
Kebetulan lima detik kemudian, mereka pas sampai di depan rumah Fakih. Dian sudah menunggu di teras depan. Melihat Fakih dan Rosa berboncengan, apalagi pegangan Rosa di pinggang Fakih begitu kencang, hati Dian terbakar api cemburu. Rupanya dia belum sempat tahu dan mendengar berita bahwa Fakih sudah berpacaran dan sudah menjadi kekasih sama Rosa. Cepat-cepat dia keluar lagi, ke arah sepedanya, bermaksud ingin pulang.
"Lho, lho, lho" Dian, kamu mau ke mana?" tanya Fakih heran.
"Pulang." jawab Dian singkat.
"Sorry kita dateng terlambat. Tapi cuma telat lima menit saja koq." kata Fakih bingung sambil melirik jam tangannya.
"Jadi kalian sudah jadian dan sekarang pacaran sama Rosa, Kih?" tuding Dian tanpa basa basi.
Walaupun heran akan reaksi Dian, Fakih mengangguk-angguk.
"Rosa, elo tuh nggak boleh pacaran kan sama papah mamah elo!?" Ucap Dian mengingatkan.
"Mereka tahu kamu pacaran?" Dian berbalik menuding Rosa. Gosip yang di dengarnya cukup up-to-date juga ternyata.
"Dian, kami belum lama pacaran koq. Baru dua minggu. Papah mamah Rosa belum tahu tentang ini. Dian, tolong jangan bikin gara-gara." Fakih yang menjawab.
"Gue nggak akan bikin gara-gara. Tapi lambat laun mereka pasti tahu. Lagi pula mereka berhak untuk tahu. Tapi sekarang gue mau pulang. Gue nggak peduli mau dapet berapa ulangan matematika besok, tapi gue mau pulang sekarang." Fakih cuma bisa mendesah menatap Dian yang melaju dengan sepedanya terburu-buru.
Dia lalu menggenggam jemari Rosa. "Elo nggak apa-apakan, Cha?"
Rosa menggeleng. "Gue juga mau pulang, Kih. Capek. Karena gue nggak perlu ngelesin si Dian, anterin gue balik ke sekolah dong?"
"Oke. Yuk naik." ajak Fakih.
Dari suaranya sama sekali tidak terdengar nada keberatan karena harus bolak-balik dari sekolah, ke rumahnya, lalu balik lagi ke sekolah lagi tanpa istirahat.
"Elo suka es krim vanilla ya, Cha?" tanya Fakih memecah kesunyian. Rosa dari rumahnya tadi sudah lima menit tak melontarkan sepatah kata pun. "Nggak juga. Gue suka es krim apa aja kecuali strawberry." Balas Rosa.
"Ooooh ya!, gue ingin mengundang Elo, untuk datang ke rumah besok!" Ucap Rosa.
__ADS_1
"Hah?" Fakih jadi kaget. "Gila elo, Cha" elo bercanda kan?" Ucap Fakih.
"Oke. You"re officially invited. Besok datang jam tujuh malam." Ucap Rosa yakin.
Fakih langsung menghentikan sepedanya. "Serius nih?" tanyanya sambil memegang bahu Rosa.
Rosa mengangguk ragu. Fakih langsung menjitak kepalanya pelan. "Jangan ngomong sesuatu yang elo tahu bakal rlo sesali di kemudian hari, Cha." Ucap Fakih.
"Kih, yang dibilang Dian tadi benar juga. Cepat atau lambat papah mamah pasti tahu. Teman-temannya banyak. Lebih baik tahu dari gue langsung, dari pada dari gosip orang lain." kata Rosa.
"Kalau elo memang sudah siap, gue juga siap, Cha." kata Fakih yakin.
"Sungguh, Kih? Bagaimana kalau elo di usir sama papah?" Tanya Rosa.
"Di usir ya pulang, dong. Itu kan rumahnya dia. Gue bisa apa coba?" Balas Fakih ringan.
"Gue pokoknya bakal belain elo, Kih. Gue nggak akan ijinkan papah ngusir elo. Elo bakal makan malam di rumah gue. That"s final. Tapi papah bisa benar-benar kejam, kata-katanya bisa jadi begitu menyakitkan. Gue takut kamu sakit hati, trus nggak mau ketemu gue lagi." Jelas Rosa.
"Gue nggak akan menyerah kalau selama elo nggak menyerah, Cha." Yakin Fakih.
"Mamah?"" Rosa terkejut sekali melihat mamanya naik mobilnya lewat di dekat sekolah. "Oh, tentu saja!" seru Rosa dalam hati, menyadari kebodohannya. "Salon mamah kan dekat sini."
"Masuk ke mobil, sekarang!" bentak mamah sambil membuka pintu mobil dari dalam. "Ayo, masuk." desak mamah.
Rosa menatap wajah Fakih sekilas sebelum masuk ke mobil. Walaupun wajah itu begitu diliputi ketegangan, tetap saja berusaha tersenyum untuk membesarkan hati Rosa tanpa berkata-kata.
Mamah langsung membentak Rosa begitu pintu mobil ditutup. "Itu cowo' pacar kamu ya Cha?" Tanya mamah keras.
Rosa mengangguk lemah. "Diadili lagi deh," pikirnya.
"Kamu sudah lupa, janji-janji sendiri nggak mau pacaran" Kamu apa-apaan boncengan sama cowok dekil itu! Nggak tahu malu!" Ucap Mamah lagi.
__ADS_1
"Namanya Fakih, Ma. Bukan cowok dekil." bela Rosa.
"Ma, rasanya sudah waktunya Rosa berterus terang, bahwa cinta itu memang ada dan sekarang cinta Ocha sudah bersemi." Ucap Rosa.
"Sudah mulai bisa ngomong cinta-cintaan kamu sekarang, ya? Lantas mau menasehati orang tua?" Tuding mamahnya Rosa.
"Bukan begitu maksud Ocha, Ma. Ocha sayang banget sama Fakih. Ocha cuma pengen mamah bisa ngerti. Percaya deh, Ma. Ocha nggak akan berbuat suatu kesalahan." Jelas Rosa.
"Mestinya kamu sudah bisa mengerti sekarang, cinta itu nggak ada gunanya. Pokoknya kamu nggak boleh pacaran, apalagi sama anak dekil itu." Tegas mamahnya Rosa mengejek.
"Kenapa memangnya koq terutama Fakih?" desak Rosa.
"Dia bukan dari golongan kita, Ocha. Apa kamu tidak sadar? Kamu cuma bakal menderita kalau sama dia. Tidak ada bibit, bebet ataupun bobot yang bisa dipandang. Kamu bisa pilih cowok yang lebih baik, yang dari golongan kita." Jelas mamahnya lagi.
"Golongan kita? Golongan apa yang mamah maksud? Golongan yang mendewakan materi? Golongan orang-orang berduit dan berdasi?
Golongan yang memandang rendah golongan lain karena merasa golongannya yang terbaik? Atau cuma semata-mata karena Fakih orang Padang, Mah?" tanya Rosa emosi. Sudah lama dia ingin mengungkapkan perasaan muaknya terhadap aksi penggolong-golongan ini.
"Ocha! Mamah sudah cukup toleran membiarkan kamu bergaul dengan Dina anak pembantu itu. Seharusnya mamah tahu, dia cuma membawa dampak buruk buat kamu. Kamu sekarang berani melawan orang tua, ya!" Lanjut mamahnya.
Mereka terus perang mulut sampai depan garasi. Masuk ke rumah, kebetulan ada Papah di rumah, sedang membaca koran di ruang tengah.
Mama langsung melapor tentang kejadian barusan.
Papah langsung naik pitam. "Seingat Papah, Papah sudah memperingatkan kamu untuk tidak dekat-dekat sama cowo' berandal itu." kata Papah. "Kamu sengaja mau melawan orang tua ya"!" Papah membentak.
Rosa tersentak kaget. "Dia bukan cowo' berandal, Pah. Bukan juga cowo' dekil, Mah. Namanya Fakih, anak dari seorang guru terpelajar yang baik dan jujur!. Rosa sangat sayang sama dia, Pah, Mah?" Rosa memberanikan diri untuk mengemukakan pendapatnya walau pun dia sadar benar dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Sayang,.. sayang?" Memangnya anak sehijau kamu tahu arti kata sayang?" tanya Papah sinis.
Rosa jengkel sekali diperlakukan seperti ini.
__ADS_1
Seperti anak kecil saja.
Rosa lalu menjawab, "Tentu saja tahu. ocha sudah besar, Pah. Tahu mana yang benar, mana yang salah. Apa pun arti kata sayang atau cinta itu, Ocha nggak pernah dapat dari Papah. Rasanya Papah yang perlu bertanya pada diri sendiri, apa arti cinta itu. Cinta itu personal. Cinta berarti setia. Nggak mungkin bisa yang tadinya cinta terus lama-lama nggak cinta. Apalagi mencintai orang lain dan membuat orang yang dicintai luka. Ocha yakin itu bukan cinta, ya kan Pah?" Jelas Rosa dengan alibi yang berani.