
"Ibu nggak heran kamu jatuh cinta sama Rosa." kata ibu Fakih kemudian.
"Ibu nggak keberatan, walaupun Rosa bukan gadis Jawa?" tanya Fakih.
"Tentu saja nggak. Kamu sudah Ibu besarkan, Ibu didik dengan pengertian bahwa semua manusia itu sama di mata Tuhan. Ibu bangga, kamu bisa melihat jati diri Rosa dari balik perbedaan kulitnya. Ibu pun bisa melihat Rosa sebagai seorang gadis yang teramat cantik, karena kecantikan dari dalam dirinya." Jelas Ibunya Fakih.
"Bagaimana aku bisa yakin kalau ini benar-benar cinta, Bu" Bukan sekadar perasaan sementara saja?" tanya Fakih.
"Itu kamu harus bisa merasakannya sendiri. Ibu nggak bisa menilai. Ibu cuma bisa menyarankan, ikuti kata hatimu." Lanjut Ibunya lagi.
Ibunya lalu menghibur Fakih dengan bercerita tentang jaman ibu pacaran sama bapak dulu, cerita-cerita cinta kakak-kakaknya, dengan
segala perjuangannya masing-masing.
Dengan mendengarkan cerita ibunya, Fakih jadi semakin yakin dia perlu memperjuangkan cintanya, karena cinta itu hal yang paling mulia di dunia ini, yang layak untuk dipertaruhkan.
***
Hari Senin, tanggal 17, anak-anak siswa siswi Sekolah Menengah Pertama bersiap-siap untuk mengikuti upacara bulanan yang selalu diadakan tiap tanggal 17. Bagas tadi sudah sampai sekolah jam setengah tujuh kurang, tapi lupa kalau hari ini tanggal 17, jadi tadi tidak memakai seragam upacara. Lantas pulang lagi, ngebut, ganti baju seragam lalu kembali ke sekolah lagi. Sampai sekolah jam tujuh kurang lima menit, bertepatan dengan bel pertama masuk. Pintu gerbang hampir saja ditutup. Ayu cepat-cepat lari ke dalam kelas, untuk menaruh tas sekolahnya. Dari jauh dilihatnya koridor sudah sepi, semua anak sudah mulai berbaris di lapangan, rupanya. Setelah menaruh tasnya dari luar jendela, dia berbalik ke arah lapangan.
Dilihatnya Bagas baru saja keluar dari WC putra. Berusaha menghindar, dia balik kanan, masuk ke dalam kelas lagi. Rupanya Bagas cukup awas matanya. "Ayu...!," panggil Bagas cepat. "Untung ada elo. Tolongin dong gue dari tadi di WC berusaha pake dasi ini nggak bisa-bisa." kata Bagas dengan nada putus asa.
Ayu ragu-ragu mendekat. Dia lalu tersenyum geli melihat dasi Bagas yang kucel karena terlalu banyak dilipat-lipat.
"Kenapa nggak dipakai dari rumah dasinya" Kan bisa minta tolong ibu elo?" tanya Ayu sambil menerima dasi dari tangan Bagas.
"Panas dong pake dasi dari rumah, apalagi gue naik sepeda." kilah Bagas.
Ayu yang sedari kecil sering melihat papanya memakai dasi, ilmu pasang dasi bukanlah hal yang baru untuknya.
Ayu lalu menaikkan kerah baju Bagas. Sekilas, tak sengaja ditatapnya wajah Bagas. Alisnya yang tebal, mata coklatnya benar-benar menawan.
"Aduh, kenapa jadi deg-degan begini, sih?" keluhnya dalam hati, lalu memusatkan perhatiannya pada dasi yang menggantung di leher Bagas.
"Malu-maluin ah, cowo' nggak bisa pakai dasi." kata Ayu, matanya masih tertumbu pada dasi Bagas.
"Emang cowo' harus bisa pake dasi? Aku belum pernah ke acara di mana aku harus pake dasi koq." bela Bagas.
"Nih" sudah jadi. Gimana" Bagus nggak?" tanya Ayu sambil merapikan hasil karyanya.
"Perfect. Makasih ya Ayu sayang. Oh ya" tentang kemarin?" Ucap Bagas.
"Tolong jangan sebut-sebut tentang kemarin, Gas. Please." Balas Ayu.
"Gue cuma mau minta maaf, kalau gue sudah sakiti hati elo kemarin. Tapi gue benar-benar serius, Yu. Nggak ada maksud membuat hati lo sakit dengan kelakuan dan tuduhan gue yang nggak pada tempatnya, gue cemburu Yu, lihat elo dekat ama Ari walaupun ada Nelly!" lanjutnya.
Ayu diam saja, membeku. "Keluar, yuk. Upacara sudah hampir mulai, tuh!" kata Ayu mengingatkan, mengalihkan pembicaraan mereka berdua.
Selesai upacara, seisi sekolah jadi gempar karena Reni kehilangan gelang emasnya yang dia tinggal di laci mejanya. Bodoh benar Reni, dia memang sering menaruh barang-barang berharga di laci. Uang, gelang, dan lain-lain.
__ADS_1
Pak Umar Yamin, sebagai Kepala Sekolah Menengah Pertama, mengumumkan akan mengadakan penggeledahan segera. Dari kelas satu sampai kelas tiga. Semua kelas akan digeledah total sampai gelang Reni ketemu.
Anak-anak berkumpul di depan kelasnya masing-masing. Nelly melihat Jimmy lewat. Jimmy yang juga melihatnya memandang Nelly dengan tampang licik. Nelly mengernyitkan dahinya.
Instingnya langsung bekerja. "Ari!" Nelly memanggil Ari yang berdiri tidak jauh dari situ.
"Perasaanku nggak enak. Bisa jadi ini adalah akal-akalannya Jimmy. Coba cek tas kamu, Ri." kata Nelly mengajak Ari masuk kelas, ke arah meja mereka. Ari mengecek seisi tasnya. Tidak ada apa-apa. Tak ada satupun barang yang hilang, maupun barang yang mencurigakan.
"Cek ulang," perintah Nelly. "Gue nggak mungkin salah." gumamnya. "Pasti ada apa-apanya, nih."
Nelly lalu melongok ke laci meja sebelah Ari.
"Astaga, Ri...!"
Ari terkejut, ikut melongok ke arah lacinya. Tidak cuma gelang Reni yang ada di situ. Uang dalam jumlah besar juga ada di situ.
Ari dan Nelly saling menatap, tidak percaya.
"Nel, ini laci punya Bagas? Tapi nggak mungkin kalau Bagas yang mencurinya!" kata Ari bingung.
Tiba-tiba Ayu datang ke kelas juga! "Kalian sedang apaan?" Tanya Ayu.
"Gelang Reni ada di laci meja Bagas Yu!" Jelas Nelly.
"Nggak mungkin kalau Bagas yang melakukannya Nel, Ri! Dia tadi saat upacara dengan gue terus kok!" Balas Ayu.
"Ada apaan ya? Kok kalian pada tegang seperti itu?" Tanya Bagas tiba-tiba.
"Gue percaya. Elo nggak akan mencuri. Sekarang bagaimana kita menghapus bukti ini, dan cepat!" kata Nelly panik.
"Gas, pindahin semua uang ke laci gue. Gue bisa mengaku itu uang gue. Ayo cepat." katanya.
Good idea...!!!
Selesai memindahkan semua uang kertas itu ke laci Nelly, mereka baru nyadar.
"Gelangnya...!" kata mereka hampir bersamaan.
"Taruh di laci gue aja, Gas. Siapa tau mereka percaya bahwa itu gelang gue." kata Ayu.
"Nggak. Gue nggak akan lakukan itu. Terlalu beresiko, Yu." kata Bagas sambil memegangi gelangnya.
"Lebih beresiko kalo ada di laci elo, Gas. Ayo dong, berikan pada gue." Desak Ayu.
"Jangan!" Ucap Bagas.
"Nggak usah berebut, serahkan pada saya." tiba-tiba Bapak Kepala Sekolah Menengah Pertama Pak Umat Yamin sudah berada di ruang kelas. Seperti tercekik, mereka tak bisa berkata apa-apa. Bagas menyerahkan gelang itu pada Pak Umar Yamin dengan gemetaran.
"Kalian berempat, ikut saya ke kantor." Ucap Pak Umar Yamin kemudian. Dengan langkah lunglai dan kepala tertunduk, mereka berempat mengikuti Pak Umar Yamin ke kantor kepala sekolah. "Ari, Ayu dan Nelly! kalian tunggu di luar. Saya mau bicara dengan Bagas dulu." Lanjut Pak Umar Yamin.
__ADS_1
Ari, Ayu dan Nelly! lalu mereka duduk di kursi diluar kantor kepala sekolah dengan cemas. Dari luar tidak terdengar apa-apa. Setidaknya Bagas tidak di bentak-bentak, pikirnya. Kalau di bentak pasti terdengar dari luar ruangan.
"Kasihan Bagas. Jimmy kurang ajar, mau menbalas dendam ke Ari sehubungan tempat duduknya sama dengan Bagas, akhirnya salah sasaran!" pikir Nelly geram.
Setengah jam kemudian, pintu terbuka kembali.
"Bagas, kamu tunggu di luar. Nelly, masuk." Setelah menutup pintu, Nelly duduk di depan meja Pak Umar Yamin. "Ceritakan apa yang kamu tahu." kata Pak Umar Yamin.
"Ini semua ulah Jimmy, Pak. Dia yang mau memfitnah Ari gara-gara dendam kemarin, akan tetapi yang terkena imbasnya malahan Bagas. Saya nggak punya buktinya sekarang, tapi Bagas nggak bersalah." Jelas Nelly.
"Benarkah itu? Kenapa Jimmy mau memfitnah Ari?" tanya Pak Umar Yamin.
"Karena Jimmy cemburu sama Ari. Ceritanya panjang, Pak. Mereka hari Sabtu kemarin berkelahi di lapangan parkir setelah pulang sekolah. Ini pasti akal-akalannya Jimmy, Pak. Ari tidak mencuri gelang itu. Bagas apa lagi, juga tidak mungkin." Jelas Nelly.
"Aneh sekali." kata Pak Umar Yamin kemudian. "Karena Bagas baru saja mengakui semua perbuatannya.
"Apa!" Nelly kaget.
"Bagas bilang, kamu tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini. Kamu cuma berusaha menyadarkan dia bahwa mencuri itu salah. Dia yang melakukan semua ini. Dia pun sama sekali tidak menyebut nama Jimmy. Dia mencuri gelang itu waktu anak-anak sudah keluar semua ke lapangan pagi tadi." Lanjut Pak Umar Yamin menjelaskan saat Bagas di panggilnya tadi.
"Dia bohong, Pak. Saya melihat kalau dia bersama Ayu tadi sebelum upacara. Di kelas 2A. Waktu itu saya melihat, Bagas keluar dari WC putra, dan dia mengaku sudah lama di WC karena nggak bisa pake dasi. Terus Ayu yang memakaikan dasinya. Dia ke lapangan bersama kami berdua, Pak." Jelas Nelly mencoba menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Kamu tahu hukuman apa yang harus saya di berikan untuk pencuri?" Pak Umar Yamin bertanya lagi.
Nelly menggeleng lemah.
"Skors seminggu untuk pertama kali ketahuan. Kedua kali dikeluarkan." jawab Pak Umar Yamin tegas.
"Pak, ini masalah serius. Saya belum pernah berbohong, terutama dalam masalah kritis seperti ini. Saya tidak akan membela Bagas atau pun Ari, jika saya yakin Bagas bersalah. Ini hampir ujian naik kelas, Pak. Kalau diskors, kasihan Bagas?" Jelas Nelly.
"Bagas sudah mengakui perbuatannya, Nelly. Kalau kamu bisa menunjukkan bukti-bukti bahwa dia bukan pencurinya, saya bersedia mencabut hukuman itu." Ucap Pak Umar Yamin bijaksana.
"Saya tahu Jimmy pencurinya. Tapi saya tidak punya bukti apa-apa sekarang." kata Nelly lemas.
"Saya tidak ada jalan lain, Nelly. Hukuman Bagas mulai besok pagi. Kalian berempat kembali ke kelas." Tegas Pak Umar Yamin.
Di luar pintu, Nelly melihat Bagas duduk tertunduk di kursi bersama Ayu dan Ari.
"Gas, kenapa elo bilang begitu sama Pak Umar Yamin?" Kenapa elo mengaku bersalah kalau elo nggak merasa berdosa?" Tanya Nelly sedih.
Bagas diam saja. Dia lalu melangkah menuju ke kelas...!!!
"Bagas. Jawab dong. Kita semus bisa sama-sama mencari bukti bahwa Jimmy pencurinya. Elo nggak perlu mengakui sesuatu yang bukan kesalahan elo, Gas." kata Nelly sambil berusaha mengikuti langkah Bagas di iringi Ayu dan Ari yang hanya diam membisu.
"Nelly, Ari dan Ayu! dengar...! Pikir dong. Kalau gue nggak akui ini, masalah ini bakal diekspose besar-besaran. Besar kemungkinannya kalian semua juga ikut diskors. Kita cuma bisa lebih hati-hati di lain waktu, jadi tidak terjebak seperti ini lagi. Yang sudah terjadi ya sudah. Jimmy pasti sudah memikirkan segala-galanya. Bagaimana kalian bisa menemukan bukti bahwa dia yang mencuri? Elo nggak punya bukti apapun untuk memulai tuduhan elo Nel. Semua bukti mengarah ke gue. Ini jalan keluar terbaik, percayalah. Jangan perpanjang masalah ini lagi." Jelas Bagas penuh perhitungan.
"Elo bisa minta waktu untuk membuktikan ketidakbersalahan elo, Gas. Kami pasti akan bantu." cegah Ayu kemudian yang mulai berani angkat bicara.
"Berapa lama? Seminggu, sebulan, dua bulan?" Pak Umar Yamin tidak akan setuju. Dia pasti menganggap aku pencuri yang berusaha melepaskan diri dari hukuman, dan kalian berusaha menolong pelarian gue. Sudahlah, lupakan saja." Nelly terpana dan yang lain kembali terdiam. Dari kata-kata Bagus, Nelly bisa jelas menangkap bahwa Bagus mengaku cuma dengan maksud untuk melindungi sahabat-sahabatnya. Kenapa dia harus berbuat seperti itu?
__ADS_1
"Gas, tunggu!" kata Nelly mengikuti Bagas. "Gue, Ayu dan Ari bisa melindungi diri sendiri. Apalagi gue nggak butuh pertolongan elo untuk membela gue, Gas. Elo nggak perlu berkorban seperti ini." Ucap Nelly kemudian.