
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Siswa siswi berhamburan keluar kelas untuk bisa bersantai di rumah masing-masing. Hendry dengan santai melangkah keluar kelas dan menunggu cewe'nya di koridor kelas setelah berpamitan kepada Ari, Fakih, Bambang, Nazaruddin dan Bagas sahabat-sahabatnya Hendry.
Setelah agak lama Hendry hanya diam mematung melihat pemandangan di luar kelas. Zahra dengan santai merangkul lengan Bagas yang sudah jelas notabenya sebagai teman akrab Zahra yang memberikan masukan-masukan akan kedekatannya dengan Hendry, akan tetapi ada perasaan cemburu dan tidak rela melihat cewe'nya itu merangkul lengan Bagas walau pun hanya sebatas sahabat.
"Hay Beb, elo sejak kapan disini." Tanya Zahra santai tanpa melepaskan lengan Bagas.
Dengan menatap lengan Bagas yang sedang di rangkul oleh cewe' nya Hendry menjawab! "Baru sih. Elo mau ngapain sama Bagas?." Jawab Hendry berusaha menutupi kecemburuannya dan bersikap santai dengan memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.
"Oh, gue mau nonton sama Bagas, Hen!, dia tadi udah bikin gue ngakak abis sama kekonyolan dia, kalau elo lihat juga bakalan ngakak deh kaya gue. Oya hari ini gue nggak pulang bareng elo ya. Gue mau pergi sama Bagas soalnya." Terang Zahra antusias menceritakan tentang Bagas itu.
"Ooooh gitu. Ya udah nggak apa-apa. Bro, gue titip Zahra ya!" Ujar Hendry santai.
"Ok. Sipppt kalau gitu. gue ijin bawa cewe' loe yah." Ucap Bagas seraya tersenyum terpaksa.
"Ya udah Beb, gue pergi dulu yah. Dadaaahhhh. Yukh Gas." Pamit Zahra seraya melambaikan tangannya ke Hendry dan menyeret Bagas.
"Kenapa sih, gue selalu kelihatan lemah di depan dia. Pengecut banget gue jadi orang." Gumam Hendry berusaha sabar seraya berjalan menuju parkiran motornya.
***
Cowo' tampan ini memarkirkan motornya di bagasi rumahnya. Setelah itu memasuki rumah megah berwarna putih biru yang sangat mewah dengan di lengkapi sebuah kolam ikan dan taman di depan rumahnya. Dengan langkah malas cowo' ini memasuki rumahnya itu.
"Hendry, mamah mau bicara sama kamu." Ucap wanita paruh baya yang merupakan mama Hendry.
"Ngomong aja mah." Jawab Hendry sekenanya. Seraya membuang muka.
"Hendry, mamah tahu kamu marah sama mamah dan papah. Tapi kamu juga harus mengerti nak, kita itu udah nggak bisa sama-sama lagi. Ini memang jalannya mamah sama papah Hendry, kamu jangan buat mamah bingung dengan sikap cuek kamu dong.”
Jelas mamahnya.
"Mamah, Hendry itu nggak marah sama mamah. Hendry Cuma masih belum terima aja atas perpisahan mamah sama papah. Hendry sayang sama mamah papah, dan Hendry pengin lihat kalian semua bahagia. Kalau memang kalian bahagia dengan perpisahan kalian, Hendry akan terima mah." Ucap Hendry seraya memeluk mamahnya itu dengan lembut.
"Makasih yah sayang!" Ucap mamahnya Hendry sembari melepaskan pelukan Hendry dan mengusap lembut rambutnya. "Sekarang mamah Tanya sama kamu. Kamu mau ikut papah dengan tetap tinggal disini atau ikut mamah ke rumah nenek. Hendro adikmu, memutuskan untuk ikut mamah ke rumah nenek sayang. Kamu gimana?" Tanya mamah Hendry.
__ADS_1
"Hendry nggak mau tinggal sama papah disini. kasih Rio kesempatan mah, supaya Rio bisa berfikir untuk meninggalkan rumah ini dan ikut sama mamah." Pinta Hendry.
"Iya sayang. Mamah akan kasih kamu kesempatan. Tapi nanti sore mamah sama Hendro akan berangkat ke rumah nenek. Kalau kamu udah berfikir, dateng ke rumah nenek ya sayang. Mama juga mohon banget sama kamu, satu minggu lagi mamah pengin kamu dateng ke pengadilan." Pinta mamah Hendry.
"Iya mah, sekarang aku mau pergi ke rumah temen Hendry yah mah. Hendry janji, satu minggu lagi Hendry akan dateng ke pengadilan buat lihat mamah papah terakhir bersama." Ujar Hendry seraya menghapus air mata mamah tercintanya itu. "Hendry pergi yah mah. Jaga diri mamah baik-baik." Lanjut Hendry seraya keluar dari rumah itu dengan perasaan tidak menentu.
***
Hendry menuju ke rumah Fakih yang notabenya sahabat Hendry yang bisa memberikan sebuah ketenangan dalam berfikir atau pun bertindak dan dari dulu Hendry selalu bersama dengan Fakih dalam segala hal walau pun terkadang di sekolah mereka seperti tidak terlalu akrab. Setelah dia memarkirkan motornya di depan rumah Fakih, cowo' ini melangkah memasuki rumah Fakih dan menekan bel rumah itu.
"Hendry, ngapain loe." Tanya Fakih agak santai. "Ya udah masuk dulu bro," Suruh Fakih mempersilahkan Hendry masuk dan dirinya langsung mengikuti di belakangnya.
"Kenapa Bro, loe lagi ada masalah sama cewe' loe?" Tanya Fakih langsung menawarkan Hendry agar duduk di ruang tengah.
"Nggak, nie masalah keluarga gue bro." Jawab Hendry seraya duduk di sofa mengikuti Fakih.
"Emangnya kenapa?" Tanya Fakih.
"Nyokap Bokap gue mau cerai, dan gue di suruh milih mau tinggal bareng siapa, jelas aja gue milih tinggal sama nyokap gue, dari pada gue tinggal bareng bokap yang kerjaanya cuma seneng-seneng, minum-minuman. Akh, gue bingung Kih, di satu sisi gue sayang banget sama nyokap gue, tapi gue juga nggak bisa ninggalin rumah itu, rumah itu terlalu banyak kenangan masa lalu gue Kih." Terang Hendry.
"Iya Kih, Thanks yah. Oyah gue boleh tinggal di sini nggak buat sementara. Satu minggu aja deh bro. sampe proses pengadilan selesai." Pinta Hendry.
"Boleh banget lah, kebetulan nyokap bokap lagi pergi keluar kota selama dua minggu ini. Gue cuma tinggal bareng sama bibi doang. Dengan adanya loe kan, gue nggak mungkin kesepian. Oya Zahra udah tahu tentang ini?" Tanya Fakih.
"Belum, dan gue minta sama loe supaya loe jangan ngasih tahu dia. gue mohon jangan ngasih tahu dia. gue takutnya dia itu malah kasihan sama gue." Jelas Hendry.
"Iya Bro, gue tahu kok, jawaban loe pasti kaya gitu. loe tuh terlalu baik Hen. Loe lihat cewe' loe deh, dia selalu aja cerita tentang masalahnya ke loe. tapi loe, sama sekali nggak pernah cerita kan sama dia, loe selalu nanggung masalah loe sendiri tanpa harus berbagi sama dia." Ucap Fakih menyimpulkan sahabatnya itu.
"Gue nggak mau aja dia terlalu banyak pikiran. Loe janji sama gue nggak akan bilang semua ini kan?" Tanya Hendry memastikan.
"Iya Bro, gue janji. Ya udah loe istirahat gih. Di sebelah kamar gue noh. Disitu biasanya buat sepupu gue kalau lagi nginep disini." Balas Fakih tersenyum.
"Ok.... deh. Gue masuk ke kamar ya bro, gue capek banget pengin istirahat." Ucap Hendry seraya beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamar yang ditunjukkan sahabatnya itu.
__ADS_1
***
"Halo sayang." Sapa seorang cewe' berjalan menyusul langkah Hendry menuju ruang OSIS.
"Hay juga." Jawab Hendry tersenyum.
"Elo lagi ngapain? Oooh yah. Gue punya cerita seru nie pas gue jalan-jalan sama Bagas kemarin. Filmnya Hen, aaakh keren banget pokoknya. Coba elo kemarin ikut, pasti elo bakalan seneng deh. Terus pulangnya gue tuh mampir di taman bermain yang buat anak-anak itu Hen. Di sana banyak banget permainanya, tadi Bagas juga ngajakkin gue naik permainan yang ada di sana. Seru deh pokoknya, kapan-kapan elo harus mau ya datang kesana sama gue." terang Zahra antusias menceritakan kejadian yang di alaminya bersama Bagas kemarin.
"Elo seneng banget kayaknya Ra?" Tanya Hendry mengalihkan perhatian supaya cewe' nya itu tidak membicarakan kisahnya kemarin bersama Bagas.
"Iya, pake banget Hen! Elo sendiri kemarin ngapain?" Tanya cewe' itu balik.
"Nggak ngapa-ngapain. Udah makan?" Tanya Hendry.
"Udah tadi sama Bagas di kantin sekolah!" Jawab Zahra singkat.
"Ooooh. Sekarang tambah deket aja sama Bagas." Ucap Hendry memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Zahra.
"Hah, nggak lah. sekarang kan gue sama elo. Masa gue suka sama Bagas sih. Sama sekali nggak ada kok, elo mesti percaya sama gue. By the way elo cemburu?" Tanya Zahra.
"Cemburu...? Nggak lah. ngapain juga gue cemburu. Kalau elo sama Bagas jalan lagi juga gue nggak masalah kok. Yah kayaknya elo itu lebih bahagia sama dia dari pada sama gue." Balas Hendry menyindir halus.
"Elo tuh ngomong apa sih. Gue sama sekali nggak ada apa-apa ma Bagas, terus kenapa elo ngomong gitu coba. Udah nggak sayang lagi nie ceritanya?" Omel Zahra.
"Nggak gitu sayang. Cuma tanya aja kok. Yah siapa tahu nanti elo jadi ada rasa gitu sama Bagas, jadi elo nggak usah ngerasa bersalah sama gue, elo bisa langsung mutusin gue." Lanjut Hendry tanpa basa basi.
"Hendry, elo tuh apa-apaan sih. Elo udah nggak sayang lagi sama gue ya." Bentak Zahra.
"Bukan gitu tapi …..!" Ucap Hendry terhenti.
"Ihhh nyebelin. Elo tahu kan gue lagi sendirian di rumah. Nggak ada salahnya dong Bagas ngajak pergi gue. jahat banget sih. Udah tahu gue lagi kesepian. Elo juga. Kenapa nggak ngajak jalan gue. seenggaknya main ke rumah gitu. nggak perhatian banget jadi cowo'...!" Ucap Zahra.
"Ra, bukan gitu, tapi gue……!!!" Ucap Hendry kembali terhenti.
__ADS_1
"Tapi apa, udah akh. Tujuan gue nemuin elo itu supaya gue itu ada temen buat di ajak ngobrol. Ekh elo malah gitu. cemburuan banget. Besok elo nggak usah datang yah buat jemput gue. Gue tadi udah janjian mau berangkat bareng Bagas. Ooooh yah satu lagi. Elo nfgak usah cemburuan lagi. Gue nggak ada apa-apa sama dia." Lanjut Zahra, mengakhiri pembicaraan dengan kekasihnya tanpa memberi kesempatan kekasihnya untuk berbicara.
"Huft, Sabar Hendry. Loe nggak boleh emosi." Gumam Hendry dalam hati.