
Tepatnya di sebuah kamar seorang cowo' sedang gelisah memikirkan apa yang dibicarakan oleh cewe' yang amat sangat dicintainya. Cowo' ini tidak menyangka dengan ucapan yang keluar dari bibir manis sang cewe'.
"Arrrggghhhh, kenapa sih Ra. Loe selalu menghantui gue terus. Apa maksudnya loe ngomong gitu sih. Apa bener loe gak suka sama gue. Tapi kenapa Ra? Bukanya selama ini loe udah nunjukkin kalau loe itu suka sama gue. Kalo loe emang nggak suka sama gue. Harusnya loe nggak usah ngasih harapan sama gue. Kenapa Ra?" Ucap Hendry. "Apa loe udah jadian sama Fadly? Apa loe sama dia emang saling mencintai? Gue nggak sanggup kalo loe mesti sama Fadly. Kenapa harus Fadly sih? Kenapa loe nggak milih gue aja?" Lanjutnya. "Ok, Ra. Kalau ini emang mau loe. gue bakal menjauhi dan kalo loe emang bahagia sama Fadly gue terima Ra!. Gue bakalan terima kalo kenyataanya Fadly bisa jadi yang terbaik buat loe. gue terima Ra. Mulai besok gue akan berusaha ngejauhin loe Ra. Semoga loe bahagia sama Fadly!" Lanjut Hendry dalam hati penuh kekecewaan.
Gara-gara capek memikirkan masalahnya dengan sang cewe', cowo' ini pun akhirnya tertidur dan berusaha untuk menghilangkan penat dan rasa lelah yang menyelimuti dirinya. Berharap dengan tertidur masalahnya akan hilang dan terbang terbawa angin. Dan esoknya jika dirinya bangun akan menemukan semangat baru untuk menjalani hari baru tentunya.
***
Tiba-tiba langkah cowo' itu berhenti setelah melihat pemandangan yang kurang indah di depan gerbang sekolah tercintaanya ada sepasang muda mudi yang sedang bercengkrama seraya bercanda dan diselingi tawa oleh keduanya. Cowo' itu langsung merasakan panas di hatinya dan dia tidak kuat melihat sepasang kaum adam dan hawa yang kelihatan sekali seperti pasangan yang sangat serasi.
Terlihat Zahra dan Fadly yang sedang bercengkrama di depan gerbang sekolah. Fadly yang masih duduk di atas motornya dan Zahra yang berdiri di samping seraya senyum-senyum dan ketawa. Mereka asyik bercengkrama tanpa memperdulikan orang-orang sekitar, bahkan mereka tidak sadar jika ada seseorang yang melihat mereka dengan tatapan membunuh.
"Bro, loe nggak apa-apa?" Tanya Bambang yang melihat ekspresi dirinya.
"Nggak apa-apa kok. Gue masuk duluan yah." Jawab Hendry masih dengan nada tenang.
"Tunggu bro, bukanya kita ada rapat ya pagi ini, jadi bareng ajah. yuk." Usul Bagas yang masih asyik dengan senyumnya.
"Ya udah lah, nggak usah di masukkin ke dalam memory loe kejadian pagi ini, buang ajah. yuk guys, pak Budi Waluyo pasti udah nungguin tuh...!" Ajak Ari dengan pandangan penuh dengan misteri.
Kemudian mereka berjalan cepat menuju ke Ruang OSIS. Tetapi Hendry yang notabene sebagai ketua OSIS Sekolah Menengah Pertama Kotabumi masih terus memikirkan kejadian yang kurang enak untuk dilihat di pagi hari ini. Sebelum cowo' ini memasuki pekarangan sekolahnya, cowo' ini menyempatkan melirik sepasang kaum muda mudi yang masih betah berdiri di depan gerbang sekolahnya itu. Kemudian dirinya bergegas memasuki loby sekolah dengan perasaan tidak menentu.
"Mereka tuh ada hubungan apa sih sebenernya. Seenaknya ajah mereka bercanda di depan gerbang sekolah, mereka pikir tuh tempat punya nenek moyangnya apah. Inget Hendry. Loe udah janji bakal ngelupain Zahra kan, jadi loe mesti berusaha mengapus dalam memory loe. buang jauh jauh nama Zahra, dia itu nggak suka sama loe, jadi ngapain loe masih betah nyimpen namanya di otak loe...!?" Batin Hendry seraya memasuki sekolahnya.
"Hen, Loe lama amat sih jalannya. Kaya cewe' aja. buruan, pak Budi Waluyo udah nyariin loe dari tadi." Ucap Bagas seraya menarik tangan Hendry dan menyeretnya menuju Ruang OSIS.
"Iya iya, sabar napa sih Gas. Nggak usah di seret seret tangan gue." Ujar Hendry berusaha melepaskan cekalan tangan Bagas yang menyeretnya dengan tarikan yang lumayan keras.
"Supaya kita cepet sampai ke Ruang OSIS. Loe nggak tau apa, kalo dari tadi pak Budi Waluyo itu nyariin loe, malah loe seenaknya aja jalannya kaya cacing. Masih pagi udah lemes gitu...!" Cerocos Bagas yang masih menyeret sahabatnya menuju ke Ruang OSIS.
"Bawel banget sih loe jadi cowo'!" Balas Hendry.
Kemudian mereka memasuki Ruang OSIS dan ternyata para anggota OSIS sudah berkumpul dan duduk manis di kursinya masing-masing.
Sepertinya Hendry yang belum duduk di kursinya, pantas saja Pembina OSIS mencarinya. Ternyata cuma Hendry yang nggak kelihatan di Ruangan. Para guru juga banyak yang datang termasuk Kepala Sekolah Menengah Pertama Kotabumi ini.
***
Sementara anggota OSIS sibuk membicarakan masalah Scara Ulang Tahun sekolah. Murid-murid yang lainnya malah enak-enakkan bersantai ria. Karena para guru banyak yang mengikuti acara rapat OSIS pagi ini. Jadi, jam pertama dan kedua di kosongkan dan beberapa dari mereka memilih pergi ke perpustakaan dan yang paling banyak ke kantin.
Seperti cewe'-cewe' cantik yang sudah standby di bangku favoritnya di kantin sekolah, bangku paling pojok yang sebelahnya ada jendela yang menghubungkan dengan pemandangan luar sekolahnya yang sangat menyejukkan.
"Ra, loe udah jadian yah sama kak Fadly." Tanya Rosa yang membuat Zahra mengernyit.
"Kenapa loe tanya gitu Cha. Gue nggak jadian kok sama kak Fadly. Loe semua kan tahu kalo gue deket sama kak Fadly karena pengin buat Hendry kesal dan mikir aja." Jawab Zahra.
"Tapi cara loe udah kelewatan Ra. Bukannya loe udah tahu kalo Hendry ituh suka sama loe dan sayang sama loe. loe tahu nggak sih, rencana loe sama Ari ini bisa bikin Hendry ngejauhin loe...!" Ucap Rosa menjelaskan.
"Jangan dong. Masa loe ngedoain gituh sih Cha?." Kata Ari, gue belum boleh nyudahin permainan ini. Sampai acara prom night nanti." Ujar Zahra yang membuat sahabatnya melotot kaget.
"Prom night?" Tanya cewe'-cewe' itu secara serempak.
"Iya prom night. Emang kenapa sih? Ada yang salah emang?" Tanya Zahra balik.
__ADS_1
"Kok gue nggak tahu kalo mau ada prom night. Bagas reseh banget nih. Masa gue nggak di kasih tahu." Gerutu Ayu.
"Sama. Loe fikir loe aja apa yang nggak di kasih tahu. masa Zahra di kasih tahu gue nggak. Rese banget emang Ari. Awas aja nanti...!" Tambah Nelly yang menyetujui ucapan Ayu.
"Selow aja guys. Gue juga tahunya pas tadi malem. Ari ngasih taunya juga nggak sengaja. Gue kan Tanya kapan permainan gue sama kak Fadly berakhir. Dan Ari bilang kalau gue boleh mengakhiri semuanya habis acara prom night selesai. Terus gue tanya lebih lanjut deh." Terang Zahra yang membuat sahabatnya mengangguk mengerti.
"Oh gitu. Tapi jangan salahin kita kalau Hendry beneran benci sama loe ya Ra!. Dan lebih memilih buat ngejauhin loe karena dia fikir loe ituh udah jadian sama kak Fadly dan loe udah bahagia sama dia." Terang Intan yang membuat Rosa membenarkan ucapan Intan.
"Semoga aja nggak kaya gitu kenyataanya. Gue nggak pengin kalau Hendry bakal benci sama gue. Percuma dong kepura-puraan gue selama ini. Gue kan pengin bikin dia peka terhadap hati gue doang, bukan nyuruh Hendry benci sama gue apa lagi bakal ngejauhin gue." Batin Zahra.
***
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring membuat seluruh siswa siswi Sekolah Menengah Pertama Kotabumi bersorak gembira. Mereka bergegas keluar dari sekolah tercinta mereka, sedangkan para cewe' masih ada yang setia berada di dalam kelas mereka.
"Guys, kita ke Ruang OSIS yuk, sekalian menemui Hendry, Fakih, Bagas, Bambang, Ari sama Nazaruddin yuk. Sekalian ngajak jalan bareng gitu." Usul Rosa yang langsung di respon dengan anggukan oleh cewe'-cewe' lainnya.
"Boleh banget tuh Cha. Nel, Yu, Nur loe orang pasti setuju kan?" Tanya Intan pada sahabat-sahabatnya.
"Gue sich oke-oke ajah. gimana sama loe Ra?" Tanya Ayu. Sedangkan sang empu yang di tanya hanya mengangkat bahu tanda ia tak tahu apa jawaban yang paling tepat. Mendapat respon seperti itu, sahabat-sahabatnya hanya mengernyit tanda mereka bingung dengan jawaban Zahra.
"Mau nggak mau, loe harus mau Ra. Buruan!!! Katanya Nazaruddin sama yang lainnya ada di loby Ruang OSIS sekarang. Dan kita semua di suruh kesitu sekarang. Udah ayo...!" Ajak Intan dan langsung mengajak sahabat-sahabatnya seraya bergegas keluar kelas dan langsung melangkah menuju ke loby dimana para cowo'-cowo' telah menunggunya tadi.
Terlihat para cowo'-cowo' yang sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing di loby. Beberapa menit kemudian, terdengar suara derap langkah beberapa orang yang menuju ke arah cowo'-cowo' itu karena suaranya semakin jelas saja. Otomatis, para cowo'-cowo' itu menghentikan aktivitas mereka masing-masing dan langsung mengalihkan pandangannya kearah sumber suara yang membuat dirinya merasa di ganggu.
"Hay say, lama banget sih datengnya. Tadi kan aku udah nyuruh kamu dateng secepatnya." Sapa Nazaruddin manja yang membuatnya terkikik geli.
Mereka semua tertawa geli melihat perubahan sikap sahabatnya semenjak berpacaran dengan cewe' manis dan tomboy sekaligus sahabat pacar mereka. Sedangkan Zahra melihat kearah Hendry yang masih menyibukkan dirinya dengan buku bacaan miliknya. Sepertinya cowo' tersebut sangat tidak perduli dengan kehadirannya maupun kehadiran sahabatnya.
"Lebay banget sih. Tadi gue ngobrol dulu sama anak-anak. Oooo yah, kita punya rencana nih." Ucap Nelly.
"Rencana apa girls?" Tanya Ari mewakili para sahabatnya.
"Mmm, gini...! Kita pengin jalan-jalan bareng. Tapi sama semuanya. Jadi kan seru, bukannya makin rame makin seru ya!" Jawab Nelly menjawab pertanyaan kekasihnya.
"Setuju... setuju aja sih, asyik juga jalan rame-rame." Jawab Bagas.
"Iyah, nanti kita bisa seru-seruan bareng. Udah lama juga kan kita gak pergi bareng-bareng." Ujar Ayu.
"Iya, akhir-akhir ini kita semua pada sibuk sama urusan kita masing-masing." Ucap Bagas menyetujui.
Sementara itu...!!!
"Hen, lagi ngapain?" Tanya Zahra yang membuat cowo' di sampingnya menoleh.
"Sejak kapan loe ada disebelah gue?". Bukanya menjawab pertanyaan Zahra, cowo' itu malah bertanya balik yang pertanyaanya membuat Zahra heran.
"Dari tadi Hen, elo sibuk banget sih dengan buku bacaan elo. Jadi nggak sadar kan." Ucap Zahra ramah kepada sang ketua OSIS yang bernama Hendry itu.
""Apa perduli loe? Terserah gue dong mau ngapain aja dan kehadiran loe tuh sangat tidak berpengaruh buat gue...!" Jawab Hendry dengan cueknya.
"Kok loe ngomongnya gituh sih? Gue kan tanya baik-baik, jawabnya malah sinis gitu!" Gerutu Zahra yang membuat seniornya menatap dirinya dengan tatapan tajam.
"Masalah buat loe. Guys, gue duluan ya!" Pamit Hendry cepat seraya beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Hen...!" Panggilan Nazaruddin membuat dirinya menghentikan langkah kakinya. "Kita kan mau jalan bareng, loe mau kemana?" Lanjutnya.
"Gue mau menyendiri guys. Kalian tanpa gue nggak apa-apa kan? Gue bener-bener pengin sendiri dulu." Ucapan Hendry.
"Kenapa?" Balas Nazaruddin.
"Tenang aja guys, gue baik baik ajah kok. Gue lebih mutusin buat jalan-jalan aja sendirian...!" Terang Hendry.
"Kenapa nggak bareng kita aja? Lebih rame kan lebih seru Hen, kita bisa ngabisin waktu bareng sampe sore nanti. Atau kalau loe mau kita bisa jalan-jalan sampe malem." Ujar Bagas.
"Iya Hen, lagian kalau elo nggak ikut Zahra sama siapa? Kan pada pake motor semua." Tambah Intan.
"Panggil aja pacarnya, gampang kan?" Jawab Hendry sekenanya dan langsung membuat Zahra melotot kaget.
"Pacar?" Ucap Zahra memastikan.
"Iya pacar loe, siapa tuh namanya, Fad... Fad... Fad...!" Hendry pura-pura mengingat.
"Fadly maksudnya Hen?" Jawab Nur secepatnya.
"Ah bodo amat, mau namanya Fadly kek, Fadul kek. gue nggak perduli. Udah yah guys, gue cabut dulu." Ucap Hendry seraya bersiap pergi.
Lagi-lagi langkahnya mendadak berhenti karena ulah sahabatnya yang selalu membuat dirinya tidak bisa meneruskan langkahnya.
"Hen...!" Panggil seseorang kembali.
"Ada apa lagi guys?" Tanya Hendry sebal seraya berbalik badan.
"Loe cemburu yah sama Fadly." Ucap Ari yang membuat Hendry melotot kaget.
"Cemburu? Mana mungkin. Nggak kok, gue sama sekali nggak cemburu sama Fadly." Ucap Hendry cepat.
"Serius? Jangan bohong deh. Ntar kalo Zahra beneran jadian sama Fadly baru tahu rasa loe. ntar loe malah nangis kejer-kejer lagi. Atau jangan-jangan mempersiapkan diri buat bunuh diri loe sendiri." Ucap Bagas ngarang.
"Lebay banget sih loe. Nggak mungkin lah. Cuma gara-gara cemburu gue bunuh diri. Lagian kalo Zahra jadian sama Fadly juga gue nggak perduli." Balas Hendry.
"Hen, udah deh. Nggak usah gengsi gitu. Elo kalo suka sama Zahra bilang aja yang sebenernya. Di dunia cinta itu nggak ada kata gengsi. Suka ya bilang suka. Kalau nfgak suka ya bilang nggak suka." Terang Intan memberi tahu.
"Udah lah guys. Ngapain sih pake mojokkin Hendry gitu. Loe semua tahu kan kalo Hendry itu nggak suka sama gue. Jadi buat apa di paksa ngomong suka. Orang nyatanya dia nggak suka. Mmm, gue pulang ajah deh yah. Kalian kalau mau pergi, pergi ajah. Nggak apa-apa kok. Dan buat Hendry, makasih buat pernyataan yang elo kasih tahu ke gue. Bye guys." Ucap Zahra seraya melangkah menjauhi teman-temannya dan melangkah menuju ke gerbang.
"Hen, kalau elo suka atau nggak suka sama Zahra, kejar dia Hen! Apa pun yang elo rasakan gue nggak peduli. Loe nggak kasihan sama Zahra? Loe nggak mau kan kalo terjadi apa-apa sama Zahra? Udah sore walau dia pulang dengan taksi atau angkutan umum, jam segini nggak bakalan ada lagi! Masa bodo dengan perasaan elo, tapi gue yakin elo masih punya sisi kemanusiaan di hati elo, pahamkan maksud gue!" Ucap Fakih dengan berwibawa.
Di situasi yang sama sekali tidak mendukung ini malah membuat Hendry bingung harus bagaimana.? Di satu sisi, dia ingin sekali menyendiri di tempat yang benar-benar nyaman dan tenang. Dirinya ingin sekali mencairkan otaknya supaya bisa berfikir jernih. Akhir-akhir ini banyak masalah yang datang ke kehidupannya, dan hal ini membuat dirinya menjadi kacau.
Tapi disisi lain, dirinya membenarkan kata-kata Fakih barusan pada dirinya. Sebuah kekhawatiran tetap ada di hati Hendry walau pun dirinya masih terlalu gengsi untuk mengakuinya. Setelah beberapa saat dalam keadaan hening, kemudian…!!!
Plakkk...!!!
Sebuah tamparan keras di pipi Hendry membuat dia tersadar dalam kebingungan.
"Woy, malah bengong...!" Ujar Fakih dengan sebuah tamparan yang cukup membuat Hendry kaget.
"Ya udah Kih. Gue duluan guys...!" Ucap Hendry dan langsung ngacir...!!!.
__ADS_1