BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI

BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI
BAB 7 : JIWA KESATRIA


__ADS_3

"Hai Cha, apa elo nggak bosan baca buku setebal itu?," Fakih berusaha berbicara pada Rosa.


Namun Rosa hanya mendongak dan menatap Fakih dengan perasaan yang aneh. Lalu, dia membetulkan letak duduknya yang sepertinya kurang nyaman sembari melepaskan senyuman. Lantas, dia pun menjawab pertanyaan Fakih.


"Uuuhm, nggak tuh. Gue udah biasa baca buku kayak gini. Bahkan, biasanya bisa dua kali dari ini," Rosa berkata sembari menjelaskan kalau buku yang dibacanya itu adalah buku yang sangat tipis.


Lalu, mereka berdua pun terdiam sesaat, masing-masing dengan kesibukannya, walau pun Fakih sendiri tidak tahu sedang melakukan apa! Tapi, sudah dua menit berlalu terlihat jelas Fakih sudah merasa bosan, dan karena cewe' itu tidak pernah lepas dari bukunya, Fakih mencoba mengambil buku itu darinya dan mencoba melihat sesuatu yang menarik dari buku tersebut. Tapi, yang ada malah membuat Fakih semakin takjub, karena buku yang sedang di baca Rosa bukan Novel, puisi atau majalah yang biasa cewe' suka melainkan buku Kiat-Kiat Ujian Akhir Nasional yang isinya sudah jelas, memuat berbagai materi pelajaran serta rumus-rumus pelajaran dari A sampai Z yang membuat Fakih pusing.


"Sini, jangan seenaknya ambil barang milik orang lain ya Kih! Atau elo ingin gue hajar?" dengan kesal Rosa mengambil bukunya dari Fakih dengan tinju diacungkan tepat ke arahnya.


Tapi, buku yang diambil Rosa dari Fakih itu bukannya langsung di baca kembali, melainkan langsung ditaruh ke dalam tas. "Aneh! Gue pikir Ocha akan membacanya lagi dan mengacuhkan lagi." Batin Fakih. Tapi, tanpa Fakih sadari Rosa menatap dan mulai berbicara padanya.


"Lah kok nggak lanjut baca Cha, malah bukunya di simpen!?" Tanya Fakih.


"Udah kaga nafsu gue Kih! Buat bacanya lagi!" Jawab Rosa.


"Sorry Cha kalau candaan gue terlalu ma elo ya!" Balas Fakih meminta ma'af.


"Udah nggak usah panjang lebar, elo emang gitu hobby banget usil ma orang ya!" Balas Rosa. "Hooo ya Kih, nanti sore jadi nggak latihan karetenya?!" Tanya Rosa kemudian.


"Ya, jadi lah! Tapi kayaknya gue yang latih deh Cha, habis simpaiy Abdul Tohir semalam langsung berangkat ke Bandung, menurut kabarnya ada keluarga beliau yang sakit dan di rawat di rumah sakit.!" Jelas Fakih.


"Ya malah bagus kalau elo yang latih, Kih! Latihannya bisa semau-mau gue aja ya!" Balas Rosa tersenyum.


Siang ini adalah jadwal ekstrakulikuler Karate, dan Fakih sudah bersiap-siap mengikuti karate itu di sekolah. Sebagai pelatih pengganti di karenakan simpaiy Abdul Tohir tidak bisa hadir, Rosa dan Intan baru saja datang, salin baru kemudian pada turun untuk berlatih. Fakih hanya beda satu tingkat dari mereka, sehubungan Fakih duluan yang masuk, baru di susul Rosa dan Intan dari kelas dua A. Lain kebanyakan yang ikut latihan ekstrakulikuler Karate dari satu angkatan akan tetapi dengan kelas yang berbeda di tambah dengan siswa dan siswi kelas satu.


"Cha elo ma Intan bantu gue ya, latih siswa dan siswi kelas satu!" Jelas Fakih.


"Lah di gabung aja kenapa Kih!" Balas Intan.


"Kasihan siswa dan siswi kelas satu yang baru, mereka nggak bisa mengimbangi pelajaran senior-senior mereka!" Jelas Fakih.


"Iya udah lanjut Kih, ntar gue ma Intan yang latih siswi kelas satu yang baru!" Jawab Rosa tersenyum manis.


Akhirnya dibagi lah dua kelompok untuk siswa dan siswi yang baru dan yang senior. Mereka semua terlihat bersemangat walau hanya latihan dengan Fakih sebagai pengganti saja. Rosa dan Intan pun terlihat serius mengajari siswa siswi baru satu demi satu mereka latih baik gerakan maupun sikap berdiri dalam bertahan dan menyerang.


***


Sekolah SMPN satu Kotabumi ini dikenal dengan siswa-siswa nya yang berprestasi dalam segala bidang salah satu nya bela diri yaitu Karate. Akan tetapi sebagian siswa SMPN satu Kotabumi di sini hanya lah pecundang, pemalas, pembuat onar dan penakut! Tapi tidak bagi Fajri Basuki, sebelum Fajri Basuki bertemu dengan dua orang teman yang selalu menolongnya, dia selalu ditindas, seperti sampah dan tak berdaya…!


Banyak orang siswa dan siswi menginginkan sekolah di sini tapi tidak bagi Fajri Basuki, Fajri Basuki hanya orang konyol yang selalu di bully oleh Agus Hendro dan teman-temannya, Agus Hendro adalah juara karate antar sekolah! haaa...!! "Terdengar konyol di telinga, Agus Hendro dan Usman Nios. Mereka selalu membully anak-anak lemah!" Ucap Fajri Basuki.


Reni Papilaya adalah gadis tomboy, seorang siswi pindahan yang terobsesi untuk membuktikan ke orang-orang kalau dia adalah gadis yang kuat, suka menolong orang-orang yang lemah, dia memiliki wajah yang manis tapi sayang banyak pria yang menjauh darinya karena dia sering menghajar para cowo'-cowo' yang iseng, mungkin karena itu dia selalu pindah-pindah sekolah.


Rizky Pratama dia juga siswa pindahan, memiliki postur tubuh atletis, tinggi dan berwajah cukup tampan, tapi kadang rada sedikit sombong karena itu banyak cewr' tidak menyukainya dan karena kesombongannya itu, dia sering sekali terlibat masalah.


Awal pertemuan Fajri Basuki dan Rizky Pratama berawal dari Fajri yang di kejar-kejar Agus Hendro dan Usman Nios di salah satu Taman Kota yang dekat dengan sekolah, saat itu Fajri yang sedang berjalan-jalan santai tidak sengaja melihat Agus Hendro dan Usman Nios sedang latihan karate, lalu Fajri berinisiatif untuk mengerjai mereka berdua, Agus Hendro melihat Fajri sedang mengendap-endap mendekati minuman mereka Agus pun langsung bergegas dan membentak Fajri.


"Hoi kamu yang di sana!" bentak Agus kepada Fajri lalu Fajri ambil langkah seribu, mereka pun mengejar Fajri yang terus berlari kencang sampai Dia menabrak seorang cowo'!


"Dubrak…auw…!"


"Ada apa...?"


"Apa elo bisa menolong gue, gue dikejar-kejar orang!" dengan paniknya Fajri berkata.


"Tenang saja gue akan menolong elo...!"


"Wah lega rasanya Tuhan masih menolongku…!" Batin Fajri waktu itu, lalu Agus Hendro dan Usman Nios datang di hadapan Fajri.


"Mau lari kemana kau ediot?" dengan terengah-engah.


"Hoi, gue beritahu kalian jangan mengganggu dia, kalau tidak kalian berurusan dengan gue!"


"Apa masalahmu kawan?"


"1 lawan 2 gue rasa itu cukup tidak adil!"


"Jangan sok hebat di sini!" dengan lantangnya Agus Hendro dan Usman Nios bersama berkata sembari nyaris berteriak.


"Gue beritahu kalian, gue bisa saja menghabisi kalian dengan satu pukulan!" dengan sombongnya.


"Hahahaha…! kau ni hanya si mulut besar yang idiot"


Lalu orang itu melancarkan pukulannya… Dubrak orang itu terjatuh, karena tali sepatunya terinjak oleh Fajri…!!! Agus Hendro dan Usman Nios langsung menghajar orang itu sampai babak belur…!!!


"Aduh… aduh… sakit sekali" keluhnya.


"Ha... apa dia itu lemah…!?"


"Rasakan ini si mulut besar"


buck…! buck…! pack…!


"Sekarang giliran elo pecundang, berdoalah selagi sempat…!"


"Ampuni gue Gus, Agus gue mohon jangan pukuli gue!" rengek Fajri.


"Baiklah gue akan mengampuni lo sebagai gantinya elo harus membayarnya 200 ribu.!"


"Apa kalian memerasku?"


"Elo mau atau nggak?" bentak Agus kepada Fajri.


"Baiklah-baiklah, tapi gue hanya punya 100 ribu!"


"Ooowh, tidak masalah…!"


"Sebagai ganti sisanya… Usman ayo kita telanjangi dia"


"Nasib gue seperti hari biasanya ini mah pulang ke rumah tanpa memakai baju, huft sial…!" keluh Fajri.


Keesokan harinya...!!!


Teng… Tong… Teng… Tong...!!!


Bel sekolah berbunyi. Ibu guru wali kelas masuk ke kelas dan memberitahukan bahwa ada anak baru pindahan yang akan masuk kelas ini.


"Anak-anak hari ini kalian mendapatkan teman baru! Silakan masuk dan perkenalkan dirimu!"


"Hai, namaku Reni Papilaya, aku siswi pindahan salam kenal semuanya!"


"Iya, Reni kamu boleh duduk di bangku sebelah Fajri!"


Waktu istirathat...!!!


"Hai Reni nama gue Fajri Basuki salam kenal ya!"

__ADS_1


"Oowh ya, salam kenal, apa elo tau kantor kepala sekolah di mana?"


"Tentu saja tahu, apa mau gue anterin?!"


Fajri Basuki dan Reni Papilaya berjalan menuju kantor kepala sekolah, ketika mereka asyik ngobrol, Fajri melihat seseorang cowo' dan betapa kagetnya Fajri melihat cowo' itu ternyata dia orang yang kemarin yang dihajar Agus Hendro dan Usman Nios bersama dirinya.


"Haaaa... bukannya elo orang yang kemarin?" Fajri terlihat kaget.


"Owh, ya elo yang kemarin kan, yang ditelanjangi oleh teman-temanmu?"


"Aah, elo ini jangan keras-keras…! jangan menjatuhkan harga diri gue di depan seorang cewe'…!" sambil berbisik kepada Rizky.


"Oowh begitu, ma'af ya…!"


"Fajri, jadi nggak kita ke kantor ke kepala sekolah?"


"Iya Ren, gue hampir lupa!"


Mereka meninggalkan cowo' yang bernama Rizky itu…! "Fajri berpikir sedang apa Rizky ke sekolah ini… apa mungkin dia juga sekolah di sini!?", karena penasaran Fajri bertanya kepada Bapak Kepala sekolah.


"Pak mau tanya, cowo' yang barusan keluar tadi apa dia siswa baru disini juga?"


"Iya dia siswa baru disini."


"Dia duduk di kelas berapa Pak?"


"Duduk di kelas dua, dia juga masuk di kelasmu, apa kau ada masalah dengannya?"


"Eeh, tidak pak...!!! hanya bertanya saja!"


"Baguslah kalau begitu…!"


***


"Pagi anak-anak...!!!"


"Pagi pak…!" gaduh suara teman-teman di kelas.


"Hari ini kalian mendapatkan teman baru lagi…!"


"Hai, aku Rizky Pratama, aku siswa pindahan, hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan bagiku karena aku bisa bersekolah disini, aku harap kalian bisa menerimaku dengan baik, mohon bantuannya… boleh aku duduk Pak?"


"Iya silakan kamu cari kursi yang kosong…!"


"Hei… apa kursi ini kosong?"


"Iya...!"


"Hei, ketemu lagi kita, duduk di depan gue ya boleh tahu siapa nama elo?"


"Siapa? Gue…!" Balas Fajri bingung.


"Iya tentu saja elo, cuma elo yang baru gue kenal!" Jawab Rizky santai.


"Fajri Basuki" jawab Fajri kesal.


"Wah keren juga nama lo Jri!" Balas Rizky.


"Aaah, tidak usah memuji…! Basi tahu!" Balas Fajri lagi.


"Dan elo siapa namanya, yang disebelah Fajri?"


"Hei...!!! apa kalian berdua pacaran ya…!?"


"Jangan bertanya hal yang bodoh!" Balas Reni.


"Maaf ya!" Ucap Rizky meminta ma'af!. Oh ya...!, di mana orang-orang yang kemarin menjahili kemarin Jri?" Tanya Rizky melanjutkan.


"Agus dan Umar maksud elo, mereka dari kelas dua J sepertinya sedang mengikuti kejuaran karate tingkat SMP.


"Kenapa dengan mereka?" rasa penasaran Reni muncul begitu saja.


"Mereka jagoan di sekolah ini dan salah satu dari tingkat SMP yang terkenal di dunia karate, karena itu mereka sok jagoan, tapi sebenarnya ada satu orang yang paling kuat di sekolah ini…!" Jelas Fajri.


"Siapa?"


"Namanya Fakih, Dia anak kelas dua A!"


"Apa dia juga juara karate?" Tanya Reni.


"Ooowh, tentu saja bukan…!" Jawab Fajri.


"Kenapa dia bisa begitu terkenal?" Reni meminta penjelasan.


"Dia terkenal karena pembawannya yang santai, kawannya banyak dan orangnya simpel, dia di segani baik lawan mau pun kawan!" Jelas Fajri.


"Wa... wah… di mana hebatnya si Fakih itu ya!?" Tanya Rizky sedikit mengejek.


"Gue beri tahu kalian berdua jangan sekali-kali berurusan dengan Fakih, dia tidak akan mengganggu kalian selagi kalain tidak mengganggu dia, dia selalu membantu kawan-kawan yang mengalami kesulitan!". Jelas Fajri.


"Lah kenapa elo nggak minta tolong ma Fakih itu buat bantuin elo dari Agus dan Umar, Jri?!" Tanya Rizky.


"Masalah gue kalau sampe Fakih turun tangan malu gue, Fakih tidak pernah di minta tolong tapi dia sendiri yang akan membantu yang menurut dia pantas di bantu!" Jelas Fajri.


"Jadi penasaran gue ma cowo' namanya Fakih itu!?" Ucap Reni.


"Sama gue juga pengen tahu seperti apa anaknya!" Rizky pun penasaran.


***


Saat Fajri dan Reni berjalan menuju parkiran mereka berdua melihat Rizky sedang dihadang oleh segerombolan orang berwajah garang yang mangkal di dekat sekolah


"Hei, cepat berikan uang elo, kalau nggak elo pulang dengan wajah babak belur!" Ucap salah satu preman kesiangan itu.


"Kalian pikir gue bakalan begitu saja memberikan uang ku kepada kalian?!" Rizky dengan sombongnya menjawab.


"Jadi elo sock jagoan di sini ya!" Balas preman itu lagi.


"Asal elo-elo pada tahu ya, kalau gue hari ini sedang kesal dan ingin menghajar orang! sebaiknya elo-elo pada pergi dari hadapan gue sebelum gue berubah pikiran neh!" Balas Rizky dengan nada angkuhnya.


"Sombong sekali nih anak, elo pikir dengan perkatan itu kami takut!?" Jawab salah seorang preman itu lagi.


"Oooh, bukan begitu! Gue kira kalian pada takut, gue hanya memberitahu aja kalau gue ini nggak takut ngadepin elo-elo semua dan gue nggak mau di antara kita ada yang berakhir di rumah sakit, pahamkan maksud gue!" Jelas Rizky.


"Apa maksudnya? siapa yang berakhir di rumah sakit!" bentaknya kepada Rizky.


Buck... Buck... Buck...!!!

__ADS_1


Lalu mereka mengeroyok dan memukul wajah Rizky, Rizky hanya bisa mengelak dan menangkis. Melihat hal itu Reni pun bergegas menolong.


"Hoi, kalian semua! Jangan beraninya keroyokan ya, pengecut!" bentak Reni.


"Hei apa elo bercanda, tidak mungkin kami memukul seorang cewe'!" dengan remehnya mereka berkoar.


"Kenapa, apa kalian takut?" Balas Reni.


"Hahaaah, takut katamu…!" Balas salah seorang preman itu mendekati Reni dengan mengarahkan tamparan tangannya ke arah wajah Reni, dengan sikap sempurna Reni mengelak dan menyarangkan tinju mentahnya ke mukanya. Preman yang lain pun melihat itu langsung ikut menyerang Reni, tinjunya mengarah ke perut tapi kembali Reni mengelak sambil memutar badannya melancarkan tendangan ke arah belakang leher preman itu. Tendangannya mendarat mulus membuat si preman sempoyongan dan terjatuh.


Melihat hal itu preman lainnya langsung memapah kawannya yang terjatuh dan langsung kabur dari tempat itu.


Perkelahian pun dimenangkan oleh Reni…!!!


"Waaah, nggak nyangka elo hebat sekali Ren!" Fajri dan Rizky kagum.


"Hei ky, elo berhutang pada gur ya!" Ucap Reni pada Rizky.


"Elo ini Ren, dengan teman perhitungan sekali!" Balas Rizky cemberut.


"Ntar gue traktir makan deh!" Jawab Rizky.


"Gue nggak nyangka kalau bisa menikmati masa SMP, gue bahagia telah mendapatkan dua orang teman yang bisa menerima apa adanya!" Batin Fajri.


***


Hari ini Agus dan Usman telah masuk sekolah, masalah besar buat Fajri. Seperti biasa mereka akan mulai membully Fajri kembali...!!! Namun sebelum hal itu terjadi Reni berniat memberikan pelajaran buat mereka.


"Di mana biasanya mereka Jri!" Tanya Reni.


"Biasanya di sanggar latihan karate!" Jawab Fajri.


"Reni mau kemana elo?"


"Tentu saja memberi pelajaran ke mereka!" Jawab Reni tegas.


"What!" Fajri dan Rizky terlihat kaget.


Bergegas Fajri dan Rizky mengikuti Reni menuju sanggar karate, Fajri sangat mengkhawatirkan Reni walaupun kemarin dia menghajar preman-preman pinggiran sekolah, tapi yang dihadapinya sekarang kan juara karate! Apa mungkin Reni bisa mengalahkan mereka? Sedangkan Fajri dan Rizky hanya orang lemah.


Sesampainya mereka di depan pintu Sanggar tempat anak-anak anggota karate berlatih Fajri bertanya kepada Reni.


"Ren! apa elo yakin aku melakukan hal ini?" Tanya Fajri.


"Heee iya, tentu saja!" Jawab Reni.


"Mereka itu berbeda dengan preman-preman yang kemarin lo Ren!" Rizky mengingatkan.


"Kalian lihat saja!" Jawab Reni yakin.


Akhirnya Fajri dan Rizky tidak berani melarang keinginan Reni lagi, mereka hanya diam dan mengikuti langkah Reni dengan niatnya itu.


"Siapa yang bernama Agus disini?" bentak Reni sembari berteriak lantang.


"Ada apa elo mencari gue?" Jawab Agus.


"Gue tahu elo sering mengganggu Fajri dan anak-anak lainnya, kalian sering membully sesuka hati, gue mau kalian bertarung ama gue, dan kalau gue menang sudahi semua kelakuan kalian yang sock jagoan itu!" Teriak Reni menantang.


"Haaa...!!!, baiklah ada seorang cewe' yang salah alamat ini. Gue kasihan ma elo, dengan setengah kekuatan gue aja bisa dengan mudah gue kalahkan!" Ucap Agus sombong.


Hal yang sangat mengejutkan tiba-tiba Reni melancarkan tendangannya tepat di kepala arah wajah Agus, dengan satu serangan Agus terjatuh, "Wauuuuw, cewe' macam apa dia ini…!" kaget orang-orang melihat hal tersebut.


Usman tidak terima dengan apa yang terjadi pada Agus, lalu mereka menyerang Reni secara bersamaan, perkelahian yang tidak cukup adil dan sangat menegangkan tiga lawan satu.


Buck... Buck... Buck...!!!


Reni menendang kepala Usman, memukulnya dengan kuat tapi tidak terasa bagi Usman karena Usman salah satu orang yang kuat menerima serangan-serang yang dilancarkan Reni seakan-akan semua serangan Reni kepadanya tidak ada gunanya.


Reni terlihat kelelahan lalu Usman membalas serangan Reni dengan satu pukulan “Buuuuuuuck” yang membuat Reni terpental keluar arena, Reni mencoba bangkit, tapi sayangnya ke dua temannya usman tidak tinggal diam terus menghujani Reni dengan serangan-serangan yang menyakitkannya.


"Mau kalian apakan cewe' itu Usman!" Tiba-tiba sebuah teriakan keras menahan langkah kaki mereka untuk melanjutkan menyerang Reni. Reni masih dalam keadaan terduduk, memar dan sedikit terlihat darah di sudut bibirnya. Sekilas Reni melihat asal suara yang begitu terdengar keras dan penuh wibawa...!!!


"Fakih...!!! Ma'af Kih, kami nggak ada urusan dengan elo!" Jawab Usman terdengar bergetar dari kata-katanya.


"Awalnya benar elo semua nggak ada urusan sama sekali ma gue, tapi kawan-kawan gue ini... Rosa dan Intan yang punya urusan ma elo. Mereka nggak rela kaum mereka cewe' elo orang buat seperti itu!" Jelas Fakih.


Fajri dan Rizky hanya bisa bengong di tempatnya, tidak bisa berbuat apa-apa melihat Reni babak belur karena terus terang untuk menhadapi Usman mereka tidak mampu.


Rosa dan Intan yang dari tadi berdiri di belakang Fakih segera bergegas membantu Reni untuk berdiri, namun Reni belum sanggup untuk melakukannya dan akhirnya mendudukkannya kembali dengan posisi senyaman mungkin.


"Apa wajar kalau elo memperlakukan cewe' seperti ini Usman!?" Bentak Rosa.


"Sorry Cha, bukan masalah wajar atau nggak! Dia yang sengaja nantangin kami dan juga dia membuat Agus seperti itu!" Jelas Usman.


"Ooooh ya, kalau satu lawan satu masih gue maklumi Man, tapi jiwa pengecut elo orang yang ngeroyok seorang cewe' rame-rame itu yang nggak akan gue maafin. Mana yang katanya kalian seorang karateka dengan jiwa satria... Tueeeeeh...!" Rosa meludah menghina Usman dengan emosi memuncak.


"Kalian bertiga majulah secara bersama, atau mau menunggu agar Agus bisa ikut? Gue tunggu Man!" Fakih menantang mereka. "Gue berbuat begini agar elo orang nggak malu kalau tanding ma cowo' bukan pecundang yang berani dengan cewe'! Bagaimana?!" Lanjut Fakih memancing emosi Usman dan dua kawannya.


"Gue tahu Kih, melawan elo sama saja menghancurkan kami di sekolah ini, tapi itu akan kami terima!" Balas Usman.


"Bagus! Bisa kita mulai!" Balas Fakih.


Usman dan kedua temannya maju secara bersamaan langsung menyerang Fakih, Usman menyarangkan tinjunya ke arah muka, Fakih dengan santainya mengelak kesamping dan tanpa menggubris pukulan Usman yang kandas langsung mengarahkan tendangan melingkar penuh tenaga ke arah salah satu temannya usman dan tak hayal lagi dada yang menjadi akibat dari tendangan keras Fakih sampai di buat tak berdaya, belum lepas kagetnya salah satu teman Usman tersebut karena melihat temannya terkapar, pukulan tangan mendatar Fakih menghantam dagunya dan membuat temannya Usman terhuyung-huyung mundur ke belakang, tapi Fakih menyusul dengan tendangan lurus ke arah dada, tanpa ada penolakan dan posisi masih terhuyung-huyung temannya usman tersebut mental keluar arena dengan dada membiru dan pingsan.


Usman hanya diam di tempat melihat kecepatan sepak terjang Fakih menjatuhkan kedua kawannya. Rasa ragu dan bimbang menyelimuti hatinya.


"Ayo Man! Kita satu lawan satu sekarang!" Ucap Fakih.


"Baik Kih, walau pun gue kalah ma elo, tapi saat ini gue kalah dengan terhormat!" Jawab Usman.


"Siapa bilang elo bakal kalah dengan terhormat?!" Jawab Fakih. Sembari mundur ke belakang, tinggallah seorang Rosa berhadapan dengan Usman di arena itu.


"Maaf Man, tangan gue nggak pantas buat membalas kelakuan elo, ada yang lebih pantas!" Jawab Fakih dengan santai.


Rosa tersenyum dengan perkataan Fakih, dia paham benar maksud dari sahabat dan mungkin orang yang dicintanya itu.


Rosa yang sekarang berinisiatif menyerang duluan, dengan kepalan tinju mengarah ke depan. Usman berkelit kesamping dengan sikap langsung membalas serangan Rosa dengan tendangan ke arah perut. Tapi gerakan Rosa hanyalah tipuan belaka, kaki kanannya menaik tinggi dengan sedikit lompatan mengarah ke rahang Usman, usman kaget mundur teratur, akan tetapi dia gagal fokus dengan kaki kiri Rosa yang mengejar leher bagian belakang yang sangat mematikan. Tak hayal lagi tendangan Rosa membuat Usman terhuyung-huyung ke belakang. Belum sempat Usman dalam posisi sikap sempurna, Rosa menangkap pergelangan tangannya dan membanting tubuh Usman sejajar ke depan dan...!!!


"Cukup Cha!" Teriak Fakih.


Rosa mendengar komando dari Fakih menghentikan tinju mentahnya yang akan mengarah ke wajah Usman dengan leluasa.


"Hei Ren!, apa elo sudah kuat berdiri?!" Tanya Fakih melihat Reni yang sudah bangun dari duduknya.


"Tentu saja Kih!" Jawab Reni.


"Silahkan, gue serahkan Usman buat elo!" Ucap Fakih santai. "Hai... Agus, udah sadar elo! Mau buat perhitungan lagi dengan kami?!" Lanjut Fakih melihat Agus mulai bangun juga dari istirahat yang menyakitkan.

__ADS_1


"Nggak Kih! Gue dan Usman sadar dengan apa yang selama ini sudah kami perbuat kok!" Jawab Agus menyesal. "Reni, Fajri dan Rizky, gue minta maaf dengan ikhlas pada kalian ya!?" Lanjut Agus dan Usman bersamaan.


Reni Papilaya baru faham apa yang di maksud Fajri dengan sosok seorang Fakih, "Di segani lawan mau pun kawan".


__ADS_2