau bunuh gue namanya." Sungut Nazaruddin kesal dengan perkataan Intan tadi.
"Iya, dengan loe nggak ada di dunia ini itu lebih baik. Dari pada setiap hari ada cewe' yang nangis kejer gara-gara loe putusin secara sepihak." Ejek Intan ketus.
"Tan, please. Loe jangan ngungkit masalah itu. Gue kesini Cuma mau minta maaf sama loe, bukan mau nyari ribut. Maafin gue Tan!" Pinta Nazaruddin dengan raut wajah memelas.
"Ok, gue bakal maafin loe asal ada satu syarat yang harus loe lakuin." Lanjut Intan Akhirnya.
"Apa syaratnya?" Tanya Nazaruddin curiga.
"Besok pas loe berangkat sekolah. Gue mau loe berangkat sekolah pake angkutan umum dan simpan motor loe itu. Dan gue mau loe bawa poster yang intinya minta maaf sama gue. Itu loe lakuin setelah loe turun dari angkutan umum itu dan jadiin tuh poster kaya kalung loe pake di leher dan jalan sampai kekelas. Apa loe sanggup?" Terang Intan.
"Gue, gue …!!!" Berbata-bata Nazaruddin berkata.
"Loe nggak sanggup kan? Jangan harap gue mau maafin loe sebelum loe nglakuin apa yang gue suruh tadi. Ngerti...!" Ucap Intan seraya berjalan menuju ke kamarnya.
__ADS_1
"Ok Tan!" Ucap Nazaruddin, Intan menghentikan langkahnya tanpa menengok kearah Nazaruddin. "Gue bakal ngelakuin itu semua demi loe. gue bakal buktiin sama loe kalau gue bisa. Loe lihat aja besok. Ok, sekarang gue pamit pulang dulu. Sampaiin rasa terima kasih gue sama nyokap loe. permisi." Pamit Nazaruddin seraya menuju ke motornya dan pergi meninggalkan rumah Intan.
"Gue yakin loe nggak mungkin ngelakuin apa yang gue suruh tadi Zar, gue tahu loe kaya gimana." Gumam Intan seraya kembali melanjutkan langkahnya.
***
Keesokan harinya. Terlihat seorang cowo' yang menggulung sebuah kertas besar seraya keluar dari rumahnya dan berlari menuju ke jalan depan kompleks perumahanya. Cowo' ini terus berlari guna mencari angkutan umum yang akan ia tumpangi untuk bisa sampai di sekolahnya. Setelah sampai di sebuah halte depan kompleks perumahanya dia berhenti dan mencari angkutan umum itu.
Beberapa menit kemudian terlihat angkutan umum berhenti di depan halte. Otomatis penunggu yang sedari tadi menunggu berebut menaiki Metromini itu. Begitu pula dengan cowo' tampan ini, dia segera menaiki metromini itu, ternyata semua kursi sudah penuh, mau gak mau cowo' ini harus berdiri dengan berpegangan tali yang ada di atasnya. Berdesak-desakan mengakibatkan cowo' ini tidak tenang. Karena baru pertama kalinya cowo' tampan merasakan berdesak-desakan dengan orang dan menggunakan metromini.
Penderitaan cowo' ini belum berakhir. Karena metromini yang ia tumpangi mengalami kemacetan. Keringat bercucuran membasahi tubuh cowo' ini terutama bagian wajah. Selama beberapa menit kemudian metromini ini berhenti di sebuah terminal yang letaknya tidak jauh dari sekolah Nazaruddin. Otomatis Nazaruddin harus kembali berlari setelah memberikan beberapa lembar uang.
"Oya, posternya." Ceplos Nazaruddin seraya memakai poster untuk di kalungkan di lehernya. Kemudian Nazaruddin kembali berjalan meuju ke kelas. Selama di perjalanan, banyak pasang mata yang melihat dirinya dengan heran. Tapi cowo' ini tidak memperdulikan ucapan mereka dan mempercepat langkahnya untuk bisa sampai di kelas.
Setelah sampai cowo' ini segera menuju ke bangku Intan. Terlihat Intan yang sedang mengobrol dengan para sahabatnya itu. Dan teman-teman Intan langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap Nazaruddin tajam, sedangkan Intan hanya menganga seraya menutupi mulutnya dengan tangannya.
"Nazaruddin...!" Pekik Rosa, Nelly, Ayu, Dian, Nur dan Zahra.
"Sorry semuanya gue ganggu. Gue mau ketemu sama Intan!" Ucap Nazaruddin santai.
"Dandanan loe berantakan banget Zar!?" Ucap Nur heran.
"Loe habis ngapain sih. Dandanan loe jadi ancur banget gini. Baju keluar, rambut berantakan. Mana tuh celana kotor banget lagi...!" Ucap Intan heran seraya melihat dandanan Nazaruddin.
"Kan gue habis nurutin apa yang loe saranin. Gue naik metromini dan bikin poster ini serta di kalungkan ke leher gue kan? Sekarang gue udah ngelakuin itu semua buat loe. sekarang loe mau kan maafin gue." Jelas Nazaruddin.
"Gue rela lakuin itu semua demi mendapatkan maaf dari loe." Balas Nazaruddin santai.
"Tapi nggak usah kaya gini juga dong." Lanjut Intan.
"Sekarang gue Tanya sama loe, loe udah maafin gue kan?" Tanya Nazaruddin memastikan.
"Iyah, gue udah maafin loe. udah sekarang ganti baju loe dan bersihin dandanan loe yang acak-acakkan kaya gini. Bisa di labrak gue sama fans anarkis loe. udah sana." Suruh Intan kemudian.
"Ok, Thanks yah Tan, gue ganti baju dulu." Ucap Nazaruddin seraya pergi meninggalkan Intan.
"Tan, dia gila sejak kapan sih!?" Tanya Fakih yang muncul dari belakang Intan bersama dengan Ari dan Bagas serta ada Rosa, Nelly, Nur, Zahra dan Ayu.
"Tahu, merusak Image dia banget. Seorang Nazaruddin yang biasanya tampil menarik jadi dekil banget gitu." Timpal Ari seraya merangkul Nelly kekasihnya.
"Sorry guys. Gue yang nyuruh Nazaruddin kaya gitu. tapi gue beneran gak ada fikiran kalau dia bakal ngelakuin hal memalukan kaya tadi. Beneran deh." Ucap Intan merasa bersalah.
"Loe yang nyuruh?" Tanya Fakih kaget.
"Iya Kih, gue yang nyuruh. Yah habis dia kemarin ke rumah gue. Terus minta maaf sama gue. Gue kira maaf dia untuk main-main doang. Ya udah gue kasih syarat aja." Jawab Intan lirih.
"Gila Tan, keren banget loe. gue salut sama loe. bisa ngerubah Nazaruddin gitu. Ckckck." Decak Ari kagum disertai anggukan Fakih dan Bagas.
"Ya udah cabut yuk, temuin Nazaruddin." Usul Bagas seraya menggenggam tangan Ayu.
__ADS_1
"Ya udah Yuk.” Jawab yang lain dan langsung pergi.
Zahra baru saja ingin melangkah, tangannya sudah di tarik oleh seseorang dari belakang dan orang itu langsung membawa Zahra ke atap gedung tua itu.
"Ada apa?" Tanya Zahra setelah sampai di atap gedung sekolah.
"Gue pengin ngomong sama loe." Jawab Hendry seraya duduk di sebelah tiang di ikuti Zahra yang juga ikut duduk di sebelah Hendry.
"Ngomong apa?" Tanya Zahra.
"Gue pengin minta maaf sama loe. kelakuan gue selama ini emang udah keterlaluan sama loe dan loe harus tahu, baru kali ini gue minta maaf sama cewe'. Loe cewe' kedua yang bikin gue ngerasa bersalah kalau gue ngelakuin sesuatu yang menurut gue salah. Setelah nyokap gue." Terang Hendry.
"Kenapa loe minta maaf sama gue?" Balas Zahra.
"Gue nggak tahu. Yang jelas gue ngerasa bersalah aja sama loe dan gue pengin minta maaf sama loe. loe mau kan maafin gue?" Tanya Hendry seraya menatap Zahra.
"Gue maafin loe kok. Gue boleh Tanya?" Zahra menggangguk lalu mengajukan pertanyaan.
"Boleh, Tanya apaan?" Ucap Hendry.
"Kenapa sih, loe selalu berkutat sama buku. Setiap loe lagi baca pasti loe selalu susah untuk di ganggu. Kalau ada orang yang ganggu mesti loe selalu marah dan kesel. Maaf Hen, kalau gue lancang tanya ini sama loe. gue cuma penasaran aja." Tanya Zahra dengan perasaan bersalah.
"Iya, nggak apa-apa kok. Gue cuma lagi mencari kesibukkan aja. Soalnya sebelum gue berkutat sama buku terus, gue itu selalu ngelamun. Ngelamunin hal yang nggak penting tepatnya. Dulu, gue punya cewe', gue cinta banget sama dia, gue sayang banget sama dia. Dan dia selalu ngasih gue kebahagiaan yang nggak pernah gue dapet dari siapa-siapa kecuali dari keluarga gue. Dia selalu ada di saat gue lagi butuhin dia. dia selalu jadi sandaran gue kalau gue punya masalah atau gue lagi seneng." Terang Hendry menghela nafas kemudian melanjutkan. "Tapi gara-gara gue, dia nggak ada untuk selamanya. Dia pergi ninggalin gue selamanya dan itu semua gara-gara gue. Gue yang bunuh dia. gue yang bikin dia meninggal." Gumam Hendry lirih seraya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
"Kok bisa loe bisa mikir gitu sih. Emang kejadiannya gimana?" Tanya Zahra ingin tahu.
"Gue pernah ngajakkin dia ke Bukit Barisan berdua buat refreshing. Gue ngendarain mobil gue dengan kecepatan tinggi karena gue mikir jalanan menuju Bukit Barisan itu sepi banget. Dan cewe' gue berkali-kali meringatin gue supaya gue nggak ngebut karena bahaya. Tapi gue nggak pernah ngedengerin perkataan dia." Terang Hendry seraya mengambil nafas sejenak. "Gue tetep ngebut dan pas di perempatan jalan gue lihat ada truk yang melaju dengan kecepatan tinggi juga. Karena gue nggak konsen gara-gara gue ngajakkin cewe' gue bercanda mulu, akhirnya mobil gue menabrak truk itu. Karena laju mobil gue dan truk itu sama-sama tinggi dan gue nggak bisa mengendalikan mobil gue akhirnya mobil gue nabrak pohon dan terbalik." Jelas Hendry terlihat kesedihan terpancar di kedua matanya. "Gue masih sadar pas itu. Dan gue lihat cewe' gue pingsan dan gue berusaha keluar mobil dan langsung nyelamatin cewe' gue. Akhirnya pas gue bisa nyelamatin dia, nyawa dia nggak bisa tertolong lagi dan dia meninggal." Lanjut Hendry dengan nada lirih.
"Itu bukan salah loe Hen. Itu semua tuh takdir, bukan loe yang nyebabin cewe' loe meninggal." Ucap Zahra seraya memegang bahu Hendry berusaha menguatkan hati cowo' di hadapannya.
"Itu salah gue Ra!, kalau gue nurutin perkataan cewe' gue, dia bakalan masih ada sekarang." Balas Hendry penuh penyesalan.
"Loe yakin banget. Takdir itu nggak bisa di rubah. Semuannya udah di atur. Dan cewe' loe emang udah takdirnya buat nggak ada dan loe harus terima itu. Gue juga pernah ngalamin kejadian yang sama kaya loe. gue pernah kehilangan kakak gue satu-satunya. Dia juga kecelakaan pesawat pada saat dia mau pergi ke Australia buat kuliah. Tapi tiba-tiba pesawatnya itu mengalami kesalahan terknis dan nggak bisa mengimbangi akhirnya pesawat itu jatuh ke dalam laut dan semua penumpangnya itu meninggal. Pada saat itu gue juga sempat syok. Tapi beberapa saat kemudian gue sadar kalau kakak gue itu emang udah takdirnya buat nggak ada." Terang Zahra seraya menatap lurus kedepan dan sedari tadi Hendry melihat wajahnya seraya mendengarkan cerita Zahra.
"Loe jangan sedih gitu dong, gue yakin kok. Kakak loe pasti akan selalu ada di hati loe dan dia pasti lagi tersenyum di sana ngelihat loe. Thanks yah Ra, gue udah lega sekarang. Gue sadar kalau itu semua takdir dan gue ngucapin terima kasih banyak sama loe yang udah nyadarin gue." Balas Hendry.
"Iyah Hen, santai aja lagi. Gue seneng kok bisa bantuin loe." Ujar Zahra tersenyum manis.
"Sorry ya atas kesalahan gue selama ini yang selalu kasar sama loe." Lanjut Hendry lagi.
"Iya!, gue juga minta maaf kalau gue sering bikin loe kesel." Balas Zahra.
"Ya udah, gabung sama yang lainya yuk." Usul Hendry seraya berdiri.
"Ayo...!" Setuju Zahra dan mengikuti langkah Hendry berusaha menjajarkan langkahnya dengan Hendry dan kembali ke temen-temen yang lain.
Hendry mendekati Fakih, dia mengucapkan kata-kata yang lainnya tidak bisa mendengarnya karena terlalu dekat dengan telinga Fakih "Gue sekarang mengerti maksud elo Kih, Terima Kasih sudah mengingatkan gue!" Ucap Hendry pada Fakih berbisik.
Fakih hanya tersenyum, lalu menggandeng tangan kekasihnya Rosa meninggalkan teman-temannya. Kepergian Fakih dan Rosa terlihat jelas di mata Zahra, ada perasana iri kepada mereka berdua di hatinya.
__ADS_1