
Sesampainya di rumah Hendry langsung menuju ke kamarnya karena tidak ada orang di rumahnya yang lumayan besar dan mewah itu. Yang ada hanya bibi, sopir peribadi keluarganya dan tentunya adik tersayangnya. Setelah sampai di kamar dirinya langsung bergegas ke kamar mandi.
Setelah selesai, cowo' ini keluar dari kamar mandi dan langsung tiduran di ranjang. Dirinya sedang tidak enak badan setelah hujan-hujanan terlalu lama tadi. Ketika punggung tanganya menyentuh keningnya sendiri ternyata panas. Dirinya juga merasa pegal dan sangat lelah. Kemudian dirinya memutuskan untuk tidur.
***
Malam harinya di keluarga Hendry, tepatnya di ruang makan. Tampak seorang cowo' yang sedang menyantap makananya di ruang makan sendirian. Setelah bibi menaruh makananya di meja, cowo' itu bertanya kepada sang bibi.
"Bi, kak Hendry belum pulang juga?" Tanya sang cowo' yang duduk di ruang makan tadi.
"Udah den. Tadi bibi denger suara motornya. Mungkin sekarang lagi di kamar den...!" Jawab sang bibi ramah.
"Pulang naik motor? Tadi kan hujan bi, kak Hendry hujan-hujanan dong." Balas cowo' itu.
"Iyah den, tadi bajunya basah sekali. Wajahnya juga kelihatan pucat. Kalo den Hendro khawatir mending den Hendro susulin den Hendry di kamarnya aja. bibi masih banyak kerjaan di dapur soalnya den. Jadi belum bisa menjenguk den Hendry di kamarnya. Ya udah den, bibi permisi dulu ke dapur." Terang sang bibi seraya menuju ke arah dapur.
"Ya udah deh bi, Hendro ke kamarnya kak Hendry dulu yah...!" Pamit Hendro seraya melangkah menuju ke kamar sang kakak yang berada di lantai atas.
Hendro membuka pintunya dengan hati-hati karena dirinya tidak ingin kakaknya yang sedang sakit itu merasa terganggu dengan kedatangannya. Setelah berhasil masuk tanpa mengganggu kakaknya, Hendro langsung duduk di kursi di bawah kamar tidur kakaknya. Dilihatnya wajah pucat Hendry yang sedang terlelap dalam tidur indahnya.
"Panas...!" Pekik Hendro ketika punggung tangannnya menyentuh dahi sang kakak.
Cowo' tampan yang tadi masih asyik terlelap dalam mimpi menggeliatkan badannya karena mendengar pekikan seseorang yang cukup keras membuat dirinya terganggu. Mau tak mau Hendry membuka matanya melihat siapa orang yang sudah membuat dirinya bangun dari tidur nyenyaknya. Dilihatnya sang adik yang sedang duduk seraya menyunggingkan senyum manisnya.
"Ndro, sejak kapan loe disini?" Tanya Hendry seraya mengumpulkan nyawanya yang tadi sempat hilang selepas bangun dari tidurnya.
"Barusan sih kak, sorry yah kak. Gue udah ganggu tidur loe. badan loe panas. Kenapa?" Tanya Hendro sembari meminta maaf pada kakaknya.
"Tadi gue hujan-hujanan cukup lama. Mungkin karena badan gue juga nggak dilengkapi sama jaket makanya jadi nggak kuat gini." Jawab Hendry seraya menyandarkan tubuhnya di senderan kasur.
"Ought. Emang jaket loe kemana?" Tanya sang adik kepo.
"Di pake Zahra. Tadi gue kan pulang bareng sama dia, terus motor gue mogok di tengah jalan. Ya udah, terpaksa gue hujan-hujanan deh. Mamah sama papah belum pulang kan Ndro?" Tanya Hendry.
"Belum ko. Kenapa? Loe takut di marahin mamah sama papah? Gue jamin, kalo sampe mereka tahu loe pasti dapet ceramah yang amat sangat panjang dari mamah dan gue jamin loe pasti bakalan dapet peringatan dari papah. Lagian loe udah pernah dapet ceramah dari mamah supaya nggak hujan-hujanan lagi tapi masih tetep nekad aja sampe sekarang." Cerocos Hendro.
"Ckckck, loe kalo lagi ngomong nggak ada bedanya sama mamah ya Ndro, panjang banget. Udah loe keluar sana, gue mau istirahat. Dingin banget nih." Ucap Hendry seraya mengusir adik semata wayangnya itu.
"Iyah... Iyah...! Ya udah, loe istirahat. Gue keluar yah. Cepet sembuh loe." Ucap Hendro seraya keluar dari kamar sang kakak.
***
Keesokan harinya, terlihat seorang cewe' sudah berdiri di gerbang Sekolah Menengah Pertama Kotabumi dan sepertinya dirinya sedang menunggu seseorang. Pada hal jam yang bertengger di tangan sang cewe' masih menunjukkan pukul 06.30 Waktu Indonesia Barat jadi masih terlalu pagi jika dirinya sudah standbye di sekolah dan bertengger di gerbang sekolah seperti menunggu seseorang yang sangat berarti buat dirinya.
Pada saat dirinya masih asyik mengedarkan pandanganya ke segala penjuru sekolah. Dirinya di kagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba menepuk bahunya. Membuat sang cewe' langsung melihat siapa orang yang sudah mengganggunya.
"Nazaruddin, Intan...! Ngagetin." Pekik sang cewe' reflek.
__ADS_1
"Sorry ya, Zahra Talita Putri...! Lagian loe ngapain berdiri di sini di pagi buta. Kaya orang ilang ajah!" Ucap Intan.
"Yeee, sembarangan ajah kalo ngomong. Gue lagi nungguin…………!" Zahra dengan reflek menutup mulutnya menggunakan tanganya.
"Hampir aja. gengsi dong, kalo mereka tahu gue berdiri di sini dari tadi nungguin Hendry. Huft...!" Batin Zahra.
"Nungguin siapa hayooo? Nungguin hendry ya...?" Tebak Intan seraya menahan tawa melihat wajah sahabatnya yang merona merah karena malu.
"Apaan sih. Gue lagi nungguin Fakih tahu. mau ngomong penting." Sangkal Zahra.
"Jujur ajah lah Ra. Lagian gue kesini mau ngasih tahu loe tentang keadaan Hendry. Kalo loe emang nggak berniat nyari dia ya udah. Gue nggak jadi ngasih tahu." Ucap Nazaruddin memancing Zahra supaya berkata jujur.
"Eeeeh...! Emang kenapa sama Hendry? Dia baik-baik aja kan?" Tanya Zahra khawatir.
"Hahaha...! Ketahuan kan sekarang kalo loe emang lagi nungguin Hendry. Mau tahu nggak tentang Hendry?" Tanya Nazaruddin memancing Zahra lagi.
"Mau dong Zar. Gimana keadaan Hendry? Cepetan dong kasih tahunya...!" Ucap Zahra kesal.
"Iya... Iya... Segitunya perhatian loe ke Hendry. Dia sakit Zahra. Gara-gara kemarin kehujanan lama banget. demam gitu!" Terang Nazaruddin dan langsung membuat Zahra terpekik kaget.
"Serius loe Zar?" Tanya Zahra dan membuat pasangan cowo' cewe' di hadapannya mengangguk kompak.
"Iya serius Zahra. Ngapain gue sama Nazaruddin bohongin loe." Timpal Intan.
"Ya udah thanks yah...!" Ucap Zahra seraya beranjak dari gerbang sekolah. Tetapi Intan dengan cepat menahan langkah Zahra yang ingin keluar dari gerbang sekolah.
"Mau ke rumah Hendry lah. gara-gara gue dia sakit kaya gitu." Jawab Zahra.
"Eh, bentar lagi mau ulangan Fisika. Loe lupa? Pulang sekolah aja jenguk Hendrynya. Lagian loe kaya khawatir banget sih. Tenang ajah lagi. Hendry itu cuma demam, nggak parah Zahra." Cerocos Intan.
"Iya deh. Ya udah ke kelas yuk...!" Ucap Zahra seraya menarik tangan Intan meninggalkan Nazaruddin.
"Gila... Gue ditinggalin. Parah banget sih tuh cewe'-cewe'. Ninggalin gue sendirian disini. Ke kelas ajah deh, rese semuanya." Gerutu Nazaruddin seraya menuju ke kelasnya.
***
"Loe kenapa sih Ra? dari tadi ngelamun terus?" Tanya Nelly yang melihat perubahan Zahra sahabatnya. Sekarang dirinya dan para sahabatnya sedang berada di kantin Sekolah Menengah Pertama Kotabumi.
"Lagi mikirin Hendry tuh Nel. Galau dia gara-gara nggak lihat Hendry seharian ini." Goda Intan seraya tertawa.
"Rese loe Tan, gue merasa bersalah ajah sama hendry, gara-gara gue dia jadi sakit kan." Balas Zahra.
"Merasa bersalah apa khawatir hayo? Ngaku ajah nggak mau. Dasar... Loe nggak kangen gitu sama Hendry ya Ra! Selama ini kan loe berdua selalu berantem plus jadi jauh gara-gara kehadiran kak Fadly" Ujar Nelly yang membuat lainnya mengangguk setuju.
"Gue juga pengin mengakhiri semuanya Nel. Tapi cowo' loe tuh yang nyuruh gue buat kaya gini. Dan loe semua juga tahu kalau Ari nyuruh gue mengakhiri semuanya kalo prom night udah selesai." Jelas Zahra pada sahabat-sahabatnya itu.
"Iyah sih Ra. Kalo loe nggak kuat mending udahin ajah. Nggak usah dengerin kata-kata Ari. Ntar kalo Hendry nempel di cewek lain gimana?" Ujar Nelly.
__ADS_1
"Iyah bener banget tuh. Lagian nih yah. Gue lihat-lihat kayaknya kak Fadly mulai ada hati gitu sama loe. jangan-jangan dia beneran suka lagi sama loe." Tebak Ayu.
"Sembarangan ajah loe Yu. Nggak mungkin lah kak Fadly suka sama gue. Dia kan udah tahu, kalo gue sukanya sama Hendry." Jawab Zahra.
"Bisa aja tahu Ra!. Lagian selama ini kak Fadly selalu perhatian sama loe. bahkan kalo nggak ada Hendry pun dia masih tetep perhatian sama loe. Apa itu nggak membuktikan kalo kak Fadly itu suka sama loe?" Terang Ayu.
"Setuju banget sama loe Yu. Jangan-jangan bener lagi kalo kak Fadly itu suka sama loe Ra!. Kasihan Hendry dong. Loe jadi berpindah hati. Ckckck, nasib Hendry kasihan banget yah." Ujar Rosa sok memelas membuat Nelly dan Ayu tertawa terpingkal pingkal dan Zahra mengerucutkan bibirnya.
"Rese loe semua. Bukanya bantuin malah ngeledekin gue. Lagian gue nggak suka sama kak Fadly. Gue juga udah nganggep kak Fadly sebagai kakak gue sendiri. Hati gue ituh cuma buat Hendry. Selamanya akan seperti itu guys." Jujur Zahra.
"Ciyuuusss nih, Miapa?" Ucap Rosa, Nelly, Ayu dan Intan secara kompak.
"Rese...!" Gerutu Zahra dan langsung membuat sahabat-sahabatnya tertawa terbahak bahak.
***
Bel pulang berbunyi dengan nyaring dan seluruh siswa siswi Sekolah Menengah Pertama Kotabumi berhamburan keluar kelas. seorang cewe' dengan langkah cepat keluar dari kelas dan menuju ke gerbang sekolah setelah sebelumnya telah berpamitan kepada para sahabatnya. Sang cewe' langsung menghentikan taksi yang melintas di hadapanya. Dengan cepat taksinya langsung meluncur dengan mulus setelah sebelumnya sang cewe' menyebutkan alamat yang akan dirinya kunjungi sekarang.
Sekarang, sang cewe' sudah berada di depan sebuah rumah yang amat besar dan mewah. Dengan ragu dirinya melangkah masuk ke pekarangan rumah tersebut. seorang wanita paruh baya membukakan pintunya menghampiri sang cewe' yang barusan telah memencet bel rumah tersebut.
"Maaf Bi, saya mengganggu." Ucap Zahra.
"Tidak apa-apa non. Non mau ketemu den Hendry yah?" Tanya sang bibi to the point.
"Iya bi. Dia di rumah kan bi?" Tanya sang cewe' ramah.
"Ada non di dalem. Silahkan masuk non." Uca si bibi.
"Terima kasih bi." Sang cewe' yang bernama Zahra langsung melangkah memasuki rumah mewah tersebut.
"Non kalau mau ke kamarnya den Hendry langsung silahkan saja non. Bibi mau ke dapur dulu ambil minum. Kamarnya den Hendry ada di sebelah sana non." Ucap bibi seraya menunjuk sebuah kamar yang berada di tingkat atas.
"Iya bi. Terima kasih ya. Saya pemit ke atas dulu." Pamit Zahra seraya berjalan menuju ke lantai atas.
Setelah sampai di sebuah kamar yang ditunjuk oleh sang bibi. Zahra langsung mendekat kemudian dirinya mengetuk pintu tersebut dan langsung mendengar teriakan "Masuk...!" dari dalam kamar. Dengan pasti dirinya membuka pintu tersebut.
Sang cowo' yang berada di dalam kamar terpekik kaget melihat kedatangan seorang cewe' yang tadi baru saja mengetuk pintu rumahnya. Bagaimana bisa dia berada di kamarnya sekarang? Mengapa dirinya merasa senang dengan kehadiran sang cewe'? hanya dia dan Tuhan yang tahu jawabanya.
"Zahra. Ngapain loe disini?" Tanya Hendry.
"Mmm, gue... gue... denger dari temen-temen kalo loe sakit, jadi gue kesini deh. loe sakit juga pasti gara-gara kehujanan kemarin kan sama gue." Terang Zahra ragu.
"Mmm, gue udah nggak apa-apa kok. Loe nggak usah ngerasa bersalah gituh deh. gue Cuma demam. Dan nggak seharusnya juga loe kesini cuma buat bilang maaf ke gue." Balas Hendry.
"Tapi kalo kemarin loe nggak terlalu lama kehujanan. Pasti sekarang loe nggak sakit kaya gini. Maafin gue juga karena kemarin gue pulang sama kak Fadly. Gue bener-bener nggak ngerti kenapa tiba-tiba gue bisa ada di rumah dan ada kak Fadly di rumah gue." Jelas Zahra.
"Iya Ra. Nggak apa-apa. Kemarin kebetulan Fadly lewat depan tempat kita. Dan pas itu loe lagi pingsan dan badan loe panas banget dan kebetulan juga dia bawa mobil. Jadi gue nyuruh dia buat nganterin loe pulang. Lagian kalo loe lagi sama Fadly loe pasti selalu aman Ra. Nggak kayak gue yang selalu bikin loe susah." Jelas Hendry lirih.
__ADS_1