BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI

BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI
BAB 58 : HENDRY PANAS


__ADS_3

"Huft, capek banget gue. Belanjaan kalian banyak banget sih." Gerutu Ari setelah mereka duduk di sebuah cafe sederhana yang ada di Ratu Supermarket tersebut.


"Tahu nih. Pegel banget kaki gue." Tambah Hendry.


"Kalau nggak ikhlash kenapa baru bilang? Kenapa nggak dari tadi aja coba." Ucap Ayu.


"Bener banget tuh kata Ayu. Itu salah kalian sendiri yang mau nurutin kemauan kita-kita." Tambah Zahra seraya menyeruput es jeruknya.


"Zahra Talita Putri...!!!"


Candaan mereka terpotong karena mendengar suara seseorang yang berteriak memanggil nama sahabatnya. Secara gerakan spontan ke sepuluh para remaja cowo' dan cewe' itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru cafe. Dan pandangannya terhenti pada sesosok cowo' tampan yang mengenakan kemeja hijau muda dan celana jeansnya yang sedang berdiri di tempat yang tidak jauh dari meja yang sekarang mereka duduki.


Kemudian, secara tiba-tiba Ari menyenggol lengan Zahra dan mengedip-ngedipkan matanya seperti memberi isyarat untuk cewe' satu itu. Pastinya tanpa sepengetahuan yang lainnya dan sepertinya cewe' itu sudah paham dengan apa yang di maksud oleh Ari. Dengan gerakan cepat Zahra melambai-lambaikan tangannya kepada cowo' tampan yang tadi memanggil nama dirinya.


Dan cowo' tampan itu pun langsung menghampiri meja Zahra sedangkan Hendry hanya menyatukan alisnya tanda ia bingung terhadap cowo' di hadapannya. Setelah berada tepat di hadapan Zahra, cowo' itu pun langsung tersenyum kepada Zahra dan tersenyum kepada yang lainnya.


"Siapa sih nie cowo, sok kenal banget sama Zahra?" Pikir Hendry. Sesungguhnya Hendry takut jika cowo' di hadapannya mempunyai hubungan special dengan cewe' yang ia sukai itu. Apalagi jika cewe' yang ia sukai malah suka terhadap cowo' tampan di hadapannya. "Masih kerenan gue, masih gantengan gue. Jadi mana mungkin Zahra suka sama nie cowo'." Pikir Hendry.


"Hay semuanya. Sorry yah mengganggu." Ucap cowo' tampan itu sopan.


"Nggak kok, duduk kak. Kakak kok bisa ada disini sih?" Tanya Zahra seraya mempersilahkan duduk.


"Iyah nie Ra. Lagi nyari bola basket baru, terus karena capek mampir ke sini deh. Tahunya ketemu sama elo. Lagi pada ngumpul yah?" Tanya cowo' itu.


"Iyah kak. Lagi pada kumpul. Tadi habis seru-seruan bareng di time zone." Jawab Zahra bersahabat.


"Ought. Nggak apa-apa dong, kalo kakak gabung disini?" Ucap cowo' itu lagi.


"Ehem... Ehem...!" Dehem yang lainnya menghentikan percakapan seru dua orang itu.

__ADS_1


"Eh sorry semuanya. Kenalin dia itu dulu kakak kelas gue waktu di sekolah lama sebelum gue pindah di Sekolah Menengah Pertama Kotabumi ini!." Jelas Zahra.


"Hay semuannya. Kenalin, nama gue Fadly Andri Lesmana. Salam kenal yah semuanya!" Ucap Fadly seraya menjulurkan tangannya kepada Bagas yang pertama kali kemudian di lanjutkan ke yang lainnya. Pada saat dirinnya menjulurkan tangannya kearah Hendry. Hendry malah menatapnya dengan sinis, hal ini membuat Fadly menarik kembali tangannya.


"Gue Fadly, loe siapa?" Tanya Fadly ramah.


"Gue Hendry." Jawab Hendry singkat tanpa mengalihkan pandangannya kearah Fadly.


"Hmmm, loe Ketua OSIS Sekolah Menengah Pertama Kotabumi kan?" Tanya Fadly memastikan.


"Udah tahu ngapain nanya. Guys, gue ke toilet bentar ya." Ucap Hendry seraya pergi meninggalkan yang lainnya yang masih memasang ekspresi bingung melihat keanehan sahabatnya.


"Hahaha...! Cemburu gila tuh anak. Bisa aja loe Dly. Loe berhasil bikin dia cemburu. Tuh Ra, loe lihat sendiri kan kalo si Hendry itu nggak suka banget sama Fadly. Dan gue tau banget. dia pasti benci banget sama loe Dly. Hahaha...!" Komentar Ari pada saat Hendry meninggalkan mejanya dengan alasan ingin ke toilet.


"Gue yang ngerasa nggak enak nih sama dia. ntar dia beneran musuhin gue lagi. Loe sih Ri, punya ide gila kaya gini. Mana gue lagi yang jadi korbannya." Sungut Fadly.


"Apaan banget sih. Siapa juga yang mau di tembak sama dia." Ngeles Zahra.


"Masa? Nggak mau beneran nih?" Goda Intan.


"Apaan sih loe semua. Ntar kalo ada Hendry bisa repot tau. Kak Fadly, maaf yah. Kita libatin kakak." Ucap Zahra.


"Iyah Ra, tenang aja. gue rela kok bantuin loe. dulu, loe juga pernah bantuin gue kan." Balas Fadly.


Ternyata, ide Ari sewaktu mereka masih berada di kantin Sekolah mereka adalah membuat Hendry cemburu kepada cowo' yang dekat dengan Zahra. Yaitu dengan meminta tolong kepada Fadly. Teman satu angkatan Ari sewaktu masih berada di Club Basket Raja Muda.


Dan dengan kedatangan Fadly, ingin membuktikan apakah Hendry itu benar-benar mencintai Zahra atau tidak. Mereka akan membuktikan itu semua melalui kedekatan Zahra dan Fadly yang akan di mulai besok pagi. Dan mereka ingin Hendry mempercayai ucapannya bahwa Fadly itu suka terhadap Zahra. Dan Fadly akan berusaha supaya Fadly bisa mendapatkan Zahra.


***

__ADS_1


Malam harinya di sebuah kamar yang cukup luas, terdapat seorang cowo' yang sedang memegang sebuah buku di meja belajarnya. Tetapi sedari tadi, dirinya hanya mendesah pelan dan hanya menggerutu kesal setelah kejadian di cafe sederhana sore tadi. Pikirannya tertuju pada cowo' yang mengenal Zahra dengan baik. Dan sepertinya Zahra juga menyukai kedatangan cowo' itu.


"Haduhhh, bisa gila gue. Tuh cowo' siapa sih. Mana deket banget sama Zahra lagi. Jangan-jangan dia mantan Zahra lagi. Tapi nggak mungkin! Zahra kan bilangnya kalau dia itu cuma kakak kelasnya waktu di sekolah yang lamanya. Tapi kalau emang mereka punya hubungan gimana? Nggak... Nggak mungkin Zahra suka sama tuh cowo' itu, kan sukanya sama gue, iya gue yakin banget kalau Zahara itu suka sama gue, sebelum ada tuh cowo' juga Zahra kelihatan seneng banget ada di dekat gue. Iyah, gue yakin banget." Ucap Hendry bimbang dan ragu. "Tapi kalau misalkan Zahra juga suka sama tuh cowo' gimana yah. Gue gimana? Nggak...! Gue nggak akan ngijinin Zahra jadian sama tuh cowo'. Gue harus bisa bikin Zahra jauh dari tuh cowo', dan gue harus bikin Zahra suka sama gue lagi dan deket sama gue lagi. Gue nggak rela kalau dia itu jadian sama tuh cowo'. Lagian tuh cowo' siapa sih? Berani-beraninya dateng tanpa di undang. Mana di saat seperti ini lagi...!" Sungut Hendry lagi.


Hendry terus menerus memikirkan kejadian yang baru saja dialaminya sore tadi. Pikirannya berkecamuk antara sedih, takut dan merasa tersaingi. Dirinya sangat takut jika Zahra cewe' yang di sukainya itu malah menyukai Fadly cowo' yang baru di kenal Hendry itu, dan dirinya merasa tersaingi karena kehadiran cowo' itu.


Dengan gerakan cepat, dirinya langsung beranjak dari tempat belajarnya itu dan langsung mengambil gagang telephone yang ada di rumahnya dan langsung mengetik nomor telephone rumah Zahra. Dengan gerakan cepat dirinya langsung menekan urutan nomor tersebut.


Di lain tempat, Zahra sedang membaca buku kimiannya seraya mengerjakan soal yang diberikan oleh sang guru killer yang mengajar kelasnya. Beberapa saat kemudian, terdengar suara telephone dari ruang keluarga di depan kamar Zahra tanda ada panggilan yang masuk.


"Hendry? Tumben banget telepon gue. Ada apaan yah!?" Gumam Zahra yang kebetulan langsung menerima sendiri panggilan telephone itu.


"Halo Hendry!" Sapanya kepada orang yang menelopon dirinya.


"Halo Ra. Mmm, loe lagi ngapain?" Tanya Hendry sedikit terdengar gugup saat berbicara dengannya di telephone itu.


"Lagi belajar Kimia. Kenapa? Ada hal penting kah?" Tanya Zahra heran.


"Mmm, gue... gue... cuma mau nanya sih sebenernya, boleh nggak?" Tanya Hendry.


"Boleh Hen. Tanya apa? Tumben minta persetujuan dulu, biasanya langsung nyerocos ajah...!" Balas Zahra.


"Mmm...!, gituh yah. Hehehe...! Gue cuma mau nanya. Cowo' tadi itu cowo' loe bukan sih?" Tanya Hendry lirih.


"Ooought, nanyain kak Fadly toh. Berarti rencananya Ari berhasil dong, hendry mengira dia itu cowo' gue, tapi gue mesti jawab apa ya...? Masa iya bilang kalo kak Fadly cowo' gue. Gimana yah. Adduhh bingung sendiri jawabnya gimana...!" Pikir Zahra seraya mondar mandir di kamar tidurnya.


"Zahra, kok malah bengong sih. Di jawab dong pertanyaan gue...!?" Ucap Hendry setelah mengetahui bahwa cewe' yang kini sedang berbicara dengannya tiba-tiba diam seketika.


"Eh, iya...! Hmm, kak Fadly bukan cowo' gue kok. Cuma, dulu gue sempet suka gitu sama dia. Nggak tau sekarang masih suka apa nggak. Tapi setelah lihat kak Fadly tadi. Tiba-tiba aja gue ngerasa suka lagi sama dia. mungkin karena udah lama nggak ketemu kali yah, jadi kangen mungkin...!" Terang Zahra yang membuat Hendry panas.

__ADS_1


__ADS_2