
Sedangkan anggota team basket Sekolah Menengah Pertama Kotabumi di lapangan berjajar menghadap kearah anggota team Sekolah Menengah Pertama Xavirius. Mereka menatap anggota team Sekolah Menengah Pertama Xavirius dengan tersenyum riang dan dibalas dengan tatapan sinis oleh anggota team Sekolah Menengah Pertama Xavirius.
“Terbukti kan guys. Kita yang menang. Jadi, loe nggak bisa sombong lagi sekarang.” Ucap Ari seraya tersenyum penuh kemenangan.
"Oh yah. Loe semua mesti tahu satu hal, pertandingan ini nggak sah. Loe semua curang mainnya." Ucap salah seorang cowo' dengan nada sinisnya.
"Curang? Bukanya loe semua yang curang. Loe semua dari tadi jegal kita mulu. Itu yang namanya nggak curang?!" Bentak Nazaruddin emosi.
"Udah bro, nggak usah emosi. Percuma juga kita emosi, nggak ada gunanya. Yang penting sekarang kita udah menang dan jadi The Winner. Dan terbukti juga kan siapa yang pecundang?!" Ucap Hendry dengan nada santainya membuat emosi Rano meninggi.
"Denger ya Hen, loe itu dari dulu emang nggak berubah ya. Gue bingung sama loe. loe itu mau rebut apa lagi sih dari gue. Dulu, loe udah ngerebut posisi gue sebagai calon Ketua OSIS dan Calon Kapten Basket. dan itu semua nggak ada yang gue dapet. Gue malah jadi anggota basket dan gue di jadiin seksi di OSIS. Sekarang, loe mau apa lagi? Loe mau nyingkirin gue sebagai Kapten Basket disini." Ucap Rano masih dengan nada emosinya.
"Gue itu dari dulu nggak ada maksud buat ngerebut posisi loe Ran, waktu itu gue juga nggak mau buat jadi kapten ataupun ketua OSIS. Gue sama sekali nggak minat. Tapi temen-temen gue yang ngecalonin gue masuk itu. Dan gue nggak bisa nolak karena nama gue udah tercantum sebagai Calon. Waktu itu juga kita saingan yang sama loe memperebutkan posisi yang sama. Gue ….!" Balas Hendry terhenti.
"Udah lah Hen, gue ngerti kok. Maksud loe waktu itu apa. Loe pengin banget mempermalukan gue kan. Dengan loe nyuruh semua temen-temen loe milih loe dan ngecap gue sebagai orang yang nggak pantas untuk di pilih...!" Ucap Rano.
"Loe salah paham Ran, gue nggak pernah punya sedikit pun niat gitu. justru waktu itu gue pengin banget bikin loe menang. Loe juga tahu kan. Loe sama temen-temen loe itu selalu promosiin loe, tapi gue nggak. Gue diem aja! Karena waktu itu gue pengin banget bikin loe menang. Gue juga nggak ngerti kenapa semuanya lebih banyak milih gue dari pada loe." Jelas Hendry.
"Karena loe udah menghasut mereka semua supaya nggak milih gue. Iya kan?" Bentak Rano emosi.
"Eh udah-udah stop. Loe berdua apa banget deh. Berantem di tengah lapangan kaya gini. Kalo mau nyelesaiin masalah jangan terang-terangan, di kuburan sono yang sepi. Loe bisa tonjok-tonjokkan di situ." Lerai Fakih karena mendengar keributan antara sahabatnya dengan musuhnya. "Loe berdua kaya anak kecil tahu nggak. Loe selesaiin baik-baik dong. Jangan kaya anak kecil kaya gini. Emang loe gak malu apa, penonton pada heboh lihat loe berdua." Lanjutnya.
"Loe kalau pengin nyelesaiin masalah ini, loe dateng ke tempat kita test jadi kapten dulu. Besok pagi jam empat sore Kalo loe masih gentle sih. Kalo loe gak dateng, tandanya loe emang yang salah dalam masalah ini." Ucap Nazaruddin memberi saran.
"Ok, gue bakalan dateng. Justru temen loe tuh yang mesti di curigai. Gue yakin dia nggak akan dateng. Karena kenyataanya emang dia yang salah." Ucap Rano angkuh.
"Buktiin ucapan loe. jangan cuma omongan kosong aja. Loe lihat aja nanti. Siapa yang salah dalam masalah ini." Ucap Hendry mengakhiri perdebatanya. "Guys cabut yuk!" Ucapnya seraya melangkah meninggalkan lapangan Sekolah Menengah Pertama Xavirius diikuti oleh teman-temannya yang lain.
***
Keesokan harinya...!!!
Hendry, Fakih, Ari, Nazaruddin, Bagas, Bambang, Rosa, Zahra, Nelly, Intan, Nur dan Ayu sedang berada di lapangan basket indoor Sekolah Menengah Pertama Kotabumi. Karena bel pulang sudah berbunyi sedari tadi, maka mereka lebih memilih berkunjung ke lapangan indoor untuk menyelesaikan masalahnya dengan kapten basket Sekolah Menengah Pertama Xavirius.
"Hen, loe mesti hati-hati. Gue yakin banget si Rano bakalan berbuat yang macem-macem. Dia nggak akan nyerah gitu aja buat mojokkin loe nanti. Jadi, loe mesti hati-hati." Saran Bambang seraya duduk di sebelah Nur setelah sebelumnya mondar-mandir di depan para sahabatnya.
"Betul banget tuh. Loe jangan emosi deh pokoknya. Gue yakin kok, kalo loe itu nggak salah." Tambah Ari.
"Iyah guys, yang gue fikirin, kenapa si Rano itu nuduh gue yang nggak-nggak. Padahal kan dia tahu kalo waktu itu gue nggak ikut-ikutan promosi kaya dia. gimana dia bisa menuduh gue kaya gitu coba. Lagian, waktu itu kan loe bertiga yang nyuruh anak-anak buat nyalonin gue jadi calon." Ucap Hendry seraya menunjuk ke wajah Ari, Bambang dan Nazaruddin di akhir perkataanya.
__ADS_1
"Kita kan nggak sengaja bro. gue kira si Rano itu anaknya nggak emosian. Gue juga tahunya dia itu bakalan menerima kenyataan yang ada. Tapi setelah loe yang menang, dia malah bertindak di luar dugaan gue. Gue nggak nyangka." Ucap Bambang.
"Hmmm, maaf yah!" Fakih motong ucapan Bambang. "Gue emang nggak tahu permasalahannya apa. Tapi sebaiknya elo siapin penjelasan yang bikin Rano percaya deh kalau emang elo itu nggak salah dan waktu itu elo emang udah relain semua hasilnya." Saran Fakih.
"Iyah Hen. Dan elo juga mesti ngejawab pertanyaan Rano nanti dengan sejelas-jelasnya supaya Rano nggak salah paham lagi." Tambah Rosa dengan di angguki oleh Intan dan Nelly.
"Iya. Loe bener Kih!, Thanks ya buat semua! Loe semua emang sahabat gue yang paling baik." Balas Hendry tersenyum.
"Hahaha... Iya dong. Gue kan emang baik banget. loe semua beruntung punya temen kaya gue." Canda Nazaruddin dan langsung mendapat toyoran dari sahabatnya.
"Tan, kenapa loe mau pacaran sama Nazaruddin sih? Lihat tuh. Jelek banget mukanya kalau lagi bengong, hahaha...! Mana cemburuan lagi!" Ledek Fakih dan langsung mendapata toyoran oleh Nazaruddin lagi.
"Enak aja. Intan kan cinta sama gue karena gue baik hati dan tidak sombong, bukan karena wajah gue." Balas Nazaruddin lagi.
"Emang loe suka sama Nazaruddin karena dia baik Tan?." Tanya Nelly kepada Intan.
"Nggak kok. Kalau Nazaruddin jelek juga gue nggak mau pacaran sama dia." Jawab Intan cuek dengan santainya yang membuat Nazaruddin manyun dan membuat yang lain tertawa tebahak bahak.
"Hahaha...! Kasihan banget sih loe Zar." Ucap Hendry.
"Hahaha...! Langsung cemberut tuh Tan, anaknya!" Ucap Bagas.
"Huh dasar...!" Balas Nazaruddin.
"Hehehe...! Jangan marah ya Zar! Gue kan cuma bercanda." Ucap Intan lagi.
"Iyah...! Gue nggak marah kok sama loe." Ucap Nazaruddin seraya mengacak acak rambut Intan.
"Terasa dunia milik berdua dah. Yang lain ngontrak." Sindir Fakih.
"Emang, loe aja belum bayar kontrakan ma gue!" Ucap Nazaruddin yang membuat lain tertawa terbahak bahak dan membuat Fakih menggerutu kesal.
"Sialan loe." Balas Fakih tertawa.
***
Cuaca di sore hari cukup lumayan panas dan entah mengapa cuaca itu seperti memperlihatkan perasaan kedua cowo' tampan yang ada di lapangan indoor tersebut. Dua cowo' tampan tersebut hanya diam menunggu lawan bicaranya mengucapkan sesuatu. Tetapi sampai saat ini, tidak ada satu pun yang memulai pembicaraan nya. Cowo' tampan yang satunya sedang asyik mendribble bola basket yang ada di ruangan tersebut sedangkan cowo' tampan yang satunya sedang asyik duduk di salah satu bangku yang ada di lapangan indoor tersebut.
"Mau diem-dieman sampai kapan? Apa loe lupa tujuan kita ke sini?" Ucap cowo' yang sedang asyik duduk di bangku tersebut memecah keheningan.
__ADS_1
"Loe sendiri yang memulai diem kan. Jadi buat apa gue ngomong. Yang ada loe malah menuduh gue sebagai orang yang nggak punya etika lagi." Jawab cowo' tampan seraya mendribble bola basketnya dan membawanya mendekati Ring, Shoot dan …………. Masuk.!!! Padahal cowo' tampan itu melakukan shoot dalam jarak yang cukup jauh.
"Maksudnya apa tuh, loe mau nyindir gue. Kalo loe itu lebih hebat dari gue, gitu." Bentak Rano, Kapten Bakset Sekolah Menengah Pertama Xavirius tersebut.
"Udah lah Ran, gue lagi nggak pengin ribut sama loe. gue itu nggak pernah pengin nyari musuh. Apa lagi musuh gue itu loe. loe tahu nggak, dulu, gue lebih memilih mundur dari pada gue lihat loe kalah dan malu sama temen-temen loe. tapi itu gak mungkin Ran ……….." Terang Hendry sang Kapten Basket Sekolah Menengah Pertama Kotabumi seraya menaruh bola basketnya di tengah lapangan dan berjalan mendekati Rano berada.
"Iyah. Itu emang nggak mungkin. Karena loe pengin banget lihat gue kalah dan jadi bahan ejekan gitu buat semua temen-temen kita dulu." Ucap Rano memotong ucapan Hendry.
"Loe udah salah paham, berapa kali sih gue bilang sama loe kalau gue itu nggak bermaksud untuk membuat loe di permalukan sama temen-temen. Gue waktu itu bener-bener berharap kalau loe yang bakalan jadi Ketua OSIS dan Kapten Basket Ran. Karena gue tahu. loe pengin banget ngambil posisi itu." Jelas Hendry.
"Loe tahu. tapi kenapa loe masih mau saingan sama gue, kenapa loe nggak mundur aja waktu itu. Kenapa loe ngebiarin temen-temen kita menghina gue sebagai orang yang nggak punya harga diri. Kenapa Hen?, loe bisa jawab pertanyaan gue?" Balas Rano.
"Karena itu sebagai hadiah terakhir buat cewe gue yang udah meninggal." Jawab Hendry.
Ucapan Hendry barusan membuat Rano terdiam. Cowo' tampan itu memikirkan dan memahami apa maksud dari ucapan Hendry tersebut. Pikirannya berputar kembali ke kejadian di masa yang lalu. Dimana cowo' tampan itu mempunyai seorang kekasih yang sangat di cintainya. Dan dirinya pernah mendengar sesuatu yang buruk mengenai mereka berdua. kekasih pemuda tampan ini meninggalkan Hendry untuk selama-selamanya.
"Kenapa loe diem. Loe masih mau nuduh gue sebagai orang yang ngerebut semua posisi loe?" Tanya Hendry setelah menyadari diamnya seorang Rano di hadapannya.
"Gue nggak ngerti sama apa yang loe omongin tadi, Hen!. Kenapa loe bawa-bawa Novi. Emangnya gue percaya apa sama yang loe omongin." Balas Rano.
"Ran, loe mesti percaya. Gue itu ngelakuin itu semua karena cewe' gue. Cewe' gue pengin banget gue jadi kapten basket dan ketua OSIS. Dan terserah loe mau percaya apa nggak. Saat dia menuntut gue kaya gitu, dia bilang itu adalah permintaan terakhir dia ke gue. Dan dia juga ngomong sama gue kalau dia nggak akan nyusahin gue lagi dan gue di suruh nyari cewe' lain lagi. Loe tahu, waktu itu gue berfikir kalau cewe gue cuma bercanda, karena itu nggak masuk akal banget. coba loe bayangin! Kalau loe punya cewe' terus cewe' itu minta loe mutusin dia secara tiba-tiba dan loe di suruh nyari cewe' lain lagi. Apa yang loe fikirin waktu itu." Terang Hendry yang membuat Rano terdiam.
"Gue... gue …………!" Rano terbata-bata dalam jawabannya.
"Ran, nggak tau kenapa waktu cewe' gue nyuruh gue jadi ketua osis dan kapten basket gue jadi nggak seneng dan nggak berminat buat menuhin permintaan dia. karena fikiran gue waktu itu, gue nggak pengin itu adalah permintaan terakhir dia waktu itu. Gue pengin permintaan terakhir dia adalah dia mau menikah sama gue dan hidup sama gue selamanya. Tapi takdir berkata lain, kecelakaan na'as itu membuat gue kehilangan sosok cewe' gue yang gue sayangi buat selamanya. Waktu itu gue syok banget. Kenapa permintaan terakhir dia nggak gue turutin. Kenapa gue nggak berusaha supaya bisa menuhin permintaan dia?. Kenapa gue gak berusaha nyenengin dia di saat terakhirnya?. Dan permintaan terakhir itu terjadi. Dia bener-bener nggak akan ngasih permintaan sama gue lagi." Ucap Hendry lirih.
"Hen, gue nggak bermaksud membuat loe jadi kaya gini. Gue nggak tahu kalau Novi itu yang meminta loe buat jadi kapten basket dan ketua OSIS untuk hadiah terakhirnya." Ucap Rano dengan nada bersalah.
"Nggak apa-apa kok bro, loe kan nggak tahu. loe jangan salah paham sama gue ya!. Gue waktu itu semangat supaya gue bisa jadi kapten sama ketua OSIS karena gue pengin memenuhi permintaan terakhir cewe' gue. Dan gue bersyukur banget karena gue mampu untuk menuhin permintaan terakhir itu." Balas Hendry masih dalam nada suara yang lirih menahan kesedihan yang di rasakan dalam hatinya.
"Sorry yah bro sekali lagi, gue emang salah. Gue yang udah memulai ini semua. Seandainya aja waktu itu gue dengerin penjelasan loe, pasti sekarang kita udah jadi sahabat yang keren!. Gue bisa jadi wakil ketua osis dan gue bisa satu team sama loe. walaupun gue nggak jadi kaptennya." Ucap Rano seraya merangkul Hendry.
"Hahaha...! Berarti itu salah loe dong. Loe yang udah musuhin gue waktu itu." Jawab Hendry seraya membalas rangkulan Rano.
"Iya gue yang salah. Loe mau nggak jadi sahabat gue. Kita nggak usah musuhan lagi bro. gue juga bakalan minta maaf sama temen-temen loe. karena gue udah salah banget sama mereka." Balas Reno.
"Yoi. Gue juga pengin minta maaf sama temen-temen loe." Balas Hendry.
"Sekarang kita damai. Gue pengin loe maafin gue dan loe mesti mau jadi temen gue, bahkan jadi sahabat gue. Buat selamanya. Gue janji gue nggak akan ngulangin kesalahan yang sama." Balss Rano senang.
__ADS_1
"Yoi bro. gue mau kok jadi sahabat loe." Ucap Hendry dan membuat keduanya tertawa bersama-sama.