BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI

BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI
BAB 47 : CALON ISTRI


__ADS_3

Di sebuah rumah mewah dan begitu asri dengan bentuk bergaya minimalis di tambah dengan taman yang tidak luas akan tetapi cukup berkesan modern klasik, terlihat seorang cewe' yang sedang bermain basket di lapangan depan rumah. Tetapi ada yang berbeda dengan permainan cewe' ini, cewe' ini bermain secara asal-asalan tidak seperti biasanya yang selalu keren dalam bermain.


"Aaaahhhh...! Gue benci banget sama loe Zar, sumpah ya loe tuh nyebelin banget jadi cowo'. Loe nggak tahu apa-apa tentang gue, jadi loe gak berhak menilai gue kaya gitu." Teriak cewe' itu.


"Intan Putri."


Akibat panggilan itu, dengan Otomatis cewe' ini membalikan tubuhnya melihat siapa yang datang.


"Loe, ngapain ke rumah gue Kih. Nggak ngabarin dulu lagi. Mana Rosa?" Ujar cewe' itu yang bernama Intan.


"Hehehe...! Gue kan mau buat surprise for you. Kenapa Tan? Muka loe kasihan bener, lagi ada masalah yah? Barusan gue anter Rosa pulang makanya mampir ke sini!." Ucap Fakih.


"Nggak ada apa-apa kok. Gue Cuma lagi pengen main basket aja. Pengen main bareng gue nggak. One by one. Mau?" Tawar Intan.


"Palingan juga loe yang kalah. Secara kan gue kapten basket. Fakih kok di lawan." Balas Fakih sombong.


"Huhuhu, bisanya Cuma sombong doang loe Kih. Coba sini lawan gue." Tantang Intan.


"Ok. Siapa takut. Kalo gue menang dapet apa nie." Ucap Fakih jahil.


"Dapet apa yah. Yah jangan ada kaya gituan deh Kih. Ntar kalo gue kalah gimana." Ujar Intan pesimis.


"Masa udah pesimis gitu. Biasanya juga loe yang nantangin gue. Ada apaan sih. Mau cerita nggak.” balas Fakih.


"Nggak ada apa-apa kok. Oyah sebelum kita tanding gue mau tanya dong." Lanjut Intan.


"Tanya apa?" Tanya Fakih.


"Tujuan loe kesini mau ngapain Kih?. Mau ketemu sama gue atau loe mau ketemu sama bokap nyokap gue?" Tanya Intan.


"Mau ketemu loe lah. Ngapain juga gue ketemu sama bokap nyokap loe. Nggak ada di rumah juga kan? gue juga tahu kalau sekarang loe di rumah sendirian kan?" Tebak Fakih.


"Hmmm, nasib benget gue ya Kih. Sendirian mulu di rumah. Untung loe datang. Jadi kan gue ada temen.” Gumam Intan lirih.


“Udah dong. Sahabat paling terlama gue sejak kapan murung gini. Semangat dong Tan, ya udah kita tanding basket aja yuk, kalau loe menang loe boleh minta apa ajah ke gue deh. Kalau gue menang loe harus masakkin makanan buat gue." Lanjut Fakih.


"Ogah. Gue nggak bisa masak Kih. Loe mau ngehina gue nie ceritanya." Ucap Intan manyun.


“Hahaha!. Bercanda lagi non, Hmmm, loe harus mau nemenin gue ngobrol seharian Full.” Tantang Fakih.


“Ok, kalau itu nggak masalah. Ya udah yuk.” balas Intan dengan senang hati.


***


Bingung...!!!


Itulah yang dirasakan oleh cewe' cantik ini yang sedari tadi dia hanya melakukan hal-hal yang tidak jelas. Berkali-kali juga dia melemparkan badannya ke kasur. Sebagai pelampiasan kebingungan dia, guling juga jadi sasarannya.


"Gue bingung banget nie. Udah mepet banget waktunya. Hendry juga sih yang salah. Dia gak pernah ngajakkin gue belajar bareng. Tapi emang gue sihh yang butuh." Batin Zahra.


Kemudian mengambil sweater nya dan...!!!


Cewe' ini sampai di sebuah rumah di daerah kompleks yang sangat asri dengan perpaduan warna putih dengan kuning menjadikan rumah ini bertambah asri. Berbagai macam tumbuhan berdiri kokoh di samping pagar.


"Permisi... Permisi...!" Teriak Zahra.


Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan terlihat wanita paruh baya di balik pintu.


"Iya non, cari siapa yah." Tanya wanita paruh baya itu.


"Maaf Bi, saya mencari Hendry bi, Hendry nya ada?" Tanya cewe' ini.


"Ada non, non ini siapa yah. Ada keperluan apa ya datang kemari?" Tanya Bibi.

__ADS_1


"Hmm nama saya Zahra bi, saya mau belajar bersama dengan dia. Bisa di panggilkan bi." Ucap Zahra sopan.


"Bisa non, silahkan masuk dulu. Bibi panggilkan den Hendry nya dulu." Jawab Bibi.


"Iya bi, terima kasih." Ucap Zahra seraya duduk di sofa ruang tamu.


Terlihat seorang cowo' sedang menuruni tangga dan memasang muka datar. Sedangkan sang cewe' mengembangkan senyumnya seraya melihat cowo' itu turun. Akhirnya orang yang sedari tadi di nantinya muncul juga. Itulah yang ada di benak sang cewe'.


"Ngapain sih loe kesini?" Tanya cowo' itu datar.


"Mmm, mau belajar bareng kak, maafin gue. Gue nggak bilang dulu sama loe. Tapi gue kesini cuma mau minta loe ngajarin gue buat prepare test nanti!.” Ujar Zahra ragu.


"Ooooh gituh. Ya udah lah. Ini juga perintah Kepala Sekolah kan. Dan tugas gue juga buat ngajarin loe buat prepare test. Bentar yah, gue ambilin minum dulu buat loe." Ucap cowo' itu seraya pergi menuju dapur.


Beberapa menit kemudian cowo' ini kembali dengan membawa es jeruk dua gelas dengan beberapa cemilan kemudian meletakkan di depan meja mereka. Kemudian cowo' itu duduk tepat di sebelah sang cewe'.


"Minum dulu tuh." Suruh Hendry datar.


"Makasih!" Jawab Zahra sembari mengambil minumannya dan meminumnya. "Mmm, sepi sihh Hen?. Pada kemana?" Tanya Zahra basa basi.


"Apa urusan loe. Nggak ada sangkut pautnya sama loe deh perasaan." Balas Hendry ketus.


"Maaf Hen, bukannya gitu. Gue kan Cuma Tanya kalau nggak di jawab juga nggak apa-apa sih." Balas Zahra.


"Bokap Nyokap gue lagi ke luar kota. Adek gue lagi main di rumah temen." Jawab Hendry datar.


"Oh gituh." balas Zahra.


"Ya udah mulai, ngapain loe bengong gitu. tambah jelek aja loe." Balas Hendry.


"Eh iya iya." Lanjut Zahra.


Kemudian mereka berdua memulai belajar bersama. Sesekali sang cowo' memberi pertanyaan kepada cewe' itu seusai menerangkan. Sedangkan sang cewe' dengan patuh menuruti apa yang di suruh oleh ketua OSIS Sekolah Menengah Pertama Kotabumi itu.


***


"Cha, kamu pakai parfum ya?" tanya Fakih.


"Nggak." kata Rosa sambil mencium-cium bajunya. "Kenapa memangnya?" Lanjut Rosa bertanya.


"Wangi." Balas Fakih singkat.


"Wangi? Swear deh gue nggak pake parfum." Kata Rosa kembali.


"Nah kan,... Elo nggak bisa bilang kita selama ini pacaran, karena gue saja nggak tahu bahwa tanpa parfum tu elo wangi sekali. Gue baru tahu sekarang. Dan gue suka sekali. Gue ingin tahu hal-hal kecil seperti ini yang gue belum tahu. Misalnya, apa film kesukaan elo, apa makanan


kesukaan elo, siapa cinta pertama elo, dan siapa tokoh idola elo?" Ucap Fakih.


"Gue juga nggak tahu banyak tentang elo di hal-hal yang kecil seperti itu, rasanya kita cuma perlu lebih banyak meluangkan waktu berdua. Seperti sekarang ini. Atau seperti waktu di dalam ruang sound system. Bicara dari hati ke hati. Itu kan yang namanya pacaran!." Jelas Rosa.


"Memangnya elo nggak pernah naksir siapa-siapa sebelum gue?" tanya Fakih.


"Nggak." Rosa menggeleng mantap. "Elo pernah naksir cewe' ya?" tanya Roda. Fakih mengangguk. "Bu Vani, guru gue waktu SD kelas dua." Lanjut Fakih.


"Hah"! Guru SD" Ah, elo yang benar saja?" Balas Rosa.


"Bener! Bu Vani tu sabaaarrr sekali. Gue inget, sempat sering datang ke sekolah pagi-pagi sekali, sengaja cuma ingin membersihkan kelas, demi ingin mendapat pujian Bu Vani sewaktu dia masuk ke kelas. Tapi cuma sebentar saja sih naksirnya, karena terus gue tahu Bu Vani sudah punya suami. Kalau gue ingat-ingat lagi, bodoh sekali gue. Seandainya saja waktu itu dia belum punya suami, trus memangnya gue bisa apa?" Jelas Fakih tersenyum sendiri.


"Wah! Elo centil juga ya kelas dua SD sudah pakai acara naksir-naksiran segala! Gue waktu SD kan masih sangat benci sekali sama semua cowo' di sekolah". Balas Rosa.


"Masa! nggak pernah ada satu pun orang yang kamu kagumi, Cha? Bagaimana dengan Ivan?" Rosa berpikir sebentar. "Nggak. Elo yang pertama kali bikin gue seperti ini, kalau Ivan ya pacaran juga bukan, ada rasa juga nggak!" jawabnya mantap.


"Elo nggak keberatan pacaran sama gue, Cha?" Tanya Fakih.

__ADS_1


"Memangnya kenapa, Kih?" Tanya Rosa.


"Elo nggak pernah merasa, sering kali pas gue boncengin elo naik sepeda, atau kita jalan-jalan berdua, selalu saja dapat tatapan aneh dari orang-orang? Mereka seperti melihat ikan pacaran sama burung, yang nggak punya tempat di mana-mana untuk bersama. Ikannya nggak bisa tinggal di udara, burung nggak bisa tinggal di air." Lanjut Fakih.


"Jadi elo merasa nggak nyaman jalan sama gue?" tanya Rosa.


"Bukan begitu maksud gue." Balas Fakih.


"Lalu?" Fakih bingung mesti menjawab bagaimana tanpa menyinggung perasaan Rosa. Memang nyata-nyata perbedaan di antara mereka begitu jelas.


"Baiklah, Kih. Gue mengerti." kata Rosa.


"Sabar dong, non. Gue masih bingung mau ngomong apa." Balas Fakih.


"Kenapa mesti bingung? Tinggal ngomong saja. Bilang saja. Cha, gue nggak nyaman pacaran sama elo." Rosa cemberut. "Gue nggak bisa bilang begitu karena gue belum pernah benar-benar pacaran sama elo. Lagian gue sudah bilang, bukan begitu maksud gue. Gue cuma pengen elo jujur sama gue, Kih!. Kalo gue jawab duluan, apa gue merasa nyaman, kalau elo merasa nggak nyaman, nantinya elo nggak enak bilang terang-terangan, karena gue sudah duluan bilang nggak apa-apa. Jadi elo nggak apa-apa, Kih?" Jelas Rosa.


"Pandangan orang-orang itu sesuatu yang nggak bisa dihindari, kemana pun kita pergi. Gue sih selalu merasa nyaman, karena gue tahu persis cewe' yang gue boncengin atau yang jalan bareng gue ini manis sekali, dan orang-orang itu cuma iri karena nggak bisa boncengin atau jalan bareng cewe' semanis elo." Lanjut Fakih.


"Ah, gombal!" Jawaban Fakih tadi cukup untuk membuat pipi Rosa panas karena malu.


"Lho! elo tadi kan tanya, tuh sudah gue jawab. Koq malah gue dibilang gombal, ya sudah deh." Fakih seperti merajuk.


"Jadi menurutmu gue ini manis?" tanya Rosa lagi. Rupanya masih belum puas di puji dia. Ingin pipinya tambah merah.


"Memangnya nggak pernah ada orang yang bilang elo itu manis sekali?" tanya Fakih.


Rosa menggeleng. "Yah sekarang gue kasih tahu. Waktu pertama kali gue melihat elo, dengan tampang elo yang sok judes di kelas waktu itu, elo sudah keliatan manis. Makin gue mengenal elo, elo terlihat semakin manis di mata gue." Jelas Fakih.


"Ngomong-ngomong soal mata, pertama kali lihat elo di kelas waktu itu, satu-satunya yang menarik perhatian cuma mata elo. Intan waktu itu bilang mata elo tajam, lalu gue perhatikan, memang iya. Sorot mata elo tajam sekali, tapi kalau elo memandang gue terlihat begitu lembut." Jelas Rosa. "Naaaah" gue nggak mau mengakui kalo mata elo tu yang terindah yang pernah gue lihat. Terutama sama Intan. Gengsi dong." Lanjut Rosa.


"Jadi elo juga cuek dengan pandangan aneh orang-orang itu?" Ucap Fakih.


"Gue sudah biasa koq. Kalo jalan-jalan sama Intan juga begitu. Kalau lagi iseng, gue kagetin mereka, "Ngapain lihat-lihat"!" Lagi pula mereka pasti melihat kita begitu serasi, Kih! makanya mereka seperti itu. Mereka iri melihat pundak elo yang pas sekali buat kepala gue. Juga tangan yang pas sekali melingkar di pinggang gue kalau elo boncengin." kata Rosa tersenyum.


"Cha, diinget-inget yah, hari ini hari yang bersejarah. Karena mulai hari ini, Rosa resmi jadi calon istri Fakih." Ucap Fakih yakin.


"Apa! Calon istri!" Balas Rosa.


"Nggak mau?" Tanya Fakih.


"Aaa... gue! Tapi?" Rosa gelagapan.


Fakih ketawa sekeras-kerasnya. Rosa jadi bingung. Dipukul-pukulnya pundak Fakih. "Awas elo ya Kih. Elo mempermainkan gue!" Lanjut Rosa senang.


"Nggak, gue nggak akan pernah mempermainkan elo. Gue serius koq. Gue pacaran cuma ingin sekali. Elo sudah pas sekali buat gue, Cha. Elo bahkan jauh lebih bagus dari kriteria cewe' yang selama ini gue dambakan. Gue nggak ingin kehilangan elo." kata Fakih sambil menepiskan poni di dahi Rosa.


"Gue bersyukur elo masuk dalam hidup gue, Kih. Elo memperkenalkan sisi lain di diri gue yang sebelumnya gue sendiri tadinya nggak kenal. Kalau nggak ada elo, gue nggak akan dapat kesempatan untuk mengenal apa itu cinta, dan betapa indahnya saat-saat bersama elo seperti ini." Balas Rosa damai di hati.


"Bagus kalau begini..." kata Fakih lagi.


"Kih, pada hal waktu pertama kali gue lihat elo tuh kesannya elo cowo' playboy, yang punya banyak cewe' di mana-mana." Balas Rosa.


"Hah! Playboy! Jadi gue punya tampang playboy?" Balas Fakih.


"Iya." Jawab Rosa singkat.


"Huh. Tampang ganteng-ganteng begini dibilang tampang playboy." Balas Fakih.


"Lha" justru karena ganteng itu?" Jawab Rosa.


"Jadi elo setuju dong kalo gue ganteng?" goda Fakih.


"Nggak tau, ah. Elo suka sekali memutar-balikkan kata-kata gue." Rosa merajuk manja.

__ADS_1


"Ya sudah deh kalo emang gue punya tampang playboy. Tapi gue nggak lho. Elo saja beruntung bisa jadi pacar pertama gue lho. Dan yang terakhir, I hope?" Balas Fakih.


"Oke, sudah cukup rayuan gombalnya.! Balas Rosa senang.


__ADS_2