
Pelajaran Fisika di kelas 2A membuat semua murid pusing setengah mati. Apalagi banyak rumus yang harus mereka hafalkan. Guru yang mengajar mereka juga sangat Killer menurut pandangan mereka. Satu kesalahan yang di perbuat oleh murid akan dapat hukuman dua kali lipat dari kesalahan itu.
Semua murid memilih untuk sibuk dengan kegiatanya masing-masing dari pada harus memahami apa yang di ajarkan oleh guru Killer di depan mereka yang sedang sibuk menulis itu.
Kemudian...!!!
"Ok anak-anak. Ini ada satu soal yang harus kalian selesaikan. Dan pak guru akan meminta salah satu di antara kalian untuk mengejarkan soal ini. Zahra, coba kamu maju untuk mengejarkan soal ini." Ucap Pak Hadi Parjono seraya menujuk Zahra yang sedang asyik menggambar di buku tulisnya itu.
"Ah... eh, iya pak." Ucap Zahra gugup.
"Cepat kerjakan. Maju kamu." Perintah Pak Hadi Parjono.
Mau tidak mau cewe' ini maju untuk mengerjakan soal yang di berikan guru Killer itu. Dengan langkah gontai gadis ini berjalan akhirnya sampai di hadapan Pak Hadi Parjono. Mengambil sepidol dan memulai mengerjakan soal itu.
"Mengapa kamu diam saja. Cepat kerjakan." Perintah Pak Hadi Parjono lagi.
"Maaf pak. Tadi saya tidak mendengarkan apa yang bapak ajarkan. Jadi saya tidak bisa mengerjakan soal ini." Ucap Zahra menunduk.
"Kamu itu anak baru disini. Berani sekali kamu tidak mendengarkan ajaran saya. Kamu tahu, pelajaran ini itu sangat penting untuk masa depan kamu. Malah kamu tidak mendengarkan apa yang saya ajarkan. Jagan ikut-ikutan teman-teman kamu yang lain. Bla ….. Bla ...... Bla." Celoteh Pak Hadi Parjono panjang lebar. Sedangkan para murid memilih untuk tidak mendengarkan celotehan Pak Hadi Parjono.
"Sekarang kamu bersihkan Kamar mandi putri sekarang. Cepat." Suruh Pak Hadi Parjono kepada Zahra.
"Iii... iiya pak." Ucap Zahra seraya berlari keluar kelas dan menuju ke kamar mandi putri.
***
Seorang cewe' cantik sedang mengepel lantai kamar mandi putri dan membersihkan lantai kamar mandi itu. Sungguh malang nasib cewe' cantik ini.
"Huft, bau banget lagi. Gila apa gue di suruh ngerjain tugas kaya gini. Pak Hadi Parjono kurang kerjaan banget sih nyuruh gue ngepel lantai sama bersihin kamar mandi kaya gini. Baru juga masuk ke sekolah ini, udah dapet hukuman berat kaya gini … Bla … Bla …. Bla.” Celoteh gadis ini sendiri.
“Loe yang kurang kerjaan. Ngomong sendiri. Di kamar mandi lagi. Kaya orang gila loe." Ucap seorang cowo' yang sedang membaca buku seraya menyenderkan tubuhnya di tembok.
"Hendry, Ngapain loe di situ." Tanya Zahra bingung.
"Terserah gue dong. Ini tempat umum kan? Justru gue yang mau bilang sama loe. Jadi anak baru itu yang sopan dikit sama guru. Ngapain loe jelek-jelekin Pak Hadi Parjono. Loe’nya aja yang salah." Balas Hendry cuek.
"Heh, kenapa loe yang sewot sih. Terserah gue dong. Mau di hukum kek mau di kasih hadiah kek. Itu urusan gue. Suka-suka gue dong." Balas Zahra nggak kalah nyolot.
"Loe jadi cewe' nggak ada sopan-sopannya banget sih. Biasa aja dong. Pantesan aja loe pindah ke sini. Pasti sekolah loe yang dulu ngusir loe ya!. Makannya loe pindah ke sini." balas Hendry lagi.
"Heh, sembarangan aja loe bilang. Gue di usir? Gue tuh pindah karena bokap gue ada kerjaan disini. Makannya gue pindah. Enak aja gue di usir." Ketus Zahra yang tidak terima dengan kata-kata cowo' itu seraya menaruh kedua tangan di pinggangnya.
"Masa. Bukannya di usir?" Lanjut Hendry.
"Ihhh, loe tuh nyebelin banget sih jadi cowo'. Bisa-bisanya loe jadi ketua OSIS. Songong gitu. kalo misalkan nggak ada test itu juga gue nggak akan minta tolong sama loe." Balas Zahra sengit.
"Ya udah, mulai sekarang loe nggak boleh minta bantuan sama gue lagi. Ini permintaan loe sendiri. Dasar cewe' gila. Kerjain tuh yang bersih. Jangan ada yang kotor." Suruh Hendry seenaknya.
"Oh tentu dong. Kamar mandi ini bakalan bersih dan mulai sekarang gue nggak akan minta bantuan sama loe lagi. Tenang aja. Gue nggak akan ngomong sama Kepala Sekolah. Dan makasih udah ngajarin gue kemarin." Nyolot Zahra seraya masuk kamar mandi membawa ember dan alat pel lainnya.
"Huft. Akhirnya gue bebas juga dari Mak Lampir itu. Males banget harus ngajarin cewe' kaya gitu. kurang kerjaan banget." Gumam Hendry seraya berjalan meninggalkan kamar mandi.
***
Beberapa hari kemudian. Cewe' ini masih setia dengan buku-bukunya. Selama beberapa hari ini gadis ini bekerja keras untuk bisa mengerjakan Test nanti. Cewe' ini selalu belajar dan belajar agar bisa lulus Test dan menjadi siswa Sekolah Menengah Pertama Kotabumi tanpa ada seseorang pun yang membantu. Dan besok pagi gadis ini harus sudah siap untuk melaksanakan test dari Sekolah.
Pagi ini adalah hari terakhir cewe' ini belajar. Karena, keesokan harinya cewe' ini harus melaksanakan Test itu. Di perpustakaan cewe' ini sedang belajar sekarang. Setelah bel masuk berbunyi cewe' ini menata bukunya dan bersiap untuk masuk kelas.
"Tuh anak belagu banget sih. Pake belajar sendiri lagi. Kita liat aja nanti. Apa loe bisa ngerjain soal Test nanti." Gumam seorang cowo' seraya melanjutkan membacanya yang sempat tertunda tadi.
***
Pagi yang cerah membuat semangat para murid Sekolah Menengah Pertama Kotabumi. Semua murid dengan santainya memasukin sekolah mereka. Berbeda dengan cewe' cantik ini. Cewe' ini dengan langkah ragu memasuki sekolahnya dan melangkah menuju kelasnya.
Terlihat sahabatnya yang sedang menunggu dirinya di depan kelas.
"Ra, loe udah siap belum buat ngikutin test hari ini." Ucap Nelly.
"Siap nggak siap gue harus bisa. Doain yah guys. Semoga gue bisa ngerjain tu soal dengan mudah." Balas Zahra.
"Amiiinnn. Loe harus yakin Ra. Gue juga yakin kok kalau loe bisa ngerjain tuh soal dengan mudah. Semangat !!!” Ucap Intan menyemangati disertai anggukan Nur.
"Iyah. Thanks ya guys. Kalian emang sahabat gue yang paling baik." Ucap Zahra memeluk sahabatnya itu.
"Bro, hari ini Shilla test kan ??? tanggung jawab loe gimana tuh bro." Ucap Ari seraya menyenderkan tubuhnya di tembok. Sekarang sedang berada di Ruang OSIS bersama sahabatnya itu.
"Hahaha...! Loe ngebiarin dia belajar sendiri? Parah loe." Kata Nazaruddin.
__ADS_1
"Iya lah. dia sendiri yang minta gue buat nggak ngajarin dia kok. Bukan salah gue dong. Belagu banget sich tuh anak. Gue pengin lihat kemampuan dia itu seberapa." Ucap Hendry, matanya nggak lepas dari buku yang di bacanya.
"Nggak berubah ternyata sifat loe bro, ya udah gue mau ke Perpustakaan dulu. Mau pinjem buku. Ada yang mau ikut?" Ucap Nazaruddin.
"Gue Zar, sekalian mau ngembaliin buku." Jawab Bambang.
"Ya udah Yuk, bro gue pergi dulu yah." Pamit Nazaruddin dan Bambang.
Setelah itu Nazaruddin dan Bambang pergi meninggalkan Ruang OSIS. Sedangkan Ari masih bersama dengan Hendry yang masih sibuk dengan buku yang lagi dibacanya.
"Bro, loe nggak bosen apa? Setiap hari kerjaan loe baca buku mulu. Have fun dong bro." Ucap Ari menghampiri Hendry.
"Gue Have fun kok. Dengan baca buku kaya gini kita lebih banyak wawasan." Ucap Hendry seenaknya.
"Wawasan Nusantara kaleee!. Justru itu yang bikin loe itu nggak gaul bro. sekali-sekali nyari cewe' gitu. Noh, fans loe pada klepek-klepek sama loe. Tinggal tembak ntar juga mereka terima bro." Balas Ari.
"Seenaknya aja loe ngomong, gue itu masih belum bisa nemuin cewe' kaya Novi. Dia itu cewe' special di hati gue setelah nyokap gue. Dan gue belum bisa nemuin cewe' yang bisa bikin gue tenang dan bisa bikin gue merasa nyaman ada di deketnya setelah Novi pergi ninggalin gue Ri." Terang Hendry sedih.
"Loe masih mikirin dia? Lupain aja bro, dia udah tenang di alam sana. Dan gue yakin banget dia pasti lagi sedih ngelihat loe yang putus semangat gini bro. gue yakin, sebenernya Novi pengin banget ngelihat loe jadian sama cewe' lain. Dan gak terus-terusan trauma kaya gini." Ucap Ari.
"Ari, loe jangan seenaknya ngomong gitu deh. Gue masih belum mau nyari cewe'. Loe ngerti nggak? Sekali pun ada cewe' yang ngemis-ngemis cinta sama gue. Gue nggak bakalan terima. Gue bakalan nyari cewe baru kalau gue nemuin cewe yang bikin gue nyaman." Terang Hendry seraya duduk di depan Ari.
"Ok, gue harap loe secepatnya nyari cewe'." Ucap Ari lagi.
"Hemm...!" Jawab Hendry sekenanya.
***
"Bro, gue balik ke kelas ya. Mau ngerjain sesuatu." Ucap Bambang setelah berhasil mengembalikan buku ke Perpustakaan.
"Ya udah deh. Terserah loe aja." Ucap Nazaruddin seraya memilih buku yang akan dia pinjam.
"Ok Bro, gue cabut." Pamit Bambang seraya pergi meninggalkan Nazaruddin yang sedang sibuk-sibuknya memilih buku.
"Iya, mana sih bukunya, dari tadi gue cariin nggak ada. Padahal kemarin gue lihat tuh buku ada disini, kenapa sekarang malah nfgak ada ya." Ucap Nazaruddin.
Setelah beberapa menit memutar perpustakaan akhirnya Nazaruddin menemukan bukunya. Tetapi pada saat Nazaruddin mau mengambil bukunya ada tangan lain yang mendahului mengambil buku itu. Sehingga tangan Nazaruddin seperti sedang memegang tangan seseorang yang mendahului mengambil buku.
Setelah tahu siapa yang mengambil buku itu, Nazaruddin segera menarik tangannya yang sedang memegang tangan itu. Dan Nazaruddin menggaruk rambut belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Eh itu buku gue, gue dulu yang nemuin." Ucap Nazaruddin nyolot.
"Enak ajah loe ngatain gue cowo' playboy. Mending gue normal masih suka sama cowo' nah loe." Balas Nazaruddin.
Intan menatap Nazaruddin tajam...! "Iyah, gue itu emang gak jelas, gue bukan cewe' maupun Cowo', nih bukunya. Gue udah gak butuh." Ketus Intan seraya menyerahkan bukunya dan berjalan meninggalkan Nazaruddin.
"Tan tunggu...! Ok, gue ngerti kalau gue udah keterlaluan, gue minta maaf." Ucap Nazaruddin lirih dengan nada penuh penyesalan.
"Cowo' playboy kaya loe minta maaf? Nggak usah main-main sama gue. Gue itu bukan orang yang mudah loe kibulin kaya cewe'-cewe' loe yang lain." Ucap Intan tajam seraya berjalan cepat.
"Gue itu emang playboy Tan, tapi loe harus tahu, gue ngelakuin kaya gini supaya loe juga bales perbuatan gue, jadi setiap hari gue bisa lihat loe dan bertengkar sama loe. Entah kenapa gue itu nyaman kalo ada di deket loe Tan?." Gumam Nazaruddin seraya menaruh bukunya dan berjalan keluar Perpustakaan.
***
Terlihat seorang cewe' yang sedang seius membaca buku di taman sekolah. Prepare buat test nanti dan cewe' ini tidak henti-hentinya membaca buku dan memahami materi yang ada.
"Pusing banget kepala gue, hupz...! Loe harus bisa Ra, semangat." Gumam Zahra menyemangati dirinya sendiri.
Tiba-tiba ada seseorang yang duduk di samping cewe' yang sedang membaca buku ini. Otomatis cewe' ini menengok ke arah orang yang duduk di sebelahnya. Kemudian keningnya mengerit tanda dia bingung dengan cowo' yang sedang duduk di sebelahnya.
"Hey, gue boleh duduk disini kan?" Tanya cowo' itu.
"Iya, Hmm, loe Fakih?" Ucap cewe' itu kaget.
"Sampe kaget gitu Ra, Masih ingat ma gue kan?" Ucap cowo' yang bernama Fakih itu memastikan.
"Iya Kih, wah nggak nyangka aja gue bisa bertemu dengan Ketua Kelas gue yang super sibuk, di saat seperti ini?." Jawab Zahra singkat.
"Ahaaa...! Oh ya. Lagi ngapain sih. Sibuk banget kayaknya." Tanya Fakih.
"Lagi belajar, buat prepare test nanti. Elo sendiri ngapain disini? Tumben Kih!" Tanya Zahra.
"Hmm mumpung masih rehat kegiatan aja sih. Lagi belajar ya. Bukannya loe sudah dibantu dengan Hendry?" Tanya Fakih.
"Heee... Iya Kih, sudah!" Jawab Zahra ragu.
"Ndak ada kesulitankan? Gue yakin kok kalau Hendry bisa bantu elo dan bisa lebih baik!" Ucap Fakih yakin.
__ADS_1
"Hmmm, doain ya Kih... Semoga gue bisa melewati ini semua!" Balas Zahra tersenyum.
"Pasti, Ra! Kalau elo dah yakin ma diri sendiri, Insya Allah segala kesulitan akan berubah jadi kemudahan kok!" Fakih tertawa.
Setelah itu mereka berdua belajar bersama di selingi dengan canda dan tawa. Tetapi dibalik keceriaan mereka ada seorang cowo' yang sedang melihat adegan mereka dengan membawa buku.
"Kenapa nie perasaan gue. Jangan sampai gue suka sama tuh cewe'. Akh, kenapa gue nggak suka yah tuh cewe' deket-deket sama cowo' lain. Apaan sih gue?" gumam Hendry seraya melanjutkan jalannya.
***
Bel pulang sekolah sudah terdengar sangat nyaring. Siswa-siswi Sekolah Menengah Pertama Kotabumi berhamburan keluar kelas dan bersiap untuk menuju ke rumah masing-masing. Berbeda dengan keempat cewe' cantik yang masih berada di bangku kelas mereka.
"Ra, kita temenin loe buat ngelaksanain test’nya ya...!" Pinta Nur.
"Nggak usah guys. Gue juga tahu kok, loe berdua udah di tungguin sama cowo' loe masing-masing. Dan Intan, gue juga tahu kalo loe punya janji sama Fakih dan Rosa." Jawab Zahra seraya memasukkan buku ke dalam tas.
"Gue bisa batalin janji gue Ra!." Jawab Intan.
"Gue juga bisa pulang naik taksi kok Ra. Kita temenin ya. Gue nggak mau loe ngadepin testnya sendiri. Sahabat macam apa kita, masa sahabat sendiri lagi kesusahan kita malah tega ninggalin." Ucap Nelly.
"Adduuhh Nel, santai aja lagi. Makasih juga karena kalian mau berkorban demi gue. Tadi gue dah ketemu dengan Fakih juga dan dia sudah membuat hati gue tenang banget dan gue yakin gue bisa ngadepin test itu sendiri. Doain gue aja yang penting." Ucap Zahra tersenyum manis.
"Serius Ra, wah kalau Fakih dah bertemu ama elo sepertinya urusan elo bakal kelar nih Ra? Tenang aja Ra, gue pasti doain loe supaya lancar." Ucap Intan menyemangati seraya merangkul Zahra.
"Ya udah Ra, gue duluan ya. Semangat, gue yakin loe pasti bisa." Ucap Nelly senyum manis.
"Iyah, gue yakin. Semangat yah. Hubungi kita kalo test nya udah kelar. Ok." Ucap Nur.
"Sipp, hati hati ya guys." Teriak Zahra setelah sahabatnya berjalan meninggalkan dirinya di kelas. kemudian Zahra melangkah menuju ke Ruang OSIS dimana test akan berlangsung.
***
"Hen, gue duluan yah. Nggak apa-apa kan kalo loe sendirian yang ngurus test nanti?" Tanya Ari memastikan.
"Iya Bro, kalo loe keberatan kita bisa nemenin loe kok." Lanjut Nazaruddin.
"Tenang aja bro, nggak apa-apa kok. Santai aja lagi. Ini kan emang tugas gue. Loe semua pulang aja. Gue bisa ngurusin sendiri." Jawab Hendry seraya membereskan paper yang sempat berantakan.
"Ok. Deh bro. gue cabut yah. Cewe' gue udah nungguin nie. Bye." Pamit Bambang seraya pergi diikuti Ari dan Nazaruddin.
Baru beberapa menit setelah kepergian sahabatnya itu, ada seseorang yang mengetuk pintunya. Otomatis Ketua OSIS ini berteriak menyebutkan kata "Ya silahkan masuk!". Setelah itu seorang cewe' membuka pintunya dan berjalan menghampiri Ketua OSIS ini yang masih sibuk membereskan papernya.
" Hen!" Gumam cewe' itu.
"Loe? Ah eh, loe mau test kan?" Tanya Hendry gugup.
"Iya." Jawab Zahra singkat.
"Ya udah loe duduk di situ. Tunggu Bu Ernawati sebentar lagi." Ucap Hendry.
"Makasih...!" Lirih Zahra seraya duduk dan menaruh tasnya di meja sebelahnya.
Beberapa saat kemudian ada yang mengetuk pintunya dan langsung membuka pintunya seraya masuk dan menutup pintunya.
Bu Ernawati dan Fakih ya bersama Fakih Alfarizi memasuki ruangan, Bu Ernawati terlihat membawa soal dan kertas jawaban yang akan di isi oleh Zahra nanti.
Setelah itu mereka duduk tepat di hadapan Zahra, sementara Hendry berdiri di sebelah Zahra.
"Ok, Bisa di mulai sekarang Zahra?" Tanya Bu Ernawati.
"Bisa Bu...!" Jawab Zahra.
"Baiklah, Oh ya! Ibu bersama Ketua Kelas 2A Fakih Alfarizi, perkenalkan Zahra!" Ucap Bu Ernawati memperkenalkan Fakih.
"Ya Bu, Alhamdulillah sudah sempat berkenalan sebelumnya!" Balas Zahra terlihat senang seakan mendapatkan semangat baru akan kehadiran Fakih di situ.
"Bagus kalau begitu, Fakih di sini sebagai pengawas, karena materi yang kalian dapatkan udah banyakkan? Dan berhubungan sekali dengan kegiatan ekstra baik di dalam sekolah maupun luar sekolah karena itu kebetulan Fakih masih rehat dari segala kegiatan, dia termasuk jagonya segala kegiatan itu dan bisa hadir di sini menemani ibu. Zahra kamarin sudah dibantu sama Hendry. Ibu harap kamu mendapatkan nilai yang memuaskan nanti." Ucap Bu Ernawati menaruh soal test di meja sebelah Zahra.
"Iya Bu...!" Jawab Zahra.
"Baik Zahra, kerjakan soal ini. Waktu kamu adalah dua jam. Dan kamu Hendry, kamu bisa keluar sekarang. Fakih yang bertugas mengawasi Zahra dalam mengerjakannya" Suruh Bu Ernawati.
"Baik Bu, permisi semuanya." Pamit Hendry seraya keluar dari Ruang OSIS dan menutup pintunya lagi.
Setelah Hendry berhasil keluar dari Ruangan OSIS dan di susul bu Ernawati di belakangnya, Zahra mengerjakan soal itu dengan sungguh-sungguh walaupun tubuhnya terasa lemas karena waktu yang dia gunakan untuk istirahat malah dia gunakan untuk belajar dan belajar... Fakih melihat keadaan Zahra seperti demikian hanya bisa tersenyum dan...!!!
"Jadi diri sendiri, jujur pada diri sendiri dan berusaha sendiri... Karena jawabannya menuntut kejujuran!" Bisik Fakih pada Zahra, Zahra menggangguk dan tersenyum ceria.
__ADS_1
Sementara di depan ruang osis.
"Addduuhhh, gue ngerasa bersalah banget sama tuh cewe'. Gimana nie kalo dia nggak bisa ngerjainya, tapi gue yakin kalo dia bisa ngerjainnya. Tungguin dia aja deh. Gue ngerasa bersalah juga sama tuh anak." Gumam Hendry seraya mondar mandir di depan Ruang OSIS dan Bu Ernawati melihat kelakuan Hendry hanya tersenyum dan menunggu hasil dari Zahra.