
Papah Rosa merasa geram sekali dengan Rosa. Ditamparnya pipi Rosa.
"Kamu sudah berani mengkuliahi orang tua, ya?!" Ucap papah jengkel.
"Berani karena aku tahu, aku benar. Selama ini aku diam saja, tidak pernah berkomentar apalagi protes tentang Tante Mia, simpanan papah yang sering kemari itu. Diam bukan berarti aku nggak bisa menilai. Karena Papah nggak tahu apa artinya cinta, Papah nggak berhak melarang atau menceramahi aku untuk nggak pacaran sama Fakih." kata Rosa sambil menangis lalu lari masuk kamarnya dan mengunci pintu dari dalam. Perih sekali pipinya. Dia masuk kamar bukan cuma karena ingin menangis, tapi juga karena mendengar sayup-sayup bunyi telepon di kamarnya.
"Cha...?" Sudah bisa ditebaknya, Fakih.
Rosa tidak bisa menjawab karena sibuk mengatur napasnya.
Fakih bisa mendengar isak tangis Rosa lewat telepon. "Sudah! cup! jangan menangis, sayang. Seperti habis di gebukin saja, Cha." kata Fakih berusaha bercanda untuk membuat Rosa tertawa akan tetapi Rosa malah tambah kencang menangisnya.
"Hey, Cha...! Elo nggak diapa-apain kan sama Mamah elo?" tanya Fakih heran. Dia belum pernah mendengar Rosa menangis seperti ini.
"Nggak. Sungguh? Hmm...! Cuma ditampar sama Papah. Sekali." Jawab Rosa masih dalam keadaan menangis.
"Ya ampun?" Fakih mengelus dadanya. Kasihan sekali Rosa, katanya dalam hati. "Cha...!, kalau elo nggak kuat, kapan saja kamu boleh menyerah. Elo tinggal bilang terus terang. Gue sangat mengerti koq." Jelas Fakih.
Rosa menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiba-tiba dia sadar, dengan menggelengkan kepalanya, bagaimana Fakih bisa tahu? Dia lalu tertawa sendiri.
"Koq ketawa sih?" Fakih jadi tambah bingung.
"Nggak. Gue barusan geleng-geleng. Trus gue mikir, bagaimana elo bisa tahu kalo gue geleng-geleng, kalo gue nggak sambil ngomong?" katanya geli. "Gue belum mau menyerah koq, Kih. Doain semoga gue bisa kuat ya, Kih. Gue nggak ingin menyerah sampai kapan pun. Ingat nggak, Kih, gue pernah bilang, mau heppy itu susah buat gue. Butuh banyak pengorbanan. Elo juga mesti sabar, yah?" Jelas Rosa.
"Cha, elo pernah tanya, seperti apa sih tipe cewe' idaman gue. Sekarang gue tahu. Yang persis seperti elo, Cha. Semuanya yang ada di dalam diri elo, gue suka. Gue sanggup menunggu elo selama apapun. Untuk mendapatkan yang terbaik, orang mesti sabar." Ucap Fakih.
Rosa tersenyum puas. Lega sekali rasanya.
"Kih, elo tetap datang besok sore, yah!?" Lanjut Rosa mengingatkan Fakih.
"Elo yang undang, gue pasti datang." Balas Fakih.
"Gue cuma pesan sekali lagi, elo mesti ekstra sabar. Tadi saja di depan gue mamah sudah ceramah tentang golongan. Besok sore bisa tambah ganas, Kih." Jelas Rosa.
"Gue heran gimana cewe' sebaik elo bisa lahir dari lingkungan rasialis seperti itu. Elo pasti anak pungut ya Cha?." goda Fakih.
"Iya. Anak keluarga Fakih." Balas Rosa becanda.
"Huh. Elo nggak mirip papah dan mamah gue sama sekali. Nggak mungkin, lah. Lagi pula, kalo elo anak keluarga Fakih, berarti kita saudara, dong. Mana boleh pacaran. Ngaco elo, Cha!" Jelas Fakih tertawa.
"Ya sudah deh. Jangan lupa berdoa malam ini." Ucap Rosa akhirnya.
"Iya deh, nanti gue minta ibu gue ikut berdoa. Biasanya doa ibu itu selalu terkabul." Balas Fakih.
__ADS_1
Rosa lalu menutup teleponnya. Seraya meletakkan gagang telepon, Rosa menatap cermin di hadapannya. Pipinya masih merah. Di pegangnya pelan-pelan. "Aduh!" Dia lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang empuknya.
Kelelahan, Rosa pun ketiduran.
***
Rosa terbangun karena teleponnya berbunyi lagi.
"Hallo?" kata Rosa sambil menoleh ke arah jam weker di sebelah tempat tidurnya. Jam setengah dua belas malam.
"Cha...!" Suara Fakih masih kedengaran segar bugar.
"Ini sudah hampir tengah malam, Kih. Elo nggak bobok?" tanya Rosa.
"Kangen. Gue lagi dengerin radio, dengerin lagu trus jadi inget elo. Sampe gue rekam di kaset lagunya. Nih dengerin?"
"So, I say a little prayer
And hope my dreams will take me there
Where the skies are blue
To see you once again, my love
Overseas, from coast to coast
Where the fields are green
To see you once again
My love"
"Cha, karena gue, elo di tampar papah elo. Gue janji, gue nggak akan pernah sakitin elo." Ucap Fakih lirih.
"Yah nggak sakitin tapi bangunin orang lagi tidur nyenyak." gerutu Rosa.
"Gue nggak bisa bobok" Inget elo?" Jawab Fakih.
"Lha gue udah bobok, nih." Balas Rosa.
"Mimpiin gue nggak?" Tanya Fakih berharap.
"Nggak." Jawab Rosa singkat.
__ADS_1
"Makanya gue telfon. Gue harus memastikan elo mimpiin gue!." Balas Fakih.
"Iya" iya" lagi pula elo koq tumben senang dengerin lagu melankolis begini sih?" Tanya Rosa.
"Gara-gara elo, Cha." Balas Fakih.
"Koq?" Ucap Rosa terhenti.
"Semenjak kenal elo, gue jadi suka dengerin lagu-lagu cengeng begini. Cocok sama suasana hati. Nggak tau kenapa." Ucap Fakih jujur. Rosa cekikikan. "Sudah berdoa?" tanya Fakih.
"Oh, iya belum. Gue ketiduran, besok sore siap-siap ya, jangan lupa!." Balas Rosa.
"Tuh kan.. untung kan gue telepon, mengingatkan elo untuk berdoa. Udah berdoa sana, trus bobok. Met bobok, sayang?" Ucap Fakih dari kejauhan.
"Centil ah sayang-sayangan segala." Rosa jadi tersipu malu.
"Memang sayang koq." Balas Fakih lagi.
***
Dari pulang sekolah sampai sore ini, Fakih sibuk membongkar lemari pakaiannya. Tidak puas, dia mengobrak abrik lemari bapaknya juga. Tujuannya cuma satu yaitu menemukan pakaian yang pantas untuk di pakai ke rumah Rosa malam ini. Sebetulnya banyak pilihan. Cuma karena bingung dan senewen, rasanya dari tadi tidak ada yang pas.
Ibunya sampai ikut-ikutan pusing memilihkan ini dan itu. Lebih pusing lagi melihat kamarnya yang ikut berantakan. Kakak-kakaknya selama ini jatuh cinta ya jatuh cinta, tapi tidak pakai acara membongkar seisi rumah seperti ini. "Kih, ini bagus nih?" kata ibu menunjuk hem hijau muda lengan panjang dari timbunan celana-celana panjang.
"Nggak" jelek ah, Bu." Fakih menolak.
"Bagaimaina dengan yang ini?" Tanya ibu lagi.
Fakih menoleh lagi. Hem batik biru lengan panjang yang ada di tangan ibu itu keren juga. Tapi apakah cukup keren untuk acara malam ini"
Fakih menggeleng ragu. "Kih, sudahlah. Capek sudah ibu melihat kamu bongkar-bongkar begini. Nanti pasti ibu juga yang beres-beres. Lagi pula, Rosa juga pasti tidak menginginkan kamu datang sebagai orang lain. Tunjukkan jati dirimu, Kih, jati diri yang dicintai Rosa. Supaya papah mamanya Rosa bisa melihat seperti apa Fakih Alfarizi yang diidolakan anaknya itu." Jelas ibu Fakih dengan detail.
"Begitu ya, Bu? Jadi batik ini bagus ya, Bu?" tanya Fakih masih bingung.
Ibunya tersenyum. "Tentu saja. Itu yang ibu berusaha bilang dari satu jam yang lalu." Lalu ibu meneruskan, "Ini sudah jam lima, lho. Kamu lebih baik mandi dulu. Percuma pakai baju bagus-bagus kalo bau kecut." Lanjut ibu Fakih lagi mengingatkan.
"Oh, ya." Fakih lalu berdiri. Lututnya terasa kaku setelah hampir dua jam penuh duduk di lantai.
***
Sementara itu, di rumahnya, Rosa pun sedari tadi mendekam di kamarnya. Hatinya deg-degan. Sudah dari tadi deg-degannya. Semakin mendekati jam tujuh, semakin kencang debar jantungnya. Sambil menyisir rapi poni di dahinya, komat-kamit Rosa melontarkan doa.
"Biarlah malam ini terjadi sesuai keinginanmu, Ya Allah...!"
__ADS_1
Jam tujuh kurang seperempat. Pelan-pelan Rosa keluar kamarnya setelah melongok terlebih dahulu. Merasa aman, dia lalu melangkah ke ruang tengah.
"Oma"!!" Begitu melihat neneknya di ruang tengah, Rosa langsung lari memeluk nenek tercintanya itu.