
"Gass?" Nelly melambai lambaikan tangannya di depan mata Bagas.
"Eh iya apaa?" Bagas tersadar dari lamunannya.
"Lo ngelamun?" Tanya Nelly.
"Ah engga. Ya udah lanjutin" balas Bagas.
"Ya udah, Iya kalau elo sama dia, beruntung banget loh. Di sekolah ini udah ada lebih dari 10 orang cowo' yang nembak dia tapi gak pernah direspon" Jelas Nelly.
"Kayanya lo sangat tau banget ya soal Nur?" Tanya Nazaruddin.
"Iya dooong..!" balas Nelly.
"Hahaha… Tapi gue nggak suka kok sama Nur, kita juga kan baru aja kenal! ujar Bagas.
"Iya...! bener juga ya masak iya baru kenal udah langsung jadian!" Nelly terlihat bingung.
"Ah...! udahlah. Sana susul Nur sama Intan. Udah mau bel nih!" Ucap Nazaruddin mengingatkan.
"Yee lo aja kale!." Balas Nelly.
"Lo nggak mau, nggak gue bagi ini!" Ucap Nazaruddin sambil di tangannya menunjukkan sebuah cokelat.
"Mauuu…! Iya... iya gue susul mereka." Nelly langsung keluar kelas segera menyusul Intan dan Nur.
"Hahaha...! giliran coklat aja langsung." Ujar Nazaruddin.
"Ya udah mending kita makan aja." Balas Bagas.
"Yuk! tapi sisain satu buat Nelly. Kasian Nelly gue ntar ngambek lagi...haha!" ucap Nazaruddin.
Lalu mereka berdua memakan cokelat itu sampai ludes dan hanya tersisa satu saja untuk Nelly. Tak lama Nelly, Nur dan Intan pun datang dari arah kantin menuju ke mereka berada.
"Mana cokelatnya?" Tanya Nelly kepada Nazaruddin.
"Tuh!" Nazaruddin menunjuk sebungkus cokelat yang sudah terbuka.
"Elo makan? Di sisain satu lagi. Huh!" balas Nelly.
"Kan Gede sihh tapi rela bagi bagi...!" ucap Nazaruddin lalu lari keluar kelas.
"Uuuuudiiiiiiiiin....!" Nelly langsung mengejar Nasaruddin.
"Hahahahah….!" Anak-anak yang lainnya yang melihat dan menyaksikan kejadian tersebut hanya menertawakan mereka.
KRING...!!! KRING...!!! KRING...!!!
Bel pertanda pelajaran pertama dimulai berbunyi. Seketika kelas langsung penuh dengan anak-anak yang memang berniat untuk belajar. Tak jarang juga ada siswa yang ke kelas Cuma ingin main dan mencari teman. Tapi, tidak begitu untuk anak-anak kelas A ini, mereka adalah siswa yang bisa dibilang pintar di kelas itu. Bayangkan saja satu kelompok pararel sekolah dari kelas satu sampai saat ini di makan habis peringkat 1-5. Mungkin Bagas adalah siswa selanjutnya yang menerima peringkat setelah Intan diurutan ke 5, Nelly diurutan ke 4, Nur diurutan ke 3, Fakih diurutan ke 2 bahkan mungkin akan menggeser peringkat Rosa di ranking 1.
"Bagus...! Bagas. Kamu pintar!" ujar Pak Sigit Suparman.
"Terima kasih pak!" balas Bagas.
"Ingat Gas, kamu sangat beruntung sekali saat pindah bisa masuk ke kelas A ini, banyak anak-anak yang lain berlomba-lomba ingin menjadi salah satu bagian dari kelas tapi persaingan terlalu sangat ketat! Jadi sudah saatnya kamu berfikir akan masalah ini ya!" Jelas Pak Sigit Suparman.
"Siap pak!" Jawab Bagas singkat.
"Silakan kamu kembali ke tempat kamu." Ujar pak Sigit Suparman lagi.
Bagas segera menuju tempat duduknya, sewaktu melewati bangku Nur Fitri, tangannya ditahan oleh Nur.
'Lo pinter!" puji Nur lalu melepas genggaman tangannya.
"Makasih, tapi masih pintaran elo Nur!" bisik Bagas ke telinga Nur lalu segera duduk di bangkunya.
KRING...!!! KRING...!!! KRING...!!!
Bel istirahat berbunyi, kini waktunya semua anak siswa dan siswi Sekolah Menengah Pertama ini berhamburan keluar kelas.
"Eh gue ke perpustakaan dulu ya." Ujar Rosa.
"Gue ikut deh." Pinta Nur dan Intan.
"Oh ya udah yuk!" Balas Rosa.
"Kita ke perpustakaan dulu ya Kih! Elo ikut nggak?" kata Rosa pada kekasihnya itu.
"Iyaa…Cha! Gue masih mau bahas masalah Clasmeting dulu ya Cha!" Balas Fakih.
"Okey! Jangan serius banget pak ketua!" Canda Nur pada Fakih.
"Siap Nur!" Fakih tersenyum melepas kepergian mereka ke perpustakaan sekolah.
Setelah Rosa, Intan dan Nur pergi ke perpustakaan, Bagas menemui Fakih sebentar ada yang ingin di utarakannya.
"Kih, gue nggangu ngak?" Tanya Bagas.
"Ada apa Gas?" Jawab Fakih singkat.
"Elo nggak lelah apa dengan segala kegiatan yang bajibun banyaknya tapi herannya lagi nilai elo sepertinya nggak pengaruh dengan semua itu?" Tanya Bagas meminta penjelasan.
"Awalnya Gas, kerepotan gue buat mengatur waktu dan pikiran tapi lama kelamanaan Alhamdulillah Gas bisa imbang antara kegiatan dan pelajaran!" Jelas Fakih.
"Terus masalah cinta lo gimana?" Tanya Bagas ingin tahu dan memahami seperti apa seorang Fakih dalam menyingkapi segala persoalan dan pembagian waktu untuk semua itu.
"Maksud lo pengaruhnya dengan diri gue ya Gas!?" Fakih meminta detailnya.
"Yupz, Elo dan Rosa seakan-akan saling mendukung satu sama yang lainnya, menurut penilaian gue sementara ini!" Ucap Bagas.
"Rosa...! Hemmm...! Dia yang membuat gue semangat Gas! Pernah dulu gue hampir nggak bisa mengejar pelajaran karena sibuk dengan semua kegiatan gue, tapi janjinya pada gue buat membantu dalam pelajaran benar-benar di tepati Gas, gue merasa Ocha salah satu orang yang buat gue bisa menjalani semua ini Gas!" Jelas Fakih.
"Wajar kalau semua iri, dalam tanda kutip yang positif ya Kih!" Bagas melanjutkan.
"Ya, gue paham maksud elo! Terus terang ya Gas, kita pribadi kadang ndak bisa selamanya pura-pura tegar dan kuat buat menjalani semuanya, jujur pada diri sendiri itu lebih baik dan Rosa bisa jadi kekasih, teman, sahabat bahkan kadang seperti mamah gue... Kalau sedang sibuk lupa makan, misalnya ya dia yang selalu ingetin gue Gas!" Jelas Fakih.
"Gue acungin jempol buat elo ma Rosa kih! Ikhlas dari hati gue!" Kata Bagas.
"Terima Kasih ya Gas!" Balas Fakih.
__ADS_1
Bagas pamit dan meninggalkan Fakih dengan kesibukannya sendiri membuat proposal kegiatan Clasmeting dari bagan alur pertandingan antar kelas sampai struktur organisasi kegiatan untuk di ajukan ke pak Budi Waluyo sebagai guru bagian kesiswaan, berjalan menuju sebuah tempat.
Ruang Musik.
Tak tau kenapa ia selalu ingin sekali mengunjungi tempat itu. Apa bagas suka Ayu? Hmmm... Masih terlalu dini kita menilai Bagas secepat itu.
KREK...! KREK...! KREK...!
Pintu ruang musik terbuka...!!!
"Ada orang di dalam?" Tanya Bagas.
Tidak ada jawaban sama sekali dan Bagas memberanikan diri untuk masuk ke dalam.
"Gitar?" ujarnya lalu mengambil gitar itu dan segera melantunkan sebuah lagu.
***
KREK...! KREK...! KREK...!
Tiba tiba pintu ruang musik terbuka.
"Wow...! suara lo bagus dan keren Gas. Main gitarnya juga oke. Ajarin dong!" ujar seseorang yang ternyata ‘Ayu’
"Eh Yu. Lo mau minta ajarin? Sini" balas Bagas.
Ayu menghampiri Bagas dengan tersenyum dan segera duduk disampingnya.
"Gini nih caranya!" Bagas menunjukkan cara bermain gitar yang baik dan benar, Ayu menyimak dengan serius sekali hal ini terlihat dari raut wajahnya.
***
Di perpustakaan Nur sedang mencoba mencari keberadaan Bagas.
"Cha, liat Bagas gak sih?" Tanya Nur.
"Engga tuh. Eh anterin gue yuk!" pinta Rosa.
"Kemana?" Tanya Nur.
"Ke kantin. Ayoo...!" ajak Rosa sambil menarik tangan Nur.
"Ya udah ayoo...!" balas Nur.
Rosa dan Nur segera bergegas berjalan menuju ke kantin, di karenakan jalan ke kantin melewati ruang musik, tiba tiba saja Nur ingin pergi ke sana.
"Eh Cha, ke sana dulu yuk!" Ajak Nur pada Rosa.
"Ah gue aus banget Nur!" balas Rosa.
"Ihh udahlah.. Nanti gue beliin minuman deh!" Balas Nur.
"Beneran ya?" Tanya Rosa.
"Iya benerannn… cius kok Cha!" balas Nur.
Akhirnya Rosa dan Nur segera ke ruang musik.
"Pintunya nggak rapet Cha!" ujar Nur saat melihat keadaan pintu sedikit terbuka.
"Ya udah langsung masuk aja. Kayanya ada orang deh. Tuh ada suara gitar!" balas Rosa.
"Ya udah yuk!" Rosa dan Nur memasuki ruangan musik dan menemukan Bagas dan Ayu sedang bersama bermain gitar dengan seriusnya.
"Bagas? Ayu?" Nur kaget dan langsung menutup mulutnya.
"Cha ayo!" Ujar Nur tiba-tiba lalu menarik tangan Rosa keluar dari ruang musik tersebut.
Rosa dan Nur segera keluar dari ruang musik menuju kantin sambil mengobrol santai.
"Cha, Bagas sama Ayu pacaran ya?" Tanya Nur.
"Mana gue tau… Kenapa? Lo cemburu ?" Tanya balik Rosa.
"Gue ? cemburu ? Lo tau gue kan! gue nggak pernah mikirin cowo' Cha!" dusta Nur.
"Halah ya udah deh. Ayo keburu bel nih!" ajak Rosa.
'Bagas dan Ayu? Huh...!' batin Nur.
"Bengong aja. Ayo deh Nur!" Rosa menarik tangan Nur.
"Iya yuk ahh… gausah narik narik kenapa!" Ucap Nur.
***
Setelah sampai di kantin masih lumayan ramai keadaannya, Rosa dan Nur langsung menuju tempat di mana letak tukang minuman menjual dagangannya.
"Cha cepet mau minum apa?" Ujar Nur yang sesekali menengok jam tangannya.
"Hmm.. ini deh.. eh ngga jadi deh ini aja. Eh itu aja dehh… Duhh Nur kok gue bingung!" balas Rosa bercanda sambil garuk garuk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak gatal.
"Halahh…!" Ucap Nur melihat ulah sahabatnya itu.
KRING...!!! KRING...!!! KRING...!!!
Bel pertanda istirahat berakhir sudah berbunyi, Rosa dan Nur segera menuju kelasnya.
"Cha ayo nanti aja gue traktir pulang sekolah. Udah bel tuh!" ujar Nur sambil menarik paksa tangan Rosa.
"Eh tunggu kenapa Nuuuur...!" teriak Rosa yang tangannya ditarik lumayan keras oleh Nur.
Rosa dan Nur segera berlari menuju kelasnya, saking larinya yang begitu kencang, rambut mereka berterbangan dan seketika menjadi tidak beraturan bentuknya.
Finally, mereka sampai di ambang pintu kelas mereka dan…!!!
"Permisi bu, maaf kami telat...!" ujar Rosa.
"Dari mana saja kali… Hahahahhaha...!!!" bu Ernawati yang berniat memarahi mereka, tiba tiba tertawa melihat penampilan Rosa dan Nur, anak anak yang sedang menulis tiba tiba mengarahkan pandangannya ke pintu.
__ADS_1
"Hahahahahah...!" Suara tertawa anak-anak sangat kencang.
Rosa dan Nur hanya memandang satu sama lain.
"Emang ada yang salah ya Cha?" Tanya Nur, Rosa hanya mengangkat kedua bahunya.
"Ya sudah...! Ya sudah...! kalian boleh masuk!" ucap bu Ernawati.
"Terima kasih bu!" balas Rosa dan Nur lalu masuk ke dalam kelas.
"Ssstt… Nelly!" bisik Bagas.
Nelly menoleh "Apaa?"
"Bawa sisir ga?" Tanya Bagas.
"Lo mau nyisir?" goda Nelly.
"Palalu. Tuh buat dia. Kasian" balas Bagas sambil menunjuk Nur.
"Oooooh bentar...!" Nelly merogoh kedalam tasnya.
"Nih...!" ujar Nelly sambil menunjukkan sebuah sisir.
"Thanks" balas Bagas.
Belum sempat Bagas memberikan sisir yang di pinjamkan Nelly ke Nur, Fakih sudah memberikan sebuah sisir terlebih dahulu ke Rosa lalu Nur. Dan Bagas pun terdiam...!
"Cha...! Rapihkan dulu rambut elo!" Ucap Fakih pelan.
"Eh...! Ngapa acak-acakan ya Kih? Pantes aja semua tadi pada tertawa!" Balas Rosa.
Fakih mengangguk dan tersenyum. "Sekalian kasih ke Nur tuh!" Lanjut Fakih.
"Siap ketua!" Canda Rosa.
Sekilas Rosa melihat Bagas mau menyodorkan sisir ke Nur, dengan senyum ke Bagas lalu memberi isyarat anggukan! Bagas Faham maksud Rosa dan meneruskan niatnya.
"Nur...!" Panggil Bagas pelan.
"Ada apaan!" Jawab Nur rada ketus.
"Nih, rapihkan dulu rambut elo!" Ujar Bagas sambil menyodorkan sisirnya.
"Nggak perlu! Cha pinjam sisir elo ya!" balas Nur lalu kembali menghadap depan meminjam sisir dari Rosa.
'Kenapa lagi tuh anak?' batin Bagas sambil menaruh sisir yang ia pegang ke laci meja. Sudah dua pelajaran setelah istirahat dilewati Bagas dengan pertanyaan 'Kenapa dengan Nur?' dipikirannya.
"Nur, pulang bareng yuk!" ajak Bagas.
"Yukk...!" balas Nur.
'Lah kok jadi aneh kembali baik lagi nih anak?' gumam bagas sambil sedikit melamun.
"Eh ayoo kenapa ngelamun?" Tanya Nur.
"Eh iya ayo!" balas Bagas.
Bagas dan Nur menyusuri koridor hanya berdua.
"Ih kok udah sepi ya Gas?" Tanya Nur sambil menengok ke depan, belakang, kiri dan kanan
"Nggak tau!" balas Bagas singkat.
Hening…!!!
"Nur...!" Ucap Bagas membuka keheningan.
"Yaa? Ada apaan!" Jawab Nur.
"Gue boleh Tanya?" Tanya Bagas penuh hati-hati.
"Boleh, mau tanya apaan?" Tanya Nur.
"Lo kenapa sih gak suka musik?" Tanya Bagas lagi.
Nur seketika itu menatap bagas "Kenapa emangnya?" tanya Nur rada sinis.
"Ya nggak apa-apa cuma tanya aja. Musikkan asik Nur!" balas Bagas.
"Itu untuk elo. Nggak buat gue!" balas Nur lalu pergi meninggalkan Bagas.
"Yah kan marah lagi. Bagas lu bodoh!" gerutu Bagas sambil menjambak rambutnya sendiri.
***
Nur segera berlari menuju gerbang sekolah Menengah Pertama, setelah di gerbang dia tidak menemukan siapa-siapa lagi dan akhirnya dia menunggu untuk becak lewat.
Tiba tiba Bagas lewat dengan sepedanya.
"Eh Gass...!" panggil Nur.
Bagas menoleh "Yaa?"
"Gue… guee… gue boleh bareng lo gak?" Tanya Nur gugup.
"Boleeehh… Boleh pake bangettt!" balas Bagas semangat.
"Tapi gue duduk dimana?" Tanya Nur sambil mengarahkan pandangannya ke sepeda Bagas yang tidak ada tempat boncengannya.
"Disini lah!" balas Bagas sambil menunjuk besi di depan jok sepedanya.
"Ah gila ajaa.. engga deh!" ujar Nur.
"Ya udah dari pada lo disini sendiri. Gue duluan ya." Balas Bagas sambil menaiki sepedanya lalu berlagak ingin meninggalkan Nur sendirian.
"Eee ya udah... ya udahh…!" Ujar Nur.
"Yessss…!" batin Bagas senang.
__ADS_1