BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI

BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI
BAB 38 : UJI MENTAL


__ADS_3

Oma Marwiyah itu mamanya papa. Satu-satunya anggota keluarganya yang bisa dikategorikan "Manusiawi".


Sayang sekali Oma kena stroke tahun lalu, jadi sekarang dia harus menghabiskan sisa hidupnya di atas kursi roda. Sayang sekali Oma ini terkenal dengan sikap keras kepalanya.


Sudah berkali-kali papah dan mamah memaksa Oma untuk tinggal bersama mereka, tapi Oma tidak pernah mau. Oma lebih suka tinggal di rumah kecilnya di Tulang Bawang. Dan Oma bisa marah besar kalau ada yang menyinggung-nyinggung untuk menjual saja rumah di Tulang Bawang. Di surat wasiatnya, Oma sudah menulis, rumahnya di Tulang Bawang itu sampai kapan pun tidak boleh dijual. Nanti kalo Oma wafat, rumah itu boleh dipakai untuk tujuan sosial.


Pokoknya rumah itu tidak boleh dijual.


Di Tulang Bawang, Oma punya taman bunga anggrek. Walaupun sekarang sudah agak susah untuknya merawat bunga-bunga anggreknya, Oma masih selalu menyempatkan diri merapikan tamannya setiap hari. Rosa sering ke Tulang Bawang kalau liburan. Dari pada menganggur di rumah. Dari kecil Rosa selalu dekat dengan Omanya.


"Kapan datang, Oma?" tanya Rosa.


"Tadi siang, dijemput papahmu. Rumahmu hari ini semarak sekali, Ocha. Kuning-kuning bunga matahari. Kamu juga memakai baju kuning-kuning. Kamu memang manis?" kata Oma sambil mencubit pipi Rosa dengan sayang.


"Oma, aku hari ini mengundang satu orang yang sangat di benci papah dan mamah. Oma bantuin Ocha ya?" pinta Rosa manja.


"Tergantung, siapa dulu orangnya." Ucap Oma Marwiyah.


Ragu-ragu, Rosa cerita ke neneknya, "Orang yang namanya...!" Rosa terhenti bicara. Rosa gantian yang tersenyum tersipu-sipu. Melihat gelagat, Oma langsung menebak, "Pacar kamu ya?"


Lagi-lagi Rosa cuma bisa mengangguk-angguk.


"Papah dan mamah tahu?" bisik Oma.


"Dua-dua sudah pernah melihat orangnya, sih. Namanya Fakih, Oma! Fakih Alfarizi." Jawab Rosa.


"Orang Padang yah?" tanya Oma.


"Koq Oma tahu?" Rosa mengkerutkan wajahnya.


"Oma hari ini seperti tukang ramal saja. Nebak aja, dari namanya. Trus gimana?" Lanjut Oma Marwiyah lagi.


"Ya Oma pasti tau lah cerita selanjutnya. Papah sama Mamah nggak ada yang setuju Ocha pacaran sama Fakih. Padahal Ocha sayang banget sama Fakih. Fakih juga sayang sama Ocha koq." Jelas Rosa.


Oma tersenyum lagi. Agak aneh juga mendengar cucunya yang keras kepala ini jatuh cinta. Pasalnya, Rosa dari kecil selalu benci sama anak laki-laki, apalagi anak laki-laki yang sok jagoan. Waktu kecil pun Rosa sering berkelahi dengan anak laki-laki. Berkali-kali Mamahnya dipanggil guru SD nya Rosa. Ini mungkin salah satu sebab Papah lebih menyukai Ratu, kakaknya yang pendiam dan tidak pernah membuat onar. Tapi dari kecil Oma bisa melihat Rosa itu orang yang kuat, dan selalu berpegang teguh pada prinsipnya. Sayang sekali beda umur Ratu dan Rosa cukup banyak, empat tahun. Seandainya saja cuma beda setahun, misalnya, Rosa pasti bisa melindungi Ratu. Kekeras-kepalaannya sudah terkenal seantero jagat. Rosa paling benci ikut acara-acara keluarga. Oma pernah tanya kenapa, dan jawabannya sangat memuaskan.


Waktu itu Rosa masih berumur sepuluh tahun. Prestasinya di kelas sangat membanggakan, di bidang apapun. Jawaban yang membuat Oma tertarik waktu itu, adalah "Acara keluarga seperti ini cuma dijadikan ajang unjuk diri. Pamer keluarga. Ini lho aku yang terbaik. Anakku masuk ke sekolah favorit, universitas favorit. Anakku menikah dengan konglomerat kelas kakap.


Memuakkan."


Sejak saat itu, Oma tahu bahwa Rosa itu punya pribadi yang lain dari orang kebanyakan. Sungguh mengherankan mengingat Rosa dimanjakan dari bayi. "Kamu sudah pikirkan baik-baik, Cha?" tanya Oma Marwiyah.


Niken mengangguk tanpa ragu.


"Baiklah, kalau kamu memang mantap, Oma pasti dukung. Jadi penasaran, seperti apa sih, orang yang berhasil mengambil hati cucuku yang konon tidak pernah jatuh cinta ini?" goda Omanya.

__ADS_1


Rosa tertawa kecil. Senang sekali mendapat dukungan tulus dari Oma. Lega sekali perasaan hati Rosa, setidaknya dia masih punya Oma yang mau mengerti.


"Non, ada tamu buat non Ocha." lapor salah satu pembantu rumah tangganya. Rosa tersenyum menatap Omanya, lalu mendorong kursi rodanya ke arah ruang tamu. Fakih melangkah ragu-ragu masuk ke ruang tamu dari pintu luar.


Rumah Rosa benar-benar besar dan megah. Atau dengan kata lain, mewah. Isi ruang tamu ini mungkin kalau dikalkulasi ada berpuluh-puluh juta rupiah. Lampu kristal chandelier yang menggantung manis di tengah-tengah ruang tamu dengan cahaya lampunya yang redup benar-benar terlihat mahal. Vas antik di pojok ruangan itu pasti harganya mahal sekali. Ubinnya dari marmer, mengkilap, sampai-sampai Fakih bisa melihat bayangan wajahnya sendiri di lantai. Kursi sofanya yang berwarna coklat alami terlihat begitu empuk. Bisa tertidur kalau duduk di situ barang lima menit.


"Kih...!" sapaan ramah itu terdengar begitu melegakan di telinganya.


"Ocha...!" Ini buat elo, Hadiah buat elo karena hari ini keliatan cantik banget." kata Fakih sambil menyerahkan serangkaian bunga ke tangan Rosa.


"Sudah sempat research dia rupanya," bisik Oma sambil menyenggol siku Rosa setelah melihat bunga yang diberikan Fakih itu mawar putih.


Rosa tersipu malu. Iya, bagaimana Fakih bisa tahu kalau dia suka bunga mawar putih" Fakih mendengar bisikan Oma tadi. Dia lalu ikut berbisik, "Aku dapat bocoran dari Dian."


Tapi dari mana dia tahu kalo Rosa bakal terlihat cantik malam ini? Mudah saja, Rosa kan memang selalu terlihat cantik.


"Kih, kenalin, ini Omaku. Oma, ini Fakih yang tadi Ocha bilang." Jelas Rosa saling memperkenalkan.


Pandu lalu menjabat tangan Oma. Tangan Fakih dingin sekali. Maklum, nervous, mau ketemu calon mertua kali...!


"Papah mamahnya Rosa itu cuma manusia, bukan macan. Jadi kamu nggak usah takut." saran Oma yang bisa mencium kegugupan Fakih.


Fakih mengangguk.


"Mari masuk." ajak Oma Marwiyah.


"Mah, Pah, kenalkan ini Fakih?" Ucap Rosa ragu.


"Siapa yang suruh kamu undang dia?" kata Papah sambil menunjuk ke arah Fakih.


"Aku yang undang mereka." Oma menjawab dengan tegas. "Suka atau tidak suka, hari ini mereka akan makan malam bersama kita. Kamu berdua tinggal pilih. Makan malam dengan tampang cemberut seperti itu sepanjang malam, atau berusaha untuk tersenyum sesekali." Ucap Oma Marwiyah penuh wibawa.


"Tapi mam?" sahut Papah protes.


"Aku ingin makan malam dengan tenang. Jadi sebaiknya kalian jaga kelakuan masing-masing." Oma memperingatkan sekali lagi.


Nggak punya pilihan lain, Papah cuma diam saja.


"Cuma makan malam. Sesudah itu aku nggak janji apa-apa." kata Papah kemudian.


"Kalau begitu ayo kita mulai makan sekarang." ajak Mamah. Rasanya Mamah juga sudah tidak sabar menanti makan malam selesai.


Menu masakan malam ini masakan kesukaan Rosa semua. Sup ayam dan bakmi goreng.


"Nggak suka sup ayamnya, Kih?" tanya Rosa.

__ADS_1


"Suka...! suka koq. Permisi, aku mau ngecek motorku?" Alasan rendahan.


Semua orang juga tahu kalau Fakih nggak betul-betul berniat ngecek motornya. Rosa baru saja mau beranjak mengikuti Fakih, kalau saja Oma nggak memperingatkan dengan tatapannya yang bilang "Jangan". Oma yang lalu memutar kursi rodanya menuju ke arah luar.


"Pura-pura saja." umpat Papah.


"Aku tidak tahu bagaimana caranya Oma bisa mendukung kamu, lebih baik kamu lupakan saja rencana pacaranmu itu." kata Mamah.


"Tante, saya bisa mengerti sikap proteksi Tante dan Oom terhadap Rosa. Menurut saya wajar saja, Rosa cewe' pertama, dan bukan tidak mungkin bakal jadi yang terakhir, yang saya cintai. Yang kami perlukan saat ini cuma sedikit kelonggaran waktu untuk membuktikan bahwa cinta kami layak untuk dihargai." Ucap Fakih berani namun sedikit ragu.


"Omong kosong!" Papah menggebrak meja makan. Rosa kaget sekali. Piring-piring di dekat Papah sampai ikut meloncat. Ikut kaget juga, mungkin.


"Kamu cuma ingin mengeruk kekayaan keluarga kami, kan? Karena Rosa anak kami satu-satunya, dia ahli waris tunggal. Seperti mendapat durian runtuh, kan?" ejek Papah dengan nada yang teramat sinis.


Fakih sudah siap dengan hinaan seperti itu. Bahkan tadi dia sudah mempersiapkan diri untuk hinaan yang lebih jelek dari itu. Ini belum seberapa.


"Papah, sudah cukup!" Rosa tidak terima Fakih diejek seperti itu.


"Saya nggak butuh kekayaan Rosa. Saya yakin bisa berhasil dengan usaha saya sendiri. Saya punya modal yang cukup untuk itu. Otak, kemauan, dan kemampuan. Kalau memang membantu, saya bersedia tanda tangan hitam di atas putih, menyatakan bahwa saya nggak akan memperoleh duit sepeser pun dari Rosa nantinya, bahkan misalnya kami menikah nanti, justru saya yang akan memberi uang pada Rosa, bukan menerima. Bagaimana, Oom?" kata Fakih menawarkan, masih dengan nada sopan.


"Muluk-muluk." kata Papah. "Apa kerjaan ayahmu?" tanya Papah.


"Guru...!" Jawab Fakih.


"Salah, saya sudah cek. Guru rendahan, dengan gaji pas-pasan." Ucap papah Rosa. Fakih diam saja. Memang kenyataannya begitu. Mau apa?


"Kamu ke sekolah naik apa?" tanya Papah lagi.


"Sepeda." Jawab Fakih santai.


"Kalo sepeda rusak, naik apa?" Tanya papah lagi.


"Ya dibikin betul. Kalo tidak bisa ya jalan. Di anugerahi kaki sama Allah, sayang kalau tidak digunakan." Jawab Fakih masuk akal.


"Rosa dari kecil selalu naik mobil ke mana-mana. Tidak pernah hidup kekurangan. Kamu tidak akan bisa membahagiakan dia." Balas papah Rosa mencibir.


"Papa! Papa nggak tanya, apa selama ini Ocha bahagia? Nggak pernah hidup kekurangan bukan berarti bahagia, Pah!" protes Rosa.


Fakih lalu menengahi, "Terlalu dini untuk menilai apakah saya bisa membahagiakan Rosa apa nggak."


"Betul, Pah. Fakih itu termasuk orang pandai di sekolah. Nggak pernah mengalami kesulitan di bidang studi apapun. Dia punya masa depan yang cerah." kata Rosa seperti orang jual jamu.


"Sekarang jawab pertanyaanku. Sesudah Sekoalh Menengah Pertama, kamu mau melanjutkan Sekolah Menengah Atas di mana?" tanya Papah lagi.


"Dari kecil saya ingin masuk Sekolah Perawat Kesehatan. Kalau bisa saya ingin mendapat beasiswa untuk sekolah di sana, jadi tidak merepotkan ibu sama bapak." jawab Fakih jujur.

__ADS_1


"Nah, Rosa itu bakal sekolah di luar kota. Bogor." kata Papah.


"Oh ya"!" tanya Rosa terkejut. "Siapa yang bilang" Koq aku malah belum tahu? Apa aku nggak berhak untuk memutuskan di mana aku mau melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas?" Pertanyaan Rosa keluar bertubi-tubi.


__ADS_2