
"Cha...!" Tiba-tiba Fakih berkata.
"Iya, ada apa?" Tanya Rosa.
"Elo mau nggak jadi pacar gue!?" Tanya Fakih.
Kemudian suasana hening...!!!
Aku nggak tau mau jawab apa ke Fakih dan perasaan waktu itu berantakan aneh, seneng, sedikit baper lah, pokoknya rasanya itu bercampur aduk jadi satu.
"Elo lagi bercanda yah Kih?. Nggak lucu tau" Ucap Rosa sembari tertawa.
Fakih langsung memegang kedua tanganku, Kemudian kedua matanya tertuju kepadaku. Matanya seperti mau berbicara akan tetapi tanpa pikir lama aku langsung melepaskan kedua tangannya dari genggamannya.
Malu lah dilihat orang dikira ngapain lagi...!!!
"Maaf.. maksud gue agar elo tau aja rasa hati gue Cha!" Pinta Fakih.
"Iya, enggak papa...! Gue paham kok maksud elo!" jawab Rosa pura-pura paham aja yang sebenernya hati dan pikirannya sudah nggak karu-karuan mendengar kejujuran Fakih yang selama ini sebenarnya yang di tunggu-tunggu Rosa karena tingkah dan laku benar menunjukan rasa sayang dia dengan Rosa akan tetapi perkataannya belum pernah sekalipun terlontar dari mulutnya.
"Kenapa elo mau kita pacaran Kih?" tanya Rosa penasaran. Sambil menatap kedua matanya dan melihat dari sudut mata Fakih ada sesuatu yang terlihat aneh, entah apa itu Rosa pun nggak mengerti secara pasti.
"Gue hanya merasa kalau elo juga punya perasaan yang sama, seperti gue juga seperti itu Cha, gue nggak tahu sebenarnya perasaan apa yang ada di hati gue Cha, setiap hari gue semangat untuk sekolah karena ingin melihat senyum dan canda elo, ingin selalu bersama dan jika elo nggak ada perasaan gue ada sesuatu yang hilang di diri gue Cha begitu" Jelas Fakih secara detail sesuai hatinya.
Tanpa pikir panjang...!!!
"Kita pulang yuk Kih!, ntar kesorean lagi!" Lanjut Rosa mengalihkan segala pembicaraan dan kejujuran Fakih mengenai hati dan perasaannya.
Lalu Fakih langsung mengantar Rosa pulang dan saat di perjalanan pulang pun mereka berdua tidak banyak berbicara, bahkan bisa dikatakan tidak bicara sepatah kata pun.
"Ya ampun kenapa jantungku berdetak kencang, sebenernya ini adalah kesempatan yang sudah lama gue nanti-nantikan. Cowo' yang gue suka diam-diam sekarang sudah mengatakan secara langsung akan maksud hatinya. Bukankah ini mau gue sebenarnya? Tapi entah kenapa, hati gue kok jadi belum siap untuk menanggapi permintaannya itu?" Batin Rosa di dalam hatinya.
Di depan gerbang rumah Rosa langsung turun dan hanya mampu berkata "Makasih Kih, untuk hari ini!" Ucap Rosa sambil sedikit menundukkan kepalanya.
"Cha... Hmmm...!" ucap Fakih.
Rosa menoleh kepadanya.
"Maaf ya Kih, kasih gue waktu untuk semua ini dan gue harap elo mau mengerti!" jelas Rosa.
"Iya...Cha, gue paham dan semua perlu pertimbangan. Gue pamit ya! Salam buat calon mertua... Bye... Bye...!" Kata Fakih dengan senyuman dan candaan yang membuat hati Rosa terasa tidak terjadi apa-apa walau Rosa sangat tahu pasti kecewa itu ada di hati Fakih.
"Maaf ya Kih, gue butuh waktu karena cinta nggak semudah hanya lewat perkataan aja. Walau selama ini mimpi untuk bersama akan tetapi hati ini masih ragu". Ucap Rosa kembali di dalam hatinya.
***
Tok... Tok... Tok...!!!
"Assalamualaikum... Ada orangkah di rumah? Cha... Ocha! Putri tercantik sejagat raya datang nih! Katanya elo mau ngajakin gue nginep di rumah elo...! Jadi nggak nih!" Teriak Intan asal bunyi.
"Wallaikumsalam...! aduh brisik banget sih, masuk kali ngapain juga pake teriak-teriak!" Ucap Rosa menyambut sahabatnya datang yang berjanji mau menemani Rosa malam ini, menginap di rumahnya.
Rosa langsung menarik Intan ke kamar,
"Tan Help me!" Ucap Rosa tiba-tiba.
"Apaan sih Cha, kayak orang tenggelam aja!" Balas Intan.
"Duduk dekat gue sini lo! Please Tan!" Ucap Rosa lagi.
"Cha... Sadar Hoy...!" Teriak Intan.
"Apaan sih elo Tan, gue ini sadar sesadar sadarnya tau!" Balas Rosa.
"Terus ada apaan!" Tanya Intan ingin tahu.
__ADS_1
"Tadi sore, sebelum elo ke sini! Gue barusan jalan ama Fakih?!" Jelas Rosa pelan.
"WHAT...!!??. ELO SERIUSAN CHA...!!!" Intan terlihat kaget.
"Iya, gue lagi serius ini Tan nggak lagi becanda ma elo…!" Jawab Rosa.
"Cie... Cie... Cie...! Yang lagi seneng pantesan aja kayak cacing ke panasan gitu! Terus terus...! Cerita dong Cha!" Lanjut Intan dengan rasa ingin tahunya lebih detail.
Belum sempet Rosa membales ejekan becanda dari Intan, dari luar pintu kamar Mamah mengomel dari baliknya. "Rosa...! Intan...! tidur udah malem. Nggak usah ngobrol mulu, besok sekolah, besok gak mamah bangunin loh...!"
"Iya maaah, nih mau tidur" balas Rosa, mamah tau kalau Rosa dan Intan belum tidur soalnya lampu kamar belum di mati masih dalam keadaaan terang berderang.
Dan begitupun mereka mulai bermimpi...!!!
Hingga datangnya besok fajar...!!!
***
Di kantin sekolah dengan tempat yang lumayan bersih dan cukup hygenis. Tempat nongkrong Rosa bareng Intan dan satu lagi sahabat aku Marini, walaupun Marini siswi kelas F dan berbeda kelas tapi kami tetap bisa kumpul bareng sambil ngerumpi dan makan gorengan yang masih hangat, masih baru di angkat dari penggorengan tentunya.
Dan waktu istirahat yang lumayan cukup sekitar tiga puluh menit lamanya membuat bisa bebas leluasa bercerita apa saja.
"Ayo dong lanjutin ceritanya Cha!" tanya Intan. Dan begitupun dengan Marini langsung menyahut "Iya dong...!"
"Sabar...! Eeh emangnya elo udah tau Ni?" tanya Rosa pada Marini.
"Pasti tau dong, dah ah jangan kepo!" ucap Marini tertawa.
"Sekarang yang paling kepo maksimal siapa? Dasar enak banget ngatain orang sembarangan.!" Ucap Rosa sedikit kesal.
"Dah buruan!, keburu masuk kelas malahan!" ucap Intan.
Rosa menceritakan secara detail kepada kedua sahabatnya ini dan Rosa merasa seperti menceritakan kepada mereka sebuah cerita horror yang isi ceritanya membuat jantung berdegup dengan kencang dan membuat salah tingkah.
"APAH? DITEMBAK? SERIUSAN?" Ucap mereka berdua terdengar dengan cukup sangat keras hingga seisi kantin melihat kearah mereka berada.
"Terus? Dah elo terima?" tanya Marini.
"Belum...!" Rosa sambil menggelengkan kepala.
"Yaa...elah, Cha! Kesempatan kok malah nggak di jawab!". ucap Marini kembali.
"Terus gue harus gimana dong!" Tanya Rosa.
"Udah elo langsung samperin aja tuh anak, dan bilang YES!" ucap Marini dengan penuh semangat yang berkobar membuat semuanya tertawa melihat kekonyolan yang di perbuat Marini.
***
Kembali ke kelas, seperti biasa bising dan penuh dengan keramaian ucapan dengan kosakata yang tidak jelas saling beradu arti dan makna sehingga sangat sulit untuk di cerna dan di pahami arti dan maknanya. Hari ini pelajaran Bu Prilis Vitayati dengan mata pelajaran "Keterampilan dan Tata Boga" sebuah pelajaran yang buat siswa dan siswi sekelas merasa terabaikan berharap pelajaran kosong tapi nyatanya ada, katanya sedikit terlambat untuk masuk ke ruang kelas.
Waktu aku masuk ke ruang kelas dari ambang pintu masuk sudah melihat Fakih dan dia pun membalas tatapanku. Sesaat aku merasa malu dan hampir salah tingkah di buatnya.
"Seeert…!" badanku merasa melayang lepas landas dan ternyata ada sebuah kulit pisang yang terinjak dengan mesra yang ada di lantai. Akan tetapi sesaat sebekum nyaris terjatuh ada seorang cowo' yang menahan dengan memegang tanganku agar tidak terjatuh.
Dia Ari Salim salah satu teman sekelas yang katanya dia menyukaiku sejak kelas satu dulu, walau kami tidak sekelas dulunya ternyata dia sering memperhatikan diriku dari kejauhan dan dia lumayan tampan nyaris seperti Fakih, mereka berdua bisa di bilang cowo'-cowo' yang di jadikan idola oleh banyak cewe'-cewe' di sekolah ini.
Sempat sedikit ada sisi melamun melihat wajah si Ari Salim, sesaat Rosa tersadar. "Elo nggak apa-apa?" Ucap Ari sedikit terlihat khawatir.
"Nggak apa-apa kok, makasih ya!" kata Rosa sedikit terbata-bata mungkinmasih sedikit shock dengan kejadian yang barusan terjadi.
Seisi kelas langsung berkata "ciyeee, Ari Salim pindah ke lain hati nih, sekarang sama Rosa pegang-pegangan tangan". "Ciee, bentar lagi ada yang pacaran nih!". Saat itu pun juga Rosa sekilas dari sudut matanya melihat wajah Fakih yang duduk di bangku paling depan kelas, langsung berdiri dari duduknya tadi dan mengekspresikan wajah yang marah dan kesal. Dan tanpa Rosa sadari ternyata tangan Ari Salim masih memegang tangannya dan kemudian segera langsung melepaskannya.
"Apa apaan ini?!. kenapa kamu disini?" ucap bu Prilis Vitayati sebagai guru mata pelajaran "Keterampilan dan Tata Boga" yang tiba-tiba sudah hadir di sana mengagetkan seisi kelas.
Kemudian Rosa mengambil kulit pisang dan membuangnya ketempat sampah, sambil berjalan menggerutu lalu pelajaran berlangsung dengan tenang karena ada bu Prilis Vitayati dengan mata pelajaran "Keterampilan dan Tata Boga".
__ADS_1
Namanya murid-murid baru gede sudah kalau di bilangin masih selalu mengikuti kebanyakan dari pada kenyataan. Seisi kelas masih senyam-senyum kalo melihat kejadian yang terjadi tadi, apalagi kalau sampe ketahuan sedang mengobrol atau sekedar lewat berpapasan dengan Ari Salim, langsung deh seisi kelas pada ngeledekin itu termasuk Intan, sahabatku sendiri dan Rosa nggak tahu bagaimana perasaan Fakih jika mendengar hal itu!
***
Waktu Istirahat tiba, di depan ruang kelas A.
Rosa duduk di bangku panjang sambil menikmati taman sederhana yang ada di depan kelas. Sembari mengambil novel yang berada di dalam tas. Tanpa disadari ada bayangan cowo' di depannya dan seolah-olah dia mencoba melindungi Rosa dari sengatan matahari yang lumayan panasnya terasa sangat menyentuh kulit.
Saat melihat wajah cowo tersebut, sosok Fakih dengan mata yang buat hati terasa damai sudah berada di situ.
"Elo lagi ngapai Cha?" Tanya Fakih tanpa bergeser dari posisi berdirinya tetap seperti itu.
"Gue lagi baca novel aja Kih!" jawab Rosa. "Elo ngapain kaya gitu, nggak capek berdiri disitu?" tanya Rosa.
"Gue cuma mau melindungi elo dari panasnya matahari jangan sampai ntar elo keringetan!" Jawab Fakih santai.
"Masa sih?" ucap Rosa sambil mengelap dahinya yang ternyata memang ada keringatnya.
"Tuh kan, apa yang gue bilang Cha!" ucap Fakih.
"Kalau seperti itu elo nanti yang kepanasan..!" kata Rosa.
Kemudian Rosa menarik tangan Fakih menuju tempat duduk yang sedikit teduh. Lalu duduk bersama menemaniku membaca novel sampai terdengar bunyi bel masuk.
***
Di kelas, setelah beberapa menit Fakih muncul dan langsung menghampiri Rosa dan wajahnya terlihat ingin menjelaskan apa yang terjadi kemudian langsung duduk di sebelah bangku yang Rosa duduki.
"Kih, aku bisa jelasin semua." Ucap Rosa.
"Kenapa? Soal apa?” jawab Fakih sedikit ketus.
"Elo marah ya, Kih?" Tanya Rosa.
"Ngapain marah? Gue kan bukan siapa-siapa elo, Cha...!" ucap Fakih datar kembali.
"Oooh gitu ya Kih!" Balas Rosa.
"Iya gue cemburu, waktu elo sama Ari Salim!" Ucap Fakih keras. Sontak seisi kelas langsung melihat apa yang sedang terjadi dengan kami.
"Nggak usah keras-keras gitu kenapa sih?" ucap Rosa marah.
"Okey, ini yang terakhir kali Cha!" Lanjut Fakih.
"Maksudnya apaan Kih?!" Tanya Rosa rada bingung.
Ucapan Rosa terhenti sesaat dan tiba-tiba saja Fakih langsung maju menuju ke depan kelas dan...!!!
"Perhatian... Perhatian... Perhatian untuk semuanya...!!!" Ucap Fakih kemudian. Sontak semua makhluk-makhluk baik jin mau pun manusia yang berada dan seisi kelas langsung fokus dengan apa yang Fakih akan bicarakan di depan kelas.
"Haisss... Fakih...!!!. Ya ampun memalukan. Apa lagi ini!" Rosa membatin.
"Permisi sebentar, gue Fakih Alfarizi dengan ini ingin menyatakan sesuatu yang penting untuk Rosa Pratiwi...!!!" Ucap Fakih. Seisi kelas tampak tegang dan mendengar dengan seksama apa yang akan di katakan oleh ketua kelasnya itu.
"Apaan sih Kih!" ucap Rosa lirih.
"Rosa Pratiwi, perkataan gue ini untuk terakhir kalinya dan setelahnya tidak akan ada lagi perkataan yang keluar dari mulut gue buat elo...!!!" Semakin tegang suasana kelas saat itu. "Rosa Pratiwi, mau jadi pacarku?" ucap Fakih tegas.
Tanpa penghormatan umum sorak di tempat grakkk... semua penghuni kelas langsung sangat kaget dengan perkataan Fakih yang benar-benar spontan dan berani mengutarakan hatinya. Sementara Rosa mukanya memerah laksana kepiting rebus yang baru di angkat dari tempat perebusannya. "Ya ampun Fakih, emangnya nggak malu apa diliatin anak sekelas!?" Bisik Rosa lirih.
Tiba-tiba...!!! Dengan spontannya...!!!
"Terima... Terima... Terima...!!!" seisi kelas menyebutkan kalimat tersebut dengan bertepuk tangan serentak.
Akhirnya Rosa hanya bisa menganggung dalam keadaan yang tidak bisa dibayangkan bagaimana rasanya saat itu akan tetapi cukup bangga dengan keberanian Fakih mengutarakannya untuk umum, jarang-jarang seseorang mengutarakan hatinya dengan perbuatan sedemikian.
__ADS_1
Ini bukan mimpi kan?