BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI

BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI
BAB 68 : KEJELASANNYA


__ADS_3

Saatnya tim Sekolah Menengah Pertama Kotabumi melawan Sekolah Menengah Pertama Kalibalangan bertanding. Sang kapten dari dua


Sekolah Menengah Pertama itu sudah bersiap-siap di tengah lapangan menunggu peluit berbunyi. Bola berada di tangan wasit. Sedangkan para Cheers dengan semangatnya memperlihatkan gerakan-gerakannya untuk mendukung dan memberikan semangat kepada tim basket sekolahnya masing-masing.


Peluit berbunyi dan dengan cepat dua tim ini saling beradu kekuatan dan ketangkasan dalam bergerak. Hendry dan kawan-kawan bergerak cepat dan berusaha mengalahkan tim lawan yang tidak biasa itu. Skor sekarang adalah 20/23 yang di pimpin oleh tim Hendry.


Pertandingan selesai dan pemenangnya adalah Tim Basket dari Sekolah Menengah Pertama Kotabumi. Tim ini akan memasuki final untuk memperebutkan juara satu. Dan akhirnya Tim Basket Sekolah Menengah Pertama Kotabumi bertanding melawan tim terbaik yaitu Tim Basket Sekolah Menengah Pertama Candi Mas. Adu kekuatan dan kekompakan itulah yang menjadi pegangan antara dua Sekolah Menengah Pertama itu.


***


Pertandingan basket antar dua Sekolah Menengah Pertama yang merupakan tim terbaik Se Lampung Utara yaitu Sekolah Menengah Pertama Kotabumi dan Sekolah Menengah Pertama Candi Mas telah selesai. Dan yang menduduki posisi pertama adalah Sekolah Menengah Pertama Kotabumi dan Sekolah Menengah Pertama Candi Mas menjadi juara kedua.


"Selamat ya, buat kalian semua. Kalian bisa merebut juara pertama lagi. Bapak beri jempol dua sama kalian semua." Puji Pak Dadang selaku pelatih tim basket Sekolah Menengah Pertama Kotabumi.


"Makasih pak. Kita semua juga mengucapkan terima kasih kepada bapak yang telah mengajari kami sehingga kami bisa menjadi juara pertama." Ucap Hendry disertai anggukan dari yang lain.


***


Hari ini tepatnya sore ini Hendry mengajak Zahra untuk pergi berdua. Tempat yang akan di jadikan Hendry untuk bertemu Zahra adalah di sebuah bukit yang indah di penuhi dengan pohon-pohon cemara dan di temani dengan burung camar yang berterbangan mengitari bukit itu. Karena menurut Hendry akan bisa berbicara dengan Zahra secara empat mata tanpa ada yang menggaggunya.


"Ngapain elo ngajak gue kesini." Tanya Zahra heran plus sinis.


"Gue pengin ngomong sama elo empat mata. Terserah elo mau suka atau nggak tempat ini." Balas Hendry.


"Ngomong apa lagi?" Balas Zahra.


"Elo kenapa sih. Akhir-akhir ini jutek banget sama gue. Elo tahu nggak hubungan kita tuh udah nggak jelas tahu. Sekarang elo juga tambah deket aja sama Bagas, sedangkan Bagas sendiri sudah punya kekasih Ayu!." Jelas Hendry.


"Kenapa sih Hen, kalau kita ada masalah mesti bawa-bawa Bagas, nggak ada sangkut pautnya sama dia, kita ya kita. Jangan bawa-bawa orang lain deh. Kalau cemburu bilang aja." Bentak Zahra seraya melipat tangannya di dada dan memandang pemandangan di hadapannya tanpa menatap Hendry yang sedari tadi sedang menatap dirinya.


"Yah. Gue emang cemburu. Puas elo. Kesabaran setiap manusia itu ada batasnya Ra, dan Gue udah nggak kuat sama semua sikap elo yang seenaknya gitu sama gue." Lanjut Hendry.

__ADS_1


"Seenaknya gimana. Bukannya yang harusnya sabar itu gue ya?. Gue yang harus sabar ngadepin cowo' yang nggak perhatian kaya elo, yang nggak peka sama perasaan orang lain kaya elo, gue yang harusnya sabar. Akhir-akhir ini elo juga nggak pernah perduliin gue. kemana aja elo selama ini, elo juga nggak tahu kan gue itu butuh elo akhir-akhir ini." Terang Zahra kesal.


"Elo yang nggak perhatian sama gue. Elo juga nggak tahu kan gimana perasaan gue pas ngelihat elo lebih milih pulang sama Bagas dan nonton sama dia. Elo juga nggak tahu perasaan gue itu kaya gimana pas elo cerita tentang jalan-jalan elo sama Bagas dengan sangat antusiaskan?" Ucap Hendry menghentikan ucapannya seraya mengambil nafas.


"Elo selalu aja jadiin gue pelampiasan emosi elo, setiap elo ada masalah elo selalu cerita sama gue dan apa, gue kan yang jadi sasarannya, gue yang elo bentak kan akhirnya. Padahal gue itu nggak tahu apa-apa tentang masalah elo. Sekarang gue tanya sama elo, apa pernah gue marah sama Bagas. Nggak pernah kan Ra. Elo selalu aja senang-seneng sama dia, sementara gue, selalu aja elo jadiin sasaranya kalau elo lagi kesel!" Lanjut Hendry dengan nada tinggi dan tajam.


"Hen. Gue... Gue ….!" Ucap Zahra sedikit terisak karena sedari tadi dia menangis setelah mendengar penuturan kekasihnya itu.


"Udahlah Ra, gue udah capek selama ini ngadepin elo yang selalu seenaknya sama gue, elo harus tahu satu hal, gue itu cowo' elo bukan orang yang nggak ada harganya Ra. Sekarang terserah elo, elo mau mutusin gue juga terserah elo. Itu hak elo. Maaf selama ini gue selalu jadi cowo' yang nggak berguna buat elo." Ucap Hendry dengan nada suaranya yang sedikit melembut.


"Maaf tadi gue udah ngebentak elo. Kalau elo pengin mutusin gue bilang sekarang juga boleh. Atau elo bisa lewat Fakih ngomongnya. Karena selama beberapa hari kedepan gue nggak bisa ketemu elo dulu. Ada hal penting yang harus gue lakuin. Makasih karena elo mau jadi cewe' gue selama beberapa bulan ini. Maaf juga karena gue nggak pernah bisa buat elo bahagia. Gue udah manggil taksi buat nganterin elo pulang, maaf gue nggak bisa nganterin elo Ra. Selamat tinggal." Ucap Hendry seraya berlalu meninggalkan kekasihnya itu yang masih terisak menahan tangisnya seraya menunduk.


"Hendry, maafin gue. Gue tahu gue salah. Gue udah bikin kamu sakit hati. Tapi elo harus tahu satu hal Hen, gue sayang banget sama elo. Maafin gue karena gue nggak peka sama perasaan elo, maaf juga karena gue selalu jadiin elo pelampiasan emosi gue. maafin gue Hen." Gumam Zahra yang masih menangis seraya berlalu dan memasuki taksi yang sudah di pesan  Hendry tadi.


***


Seorang cewe' sedang berdiri di depan kelas 2A, entah dia menunggu apa sedari tadi. Beberapa saat kemudian ada seorang cowo' yang memasuki kelas tersebut dan dengan langkah pasti cewe' itu menghentikan langkah sang cowo'.


"Ada apa Ra?, nggak ada kerjaan ya berdiri di situ, maaf gue mau lewat." Ucap Fakih dengan nada sopan.


"Nggak, hari ini dia nggak berangkat sekolah. Juga beberapa hari kemudian, dia sudah mengajukan ijin." Balas Fakih.


"Nggak berangkat sekolah, emangnya dia mau ngapain?" Tanya Zahra penasaran.


"Yakin elo mau tahu Ra?, bukannya sebagai cewe' nya seharusnya elo lebih paham dan mengerti Hendry? Apa elo dah putus ma Hendry?" Balik tanya Fakih heran.


"Kih, gue itu masih cewe' nya Hendry. Kita berdua belum putus. Gue tanya karena emang bener-bener gue nggak tahu Kih, Hendry nggak pernah cerita masalah dia ma gue!" Jawab Zahra.


"Ooo begitu ya Ra?! Hendry yang nggak pernah cerita apa elo yang nggak pernah kasih kesempatan untuk dia buat cerita ma elo?" Lanjut Fakih menyindir Zahra dengan halus.


Zahra terdiam...! "Gue tanya hendry itu dimana sekarang? Terus dia mau ngapain sampe ijin beberapa hari, Kih?" Tanya Zahra tanpa memperdulikan sindiran Fakih.

__ADS_1


"Penting banget ya Ra, gue kasih tahu loe. kalo elo emang cinta sama Hendry, loe seharusnya tahu dia kenapa? sayangnya loe itu nggak cinta sama Hendry, jadi loe nggak tahu dia kemana sekarang? Loe selalu aja sibuk sama urusan loe sendiri." Lanjut Fakih.


"Maafin gue Kih, gue tahu gue salah sama Hendry. Makanya gue mau minta maaf sama dia." Lanjut Zahra.


***


"Maaf Bi, Hendry nya ada?" Tanya Zahra kepada Bibi yang sedang menyiram bunga di taman depan rumah Hendry. Cewe' ini sedang berada di rumah Hendry.


"Den Hendry nya nggak ada di rumah non. Non nggak tahu ya. Sekarang den Hendry kan udah nggak tinggal disini lagi." Terang Bibi.


"Maksud Bibi? Ini masih rumah Hendry kan?" Tanya Zahra heran.


"Iyah non, ini masih rumah den Hendry. Tapi den Hendry lebih milih tinggal sama Nyonya dari pada sama Tuan non. Rumah ini kan rumah Tuan, jadi den Hendry udah nggak tinggal disini lagi." Jelas bibi lagi.


"Tunggu Bi, maksud bibi orang tua Hendry udah nggak sama-sama lagi bi?" Tanya Zahra terkejut.


"Iya non Zahra, kan tuan sama nyonya udah cerai, jadi mereka pisah rumah dong." Lanjut bibi menjelaskan.


"Cerai? Kapan Bi? Kok bisa sampai cerai sih?" Pekik Zahra kaget.


"Non Zahra nggak di kasih tahu den Hendry ya. Udah lama kok mereka cerai, mungkin dua minggu yang lalu. Tapi peresmiannya itu besok pagi non di pengadilan." Lanjut bibi menjelaskan.


"Hendry, ternyata selama ini elo tuh nyimpen masalah yang begitu besar. Kenapa sih elo itu nggak mau berbagi sama gue? Maafin gue Hendry." Gumam Zahra merasa bersalah.


"Apa non...!" Tanya Bibi yang masih mendengar gumaman Zahra.


"Oooh nggak bi, bibi tahu nggak, rumah Tante, mamahnya Hendry maksudnya itu di mana? Sekarang Hendry tinggal dimana?" Tanya Zahra.


"Adduhhh, kalau itu bibi nggak pernah tahu non, nyonya sama tuan nggak pernah ngasih tahu Bibi, mending non kalau mau ketemu sama den Hendry besok pagi aja di pengadilan." Saran Bibi.


"Iyah Bi, pengadilan apa Bi namanya." Tanya Zahra lagi.

__ADS_1


"Kalau nggak salah, Pengadilan Agama Kotabumi sebelum perempatan lampu merah non, setelah Rumah Sakit Umum!." Jawab Bibi.


"Ya udah bi, makasih yah bi. Zahra permisi." Pamit Zahra seraya meninggalkan rumah Hendry.


__ADS_2